Apa Itu Malam Ganjil di 10 Hari Terakhir? Simak Penjelasannya Menurut Ulama

16 hours ago 7

Liputan6.com, Jakarta - Puncak keistimewaan bulan suci terjadi pada sepertiga akhir. Terlebih malam-malam ganjil, sebagaimana disabdakan Nabi Muhammad SAW. Lantas, apa itu malam ganjil di 10 hari terakhir?

Secara umum, Rasulullah SAW memberikan perhatian khusus pada malam-malam ini dengan meningkatkan intensitas ibadah secara signifikan. Dalam Shahih Muslim, Aisyah RA meriwayatkan: "Apabila Nabi shallallahu 'alaihi wasallam memasuki sepuluh hari terakhir (bulan Ramadhan), beliau mengencangkan sarungnya, menghidupkan malam-malam tersebut, dan membangunkan keluarganya" (HR. Bukhari dan Muslim).

Ketika para sahabat menyaksikan kesungguhan ini, mereka memahami bahwa ada sesuatu yang sangat agung di baliknya, yaitu malam Lailatul Qadar yang disebut Allah sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan.

Merujuk Buku Menghidupkan 10 Malam Terakhir Ramadhan karya Syaikh ‘Abdullah al-Jarullah, secara khusus Nabi Muhammad SAW memperhatikan malam ganjil di 10 hari terakhir Ramadhan. Lantas, apa makna dan keistimewaan malam ganjil tersebut?

Makna Malam Ganjil 10 Hari Terakhir Ramadhan dan Potensi Datangnya Lailatul Qadar

Malam ganjil yang dimaksud dalam berbagai riwayat adalah malam-malam tanggal 21, 23, 25, 27, dan 29 Ramadhan. Pada malam-malam tersebut, terdapat potensi datangnya malam Lailatul Qadar, sebagaimana didambakan umat Islam.

Rasulullah secara khusus memerintahkan agar umatnya memperbanyak qiyamul lail dan ibadah lainnya pada malam ganjil. Hal ini berdasarkan perintah Rasulullah dalam hadits yang diriwayatkan dari Aisyah RA:

تحروا ليلة القدر في الوتر من العشر الأواخر من رمضان

"Carilah Lailatul Qadar pada malam ganjil dari sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan" (HR. Bukhari dan Muslim) .

Yusuf Qardhawi dalam bukunya Fiqih Puasa menjelaskan bahwa maksud malam ganjil pada hadits tersebut adalah malam 21, 23, 25, 27, dan 29 Ramadhan. Namun beliau juga mencatat adanya riwayat lain yang menekankan pencarian pada tujuh hari terakhir.

Perbedaan Pendapat Ulama tentang Waktu Pasti Lailatul Qadar

Para ulama memiliki beragam pandangan mengenai malam mana yang paling mungkin sebagai Lailatul Qadar. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam al-Fatawa (25/284-285) menjelaskan bahwa penetapan malam ganjil dapat ditinjau dari dua perspektif :

Pertama, berdasarkan hitungan tanggal yang telah berlalu (malam 21, 23, 25, 27, 29). Kedua, berdasarkan hitungan hari yang tersisa. Jika bulan Ramadhan berjumlah 30 hari, maka malam-malam ganjil dalam hitungan sisa adalah malam 22 (tersisa 9 hari), malam 24 (tersisa 7 hari), dan seterusnya.

Imam al-Syafi'i dalam pendapatnya yang masyhur cenderung pada kemungkinan malam ke-27. Hal ini diperkuat oleh praktik di banyak negara muslim yang menyelenggarakan perayaan Lailatul Qadar pada malam ke-27, termasuk khatmil Quran di Masjidil Haram .

Menariknya, sebagian ulama melakukan pendekatan istinbath melalui analisis tekstual surat Al-Qadr. Abdurrahman al-Shafuri dalam kitab Nuzhat al-Majalis mencatat bahwa kata "Lailatul Qadar" terdiri dari 9 huruf dan disebut sebanyak 3 kali dalam surat tersebut, sehingga 9 x 3 = 27. Pendekatan serupa dilakukan dengan menghitung kata dalam surat Al-Qadr yang berjumlah 30 kata, dan kata ke-27 adalah "هِيَ" (kata ganti untuk Lailatul Qadar) .

Ibnu Abbas radhiallahu 'anhuma juga memiliki metode analisis yang unik. Ketika Umar mengumpulkan para sahabat dan bertanya tentang Lailatul Qadar, Ibnu Abbas yang saat itu masih muda menyatakan pendapatnya bahwa malam tersebut adalah malam ke-27. Alasannya, Allah menciptakan langit tujuh lapis, bumi tujuh lapis, hari tujuh, manusia dari tujuh unsur, thawaf tujuh kali, sa'i tujuh kali, dan melempar jumrah tujuh kali. Umar pun mengakui kecerdasan analisis ini.

Namun demikian, Imam al-Nawawi dalam al-Majmu' (6/450) menegaskan bahwa pendapat yang lebih kuat adalah Lailatul Qadar berpindah-pindah (mutanaqqilah) dan tidak tetap pada malam tertentu setiap tahunnya. Hal ini untuk menjaga semangat umat Islam agar terus beribadah sepanjang sepuluh malam terakhir.

Hikmah Dirahasiakannya Malam Ganjil

1. Motivasi untuk Meningkatkan Kualitas Ibadah

Allah SWT dengan hikmah-Nya yang agung merahasiakan waktu pasti Lailatul Qadar. Lailatul Qadar ibarat benda elok yang sangat indah namun langka. Kemahalannya tidak mudah diraih karena mahal harga belinya.

Malam kemuliaan tersebut hanya dapat dibeli dengan pengorbanan jiwa raga, melalui amalan-amalan ibadah yang telah dituntunkan agama.

Dalam riwayat Ubadah bin al-Shamit disebutkan bahwa Rasulullah SAW keluar untuk memberitahukan waktu Lailatul Qadar, namun beliau melihat dua orang muslim bertengkar. Beliau bersabda:

"Aku keluar untuk memberitahukan kepada kalian waktu Lailatul Qadar, tetapi fulan dan fulan bertengkar, maka diangkatlah (pengetahuan tentang waktu pastinya). Dan ini lebih baik bagi kalian. Maka carilah ia pada malam kesembilan, ketujuh, dan kelima," (HR. Bukhari, no. 1919).

Hadits ini menunjukkan bagaimana perselisihan dapat menjadi sebab hilangnya kebaikan. Hikmah di balik semua ini adalah agar umat Islam tidak beribadah hanya pada waktu tertentu saja, namun pengabdian haruslah langgeng terus dilakukan semasih hayat masih kandung badan.

2. Menjaga Semangat Ibadah Sepanjang Waktu

Syaikh 'Abdullah al-Jarullah dalam kitabnya Menghidupkan 10 Malam Terakhir Ramadhan menekankan bahwa amal perbuatan seorang mukmin tidak ada batasnya hingga maut menjemputnya. Allah berfirman:

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ

"Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal)" (Al-Hijr: 99).

Kebahagiaan mukmin sebenarnya bukan hanya karena akan mendapatkan bonus pahala Lailatul Qadar, namun kebahagiaan mukmin adalah saat dirinya mengabdi, memohon ampun, berserah, dan tunduk kepada Penciptanya.

Amalan-Amalan yang Dianjurkan di 10 Hari Terakhir Ramadhan

Syaikh 'Abdullah al-Jarullah dalam kitabnya merinci enam amalan utama yang dilakukan Rasulullah SAW pada sepuluh malam terakhir. Berikut penjelasan lengkapnya:

1. Menghidupkan Malam dengan Qiyamullail

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menghidupkan malam-malam Ramadhan, dan ini mengandung kemungkinan bahwa beliau menghidupkan seluruh malamnya atau sebagian besar daripadanya. Dalam Shahih Muslim, Aisyah radhiallahu 'anha berkata: "Aku tidak pernah mengetahui Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam shalat malam hingga pagi" .

Hadits ini menunjukkan bahwa meskipun beliau menghidupkan malam, tidak berarti beliau shalat tanpa henti sepanjang malam, namun beliau mengisinya dengan berbagai bentuk ibadah.

2. Membangunkan Keluarga untuk Beribadah

Keistimewaan lain dari sepuluh malam terakhir adalah perhatian Rasulullah untuk membangunkan keluarganya. Dalam hadits Abu Dzar radhiallahu 'anhu disebutkan bahwa Rasulullah shalat bersama para sahabat pada malam 23, 25, dan 27. Khusus pada malam 27, beliau mengajak keluarga dan isteri-isterinya untuk ikut serta .

At-Thabarani meriwayatkan dari Ali radhiallahu 'anhu: "Bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam membangunkan keluarganya pada sepuluh akhir bulan Ramadhan, dan setiap anak kecil maupun orang tua yang mampu melakukan shalat".

3. Mengencangkan Kain (Menjauhi Istri dan Bersungguh-Sungguh)

Ungkapan "mengencangkan kain" memiliki makna majaz yang mendalam. Dalam riwayat Anas bin Malik disebutkan bahwa Rasulullah melipat tempat tidurnya dan menjauhi isteri-isterinya. Syaikh 'Abdullah al-Jarullah menjelaskan bahwa ini menunjukkan kesungguhan total dalam beribadah, mengosongkan diri dari kesibukan duniawi untuk bermunajat kepada Allah.

4. Mandi antara Maghrib dan Isya

Syaikh 'Abdullah al-Jarullah meriwayatkan dari Ibnu Abi Hatim, dari Aisyah radhiallahu 'anha:

"Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam jika bulan Ramadhan (seperti biasa) tidur dan bangun. Dan manakala memasuki sepuluh hari terakhir, beliau mengencangkan kainnya dan menjauhi isteri-isterinya, serta mandi antara Maghrib dan Isya" .

Ibnu Jarir RA berkata bahwa para ulama salaf menyukai mandi pada setiap malam dari malam-malam sepuluh hari terakhir. Bahkan di antara mereka ada yang mandi dan menggunakan wewangian pada malam-malam yang paling diharapkan turun Lailatul Qadar.

5. Memperbanyak Membaca Al-Qur'an

Syaikh 'Abdullah al-Jarullah menekankan bahwa membaca Al-Qur'an merupakan ibadah utama di bulan Ramadhan. Hal ini berdasarkan firman Allah dalam surat Fatir ayat 29-30:

"Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi".

Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa membaca Al-Qur'an di akhir malam lebih utama dibandingkan awal malam, sedangkan waktu terbaik membaca Al-Qur'an di siang hari adalah setelah shalat Subuh .

6. I'tikaf di Masjid

I'tikaf adalah puncak dari rangkaian ibadah sepuluh malam terakhir. Dalam Shahihain disebutkan dari Aisyah radhiallahu 'anha: "Bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam senantiasa beri'tikaf pada sepuluh hari terakhir dari Ramadhan, sehingga Allah mewafatkan beliau" .

Syaikh 'Abdullah al-Jarullah menjelaskan makna dan hakikat i'tikaf dengan sangat indah: "Memutuskan hubungan dengan segenap makhluk untuk menyambung penghambaan kepada Al-Khaliq." 

Orang yang beri'tikaf mengikat dirinya untuk taat kepada Allah, berdzikir dan berdoa kepada-Nya, serta memutuskan diri dari segala hal yang menyibukkan dari pada-Nya .

7. Memperbanyak Doa

Doa adalah inti ibadah. Di antara doa yang paling utama pada malam Lailatul Qadar adalah doa yang diajarkan Rasulullah kepada Aisyah.

8. Memperbanyak Taubat dan Istighfar

Bulan Ramadhan menjadi kesempatan terbaik dalam memperbaiki diri. Mohonlah ampun kepada Allah dengan bersungguh-sungguh, memperbanyak taubat untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Syaikh 'Abdullah al-Jarullah menekankan bahwa sebaiknya puasa Ramadhan diakhiri dengan istighfar, karena istighfar merupakan penutup segala amal kebajikan.

Keutamaan Malam Ganjil Sepuluh Hari Terakhir

1. Lebih Baik dari Seribu Bulan

Allah Ta'ala berfirman dalam surat Al-Qadr ayat 1-3: "Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur'an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan" .

Syaikh 'Abdullah al-Jarullah menjelaskan bahwa maksudnya, beribadah di malam itu dengan ketaatan, shalat, membaca, dzikir, dan doa sama dengan beribadah selama seribu bulan, pada bulan-bulan yang di dalamnya tidak ada Lailatul Qadar. Dan seribu bulan sama dengan 83 tahun 4 bulan .

2. Malam Ditetapkannya Takdir Tahunan

Dalam surat Al-Dukhan ayat 3-4, Allah berfirman: "Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah" .

Menurut tafsir Kementerian Agama, pada ayat ini Allah menerangkan bahwa Dia telah menurunkan Al-Qur'an pada malam penuh berkah yang dikenal dengan malam "Lailah Mubarakah". Pada malam itu Allah telah memerinci semua hal yang bermanfaat bagi hamba-Nya di dunia dan di akhirat .

3. Malam Turunnya Malaikat

Allah berfirman dalam surat Al-Qadr ayat 4-5: "Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar".

Malam Lailatul Qadar sesungguhnya adalah perjumpaan antara dua cahaya, yaitu cahaya langit yang terpantul dari para malaikat Allah dengan cahaya yang terpantul dari qalbu orang-orang mukmin yang telah mempersiapkan diri dengan segala amaliah Ramadhannya. Cahaya tersebut bukan hanya terpancar sampai esok hari, tetapi cahaya dan kedamaian itu akan terpancar sampai terbit fajar di kehidupan kita hingga akhirat kelak .

4. Jaminan Pengampunan Dosa

Rasulullah SAW bersabda: "Barangsiapa yang berdiri (menunaikan shalat) pada malam Lailatul Qadar dengan (penuh) keimanan dan pengharapan (pahala), maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni" (HR. Bukhari no. 1910, Muslim no. 760) .

Syaikh 'Abdullah al-Jarullah menjelaskan bahwa ampunan ini bergantung pada terpenuhinya syarat, yaitu dilandasi iman yang benar dan ihtisab (hanya mengharap pahala dari Allah), serta menjauhi dosa-dosa besar. Hal ini berdasarkan firman Allah:

"Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang kamu dilarang mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosa kecilmu) dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (Surga)" (An-Nisaa': 31) .

5. Tanda-Tanda Malam Lailatul Qadar

Para ulama meriwayatkan beberapa tanda malam Lailatul Qadar berdasarkan hadits-hadits shahih:

Pertama, malam yang tenang dan damai. Dari Ibnu Abbas, Rasulullah bersabda: "Lailatul Qadar adalah malam yang penuh kemudahan dan kebaikan, tidak panas dan tidak dingin" (HR. al-Baihaqi) .

Kedua, matahari terbit pada pagi harinya tanpa sinar yang menyilaukan. Dari Ubay bin Ka'ab radhiallahu 'anhu, ia berkata: "Dan tanda malam itu adalah matahari terbit pada pagi harinya tanpa sinar (yang menyilaukan)" (HR. Muslim, 2/268) .

Walaupun hadits-hadits tentang tanda fisik ini shahih dan harus kita yakini, boleh jadi itu terikat dengan pengalaman pada zaman Rasulullah. Sebab tanda-tanda fisik dipengaruhi oleh faktor-faktor alamiah, dan dalam situasi perubahan iklim yang tidak menentu, perubahan fisik itu tidak lagi dapat menjadi pedoman mutlak.

People also Ask:

10 hari kedua Ramadhan disebut apa?

Setelah kita berhasil melewati dan menelaah keutamaan fase pertama sebagai kelanjutan dari panduan 10 hari pertama Ramadhan: meraih rahmat dan kesejahteraan berkualitas, kini kita melangkah memasuki fase pertengahan yang sangat krusial, yakni 10 hari kedua atau yang masyhur disebut sebagai fase Maghfirah (pengampunan).

10 malam terakhir Ramadhan disebut malam apa?

Lailatul Qadar disebut dalam Al-Qur'an sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan. Umat Muslim meyakini malam ini sebagai waktu turunnya Al-Qur'an dan malam penuh ampunan serta keberkahan. Ia diyakini terjadi pada 10 malam terakhir Ramadan — namun tidak ada yang mengetahui secara pasti malam keberapa.

Apakah Lailatul Qadr 10 hari terakhir?

Tanggal pasti Laylatul Qadr tidak diketahui, meskipun diperkirakan terjadi pada malam ganjil di sepuluh hari terakhir Ramadan (misalnya malam ke-21, 23, 25, 27 atau 29). Nabi Muhammad SAW bersabda, “Carilah di sepuluh hari terakhir, pada malam-malam ganjil,” (Hadits, Bukhari dan Muslim).

Malam Lailatul Qadar itu kapan?

Suasana malam terasa damai dan nyaman untuk beribadah. Dalam riwayat dari Jabir bin Abdullah disebutkan bahwa Lailatul Qadar terjadi pada sepuluh malam terakhir Ramadan, dengan kondisi malam yang terang, tidak panas, tidak dingin, serta tidak turun hujan.

10 hari terakhir Ramadhan harus apa?

Rasulullah SAW senantiasa melakukan i'tikaf pada 10 hari terakhir Ramadhan untuk lebih banyak beribadah. Memperbanyak Salat Malam, Salat tahajud dan ibadah malam lainnya menjadi amalan utama pada 10 malam terakhir. Malam Lailatul Qadar adalah momen istimewa yang sebaiknya diisi dengan ibadah.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |