Cerita Bukit Cinta Jabal Rahmah & Asal Usul Tugunya, Lokasi Pertemuan Nabi Adam dan Siti Hawa

1 hour ago 3

Liputan6.com, Jakarta - Jabal Rahmah menjadi salah satu tempat bersejarah yang paling banyak dikunjungi jamaah saat berada di tanah suci. Tidak sedikit orang penasaran dengan cerita bukit cinta Jabal Rahmah & asal usul tugunya yang dipercaya menjadi simbol pertemuan Nabi Adam AS dan Siti Hawa setelah terpisah sekian lama. Kisah penuh haru ini membuat Jabal Rahmah bukan hanya dikenal sebagai tempat wisata religi, tetapi juga lambang cinta dan pengampunan dalam sejarah Islam.

Terletak di Padang Arafah, Jabal Rahmah memiliki sebuah tugu putih yang berdiri kokoh di puncaknya. Tugu tersebut sering menjadi perhatian para peziarah karena dianggap sebagai penanda lokasi bertemunya Nabi Adam dan Siti Hawa. Meski tidak terdapat dalil khusus yang memastikan titik pasti pertemuan itu, kisah yang berkembang turun-temurun membuat tempat ini memiliki nilai spiritual tersendiri bagi umat Muslim dari berbagai negara.

Selain menyimpan kisah romantis penuh makna, Jabal Rahmah juga erat kaitannya dengan perjalanan ibadah haji. Bukit ini menjadi salah satu lokasi yang sering dikunjungi jamaah untuk berdoa dan mengenang perjuangan manusia pertama di bumi. Dari sinilah muncul keyakinan bahwa Jabal Rahmah bukan sekadar bukit biasa, melainkan simbol kasih sayang, taubat, dan harapan akan pertemuan yang diridhai Allah SWT. Berikut Liputan6.com ulas lengkapnya melansir dari berbagai sumber, Senin (17/05/2026).

Lokasi dan Makna Jabal Rahmah

Jabal Rahmah, dalam bahasa Arab berarti "Bukit Kasih Sayang" atau "Bukit Rahmat", adalah salah satu tempat paling istimewa di tanah suci Mekkah. Bukit granit ini berdiri kokoh di tengah hamparan padang Arafah, sekitar 20 kilometer dari Masjidil Haram. Nama "Rahmah" sendiri mencerminkan makna kasih sayang yang menjadi ruh dari kisah yang terjadi di tempat ini ribuan tahun silam.

Secara geografis, Jabal Rahmah berada pada koordinat strategis di lembah Arafah yang dikelilingi perbukitan berbatu khas Jazirah Arab. Bukit ini tidak terlalu tinggi, namun posisinya yang terbuka menjadikannya titik pandang yang sempurna untuk menyaksikan lautan manusia saat musim haji tiba. Dari puncaknya, seseorang dapat melihat seluruh hamparan padang Arafah yang menjadi tempat wukuf jutaan jamaah haji.

Jabal Rahmah bukan sekadar bukit biasa, melainkan sebuah monumen hidup yang merekam jejak sejarah manusia pertama. Bukit ini memegang peran penting dalam perjalanan spiritual umat Muslim, terutama karena lokasinya yang berada di Padang Arafah tempat dilaksanakannya wukuf, rukun utama ibadah haji. Banyak orang datang ke bukit ini untuk berdoa, merenung, dan memohon pengampunan kepada Allah SWT, menjadikannya simbol harapan dan kesempatan baru.

Kisah Pertemuan Nabi Adam dan Siti Hawa

Cerita bukit cinta Jabal Rahmah bermula dari kisah Nabi Adam AS dan Siti Hawa yang diturunkan dari surga akibat melanggar larangan Allah SWT memakan buah dari pohon terlarang. Dalam riwayat yang banyak dikutip para ulama, keduanya tidak diturunkan di tempat yang sama. Adam diturunkan di wilayah yang kini dikenal sebagai India atau Sri Lanka (di sebuah tempat bernama "Adam's Peak"), sementara Hawa diturunkan di sekitar wilayah Jeddah, Arab Saudi.

Selama ratusan tahun, keduanya berkelana di muka bumi dalam keadaan terpisah, merasakan kesedihan dan kerinduan yang mendalam satu sama lain. Dengan petunjuk dari Allah SWT, Adam kemudian melakukan perjalanan panjang menuju Jazirah Arab. Perjalanan bertahun-tahun itu akhirnya berbuah hasil ketika Adam dan Hawa bertemu kembali di Jabal Rahmah, Padang Arafah, dalam momen reuni yang sangat mengharukan dan penuh air mata.

Di puncak bukit inilah, Adam dan Hawa berpelukan setelah ratusan tahun terpisah dan mereka memanjatkan syukur serta taubat kepada Allah SWT atas kesalahan yang pernah diperbuat. Pertemuan ini kemudian menjadi simbol abadi tentang cinta, pengampunan, dan kasih sayang Allah kepada hamba-Nya. Kisah inilah yang membuat Jabal Rahmah mendapat julukan "Bukit Cinta" yang dikenal hingga ke seluruh penjuru dunia Islam.

Asal Usul Tugu di Puncak Jabal Rahmah

Asal usul tugu Jabal Rahmah tidak dapat dipisahkan dari upaya pemerintah Arab Saudi untuk menandai titik tepat pertemuan Nabi Adam dan Siti Hawa secara historis. Tugu putih setinggi sekitar 7 meter ini dibangun sebagai penanda atau monumen di puncak Jabal Rahmah agar para peziarah dapat dengan mudah menemukan lokasi bersejarah tersebut. Pembangunan tugu ini merupakan bagian dari pengembangan fasilitas kawasan Arafah oleh Kerajaan Arab Saudi.

Tugu tersebut berbentuk tiang silinder berwarna putih bersih yang berdiri megah di puncak bukit berbatu. Desainnya yang sederhana namun mencolok membuatnya terlihat jelas dari kejauhan, menjadi panduan visual bagi jutaan jamaah yang ingin mendaki ke puncak Jabal Rahmah. Di sekitar tugu, terdapat prasasti dan papan informasi dalam berbagai bahasa yang menjelaskan makna dan sejarah tempat tersebut.

Seiring waktu, tugu ini menjadi lebih dari sekadar penanda geografis, bertransformasi menjadi ikon spiritual dan romantis yang dikunjungi pasangan suami istri maupun mereka yang mendamba pasangan hidup. Tradisi menulis nama dan doa di kertas atau bahkan langsung di badan tugu pernah berkembang di kalangan pengunjung, meskipun kemudian ditertibkan oleh otoritas setempat karena dianggap tidak sesuai dengan ajaran Islam yang sesungguhnya.

Makna Spiritual Jabal Rahmah dalam Ibadah Haji

Jabal Rahmah memiliki peran yang tidak terpisahkan dari pelaksanaan ibadah haji, khususnya dalam ritual wukuf di Arafah yang dilaksanakan pada tanggal 9 Dzulhijjah. Wukuf di Arafah dianggap sebagai puncak dari seluruh rangkaian ibadah haji, bahkan Rasulullah SAW bersabda bahwa "Al-hajju Arafah" yang berarti haji itu adalah Arafah, menegaskan betapa sentralnya posisi padang ini dalam ritual haji. Jabal Rahmah berdiri di jantung Arafah sebagai pusat spiritual yang menyatukan makna lahir dan batin ibadah haji.

Pada hari wukuf, jamaah haji dari seluruh dunia berkumpul di Arafah sejak matahari tergelincir hingga matahari terbenam untuk berdoa, berdzikir, dan bermunajat kepada Allah SWT. Banyak di antara mereka yang secara khusus mendaki Jabal Rahmah untuk berdoa di puncaknya, mengikuti jejak yang dikaitkan dengan tradisi para nabi. Momen ini menjadi salah satu pengalaman spiritual paling dahsyat yang pernah dirasakan manusia, di mana jutaan jiwa memanjatkan doa secara bersama-sama.

Selain dimensi fisik ibadah, Jabal Rahmah juga mengajarkan nilai-nilai universal tentang taubat, pengampunan, dan rahmat Ilahi. Kisah Adam dan Hawa yang bersatu kembali di bukit ini menjadi pengingat bahwa kasih sayang Allah jauh melampaui dosa dan kesalahan manusia. Setiap jamaah yang menjejakkan kaki di Jabal Rahmah umumnya membawa pulang tidak hanya kenangan visual, tetapi juga penghayatan baru tentang arti rahmat dan cinta dalam kehidupan.

Pertanyaan Seputar Cerita Cinta Bukit Jabal Rahmah

  1. Apa arti nama Jabal Rahmah? Jabal Rahmah berarti "Bukit Kasih Sayang" atau "Bukit Rahmat" dalam bahasa Arab.
  2. Siapa yang dipertemukan di Jabal Rahmah? Jabal Rahmah diyakini sebagai tempat pertemuan kembali Nabi Adam AS dan Siti Hawa.
  3. Apakah ada tugu di puncak Jabal Rahmah? Ya, di puncak Jabal Rahmah terdapat sebuah tugu beton berwarna putih sebagai penanda lokasi.
  4. Apakah berdoa di Jabal Rahmah dapat mempercepat jodoh? Tidak ada dalil kuat dalam Islam yang menyatakan bahwa berdoa di Jabal Rahmah secara khusus dapat mempercepat jodoh.
  5. Apakah mendaki Jabal Rahmah merupakan bagian dari rukun haji? Mendaki Jabal Rahmah bukanlah bagian dari rukun haji atau umrah yang wajib.
  6. Peristiwa penting apa lagi yang terjadi di Jabal Rahmah selain pertemuan Adam dan Hawa? Nabi Muhammad SAW menyampaikan Khutbah Wada' di kawasan Arafah, dekat Jabal Rahmah, saat haji terakhirnya.
  7. Apa pesan moral utama dari Jabal Rahmah? Pesan moral utamanya adalah tentang rahmat, pengampunan, dan kasih sayang Allah yang tak terbatas bagi hamba-Nya yang bertaubat.
Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |