BNPT Pakai Pendekatan Holistik ke Anak Terpapar Ekstremisme

3 hours ago 2

BADAN Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mengklaim telah merehabilitasi ratusan anak yang terpapar ekstremisme. Kepala Biro Perencanaan, Hukum, dan Hubungan Masyarakat BNPT, Kolonel Sus R. Tjandra Sulistiyono, mengatakan program rehabilitasi tersebut dilakukan bersama stakeholder terkait menggunakan pendekatan holistik.

“Perlindungan bagi anak korban jaringan terorisme menerapkan pendekatan holistik yang mencakup pendampingan psikososial, pemulihan mental atau trauma (psikoterapi), rehabilitasi sosial, edukasi wawasan kebangsaan dan keagamaan, serta pelatihan kemandirian vokasional,” kata Tjandra saat dihubungi pada Kamis, 30 Juli 2026.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Tjandra menjelaskan, selain aspek psikologis dan edukasi, pendekatan holistik dalam proses penanganan juga memastikan pemenuhan hak-hak dasar anak, penyediaan layanan medis, serta bantuan proses reintegrasi sosial. Tahapan ini dilakukan agar anak-anak tersebut dapat kembali diterima dengan baik oleh lingkungan keluarga dan masyarakat.

Menyitir laman Antara, BNPT berkolaborasi dengan kementerian/ lembaga telah merehabilitasi sekitar 250 anak di bawah umur yang terpapar ekstremisme di sepanjang akhir 2024-2025. Rehabilitasi dan pembinaan tersebut menjadi bagian dari komitmen pemerintah mencegah dan menanggulangi ekstremisme berbasis kekerasan yang mengarah pada terorisme.

Kepala BNPT, Eddy Hartono, menyebutkan bahwa terorisme bersifat persisten dan adaptif. Tindakan ekstrem itu terus ada, walaupun aktornya berubah serta selalu menyesuaikan cara, bentuk, dan medianya seiring waktu.

Menurut Eddy, ancaman terorisme saat ini sudah mulai bergeser. Kini, internet dijadikan sarana untuk melakukan rekrutmen, kontrapropaganda, hingga pendanaan terorisme dengan menyasar perempuan, anak-anak, dan remaja.

Oleh karena itu, BNPT memberikan perhatian khusus untuk penanganan anak yang terpapar radikalisme di ruang digital sebagai fokus utama penanganan dan pendampingan psikososial intensif oleh BNPT bersama tim perlindungan sosial.

Adapun, tingkat keberhasilan proses rehabilitasi diukur menggunakan instrumen penilaian spesifik, di antaranya Indeks Keberfungsian Korban dan Indeks Kebutuhan Moderasi Anak. Kedua instrumen ini digunakan untuk memantau sejauh mana pemulihan psikologis, kemandirian, adaptasi sosial, hingga pembersihan paparan paham radikal atau ideologi kekerasan pada diri anak.

“Indikator utamanya meliputi pulihnya kestabilan emosional, kembalinya fungsi sosial anak di lingkungan keluarga, lingkungan sekolah dan masyarakat,” kata Kolonel Sus R. Tjandra Sulistiyono.

Di samping itu, Tjandra berujar, indikator penting lainnya ditandai dengan hilangnya sikap glorifikasi terhadap kekerasan juga tumbuhnya resiliensi atau ketahanan diri. “Serta berkembangnya cara pandang kebangsaan yang inklusif pada diri anak setelah menjalani proses pembinaan,” tutur Tjandra.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |