Hukum Puasa Tapi Tidak Sahur karena Kesiangan, Jangan Sampai Salah Paham

2 weeks ago 21

Liputan6.com, Jakarta - Hukum puasa tapi tidak sahur karena kesiangan kerap menjadi pertanyaan saat Ramadan, terutama ketika seseorang terlambat bangun dan tidak sempat makan sahur. Kondisi ini sering menimbulkan kekhawatiran, apakah puasa tetap sah tanpa sahur atau justru harus diganti di hari lain. Situasi seperti ini memang umum terjadi dan perlu dipahami dengan benar agar tidak menimbulkan keraguan dalam beribadah.

Sahur memang sangat dianjurkan oleh Rasulullah SAW dan memiliki keutamaan tersendiri, namun tidak sedikit yang masih bingung apakah sahur termasuk syarat sah puasa atau hanya sunnah. Oleh karena itu, penting untuk memahami kedudukan sahur dalam puasa Ramadan beserta penjelasan para ulama, agar ibadah tetap dijalankan dengan tenang dan penuh keyakinan meski sempat kesiangan. Berikut hukum puasa tapi tidak sahur karena kesiangan, dirangkum Liputan6.com dari berbagai sumber pada Selasa (17/2/2026).

Sahur dalam Islam

Sahur adalah aktivitas makan dan minum yang dilakukan pada waktu malam hingga menjelang terbit fajar sebagai persiapan menjalankan puasa. Dalam Islam, sahur memiliki kedudukan khusus karena menjadi pembeda antara puasa umat Islam dengan puasa umat lainnya. Waktu sahur dimulai setelah tengah malam hingga masuk waktu subuh, dan dianjurkan untuk dilakukan mendekati waktu fajar.

Dalam banyak hadis, Rasulullah SAW menganjurkan umatnya untuk bersahur meskipun hanya dengan seteguk air. Anjuran ini menunjukkan bahwa sahur bukan sekadar kebiasaan, melainkan bagian dari sunnah yang membawa keberkahan. Rasulullah bersabda,

"Makan sahurlah kalian, karena dalam sahur terdapat keberkahan." (HR. Bukhari dan Muslim)

Selain bernilai ibadah, sahur juga memiliki manfaat praktis bagi tubuh. Asupan makanan saat sahur membantu menjaga stamina, mengurangi rasa lemas, serta menjaga konsentrasi saat beraktivitas. Karena itu, meskipun sahur tidak selalu bisa dilakukan karena kondisi tertentu, Islam tetap mendorong umatnya untuk tidak meninggalkannya tanpa alasan.

Hukum Puasa Tanpa Sahur karena Kesiangan

Hukum puasa tapi tidak sahur karena kesiangan pada dasarnya adalah sah, selama seseorang sudah berniat puasa sebelum terbit fajar. Sahur bukanlah syarat sah puasa, melainkan sunnah yang sangat dianjurkan. Artinya, tidak sahur tidak otomatis membatalkan puasa seseorang.

Dalam penjelasan para ulama, yang menjadi penentu sah atau tidaknya puasa adalah niat dan kemampuan menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa sejak terbit fajar hingga matahari terbenam. Jika seseorang sudah berniat di malam hari, lalu tertidur hingga melewati waktu sahur, maka ia tetap boleh melanjutkan puasanya sampai waktu berbuka.

Sahur memang memiliki keutamaan, tetapi posisinya tidak sama dengan rukun atau syarat puasa. Oleh sebab itu, kesiangan dan tidak sempat sahur bukan alasan untuk membatalkan puasa secara otomatis. Justru, orang tersebut dianjurkan tetap menjalankan puasanya dengan penuh kesungguhan dan menjaga ibadah lainnya.

Namun, yang perlu diperhatikan adalah persoalan niat. Jika seseorang tidak sahur dan juga tidak menghadirkan niat puasa sama sekali di malam hari, maka menurut mayoritas ulama, puasanya tidak sah. Jadi, inti persoalan hukum puasa tanpa sahur bukan terletak pada makan sahurnya, melainkan pada niat yang menyertai ibadah puasa tersebut.

Apa yang Menjadi Syarat Sah Puasa?

Dalam Islam, sahnya puasa ditentukan oleh beberapa syarat utama, bukan oleh sahur. Syarat yang paling penting adalah adanya niat sebelum terbit fajar. Niat ini berada di dalam hati, bukan sekadar ucapan, sebagai bentuk kesadaran untuk menjalankan ibadah puasa karena Allah SWT.

Selain niat, syarat sah puasa berikutnya adalah menahan diri dari segala hal yang membatalkan puasa, seperti makan, minum, dan hubungan suami istri, sejak fajar hingga magrib. Selama seseorang menjaga hal ini, puasanya tetap dianggap sah meskipun ia tidak sempat sahur.

Karena itu, sahur lebih tepat dipahami sebagai penyempurna puasa, bukan penentu sah atau batalnya puasa. Sahur membantu secara fisik dan spiritual, tetapi keberadaan niat dan kemampuan menahan diri jauh lebih menentukan dalam penilaian hukum puasa.

Pendapat Ulama tentang Sahur dan Niat Puasa

Mayoritas ulama dari mazhab Syafi’i, Maliki, dan Hambali sepakat bahwa niat puasa Ramadan harus dilakukan pada malam hari sebelum fajar. Jika niat sudah ada, maka puasa sah meskipun seseorang tidak sahur sama sekali karena tertidur atau kesiangan.

Dalam pandangan mereka, sahur hanyalah sunnah yang mengandung keberkahan. Nilainya besar, tetapi tidak sampai menjadi rukun puasa. Oleh karena itu, orang yang meninggalkan sahur tidak berdosa dan tidak wajib mengganti puasanya, selama niat sudah terpenuhi.

Mazhab Hanafi memberikan kelonggaran dalam kondisi tertentu. Menurut mereka, seseorang masih boleh berniat puasa di pagi hari selama belum melakukan hal-hal yang membatalkan puasa. Pendapat ini sering dijadikan solusi ketika seseorang benar-benar lupa niat dan tidak sahur karena tertidur.

Dari penjelasan tersebut dapat dipahami bahwa inti ibadah puasa bukan terletak pada sahur, melainkan pada kesadaran niat dan komitmen menahan diri. Sahur tetap dianjurkan, tetapi tidak sahur karena kesiangan tidak otomatis membuat puasa menjadi batal.

Pertanyaan dan Jawaban seputar Topik

1. Apakah puasa batal kalau tidak sahur?

Tidak, puasa tetap sah selama sudah niat sebelum fajar.

2. Apakah sahur wajib dalam puasa Ramadan?

Tidak wajib, sahur hukumnya sunnah yang dianjurkan.

3. Kalau kesiangan dan tidak sahur, apakah harus mengganti puasa?

Tidak perlu mengganti jika niat sudah ada dan puasa dijalankan sampai magrib.

4. Mana yang lebih penting, sahur atau niat?

Niat lebih penting karena menjadi syarat sah puasa.

5. Bolehkah niat puasa setelah subuh?

Mayoritas ulama tidak membolehkan, kecuali pendapat Hanafi dalam kondisi tertentu.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |