Anak Pendek Tidak Selalu karena Genetik atau Kurang Gizi

10 hours ago 11

DOKTER spesialis anak subspesialis endokrinologi, Aman Bhakti Pulungan, mengatakan bahwa tubuh pendek pada anak belum tentu hanya dipengaruhi faktor keturunan atau kurang gizi. Hal pertama yang perlu dipastikan adalah apakah perawakan pendek pada anak merupakan variasi normal atau disebabkan oleh suatu penyakit.

"Yang paling penting sebetulnya memastikan dulu bahwa apakah anak kita pendek karena sakit atau tidak," kata Aman dalam bincang-bincang daring bersama RS Pondok Indah Group dengan topik "Pengaruh Hormon dalam Pertumbuhan" pada Rabu, 22 Juli 2026.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Penilaian tersebut tidak cukup dilakukan hanya dengan melihat tinggi badan anak saat ini, tetapi harus melalui pemantauan kurva pertumbuhan sejak bayi. Sebab, gangguan pertumbuhan bisa dipicu oleh berbagai penyebab. Selain faktor genetik, gangguan hormon dan penyakit tertentu juga dapat menghambat pertumbuhan anak.

Kurva pertumbuhan menjadi alat utama untuk mendeteksi gangguan pertumbuhan pada anak. Melalui pemantauan kurva pertumbuhan secara berkala, dokter dapat membedakan apakah perawakan pendek merupakan variasi normal atau disebabkan oleh gangguan hormon maupun penyakit tertentu yang memerlukan penanganan lebih lanjut.

Anak yang mengalami perawakan pendek karena faktor genetik biasanya tetap mengikuti jalur pertumbuhan yang konsisten. Sebaliknya, pada anak yang mengalami gangguan hormon, kurva tinggi badan akan terus menurun dan keluar dari jalur pertumbuhan normal.

Gangguan pertumbuhan yang paling banyak terjadi pada anak Indonesia adalah stunting akibat kekurangan gizi kronis. Berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024, prevalensi stunting pada balita mencapai 19,8 persen. Sementara itu, gangguan pertumbuhan akibat kondisi non-gizi, seperti kekurangan hormon pertumbuhan (growth hormone deficiency), jauh lebih jarang, dengan angka kejadian diperkirakan 1 dari 4.000 hingga 10.000 kelahiran di dunia.

Selain itu, Sindrom Turner pada anak perempuan dan riwayat kecil masa kehamilan (KMK) juga dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan. Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) juga menunjukkan prevalensi bayi yang lahir dengan panjang badan kurang dari 48 sentimeter mencapai 19,8 persen.

Aman menegaskan bahwa tidak semua anak bertubuh pendek dapat langsung dikategorikan sebagai stunting. Namun masih banyak anak yang dirujuk dengan label stunting, padahal penyebab sebenarnya adalah gangguan hormon, kelainan genetik, atau penyakit kronis lainnya. "Penyebab pendek bukan hanya stunting ataupun nutrisi, bisa (karena) kelainan hormon," ucapnya. "Stunting itu adalah pendek yang disebabkan malnutrisi kronik ataupun penyakit kronik."

Tidak sedikit orang tua yang mengira tinggi badan anak akan bertambah hanya dengan memberikan makanan bergizi atau susu tinggi kalori. Padahal, menurutnya, pendek akibat gangguan hormon tidak dapat diatasi hanya dengan memperbaiki asupan makanan. Faktor sosial, ekonomi, dan emosional keluarga turut mempengaruhi pertumbuhan anak.

Ia menyarankan supaya para orang tua rutin mengukur dan mengisi kurva pertumbuhan anak. Segera berkonsultasi ke dokter bila tinggi anak jauh di bawah standar usianya, pertumbuhannya tampak melambat dari waktu ke waktu, atau tinggi badannya tidak sesuai dengan tinggi orang tuanya.

"Pastikan semua anak itu mendapat haknya, dimonitor pertumbuhan dan perkembangannya, untuk ini tentulah butuh nutrisi butuh lingkungan yang baik dan dari awal itu yang paling penting bahkan sebelum dia lahir," tuturnya.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |