Apa Itu Qadarullah? Simak Penjelasan Ulama, Supaya Tak Gagal Paham

2 hours ago 3

Liputan6.com, Jakarta - Apa itu qadarullah? Pertanyaan ini sering muncul di benak umat Islam ketika menghadapi kejadian di luar dugaan, biasanya musibah. Secara etimologis, qadarullah (قَدَرُ اللَّهِ) berasal dari kata "qadara" yang berarti ketentuan, ketetapan, atau takdir. Meyakini qada dan qadar juga fondasi tauhid.

Iman kepada qadarullah merupakan rukun iman yang keenam. Rasulullah SAW bersabda: "Iman adalah engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk" (HR. Muslim). Tanpa keimanan kepada qadarullah, keimanan seseorang tidaklah sempurna.

Sayangnya, pemahaman tentang qadarullah sering kali keliru. Sebagian memahami takdir sebagai alasan untuk bermalas-malasan dan meninggalkan ikhtiar. Sebagian lain justru menolak konsep takdir karena menganggapnya bertentangan dengan keadilan Allah. Kedua ekstrem ini perlu diluruskan dengan pemahaman berdasarkan Al-Qur'an, hadits, dan pandangan para ulama.

Artikel ini akan mengulas hakikat qadarullah dalam perspektif Ahlussunnah wal Jama'ah serta pandangan dari berbagai mazhab, sebagaimana diuraikan dalam Buku Kupas Tuntas Qadha dan Qadar karya Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dan Buku Keadilan Allah, Qada' dan Qadar Manusia karya Mujtaba Musawi Lari.

Pengertian Qadarullah

Secara bahasa, qadar berarti ukuran, ketentuan, kemampuan, dan kepastian. Qadarullah secara harfiah berarti "ketetapan Allah" atau "takdir Allah". Kalimat lengkap yang sering diucapkan adalah Qadarullāhi wa mā syā'a fa'ala (قَدَرُ اللهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ) yang artinya "Allah telah menetapkan dan apa yang Dia kehendaki pasti terjadi".

Menurut Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Lum'atul I'tiqad, iman kepada qadar mencakup empat tingkatan pokok:

Pertama, iman bahwa Allah mengetahui segala sesuatu secara umum dan terperinci. Tidak ada sesuatu pun yang luput dari ilmu-Nya, baik yang telah terjadi maupun yang akan terjadi. Firman Allah: "Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi? Bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah" (QS. Al-Hajj: 70).

Kedua, iman bahwa Allah telah menetapkan takdir seluruh makhluk di Lauh Mahfuzh. Segala sesuatu telah ditulis sebelum diciptakan. Allah berfirman: "Tiada sesuatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya" (QS. Al-Hadid: 22). Rasulullah SAW juga bersabda: "Sesungguhnya Allah telah menentukan seluruh takdir makhluk lima ribu tahun sebelum menciptakan langit dan bumi" (HR. Muslim).

Ketiga, iman bahwa segala sesuatu terjadi atas kehendak dan keinginan Allah. Tidak ada yang terjadi di langit dan di bumi kecuali dengan izin dan kehendak-Nya. Allah berfirman: "Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit" (QS. Al-An'am: 125).

Keempat, iman bahwa segala sesuatu di langit dan bumi adalah ciptaan Allah. Tidak ada pencipta selain Dia. Allah berfirman: "Dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya" (QS. Al-Furqan: 2). Juga firman-Nya melalui lisan Nabi Ibrahim: "Allah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu kerjakan" (QS. Ash-Shaffat: 96).

Qadar dalam Perspektif Qada dan Qadar

Para ulama membedakan antara qada dan qadar. Menurut Syekh M Nawawi Banten dalam Kasyifatus Saja, qada menurut ulama Asy'ariyyah adalah kehendak Allah atas sesuatu pada azali untuk sebuah realitas di masa kelak, sedangkan qadar adalah penciptaan (realisasi) Allah atas sesuatu pada kadar tertentu sesuai dengan kehendak-Nya pada azali.

Dengan kata lain, qada adalah ketetapan Allah sejak zaman azali, sedangkan qadar adalah perwujudan dari ketetapan tersebut. Qadar merupakan realisasi Allah atas qada terhadap diri kita sesuai kehendak-Nya.

Sementara itu, Mujtaba Musawi Lari dalam Buku Keadilan Allah, Qada' dan Qadar Manusia menjelaskan bahwa qada' dan qadar berarti keputusan Allah yang kokoh mengenai bentangan berbagai urusan dunia, perluasan dan batasan-batasannya.

Segala phenomena yang terjadi di dalam tatanan penciptaan, termasuk amal perbuatan manusia, pasti dan tertentu dengan melalui sebab-sebabnya. Keberadaan ini merupakan suatu konsekwensi dari keabsahan universal prinsip kausalitas (sebab-akibat).

Dalil-Dalil Al-Qur'an tentang Qadarullah

• Al-Qur'an menegaskan konsep qadarullah dalam berbagai ayat:

• QS. Al-Furqan: 2: "Dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, lalu Dia menentukan ukuran-ukurannya dengan sungguh-sungguh".

• QS. Al-Qamar: 49: "Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran (takdir)".

• QS. Al-Baqarah: 286: "Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya". Ayat ini menegaskan bahwa takdir Allah selalu sesuai dengan kemampuan hamba-Nya.

Pandangan Ulama tentang Qadarullah

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menegaskan bahwa iman kepada qadar bukanlah alasan bagi seseorang untuk melakukan maksiat. Beliau menyebutkan lima dalil mengapa takdir tidak bisa dijadikan hujjah bagi pelaku dosa:

Pertama, Allah menyandarkan perbuatan hamba kepada-Nya dan menjadikannya sebagai bentuk usaha (kasab). Allah berfirman: "Pada hari ini tiap-tiap jiwa diberi balasan dengan apa yang diusahakannya" (QS. Al-Mu'min: 17).

Kedua, Allah memberikan perintah dan larangan serta tidak membebani di luar kemampuan hamba.

Ketiga, setiap orang paham perbedaan antara perbuatan yang dipaksa dan tidak dipaksa.

Keempat, pelaku maksiat sebelum melakukannya tidak tahu apa yang akan ditakdirkan baginya.

Kelima, Allah mengutus para rasul untuk memutus hujjah, sebagaimana firman-Nya: "Agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul" (QS. An-Nisa: 165).

Mujtaba Musawi Lari menjelaskan bahwa qada' dan qadar tidak lain daripada sistem sebab dan akibat. Beliau mengkritik pemahaman deterministik yang menjadikan qadar sebagai alasan untuk pasrah tanpa usaha.

Menurutnya, kepercayaan kepada qada' dan qadar justru merupakan faktor yang kuat dalam mengangkat manusia menuju berbagai tujuan dan idealnya. Beliau juga menekankan bahwa keselamatan dan penghukuman lahir dari perbuatan dan tindakan manusia, bukan dari masalah-masalah di luar kehendak mereka.

Hikmah Memahami Qadarullah

Memahami dan mengimani qadarullah memberikan banyak hikmah dan manfaat bagi kehidupan seorang Muslim:

1. Menumbuhkan Rasa Sabar dalam Menghadapi Ujian

Ketika seseorang yakin bahwa setiap musibah yang menimpanya adalah ketetapan Allah, ia akan lebih mudah bersabar. Sebagaimana firman Allah: "Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar" (QS. Al-Baqarah: 155).

2. Melahirkan Sikap Tawakal kepada Allah

Iman kepada qadar mendorong seseorang untuk bertawakal setelah berikhtiar maksimal. Ia menyadari bahwa hasil akhir sepenuhnya di tangan Allah. Sebagaimana dikatakan Mujtaba Musawi Lari, orang yang beriman kepada Allah yang dengan teguh meyakini qada' dan qadar merasakan bahwa ada berbagai tujuan bijak yang sedang bekerja dalam penciptaan manusia dan alam semesta.

3. Menghilangkan Rasa Cemas dan Takut Berlebihan

Dengan meyakini bahwa segala sesuatu telah ditentukan Allah, seorang Muslim tidak akan gelisah berlebihan menghadapi masa depan. Hatinya menjadi tenang karena ia tahu bahwa apa yang menimpanya tidak akan meleset dan apa yang luput darinya tidak akan menimpanya.

4. Menumbuhkan Rasa Syukur atas Nikmat Allah Memahami qadarullah membuat seseorang lebih bersyukur atas nikmat yang diterima, karena ia sadar bahwa semua itu adalah karunia Allah, bukan semata hasil usahanya sendiri.

5. Memberikan Optimisme dalam Menjalani Kehidupan

Keyakinan bahwa Allah selalu memberikan yang terbaik bagi hamba-Nya menumbuhkan optimisme, bahkan di tengah kesulitan sekalipun. Sebagaimana dijelaskan dalam Buku Keadilan Allah, Qada' dan Qadar Manusia, apa yang tampak sebagai bencana bisa jadi merupakan rahmat, tergantung pada reaksi manusia terhadapnya.

6. Mencegah Sikap Fatalistik yang Keliru

Pemahaman yang benar tentang qadarullah justru mendorong usaha dan ikhtiar, bukan sikap pasrah tanpa tindakan. Takdir dalam Islam tidak mengarahkan manusia ke sikap fatalistik atau menyerah kalah kepada nasib. Dalam Al-Qur'an dinyatakan bahwa manusia tidak akan mendapatkan sesuatu selain yang dia usahakan (QS. An-Najm: 39-41).

Pertanyaan Seputar Arti Qadarullah

1. Apa perbedaan antara qada dan qadar?

Qada adalah ketetapan Allah sejak zaman azali, sedangkan qadar adalah realisasi atau perwujudan dari ketetapan tersebut dalam kehidupan nyata. Qada merupakan kehendak Allah atas sesuatu di masa lampau, sedangkan qadar adalah penciptaan Allah atas sesuatu sesuai kadar tertentu.

2. Apakah qadarullah bisa berubah?

Qadarullah yang telah ditetapkan di Lauh Mahfuzh tidak berubah, namun ada konsep al-bada' yang dipahami dalam perspektif Syi'ah bahwa takdir manusia dapat berubah karena perubahan faktor dan sebab-sebab yang mengaturnya, seperti doa, shalat hajat, dan amal saleh.

3. Bagaimana cara mengucapkan qadarullah yang benar?

Ucapan yang diajarkan Rasulullah SAW adalah: Qadarullāhi wa mā syā'a fa'ala (قَدَرُ اللهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ) yang artinya "Allah telah menetapkan dan apa yang Dia kehendaki pasti terjadi". Ucapan ini diucapkan ketika tertimpa musibah atau menghadapi kejadian di luar dugaan.

4. Apakah qadarullah menjadi alasan untuk meninggalkan ibadah?

Tidak. Syaikh al-Utsaimin menegaskan bahwa takdir tidak bisa dijadikan hujjah bagi pelaku maksiat. Allah memerintahkan ibadah dan tidak membebani di luar kemampuan hamba. Mengatakan "saya bolos sholat karena qadarullah" adalah kesalahan besar.

5. Mengapa Allah menakdirkan kejahatan dan penderitaan?

Menurut Mujtaba Musawi Lari, apa yang tampak sebagai kejahatan sebenarnya bersifat relatif dan merupakan bagian dari sistem kausalitas yang lebih besar. Penderitaan berfungsi sebagai alarm yang memperingatkan manusia, mendorong kesadaran dan kedewasaan, serta menjadi ujian yang mengangkat derajat.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |