Bulan Hijriyah yang Paling Utama untuk Berpuasa Sunnah, Umat Harus Tahu

8 hours ago 2

Liputan6.com, Jakarta - Setelah bulan Ramadhan yang diwajibkan, terdapat waktu yang paling utama untuk melaksanakan puasa sunnah.  Untuk itu, umat Islam perlu mengetahui bulan Hijriyah yang paling utama untuk berpuasa sunnah.

Bulan-bulan tersebut adalah Asyhurul Hurum atau bulan haram alias bulan yang dimuliakan. Waktu-waktu ini dikhususkan dan diagungkan dengan berbagai larangan sekaligus anjuran ibadah dan amalan.

Keempat bulan yang dimuliakan dalam Islam adalah Dzulqa'dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab. Pemahaman mendalam mengenai makna, keutamaan, serta amalan di bulan-bulan suci ini menjadi panduan esensial bagi umat Islam dalam mengoptimalkan ibadah berdasarkan tuntunan Al-Qur'an, Hadis, dan penjabaran para ulama.

Para ulama memberikan peringkat bulan hijriyah yang paling utama berpuasa sunnah berdasar dalil-dalil shahih dan ijma'. Merujuk Ebook Keutamaan Asyhurul Hurum, Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah, Jurnal Asyhur Al-Hurum Menurut Perspektif Al-Qur’an (Studi Komparatif antara Mutawalli Al-Sya’rawi dan Sayyid Quthb) dan Relevansinya Saat Ini, Sayyida, dan sumber relevan dan kredibel lainnya, berikut ini ulasan selengkapnya.

Bulan Hijriyah yang Paling Utama untuk Puasa Sunnah

Setelah bulan Ramadhan yang diwajibkan, waktu yang paling utama untuk melaksanakan puasa sunnah adalah pada bulan-bulan haram. Dalam hal ini, para ulama memberikan peringkat keutamaan dengan merujuk pada dalil-dalil shahih.

Peringkat Pertama, Bulan Muharram

Bulan Muharram adalah bulan yang paling utama untuk berpuasa sunnah. Keistimewaannya begitu besar hingga Nabi Muhammad SAW sendiri menyebutnya sebagai "Syahrullah" (Bulan Allah).

Dalil utama dari keutamaan ini adalah sabda Rasulullah SAW:

"Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan adalah puasa di bulannya Allah, yaitu bulan Muharram." (HR. Muslim, no. 1163)

Dalam kitab Syarh Shahih Muslim, Imam an-Nawawi menegaskan bahwa hadis ini merupakan dalil yang jelas bahwa puasa Muharram adalah yang paling utama setelah Ramadhan. Alasan pengkhususan keutamaan ini juga dijelaskan oleh Imam as-Suyuthi, yang menyatakan bahwa Muharram adalah satu-satunya bulan yang namanya diubah oleh Islam.

Di masa Jahiliah, bulan ini dikenal dengan nama "Shafar al-Awwal", kemudian Allah memberinya nama "Muharram" dan menyandarkannya kepada-Nya sebagai bentuk pemuliaan khusus.

Keutamaan puasa di bulan Muharram ini juga diperkuat dengan hadis lain yang diriwayatkan oleh Imam at-Thabarani:

"Barangsiapa berpuasa satu hari dari bulan Muharram, maka baginya pahala puasa 30 hari." (HR at-Thabarani dalam al-Mu'jamus Shaghîr).

Peringkat Kedua: Bulan-Bulan Haram Lainnya

Setelah bulan Muharram, keutamaan puasa sunnah pada bulan-bulan haram lainnya (Dzulqa'dah, Dzulhijjah, dan Rajab) berada pada tingkat berikutnya, namun tetap lebih utama dibandingkan bulan-bulan biasa.

Pendapat ini juga didukung oleh Imam an-Nawawi yang menyebutkan dalam kitab Al-Majmu' bahwa puasa pada bulan-bulan haram adalah amalan sunnah yang dianjurkan, dengan Muharram sebagai yang paling utama.

Praktik ini juga diamalkan oleh para ulama salaf, seperti Ibnu Umar, Hasan al-Bashri, dan Sufyan ats-Tsauri yang menyatakan kecintaannya untuk berpuasa sunnah di bulan-bulan haram.

Catatan Penting Puasa Rajab dan Dzulqa'dah

Penting untuk dipahami bahwa puasa sunnah di bulan Rajab dan Dzulqa'dah dilakukan semata-mata karena statusnya sebagai bulan haram, bukan karena adanya keutamaan khusus yang tidak berdasar.

Sebagaimana ditegaskan oleh Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah serta para ulama lainnya, tidak ada dalil khusus yang shahih yang mengistimewakan puasa di bulan Rajab dan Dzulqa'dah melebihi bulan haram lainnya, kecuali karena termasuk bulan-bulan haram itu sendiri.

10 Hari Pertama Dzulhijjah: Waktu yang Sangat Istimewa

Meskipun Muharram adalah bulan yang paling utama untuk puasa sunnah secara keseluruhan, terdapat pengecualian yang sangat penting: sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Waktu ini memiliki keutamaan yang luar biasa, bahkan disebut sebagai hari-hari paling mulia dalam setahun untuk beramal saleh.

Rasulullah SAW bersabda: "Tidak ada satu hari pun di mana amal saleh lebih dicintai oleh Allah melebihi amal saleh yang dilakukan pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah." (HR. Al-Bukhari)

Keutamaan puasa di bulan Dzulhijjah semakin tinggi pada dua hari puncaknya:

  • Puasa Tarwiyah (8 Dzulhijjah): Hari persiapan para jemaah haji menuju Arafah.
  • Puasa Arafah (9 Dzulhijjah): Puncak keutamaan, di mana puasa ini dapat menghapus dosa dua tahun.

Anjuran untuk berpuasa di bulan-bulan haram didasarkan pada beberapa dalil, terutama hadis yang diriwayatkan dari sahabat al-Bahili: "Puasalah bulan Sabar (Ramadhan) dan tiga hari setelahnya, dan puasalah pada bulan-bulan haram." (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, dan lainnya)

Meskipun sanad hadis ini diperselisihkan (dha'if), mayoritas ulama berpendapat bahwa kelemahannya bersifat ringan sehingga dapat diamalkan sebagai anjuran berpuasa di bulan-bulan haram.

Keutamaan Puasa di Bulan Haram

  • Pelipatgandaan Pahala: Setiap amal saleh yang dilakukan di bulan haram, termasuk puasa, akan mendapatkan ganjaran pahala yang berlipat ganda. Lebih dari itu, Allah SWT dalam Hadis Qudsi menyatakan bahwa pahala puasa akan langsung diberikan oleh Allah di akhirat kelak, melebihi amal lainnya.
  • Meneladani Rasulullah SAW: Kebiasaan Rasulullah yang memperbanyak puasa sunnah di bulan-bulan mulia.
  • Persiapan Spiritual: Puasa di bulan haram, khususnya menjelang Ramadhan, menjadi pelatihan dalam mengendalikan hawa nafsu.
  • Tolak Ukur Ketakwaan: Menjaga diri dari maksiat dan gemar beramal saleh di waktu-waktu yang penuh keagungan.
  • Melatih Kesederhanaan: Dengan menahan lapar dan haus, seorang Muslim belajar untuk tidak bergantung pada hal-hal duniawi.

Amalan Sunnah Lainnya di Bulan Haram

Selain puasa, masih banyak amalan sunnah yang sangat dianjurkan untuk dikerjakan pada bulan-bulan haram:

  • Memperbanyak Membaca Al-Qur'an: Melantunkan kalam Ilahi di waktu yang penuh berkah.
  • Memperbanyak Sedekah: Memberi dengan ikhlas untuk meraih pahala berlipat ganda.
  • Melaksanakan Umrah: Melaksanakan umrah di bulan Rajab atau padabingkai bulan haram lainnya.
  • Perbanyak Istigfar dan Doa: Memohon ampunan dan kebaikan dunia akhirat.
  • Takbir, Tahlil, dan Tahmid (khusus Dzulhijjah): Memperbanyak zikir pada 10 hari pertama bulan Dzulhijjah dan hari-hari tasyriq.

People also Ask:

Mengapa tanggal 10 Muharram disunnahkan berpuasa?

Rasulullah sering berpuasa pada hari Asyura, karena pada hari itu Allah memberikan pengampunan dosa-dosa yang dilakukan selama setahun sebelumnya.

Bulan apa saja yang terbaik untuk berpuasa?

Periode puasa dalam agama Hindu

Selama bulan Juli dan Agustus , banyak umat Hindu mengadopsi pola makan vegetarian dan berpuasa pada hari Senin dan Sabtu hingga sore hari. Banyak wanita Hindu berpuasa pada hari Senin agar mendapatkan suami yang baik.

Berapa hari di bulan Muharram yang disunnahkan untuk berpuasa?

Puasa Asyura (9 dan 10 Muharram)

Salah satu keutamaannya yang disebut dalam hadits Rasulullah SAW adalah dapat menghapus dosa setahun yang lalu.

Apa 4 larangan di bulan Muharram?

Berikut enam larangan di bulan Muharram menurut ajaran Islam:Larangan untuk berperang. ...Larangan melakukan tindakan kekerasan dan kejahatan. ...Larangan hura-hura dan berpesta. ...Mengabaikan kesempatan beribadah dan berbuat baik. ...Menganiaya diri sendiri. ...Larangan mengenakan pakaian baru pada hari Asyura.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |