Khutbah Jumat Muhasabah: Mengoreksi Hati Sebelum Dihisab agar Selamat di Hari Perhitungan

3 days ago 24

Khutbah Pertama

Alhamdulillahi rabbil 'alamin. Nahmaduhu wa nasta'inuhu wa nastaghfiruh, wa na'udzu billahi min syururi anfusina wa min sayyi'ati a'malina. Man yahdihillahu fala mudhilla lah, wa man yudhlil fala hadiya lah. Wa asyhadu alla ilaha illallah wahdahu la syarika lah, wa asyhadu anna Sayyidana Muhammadan 'abduhu wa rasuluh. Allahumma shalli wa sallim wa barik 'ala Sayyidina Muhammad wa 'ala alihi wa ashhabihi ajma'in.

Amma ba'du.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah Swt. dengan menjalankan segala perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, serta berusaha memperbaiki diri setiap hari. Ketakwaan bukan hanya diukur dari banyaknya ibadah yang kita lakukan, tetapi juga dari sejauh mana hati kita tunduk kepada Allah, ikhlas dalam beramal, dan bersih dari penyakit-penyakit hati yang dapat merusak amal kebaikan.

Allah Swt. berfirman:

Ya ayyuhalladzina amanuttaqullaha haqqa tuqatihi wa la tamutunna illa wa antum muslimun.

Artinya:

"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim." (QS. Ali 'Imran: 102)

Hadirin yang dimuliakan Allah,

Kita semua menyadari bahwa setiap hari usia kita terus berkurang. Setiap detik yang berlalu bukanlah pertambahan umur, melainkan berkurangnya jatah kehidupan di dunia. Namun, sering kali kita lebih sibuk memikirkan urusan dunia daripada mempersiapkan bekal menuju akhirat. Kita menghitung keuntungan usaha, mengevaluasi pekerjaan, memeriksa kesehatan, bahkan mengecek kendaraan agar tetap layak digunakan. Akan tetapi, sudahkah kita meluangkan waktu untuk mengevaluasi hati kita sendiri?

Inilah yang disebut dengan muhasabah, yaitu mengoreksi diri sebelum Allah menghisab seluruh amal kita pada hari kiamat. Muhasabah adalah kebiasaan orang-orang saleh. Mereka tidak menunggu datangnya musibah atau kematian untuk bertaubat, tetapi setiap hari mereka memeriksa keadaan hati dan amalnya.

Allah Swt. mengingatkan:

Ya ayyuhalladzina amanuttaqullaha waltanzhur nafsun ma qaddamat lighad, wattaqullah. Innallaha khabirun bima ta'malun.

Artinya:

"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-Hasyr: 18)

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Mengapa hati harus dikoreksi terlebih dahulu? Karena hati adalah pusat seluruh amal. Rasulullah saw. bersabda:

Ala wa inna fil jasadi mudhghatan, idza shaluhat shaluhal jasadu kulluh, wa idza fasadat fasadal jasadu kulluh. Ala wa hiyal qalb.

Artinya:

"Ketahuilah, di dalam tubuh terdapat segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuh. Jika ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, itulah hati." (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini mengajarkan bahwa akar dari segala perilaku manusia berada di dalam hati. Lisan yang suka berdusta berawal dari hati yang tidak jujur. Mata yang gemar melihat maksiat berawal dari hati yang tidak dijaga. Tangan yang mengambil hak orang lain juga berasal dari hati yang dikuasai oleh keserakahan.

Sebaliknya, hati yang dipenuhi iman akan melahirkan kejujuran, kesabaran, kasih sayang, amanah, serta semangat untuk beribadah kepada Allah. Oleh karena itu, memperbaiki hati harus menjadi prioritas setiap muslim.

Jamaah rahimakumullah,

Ada beberapa penyakit hati yang perlu kita waspadai.

Pertama adalah riya, yaitu beramal agar dipuji manusia. Amal yang tampak besar bisa kehilangan nilainya apabila dilakukan demi mendapatkan sanjungan, bukan karena Allah.

Kedua adalah hasad, yaitu tidak senang melihat orang lain memperoleh nikmat. Hati yang dipenuhi hasad akan sulit merasakan ketenangan karena selalu membandingkan dirinya dengan orang lain.

Ketiga adalah ujub, yaitu merasa bangga terhadap amal sendiri. Padahal, kemampuan beribadah merupakan karunia Allah. Tanpa pertolongan-Nya, kita tidak akan mampu melakukan satu pun kebaikan.

Keempat adalah takabur, merasa lebih baik daripada orang lain. Kesombongan inilah yang dahulu menyebabkan Iblis menolak perintah Allah untuk bersujud kepada Nabi Adam.

Kelima adalah cinta dunia secara berlebihan. Dunia bukanlah tujuan akhir, melainkan tempat singgah untuk mengumpulkan bekal menuju kehidupan yang kekal.

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Muhasabah tidak hanya dilakukan menjelang Ramadan atau ketika tertimpa musibah. Muhasabah hendaknya menjadi kebiasaan setiap hari. Sebelum tidur, tanyakan kepada diri sendiri: apakah hari ini salat saya sudah khusyuk? Apakah ada ucapan yang menyakiti orang lain? Apakah saya sudah meminta maaf ketika berbuat salah? Apakah rezeki yang saya bawa pulang benar-benar halal? Pertanyaan-pertanyaan seperti inilah yang akan menjaga hati agar tetap hidup.

Diriwayatkan bahwa Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu pernah berkata:

Hasibu anfusakum qabla an tuhasabu, wa zinu a'malakum qabla an tuzana.

Artinya:

"Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab, dan timbanglah amal kalian sebelum amal itu ditimbang."

Nasihat ini tetap relevan hingga hari ini. Orang yang rajin mengevaluasi dirinya akan lebih mudah memperbaiki kesalahan. Sebaliknya, orang yang merasa dirinya selalu benar akan sulit menerima nasihat.

Marilah kita memperbanyak istigfar, memperbaiki hubungan dengan Allah, memperbaiki hubungan dengan sesama, serta membersihkan hati dari segala penyakit yang dapat menghalangi kita memperoleh rahmat-Nya.

Aqulu qauli hadza wa astaghfirullaha li wa lakum, fastaghfiruhu innahu huwal ghafurur rahim.

Khutbah Kedua

Alhamdulillahi rabbil 'alamin. Wa bihi nasta'in 'ala umurid dunya wad din. Wa asyhadu alla ilaha illallah wahdahu la syarika lah. Wa asyhadu anna Muhammadan 'abduhu wa rasuluh. Allahumma shalli wa sallim wa barik 'ala Sayyidina Muhammad wa 'ala alihi wa ashhabihi ajma'in.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Marilah kita bertakwa kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa. Jangan pernah merasa aman dari dosa, tetapi jangan pula berputus asa dari rahmat Allah. Selama nyawa masih berada di dalam badan, pintu taubat masih terbuka.

Allah Swt. berfirman:

Qul ya 'ibadiyalladzina asrafu 'ala anfusihim la taqnathu mir rahmatillah. Innallaha yaghfirudz dzunuba jami'a. Innahu huwal ghafurur rahim.

Artinya:

"Katakanlah, wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap dirinya sendiri! Janganlah berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni semua dosa. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Az-Zumar: 53)

Hadirin yang dimuliakan Allah,

Jangan sampai kita menjadi orang yang sibuk mempercantik penampilan, tetapi melupakan kebersihan hati. Jangan sampai rumah kita megah, kendaraan kita mewah, jabatan kita tinggi, tetapi ketika menghadap Allah hati kita dipenuhi kesombongan, iri hati, kebencian, dan dosa yang belum ditaubati.

Rasulullah saw. bersabda:

Innallaha la yanzhuru ila suwarikum wa amwalikum walakin yanzhuru ila qulubikum wa a'malikum.

Artinya:

"Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Allah melihat hati dan amal kalian." (HR. Muslim)

Oleh sebab itu, marilah kita pulang dari masjid ini dengan tekad baru untuk memperbaiki diri. Jadikan setiap hari sebagai kesempatan memperbanyak istigfar, memperbaiki ibadah, menjaga lisan, menjaga amanah, menyambung silaturahmi, serta memperbanyak sedekah dan amal saleh.

Doa

Allahummaghfir lil muslimina wal muslimat, wal mu'minina wal mu'minat, al-ahya'i minhum wal amwat.

Allahumma thahhir qulubana minan nifaq, wa a'malana minar riya', wa alsinatana minal kadzib, wa a'yunana minal khiyanah.

Allahumma ij'alna min 'ibadika ash-shalihin, waj'al khaira umurina khawatimaha, wa khaira ayyamina yauma nalqak.

Rabbana atina fid-dunya hasanah wa fil akhirati hasanah wa qina 'adzaban nar.

Wa shallallahu 'ala Sayyidina Muhammad wa 'ala alihi wa shahbihi ajma'in. Walhamdulillahi rabbil 'alamin.

Innallaha ya'muru bil 'adli wal ihsan wa ita'i dzil qurba wa yanha 'anil fahsya'i wal munkari wal baghy, ya'izhukum la'allakum tadzakkarun. Fadzkurullaha yadzkurkum, wasykuruhu 'ala ni'amihi yazidkum, wa ladzikrullahi akbar, wallahu ya'lamu ma tashna'un.

Pertanyaan dan Jawaban Seputar Khutbah Jumat Muhasabah

1. Apa yang dimaksud dengan muhasabah dalam Islam?

Muhasabah adalah upaya mengoreksi dan mengevaluasi diri, baik amal, niat, maupun akhlak, agar menjadi pribadi yang lebih baik sebelum datang hari hisab di akhirat.

2. Mengapa hati harus dikoreksi sebelum dihisab?

Karena hati merupakan sumber niat dan seluruh amal manusia. Hati yang bersih akan melahirkan amal saleh, sedangkan hati yang dipenuhi penyakit dapat merusak nilai ibadah.

3. Kapan waktu terbaik untuk melakukan muhasabah?

Muhasabah dapat dilakukan setiap hari, terutama setelah menunaikan ibadah, sebelum tidur, atau pada momen-momen istimewa seperti hari Jumat, Ramadan, dan menjelang pergantian waktu.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |