Cara Tim di BRIN Pantau Detak Jantung dari Jauh Pakai Radar

1 hour ago 2

TIM peneliti di Pusat Riset Telekomunikasi Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN) menggunakan teknologi radio detection and ranging alias radar untuk memantau detak jantung dan pernapasan tanpa kontak fisik. Misalnya bagi pasien di ruangan khusus yang kondisinya sulit ditemui langsung karena alasan medis. “Hasil pengukuran dengan radar sudah akurat,” kata ketua tim riset Yuyu Wahyu di Bandung kepada Tempo, 24 Juli 2026.

Yuyu merupakan peneliti dan pengembang teknologi radar. Dalam riset radar yang terkait dengan biomedik selama dua tahun terakhir ini, timnya beranggotakan lima orang kolega peneliti di BRIN serta melibatkan mahasiswa. Radar yang digunakan yaitu Frequency Modulated Continuous Wave (FMCW) QWR 1443 yang dimodifikasi untuk mendeteksi detak jantung dan ritme pernapasan manusia tanpa sentuhan pemeriksaan.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Metodenya, sistem radar yang memancarkan gelombang elektromagnetik dan menangkap pantulannya lewat antena transmitter dan receiver, menyasar detak jantung dan ritme pernapasan yang mengalami defleksi atau perubahan rongga dada dan jantung. Radar FMCW yang bekerja pada frekuensi 77 GigaHertz menurut Yuyu tergolong beresolusi tinggi untuk mendeteksi defleksi dengan daya rendah. “Tidak berbahaya untuk badan manusia karena bioelektromagnet,” ujarnya.

Kerja radar itu, menurut Yuyu, dirangkai dengan persamaan matematika dan perangkat lunak untuk mengolah data serta hanya memfokuskan sasaran deteksi pada detak jantung dan pernapasan. Hasilnya kemudian ditampilkan secara real time pada layar monitor lewat jaringan Internet.

Yuyu menyatakan kalau tim telah menguji coba dan membandingkan hasilnya dengan alat pengukur detak jantung dan pernapasan yang dipasang di tubuh secara langsung. “Selisihnya tipis hanya satu angka, misalnya 96 dengan 97 untuk detak jantung, yang itu tidak signifikan,” kata dia.

Pada pola rancangan penggunaan sistem itu di kamar rawat inap, perangkat radar dipasang tergantung di bawah plafon ruangan. Sementara pasien dipasangi sabuk bersensor untuk memantulkan sinyal dari radar. Namun sebelum sampai bisa dijajal oleh pasien rumah sakit, tim riset akan melanjutkan uji coba sistem di pusat kebugaran. Posisi radar tidak lagi di atas melainkan di depan orang yang dideteksi denyut jantung dan napasnya. “Nanti pengguna bisa langsung melihat hasilnya di layar monitor,” ujar Yuyu.

Selain itu tim riset juga masih mengembangkan agar satu unit radar bisa dipakai untuk memantau tiga orang pasien sekaligus dalam satu ruangan. Mereka saat ini masih mencari cara untuk mengoptimalkan radar serta perangkat lunaknya. Adapun radar yang dipakai hasil beli dari Amerika Serikat seharga Rp 6 juta.  

"Pengembangan risetnya bertujuan agar pasien mendapatkan pemantauan vital yang lebih modern dan berkualitas, sekaligus mendukung peningkatan kualitas pelayanan medis secara nasional."

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |