Liputan6.com, Jakarta - Setiap fajar, lantunan suara adzan subuh menggema dari ribuan masjid dan mushala di seluruh penjuru Nusantara. Kalimat Allahu Akbar berkumandang, membangunkan jiwa-jiwa yang terlelap untuk menyongsong rahmat Ilahi. Seruan itu sayang jika tak disambut dengan doa menjawab adzan subuh.
Sebab, suara yang akrab di telinga ini bukan sekadar penanda bahwa waktu sholat telah tiba. Adzan memiliki dimensi yang jauh lebih dalam.
Seperti dijelaskan dalam Jurnal Peran Suara Azan sebagai Syiar dalam Islam karya M. Hadri Hasan, adzan merupakan syiar Islam yang sarat dengan pesan dakwah. Bukan hanya untuk umat Islam, adzan juga merupakan seruan kepada seluruh umat manusia untuk mengenal kebesaran Allah SWT.
Pensyariatan menjawab adzan ditegaskan Nabi SAW dalam beberapa hadis. Di antaranya, dalam hadis riwayat Bukhari Muslim. Rasulullah SAW bersabda: “Jika kalian mendengar suara muadzin (mengumandangkan adzan), maka katakanlah sebagaimana yang diucapkan oleh muadzin.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Hadits ini menjadi dalil utama bahwa setiap muslim yang mendengar adzan dianjurkan untuk mengulang setiap kalimat yang diucapkan oleh muadzin. Berikut ini ulasannya.
Doa Menjawab Adzan Subuh Lengkap
Adzan subuh memiliki kekhasan tersendiri dibandingkan adzan untuk sholat lainnya, yaitu adanya tambahan lafadz اَلصَّلاَةُ خَيْرٌ مِنَ النَّوْمِ (Sholat itu lebih baik daripada tidur) yang diucapkan sebanyak dua kali setelah Hayya ‘alal falah. Keistimewaan inilah yang menjadikan tata cara menjawab adzan subuh sedikit berbeda dari adzan lainnya.
Berikut adalah panduan lengkap menjawab adzan subuh kalimat demi kalimat, merujuk Bulughul Maram karya Ibnu Hajar al-Asqalani dan sumber kitab lainnya.
Jawaban untuk Setiap Kalimat Adzan Subuh:
1. Saat muadzin mengucapkan: ٱللَّٰهُ أَكْبَرُ، ٱللَّٰهُ أَكْبَرُ (Allaahu Akbar, Allaahu Akbar – Allah Maha Besar, Allah Maha Besar)
Jawaban:
ٱللَّٰهُ أَكْبَرُ، ٱللَّٰهُ أَكْبَرُ
Latin: Allaahu Akbar, Allaahu Akbar
2. Saat muadzin mengucapkan: أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا ٱللَّٰهُ (Asyhadu allaa ilaaha illallaah – Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah)
Jawaban:
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا ٱللَّٰهُ
Latin: Asyhadu allaa ilaaha illallaah
3. Saat muadzin mengucapkan: أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ ٱللَّٰهِ (Asyhadu anna Muhammadar rasuulullah – Aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah)
Jawaban:
أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ ٱللَّٰهِ
Latin: Asyhadu anna Muhammadar rasuulullah
4. Saat muadzin mengucapkan: حَيَّ عَلَى ٱلصَّلَاةِ (Hayya ‘alash sholaah – Marilah menuju sholat)
Jawaban:
لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِٱللَّٰهِ
Latin: Laa haula wa laa quwwata illaa billaah
Artinya: Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah
5. Saat muadzin mengucapkan: حَيَّ عَلَى ٱلْفَلَاحِ (Hayya ‘alal falaah – Marilah menuju kemenangan/kebahagiaan)
Jawaban:
لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِٱللَّٰهِ
Latin: Laa haula wa laa quwwata illaa billaah
Artinya: Tiada daya dan upaya, serta tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah
6. Saat muadzin mengucapkan (khusus adzan subuh): ٱلصَّلَاةُ خَيْرٌ مِنَ ٱلنَّوْمِ (Ash-sholaatu khairum minan nauum – Sholat itu lebih baik daripada tidur)
Jawaban:
صَدَقْتَ وَبَرَرْتَ
Latin: Shadaqta wa bararta
Artinya: Engkau benar dan engkau baik
Kemudian dilanjutkan dengan:
وَأَنَا عَلَىٰ ذَٰلِكَ مِنَ ٱلشَّاهِدِينَ
Latin: Wa anaa ‘alaa dzaalika minasy syaahidiin
Artinya: Dan aku terhadap hal itu termasuk orang-orang yang menjadi saksi)
7. Saat muadzin mengucapkan: ٱللَّٰهُ أَكْبَرُ، ٱللَّٰهُ أَكْبَرُ (Allaahu Akbar, Allaahu Akbar)
Jawaban:
ٱللَّٰهُ أَكْبَرُ، ٱللَّٰهُ أَكْبَرُ
Latin: Allaahu Akbar, Allaahu Akbar
8. Saat muadzin mengucapkan: لَا إِلَٰهَ إِلَّا ٱللَّٰهُ (Laa ilaaha illallaah – Tiada Tuhan selain Allah)
Jawaban:
لَا إِلَٰهَ إِلَّا ٱللَّٰهُ
Latin: Laa ilaaha illallaah
Doa Setelah Adzan Subuh
Setelah selesai menjawab seluruh kalimat adzan, umat muslim dianjurkan untuk melanjutkan dengan membaca doa khusus yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Doa ini diriwayatkan dalam Shahih Bukhari (no. 614) dari sahabat Jabir bin ‘Abdillah RA.
اللَّهُمَّ رَبَّ هَٰذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ، وَالصَّلَاةِ الْقَائِمَةِ، آتِ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا الْوَسِيلَةَ وَالْفَضِيلَةَ وَالشَّرَفَ وَالدَّرَجَةَ الْعَالِيَةَ الرَّفِيعَةَ، وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا الَّذِي وَعَدْتَهُ، إِنَّكَ لَا تُخْلِفُ الْمِيعَادَ
Latin: Allahumma rabba haadzihid da’watit taammah, wash shalaatil qaa-imah, aati sayyidana Muhammadanil washiilata wal fadhiilah, wasy syarafa wad darajatal ‘aaliyatar rafii’ah, wab’atshu maqaamam mahmuudanil ladzii wa’adtah, innaka laa tukhliful mii’aad.
Artinya: “Ya Allah, Tuhan pemilik seruan yang sempurna (adzan) ini dan shalat (wajib) yang didirikan. Berilah kepada Nabi Muhammad wasilah (kedudukan tinggi di surga) dan keutamaan, kemuliaan, serta derajat yang tinggi lagi mulia. Dan bangkitkanlah beliau pada kedudukan terpuji yang telah Engkau janjikan. Sesungguhnya Engkau tidak pernah menyalahi janji.”
Doa tersebut sama dengan doa-doa mendengar adzan seruan sholat lainnya.
Hukum Menjawab Adzan
Para ulama sepakat bahwa menjawab adzan hukumnya adalah sunnah muakkad (sangat dianjurkan). Pendapat ini merupakan pandangan jumhur (mayoritas) ulama, termasuk di dalamnya mazhab Syafi’iyah, Malikiyah, dan Hanabilah.
Meskipun tidak secara eksplisit menyebutkan perintah menjawab adzan, Al-Qur’an memerintahkan umat Islam untuk bersegera menuju sholat ketika mendengar panggilan. Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Jumu’ah ayat 9:
“Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan sholat Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (QS. Al-Jumu’ah: 9)
Ayat ini menunjukkan bahwa panggilan menuju sholat (yang dalam konteks sholat lima waktu adalah adzan) harus disambut dengan segera, dan menjawab adzan adalah bentuk awal dari penyambutan tersebut.
Imam An-Nawawi dalam kitab Al-Majmu’ Syarhul Muhaddzab (juz 3, halaman 127) menyatakan: “Pendapat mazhab kami (Syafi’iyah), bahwa mengikuti adzan hukumnya sunnah dan tidak wajib. Ini merupakan pendapat kebanyakan ulama. Dan diceritakan oleh At-Thahawi adanya perbedaan pendapat dari sebagian ulama salaf yang mewajibkan menjawab adzan.”
Meskipun hukumnya tidak wajib, para ulama sepakat bahwa meninggalkan jawaban adzan adalah perbuatan yang makruh (tercela) karena mengabaikan perintah Nabi yang termaktub dalam hadits-hadits shahih.
Sejarah Disyariatkannya Adzan
Hikmah Menjawab Adzan
1. Mendapat Syafaat Rasulullah SAW di Hari Kiamat
Keutamaan paling agung dari membaca doa setelah adzan adalah mendapatkan syafaat (pertolongan) dari Rasulullah SAW di hari kiamat. Sebagaimana termaktub dalam hadits riwayat Bukhari di atas, Rasulullah SAW menjanjikan syafaatnya bagi siapa pun yang membaca doa tersebut dengan penuh keyakinan.
Syafaat ini sangat dibutuhkan oleh setiap hamba di padang mahsyar yang begitu dahsyat. Dengan izin Allah, Rasulullah SAW akan memberikan pertolongan kepada umatnya yang beriman.
2. Dicatat sebagai Ahli Surga
Dalam hadits riwayat Imam Al-Tirmidzi dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa mengucapkan seperti ini (menjawab adzan) dengan yakin, niscaya dia masuk surga.”
Hadits ini menunjukkan betapa besarnya pahala yang dijanjikan Allah bagi mereka yang konsisten menjawab adzan dengan penuh keimanan dan keyakinan.
3. Menjadi Saksi Kebaikan di Hari Kiamat
Rasulullah SAW bersabda: “Tidaklah suara muadzin didengar oleh jin, manusia, dan segala sesuatu melainkan mereka akan bersaksi untuknya di hari kiamat.” (HR. Al-Bukhari)
Artinya, setiap makhluk yang mendengar adzan—baik yang kita sadari maupun tidak—akan menjadi saksi kebaikan bagi muadzin. Namun, keutamaan ini juga meluas kepada mereka yang menjawab adzan, karena turut serta dalam menyambut seruan agung tersebut.
4. Diampuni Dosa-dosanya
Dalam riwayat lain, Rasulullah SAW menyebutkan bahwa barangsiapa yang mendengar muadzin lalu mengucapkan:
وَأَنَا أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، رَضِيتُ بِاللَّهِ رَبًّا، وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولًا، وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا “Dan aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Aku ridha Allah sebagai Tuhanku, Muhammad sebagai Rasulku, dan Islam sebagai agamaku.” Maka dosanya akan diampuni.
5. Waktu Mustajab untuk Berdoa
Rasulullah SAW bersabda: “Doa antara adzan dan iqamah tidak akan ditolak.” (HR. Abu Daud, Tirmidzi, dan Ahmad)
Ini adalah peluang emas bagi setiap muslim untuk memanjatkan hajat dan keperluannya kepada Allah SWT. Di waktu yang penuh berkah ini, Allah lebih dekat kepada hamba-Nya dan lebih mudah mengabulkan doa-doa mereka.
6. Meninggalkan Kesibukan Duniawi Menuju Ketaatan
Secara lebih fundamental, menjawab adzan mengajarkan kita untuk meninggalkan sejenak segala kesibukan duniawi—pekerjaan, dagang, hiburan, bahkan tidur—untuk memenuhi panggilan Allah. Seperti dijelaskan dalam jurnal M. Hadri Hasan, adzan mengandung ajakan (hayya ‘alash shalah dan hayya ‘alal falah) untuk meraih kebahagiaan dunia dan akhirat melalui sholat.
Dengan menjawab adzan, kita melatih diri untuk selalu sadar bahwa ada kewajiban yang lebih utama dari segala aktivitas dunia. Ini adalah bentuk latihan spiritual untuk menumbuhkan kesadaran bahwa kehidupan ini adalah persiapan menuju akhirat.
7. Memperkuat Iman dan Ketaqwaan
Setiap kali menjawab adzan, kita mengulang-ulang kalimat tauhid “Allahu Akbar”, “Asyhadu an laa ilaaha illallah”, dan “Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah”. Pengulangan ini secara tidak langsung memperkuat keyakinan dalam hati dan mengingatkan kita pada inti ajaran Islam. Seperti dijelaskan dalam jurnal tersebut, makna adzan adalah sebagai “penggugah, dengan menunjukkan tanda kebesaran Allah SWT, sebagai penyadaran dan penentraman”.
People also Ask:
Ketika adzan subuh kita harus menjawab apa?
Apabila seorang muadzin mengucapkan “Assalatu khairum minan-naum” dalam bacaan adzan Subuh, disunahkan dengan menjawab dengan lafal “Shadaqta wa bararta wa ana 'ala dzalika minasy syahidin” yang pada artinya adalah “Benarlah engkau serta baguslah ucapanmu dan saya termasuk orang-orang yang telah menyaksikan kebenaran
Kapan diucapkan laa haula wala quwwata illa billah?
Saat kita kagum akan sesuatu, sebaiknya kita ucapkan "Maa syaa Allah, laa quwwata illa billah" (sungguh, ini semua kehendak Allah. Tidak ada kekuatan apa pun kecuali dengan pertolongan Allah). Ungkapan ini mengingatkan kita bahwa segala keindahan, keajaiban, dan kekuatan berasal dari Allah ﷻ semata.
La haula wala quwwata illa billahil aliyil adzim artinya apa?
"Tiada daya dan upaya kecuali dengan kekuatan Allah yang Maha Tinggi lagi Maha Agung,"
La haula wala quwwata illa billah doa untuk apa?
Dalam kehidupan sehari-hari, umat Islam sering mendengar atau mengucapkan lafal laa haula walaa quwwata illaa billaah. Lafal ini termasuk salah satu dzikir yang memiliki makna mulia yakni meminta pertolongan dan berpasrah diri kepada Allah SWT.

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/1736918/original/048236900_1507776245-planning-hero-720x240.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5534795/original/014528000_1773892938-khutbah.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5531528/original/007916600_1773619112-unnamed__10_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5210971/original/091010800_1746521381-35a809bc-4568-495f-a8ae-24e0aac67ddf.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5531526/original/098176600_1773619110-unnamed__9_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5504244/original/075918900_1771228828-Ilustrasi_Cokelat_Valentine__Photo_by_valeria_aksakova_on_Freepik___9_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/1632447/original/056755900_1498200692-20170623-Salat-Jumat-Terakhir-Ramadan-Afandi-4.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2336374/original/082096200_1534823979-Salat-Idul-Adha-1439-H5.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5450229/original/030945800_1766134797-unnamed__2_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4780649/original/094862900_1711077046-masjid-pogung-raya-9nkMRXMvZiI-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3062884/original/002425400_1582862191-20200227-Mekah-Pasca-Penghentian-Sementara-Ibadah-Umrah-AFP-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5395967/original/071256700_1761722354-6a.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4449837/original/055086300_1685614290-WhatsApp_Image_2023-06-01_at_17.06.22.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5210970/original/079171200_1746521381-4030a27f-cf92-4a92-baa9-034b02eeb77e.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5548498/original/018512500_1775542937-IMG_20260407_114415.jpg.webp)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5378584/original/033747300_1760257934-unnamed__52_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5546602/original/090949100_1775356160-2877e324-fd41-4a4c-a1fc-6bcb6302739e.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4054720/original/000780500_1655361908-muhammad-adil-6JaO2SVfMq0-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5116935/original/013302500_1738379955-1738376234285_tujuan-khutbah.jpg)










:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4010689/original/086569000_1651202668-pexels-rayn-l-3163677.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5154231/original/041919200_1741337635-20250307-Tadarus-ANG_2.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5450038/original/011940800_1766126206-Gemini_Generated_Image_n0zy6on0zy6on0zy.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3360668/original/038739700_1611729329-abdullah-faraz-fj-p_oVIhYE-unsplash.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/755908/original/073849700_1414158415-x6.jpg)





:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3922271/original/043865300_1643824060-Ilustrasi_bulan_Rajab_1.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4770150/original/051663000_1710247846-20240312-Berbuka_Puasa_di_Istiqlal-HER_2.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3190057/original/069392400_1595662626-muslim-woman-praying_23-2147794180.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5450827/original/035534900_1766196455-berdoa_di_pagi_hari.jpg)