Liputan6.com, Jakarta - Preman kembali menjadi sorotan setelah sejumlah aksi mereka viral di berbagai daerah, termasuk di Jawa Barat, hingga memancing reaksi keras dari Gubernur setempat, Dedi Mulyadi, yang geram dengan ulah mereka.
Keberadaan preman di era modern menimbulkan dilema: apakah mereka masih punya kesempatan untuk mengakhiri hidup kelamnya dan kembali ke jalan yang benar, atau semuanya sudah terlambat?
Ulama muda yang dikenal hafal Al-Qur'an Ustadz Adi Hidayat (UAH) mengajak para preman untuk mengakhiri masa kelamnya dan kembali ke jalan yang lebih baik. Dalam ceramahnya, ia menekankan bahwa setiap orang memiliki peluang untuk berubah, tidak peduli seberapa jauh mereka telah tersesat. Islam memberikan ruang bagi siapa pun yang ingin bertobat dan memulai hidup baru dengan memperbaiki diri serta lingkungan sekitar.
Setiap manusia pasti memiliki masa lalu, termasuk kesalahan dan dosa yang pernah dilakukan. Namun, Islam memberikan kesempatan kepada setiap hamba untuk memperbaiki diri sebelum ajal menjemput.
Kesalahan dalam hidup bisa terjadi dalam berbagai bentuk, baik dalam hubungan sosial, pekerjaan, maupun dalam menjalankan agama. Namun, Allah selalu menawarkan jalan untuk kembali kepada-Nya dengan hati yang bersih.
UAH menjelaskan bahwa kesempatan untuk menjadi lebih baik selalu terbuka lebar. Tidak ada manusia yang sempurna, tetapi yang terpenting adalah bagaimana seseorang memperbaiki diri sebelum kematian datang.
UAH menekankan bahwa rahmat Allah sangat luas, sebagaimana telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW. Islam hadir sebagai rahmatan lil alamin, yang memberikan kesempatan bagi setiap orang untuk berubah menjadi lebih baik.
Penjelasan ini disampaikan dalam kajian yang dirangkum dari tayangan video di kanal YouTube @MyInspiration-call. Dalam video tersebut, UAH mengajak umat Islam untuk tidak putus asa dengan masa lalu, tetapi fokus pada perbaikan diri.
Menurut UAH, dalam kehidupan sehari-hari saja seseorang merasa malu ketika melakukan kesalahan. Seorang anak yang berbuat salah pada orang tuanya akan merasa berat untuk pulang. Begitu juga dengan seseorang yang menyalahgunakan jabatan atau harta, akan merasa tidak nyaman untuk kembali ke jalan yang benar.
Simak Video Pilihan Ini:
Kincir Angin dan Panel Surya Terangi Malam Warga Bondan Kampung Laut
Jangan Malu Pulang
"Kalau salah dalam kehidupan saja kita malu untuk pulang, bagaimana dengan kesalahan terhadap Allah? Bagaimana cara kembali kepada-Nya?" ujar UAH dalam kajiannya.
UAH menjelaskan bahwa dosa dan kesalahan sering kali membuat seseorang merasa sulit untuk kembali mendekat kepada Allah. Perasaan malu dan takut membuat seseorang menunda-nunda untuk bertobat.
Namun, dalam Islam, Allah selalu membuka pintu taubat bagi siapa saja yang ingin kembali. Kesalahan di masa lalu bukan alasan untuk terus terjebak dalam keburukan, melainkan menjadi motivasi untuk berubah menjadi lebih baik.
UAH mengingatkan bahwa yang paling penting bukanlah seberapa besar kesalahan yang telah dilakukan, tetapi seberapa besar niat untuk memperbaiki diri. Allah tidak melihat masa lalu seseorang, tetapi melihat usahanya untuk bertobat.
Setiap manusia diberikan kesempatan untuk mengakhiri hidup dengan husnul khatimah, yaitu meninggal dalam keadaan baik. Namun, kesempatan itu harus diperjuangkan sejak sekarang dengan memperbaiki diri dan mendekat kepada Allah.
Dalam kajiannya, UAH menekankan pentingnya memiliki rasa malu terhadap dosa. Jika seseorang bisa merasa malu ketika melakukan kesalahan kepada manusia, seharusnya rasa malu yang lebih besar muncul ketika berbuat salah kepada Allah.
"Kalau merasa malu salah kepada manusia, kenapa tidak malu kepada Allah? Kenapa tidak segera kembali sebelum terlambat?" ungkap UAH.
Cara Kembali Kepada Allah SWT
UAH juga menjelaskan bahwa ada banyak cara untuk kembali kepada Allah. Salah satunya adalah dengan memperbanyak ibadah, berbuat baik kepada sesama, dan meninggalkan kebiasaan buruk yang pernah dilakukan.
Menurutnya, taubat bukan sekadar ucapan, tetapi harus dibuktikan dengan perubahan nyata dalam kehidupan. Orang yang benar-benar ingin kembali kepada Allah harus berusaha meninggalkan kebiasaan buruknya.
UAH memberikan contoh bagaimana para sahabat Nabi dulu ada yang memiliki masa lalu kelam, tetapi akhirnya menjadi pribadi yang mulia setelah bertobat dan berusaha menjadi lebih baik.
Perubahan itu bukan sesuatu yang instan, tetapi harus dilakukan dengan kesungguhan dan ketekunan. Dengan tekad yang kuat, seseorang bisa meninggalkan kesalahan di masa lalu dan menjalani hidup dengan lebih baik.
Dalam Islam, Allah bahkan lebih mencintai orang yang bertobat dibandingkan mereka yang merasa dirinya sudah sempurna. Sebab, orang yang bertobat menunjukkan kesadaran dan usaha untuk menjadi lebih baik.
"Jangan biarkan masa lalu menghalangi kita untuk berubah. Allah tidak melihat masa lalu, tetapi melihat usaha kita untuk kembali kepada-Nya," kata UAH.
UAH juga mengajak umat Islam untuk selalu memohon ampunan kepada Allah dalam setiap doa. Tidak ada dosa yang terlalu besar jika seseorang benar-benar ingin bertobat dan memperbaiki diri.
Sebagai penutup, UAH mengingatkan bahwa setiap orang masih punya kesempatan untuk memperbaiki diri sebelum ajal datang. Yang terpenting adalah segera mengambil langkah dan tidak menunda-nunda taubat.
"Jangan tunggu sampai terlambat. Perbaiki diri sekarang, agar bisa kembali kepada Allah dalam keadaan terbaik," pungkasnya.
Penulis: Nugroho Purbo/Madrasah Diniyah Miftahul Huda 1 Cingebul