KEBAKARAN menghanguskan seluruh bangunan rumah panggung berbahan kayu serta beratap rumbia dan ijuk di Kampung Adat Kasepuhan Ciptamulya di Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, pada Sabtu siang, 25 Juli 2026. “Sekitar 20 menit, habis semua tidak tertolong,” kata Kepala Desa alias Jaro Cicadas, Edik Supriatna.
Menuturkan kepada Tempo pada Ahad 26 Juli 2026, Edik mengaku mengaku tengah berada di lokasi saat kebakaran terjadi. Dia sedang menyambangi rumah keluarga.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Menurutnya, api bermula sekitar pukul 14 WIB saat terik matahari musim kemarau dirasa sangat menyengat. Api disebutkanya muncul pertama kali dari tempat mandi, cuci, dan kakus atau MCK, diduga akibat hubungan pendek arus listrik atau korsleting. Api lalu merembet ke bangunan ajeng atau tempat memainkan gamelan. “Seterusnya ke lumbung lalu menyambar Rumah Gede dan menyebar ke rumah warga,” ujarnya.
Edik mengatakan api melumat seluruhnya 51 rumah warga kampung adat yang dihuni 52 kepala keluarga. Juga 49 lumbung padi, 1 bangunan Posyandu, 1 bangunan MCK, 1 bangunan pendidikan anak usia dini (PAUD), 1 bangunan balai sosial, 1 bangunan galeri, 1 bangunan posko, 1 poskamling, dan sebagian bangunan masjid.
Dalam peristiwa itu, dia menambahkan, tidak ada korban luka mau pun korban jiwa. “Karena aktivitas masyarakat siang hari lagi di luar rumah, selain juga kami gedor pintu setiap rumah agar warga keluar dan segera menyelamatkan diri lari,” kata Edik.
Total warga yang terdampak kebakaran itu sebanyak 159 orang. Sementara ini mereka mengungsi ke rumah saudara atau kerabat masing-masing. Edik mengatakan bangunan yang habis terbakar merupakan rumah panggung berbahan kayu serta beratap rumbia dan ijuk, sementara rumah lain di sekitarnya yang permanen tidak terdampak.
Kebakaran berdampak sangat besar karena upaya pemadaman api oleh warga tergolong sulit karena api cepat membesar. “Mobil pemadam kebakaran ke sini juga sangat jauh, dari Pelabuhan Ratu kurang lebih 25 kilometer,” ujarnya.
Bantuan yang dibutuhkan warga dalam kondisi darurat sejauh ini, menurut Edik, telah berdatangan, seperti makanan instan, air minum, dan pakaian. Kebutuhan lain yang diperlukan seperti selimut untuk menghalau dingin saat malam, serta kain, dan sarung.
Mengenai lokasi kampung adat akan dibangun kembali atau pindah tempat, akan dimusyawarahkan kemudian. Di daerah tersebut ada tiga kasepuhan kampung adat yaitu Sirnaresmi dan Ciptagelar yang berjarak sekitar 16 kilometer dari Ciptamulya.
Edik mengatakan beberapa tahun lalu saat musim kemarau kampung adat Sirnaresmi juga pernah dilanda kebakaran namun tidak sampai membesar. Sejak itu, sudah ada imbauan hati-hati terkait kemarau panjang dan rawan kebakaran di kampung dan hutan .
Bupati Sukabumi Asep Japar telah menetapkan status tanggap darurat di kampung adat itu selama tujuh hari sejak 25-31 Juli 2026. Status itu memberi biaya penanganan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah melalui dana siap pakai atau belanja tidak terduga serta sumber lain yang sah sesuai aturan.







































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5531528/original/007916600_1773619112-unnamed__10_.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5544736/original/021119200_1775115709-gibran_promo_motor_-_klaim.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4403008/original/008750000_1681991372-20230420-Pemantauan-Hilal-Iqbal-7.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4067423/original/029499900_1656490392-WhatsApp_Image_2022-06-29_at_2.40.46_PM.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5378584/original/033747300_1760257934-unnamed__52_.jpg)
