Kenapa Kurban Identik dengan Kambing dan Sapi? Perspektif Fikih dan Tradisi

5 hours ago 5

Liputan6.com, Jakarta - Setiap kali menjelang Hari Raya Idul Adha, berbagai sudut kota hingga media sosial selalu diwarnai oleh pemandangan yang khas, penjualan sapi dan kambing di berbagai sudut jalan. Pertanyaan yang sering kali muncul di benak masyarakat adalah, kenapa kurban identik dengan kambing dan sapi?

Pertanyaan ini relevan mengingat kambing dan sapi hanyalah dua di antara Bahimatul An’am, hewan yang dimanfaatkan susu dan dagingnya dalam Islam. Masih terdapat sejumlah hewan ternak lain yang termasuk di dalamnya.

Kemudian, dari sisi fikih, kambing dan sapi bukanlah yang paling utama, dilihat dari pandangan jumhur ulama, yang menimbangnya dari sisi maslahah (banyaknya daging). Jika begitu, kenapa sapi dan kambing lebih populer sebagai hewan kurban di Indonesia dan sejumlah negara lain?

Merujuk Buku Saku Fikih Qurban (2022) terbitan Inisiatif Zakat Indonesia (IZI), Risalah Bekal-Bekal Idul Adha karya Abu Salma al-Atsari, serta sumber relevan lain, berikut ini ulasannya, perspektif fikih dan sosio-kultural.

1. Landasan Syariat Kambing dan Sapi

Islam dengan tegas menentukan jenis hewan yang sah untuk kurban. Dalilnya adalah firman Allah SWT dalam Surat Al-Hajj ayat 34: “Dan bagi setiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzekikan Allah kepada mereka.”

Para ulama mazhab utama sepakat bahwa cakupan “Bahimatul An’am” dalam ayat tersebut dibatasi pada tiga jenis: unta, sapi, dan kambing (termasuk domba). Ini berarti, seekor ayam, kelinci, atau kuda tidak sah dijadikan kurban.

Dari ketiga jenis tersebut, menurut mayoritas ulama, termasuk mazhab Syafi’i yang banyak diikuti di Indonesia, urutan keutamaannya adalah unta, kemudian sapi, lalu kambing. Landasannya logis: unta adalah yang paling besar dan harganya paling mahal.

Di sisi lain, dalam khazanah fikih, kita juga mengenal pendapat lain yang cukup menarik. Imam Malik RA, misalnya, justru meyakini bahwa kambing adalah yang paling utama. Alasannya kuat dan praktis: kambing adalah hewan yang paling sering dan konsisten dipraktikkan langsung oleh Rasulullah SAW dan para sahabat.

Perbedaan ini penting dipahami karena menunjukkan bahwa pilihan antara kambing dan sapi bukanlah masalah hitam putih, melainkan sebuah area yang luas dengan berbagai pertimbangan yang sah. Hal inilah yang kemudian melahirkan dinamika pilihan yang khas di masyarakat Nusantara.

2. Faktor Ketersediaan dan Geografis

Teori keutamaan unta pun surut ketika berhadapan dengan realitas lokal yang kental. Alasan paling mendasar adalah kondisi alam Indonesia. Unta adalah hewan yang habitat aslinya adalah gurun pasir di Timur Tengah dan Afrika Utara.

Iklim tropis yang lembab serta ekosistem Indonesia tidak ideal untuk peternakan unta dalam skala besar.  Populasinya pun sangat eksklusif, hanya ada di beberapa kebun binatang atau lokasi wisata, bukan di pasar hewan rakyat.

Oleh karena itu, mustahil bagi umat Islam di Indonesia untuk menjadikan unta sebagai pilihan kurban utama. Sementara itu, kambing dan sapi tumbuh subur dan tersedia sangat melimpah di seluruh pelosok Nusantara, dari Sabang hingga Merauke.

3. Tingkat Ekonomi dan Daya Beli Masyarakat

Ketersediaan semata tidak cukup. Pilihan masyarakat juga sangat ditentukan oleh faktor dompet. Data dan fakta di lapangan menunjukkan dengan jelas bagaimana ekonomi memengaruhi keputusan berkurban.

Satu ekor unta yang didatangkan dari luar negeri tentu memiliki harga yang fantastis dan tidak terjangkau oleh sebagian besar masyarakat. Sementara itu, kisaran harga hewan kurban di pasar lokal pada tahun 2026 menunjukkan gambaran yang lebih realistis.

Bagi masyarakat kelas menengah, harga sapi yang lumayan tinggi mendorong mereka untuk mencari alternatif. Fenomena patungan 1/7 sapi menjadi solusi yang sangat populer dan telah menjadi tradisi. Dengan membagi satu ekor sapi untuk tujuh orang, biaya per peserta bisa lebih terjangkau, bahkan terkadang mendekati atau lebih murah dari harga satu ekor kambing.

Data dari lembaga riset Institute for Demographic and Affluence Studies (IDEAS) memperkuat hal ini; pada tahun 2026, diperkirakan sekitar 1,59 juta ekor hewan akan disembelih, yang terdiri dari 493.180 ekor sapi dan 1,09 juta ekor kambing/domba. Jumlah kambing yang lebih dari dua kali lipat menunjukkan popularitasnya yang luar biasa.

Dalam situasi ekonomi yang tidak menentu, masyarakat cenderung memilih hewan yang paling sesuai dengan kemampuan finansial mereka. Tekanan ekonomi jelas terlihat dari tren pergeseran pilihan.

4. Akar Tradisi yang Kuat dan Pengaruh Budaya

Pilihan ini tidak lahir dalam ruang hampa. Ada tradisi yang membuatnya begitu mendarah daging.

Secara historis, kambing dan sapi telah menjadi bagian tak terpisahkan dari peradaban agraris Nusantara. Sejak ratusan tahun lalu, kedua hewan ini telah dipelihara oleh para peternak lokal untuk berbagai keperluan.

Praktik patungan atau urunan untuk membeli sapi adalah bukti nyata bagaimana ajaran Islam beradaptasi dengan realitas sosial. Ini adalah bentuk kearifan lokal yang memungkinkan lebih banyak orang untuk bisa berpartisipasi dalam ibadah mulia ini. Tradisi ini sangat umum dilakukan di masyarakat.

Hal ini dipahami sebagai solusi yang sah, di mana satu orang yang tidak mampu membeli sapi seorang diri dapat ikut patungan bersama enam orang lainnya.

Dari sisi filosofis, pilihan terhadap kambing dan sapi justru mencerminkan esensi kurban itu sendiri, yaitu mendekatkan diri kepada Allah melalui harta yang paling berharga. Di masyarakat agraris Indonesia, kambing dan sapi adalah aset berharga yang mewakili tabungan dan kekayaan. Mengorbankannya di jalan Allah adalah wujud ketakwaan tertinggi.

Faktor Pemengaruh Pilihan Berkurban Kambing atau Sapi

Fenomena identifikasi kurban dengan kambing dan sapi di Indonesia adalah sebuah harmoni indah yang memadukan antara idealita syariat dan realita kehidupan.

  • Secara teologis, unta adalah hewan terbaik. Namun, syariat dengan bijak memberikan opsi lain yang sah, yaitu sapi dan kambing.
  • Secara geografis, Indonesia tidak mendukung peternakan unta, namun subur dengan kambing dan sapi.
  • Secara ekonomi, patungan sapi dan memilih kambing menjadi strategi cerdas untuk tetap dapat beribadah di tengah tekanan finansial.
  • Secara kultural, kedua hewan ini telah lama menjadi bagian dari denyut nadi kehidupan masyarakat agraris Nusantara.

Pada akhirnya, apapun pilihannya, kambing atau sapi, sendiri atau patungan, ibadah kurban adalah tentang ketakwaan dan keikhlasan hati. Sebagaimana firman Allah SWT, yang terpenting bukanlah daging dan darahnya, melainkan ketakwaan dari sanubari.

Pertanyaan Seputar Hewan Kurban

Kenapa hewan kurban harus sapi atau kambing?

Kurban satu ekor sapi dapat diperuntukkan untuk tujuh jiwa, sehingga satu keluarga bisa cukup berkurban dengan satu hewan kurban saja. Sedangkan kambing atau domba hanya untuk satu jiwa. Dengan demikian sapi memiliki nilai kurban yang lebih tinggi daripada kambing karena ukurannya yang lebih besar.

Kenapa kurban lebih baik kambing?

Oleh karena itu, kurban dengan kambing dinilai lebih utama karena seluruh pahala dan keberkahan dari penyembelihan hewan tersebut sepenuhnya diperuntukkan bagi satu orang yang berkurban, sehingga ganjarannya lebih besar dibandingkan dengan kurban sapi atau unta.

Apakah ada perbedaan pahala antara berkurban dengan sapi dan kambing?

Jadi secara kualitas ibadah kurban, kurban satu ekor kambing akan lebih baik daripada patungan sapi sebanyak tujuh orang.

Qurban itu atas nama siapa?

Qurban bisa diatasnamakan diri sendiri, satu keluarga, orang yang sudah meninggal, atau patungan (maksimal 7 orang untuk 1 ekor sapi). Aturan detailnya meliputi beberapa kondisi:

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |