ILMUWAN di Australia mengembangkan cara baru untuk mencegah kepunahan koala dengan membekukan sel telur dan sperma satwa tersebut sebagai cadangan genetik. Sel reproduksi itu diharapkan dapat dimanfaatkan pada masa depan untuk menghasilkan embrio koala melalui inseminasi buatan maupun fertilisasi in vitro (IVF).
Proyek yang dipimpin peneliti University of Queensland itu akan menyimpan sel reproduksi koala dalam nitrogen cair bersuhu minus 196 derajat Celsius. Dengan metode kriopreservasi tersebut, DNA koala dapat dipertahankan selama puluhan tahun hingga dibutuhkan untuk mendukung program konservasi.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Menurut tim peneliti, penyimpanan sel reproduksi penting karena setiap koala yang mati turut membawa keragaman genetik yang berpotensi membantu spesies tersebut beradaptasi terhadap perubahan lingkungan.
“Hilangnya keragaman genetik dapat melemahkan generasi mendatang dan mengurangi kemampuan spesies untuk beradaptasi terhadap berbagai tantangan,” kata ahli biologi reproduksi University of Queensland, Andres Gambini, dikutip dari laporan Live Science, Rabu, 15 Juli 2026.
“Proyek ini akan menciptakan cara yang aman dan sistematis untuk menyelamatkan serta melestarikan sperma dan sel telur koala guna mendukung program konservasi di masa depan,” ujarnya.
Upaya tersebut dilakukan di tengah terus menurunnya populasi koala di Australia. Di sejumlah wilayah Queensland dan New South Wales, populasinya telah menyusut hingga 80 persen sejak akhir 1990-an akibat deforestasi, kebakaran hutan, kekeringan, dan penyakit. Kondisi itu membuat pemerintah Australia menaikkan status konservasi koala di wilayah timur dari rentan menjadi terancam punah pada 2022.
Sel telur dan sperma akan dikumpulkan dari rumah sakit satwa liar yang mengambil sel reproduksi koala yang mati atau tidak lagi dapat berkembang biak akibat penyakit maupun trauma. Sampel kemudian akan diperiksa untuk memastikan tidak terinfeksi Chlamydia pecorum, bakteri yang menjadi salah satu penyebab utama penurunan populasi koala karena dapat menyebabkan infertilitas, infeksi saluran kemih, gangguan pencernaan, hingga kebutaan.
“Setiap tahun banyak koala dirawat di rumah sakit satwa liar karena sakit atau cedera dan sayangnya tidak semuanya berhasil bertahan hidup,” ujar Gambini.
Apabila ditemukan bakteri Chlamydia pecorum pada sampel, para peneliti menyatakan infeksi tersebut dapat dihilangkan sebelum sel digunakan dalam program reproduksi.
“Kini kami memiliki teknologi untuk menghilangkan infeksi dari sampel tersebut,” kata Steve Johnston, profesor madya bidang reproduksi hewan dan pengelolaan satwa dalam penangkaran di University of Queensland.
Meski demikian, Gambini menegaskan proyek ini tidak dimaksudkan menggantikan upaya konservasi seperti perlindungan habitat, pengendalian penyakit, dan pemantauan populasi. Menurut dia, penyimpanan materi genetik perlu dilakukan sejak sekarang agar keragaman genetik koala tidak terus hilang seiring menyusutnya populasi.




































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5531528/original/007916600_1773619112-unnamed__10_.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5544736/original/021119200_1775115709-gibran_promo_motor_-_klaim.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4403008/original/008750000_1681991372-20230420-Pemantauan-Hilal-Iqbal-7.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4067423/original/029499900_1656490392-WhatsApp_Image_2022-06-29_at_2.40.46_PM.jpeg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5378584/original/033747300_1760257934-unnamed__52_.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5541900/original/045765100_1774924667-f74d8bed-bd18-437b-b58c-048c5cf9b3f9.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4990690/original/039762200_1730716919-cara-bayar-fidyah-puasa.jpg)