Liputan6.com, Jakarta - Memahami ngabuburit jam berapa bisa membantu kita untuk mempersiapkan diri ketika hendak menanti waktu berbuka. Ngabuburit adalah salah satu tradisi paling khas yang muncul setiap bulan Ramadan di Indonesia. Istilah ini merujuk pada kegiatan “mengisi waktu” menjelang berbuka puasa, biasanya dilakukan pada sore hari sebelum azan magrib. Tradisi ini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya Ramadan di tanah air, menciptakan suasana kebersamaan dan kegembiraan menjelang waktu berbuka.
Bagi sebagian orang, terutama yang baru mengenal tradisi ini atau ingin memahaminya lebih dalam, pertanyaan "ngabuburit jam berapa?" adalah hal yang wajar. Pertanyaan ini tidak hanya mencari tahu rentang waktu, tetapi juga makna di baliknya, serta bagaimana tradisi ini telah berkembang menjadi fenomena sosial.
Artikel ini akan menjawab pertanyaan tersebut secara tuntas, dilengkapi dengan pembahasan mengenai sejarah, makna, ragam aktivitas, hingga dampak sosial ngabuburit yang menjadikannya lebih dari sekadar menunggu waktu berbuka puasa. Jadi simak pembahasan selengkapnya berikut ini, sebagaimana telah Liputan6.com rangkum dari berbagai sumber, Senin (23/2/2026).
Ngabuburit Jam Berapa? Waktu yang Tepat dan Maknanya
Ngabuburit umumnya dilakukan pada sore hari menjelang berbuka puasa, berkisar antara pukul 15.30 hingga 17.30 WIB atau setelah salat Asar. Waktu spesifik ini dapat bervariasi tergantung pada daerah masing-masing, karena disesuaikan dengan jam azan Magrib berkumandang.
Sederhananya, ngabuburit jam berapa dimulai adalah sekitar pukul 16.00 (jam 4 sore) hingga menjelang azan Magrib tiba. Pemilihan waktu ini sangat erat kaitannya dengan asal-usul kata "ngabuburit" itu sendiri.
Jika ditilik dari etimologinya, kata ngabuburit berasal dari bahasa Sunda, dengan kata dasar “burit” yang berarti sore hari menjelang magrib. Dengan demikian, ngabuburit secara harfiah berarti mengisi waktu di "fase burit" atau sore hari menjelang malam, sebelum waktu berbuka puasa tiba.
Lebih Jauh Tentang Ngabuburit, Pengertian dan Sejarahnya
Secara etimologi, kata "ngabuburit" berasal dari bahasa Sunda. Kata dasarnya adalah “burit” yang berarti sore hari menjelang magrib, dengan tambahan imbuhan "nga" dan pengulangan awalan kata "bu" sehingga diartikan sebagai “menunggu azan magrib”.
Dalam Kamus Bahasa Sunda, ngabuburit diartikan sebagai ngalantung bari ngadagoan burit, yang secara literal berarti bersantai sambil menunggu sore. Makna ini menekankan pada kegiatan santai di sore hari.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), arti ngabuburit juga tidak jauh berbeda, yaitu menunggu azan Magrib menjelang berbuka puasa pada waktu bulan Ramadan. Hal ini menunjukkan bahwa istilah ini telah diakui secara nasional.
Tradisi ngabuburit memiliki akar sejarah yang menarik, bermula dari saat agama Islam baru masuk ke Tanah Sunda. Pada masa itu, orang Sunda, khususnya anak-anak, sering menunggu waktu buka puasa di sore hari sambil memainkan permainan tradisional.
Dari kebiasaan anak-anak yang bermain sambil menunggu waktu berbuka inilah, tradisi ngabuburit terus berkembang. Meskipun belum ada penelitian spesifik mengenai kapan dan di mana istilah ini pertama kali digunakan, tradisi ini mengalir begitu saja.
Lambat laun, cakupan pemakaian istilah ini pun berubah, dari yang tadinya regional menjadi nasional. Kini, bukan hanya orang Sunda saja yang memakai istilah ngabuburit, namun juga di daerah lainnya di Indonesia, dipengaruhi oleh faktor media cetak, elektronik, maupun sosial.
Ragam Aktivitas Ngabuburit dari Masa ke Masa
Ngabuburit diisi dengan berbagai kegiatan yang populer dan beragam, mencerminkan kekayaan budaya serta kreativitas masyarakat Indonesia. Pilihan aktivitas ini seringkali disesuaikan dengan minat dan kondisi masing-masing individu.
Klasik dan Populer
- Berburu Takjil: Ini adalah salah satu aktivitas paling ikonik saat ngabuburit. Berbagai pilihan makanan dan minuman ringan seperti kolak, es pisang hijau, dan gorengan menjadi incaran untuk disantap saat berbuka.
- Jalan-jalan Santai: Banyak orang memilih untuk berjalan-jalan di ruang publik seperti alun-alun, taman kota, atau pantai. Contohnya, di Pantai Ampenan, Mataram, warga menikmati suasana sore sambil melihat matahari terbenam.
- Nongkrong Bersama Teman atau Keluarga: Menghabiskan waktu bersama orang terdekat di kafe, restoran, atau tempat umum lainnya juga menjadi pilihan populer. Aktivitas ini mempererat tali silaturahmi sambil menunggu waktu berbuka puasa.
Religius dan Edukatif
- Mengaji dan Mendengarkan Ceramah: Banyak umat Muslim mengisi waktu ngabuburit dengan kegiatan rohani seperti mengaji Al-Qur'an, tadarus, atau mendengarkan ceramah keagamaan di masjid. Ini adalah cara untuk mendekatkan diri kepada Tuhan di bulan suci.
- Mengikuti Kajian Keagamaan: Beberapa komunitas atau masjid menyelenggarakan kajian khusus Ramadan yang dapat diikuti untuk menambah ilmu agama. Kegiatan ini dapat memperdalam pemahaman Islam.
- Kegiatan Sosial: Berbagi takjil kepada sesama, bakti sosial, atau bergabung dengan komunitas relawan juga menjadi cara ngabuburit yang bermanfaat. Ini menumbuhkan rasa kepedulian sosial.
Kreatif dan Kekinian
- Menghadiri Festival Musik Ramadan: Di beberapa kota, seperti Bandung, festival musik menjadi tren untuk mengisi waktu ngabuburit. Musik dapat membuat waktu menunggu terasa lebih menenangkan dan menyenangkan.
- Mengunjungi Bazar atau Pasar Ramadan: Pasar-pasar dadakan ini tidak hanya menawarkan aneka kuliner, tetapi juga menjadi ajang bagi UMKM untuk bergerak produktif. Ini memberikan peluang ekonomi bagi masyarakat.
- Kegiatan Komunitas: Di Lombok Barat, misalnya, ada kegiatan "Pesona Ramadhan Ngantik Bebuke" yang menghadirkan bazar UMKM, hiburan seni lokal, dan pertunjukan musik religi. Ini menunjukkan kreativitas dalam merayakan Ramadan.
Ngabuburit untuk Mahasiswa
Bagi mahasiswa, ngabuburit punya makna ganda: sebagai tradisi dan sebagai "momen jeda" dari kesibukan kuliah. Ini adalah kesempatan untuk beristirahat sejenak dari tekanan akademik.
Beberapa ide ngabuburit yang bermanfaat dan tidak menguras tenaga bagi mahasiswa antara lain membaca buku atau jurnal di tempat yang nyaman. Belajar kelompok atau mengerjakan tugas di perpustakaan juga bisa menjadi pilihan produktif.
Olahraga ringan seperti jalan kaki santai menjelang sore dapat menjaga kebugaran tanpa berlebihan. Memasak menu buka bersama di kos juga bisa menjadi pengalaman seru, hemat, dan mempererat solidaritas.
Ngabuburit dan Kehidupan Sosial Masyarakat
Ngabuburit bukan sekadar aktivitas individu, melainkan sebuah fenomena sosial yang memiliki dampak luas terhadap kehidupan masyarakat. Tradisi ini membentuk interaksi dan dinamika sosial yang unik.
Ruang Publik yang Hidup
Menjelang berbuka puasa, ruang-ruang publik seperti jalanan, taman, dan pantai berubah menjadi wadah yang hidup dengan nilai kebersamaan budaya. Langit sore menjadi panggung bersama, jalanan lebih riuh, dan ruang publik dipenuhi warga yang menunggu azan Magrib.
Di NTB, ngabuburit dibentangkan sebagai ruang sosial multidimensi, yakni menunggu azan Magrib sambil memperkuat tali persaudaraan. Ini meredupkan ego individualistik sekaligus memberi ruang bagi interaksi lintas generasi.
Penggerak Ekonomi Rakyat
Tradisi ngabuburit juga menjadi penggerak ekonomi kerakyatan yang signifikan. Keberadaan pasar Ramadan dan pedagang takjil dadakan memberikan peluang ekonomi bagi pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).
Interaksi antara pedagang kecil dan pembeli dari beragam latar sosial menciptakan pertukaran nilai, cerita, dan harapan. Ini sekaligus mendukung pekerjaan kecil yang menopang hidup banyak warga.
Perekat Kebersamaan
Ngabuburit adalah momen untuk memperkuat tali persaudaraan dan kebersamaan. Ia menguatkan kearifan lokal yang menghargai kebersamaan dan saling melengkapi.
Aktivitas seperti duduk santai sambil melihat matahari terbenam, berburu takjil, atau berbagi cerita menjadi bagian tak terpisahkan dari suasana ngabuburit. Ini mempererat hubungan antarindividu dan komunitas.
Tantangan dan Solusi
Fenomena ngabuburit juga membawa tantangan, terutama terkait penataan ruang publik dan kepadatan lalu lintas. Di Kota Mataram, misalnya, pemerintah daerah memetakan titik-titik kepadatan lalu lintas menjelang berbuka.
Oleh karena itu, diperlukan kebijakan yang sensitif dan responsif dari pemerintah daerah untuk memastikan kenyamanan dan keamanan bersama. Peningkatan fasilitas publik di titik-titik ngabuburit utama sangat penting.
Rekomendasi kebijakan meliputi penataan lalu lintas dan pengaturan parkir di kawasan pusat ngabuburit agar kepadatan tidak menjadi hambatan. Kolaborasi dengan pelaku UMKM untuk mengembangkan bazar Ramadan yang teratur, aman, dan menguntungkan semua pihak juga diperlukan.
Kembali ke pertanyaan utama ngabuburit jam berapa, ngabuburit dilakukan pada sore hari, setelah salat Asar (sekitar pukul 15.30-16.00 WIB) hingga menjelang azan Magrib berkumandang (sekitar pukul 17.30-18.00 WIB), menyesuaikan dengan waktu berbuka di daerah masing-masing.
FAQ
Q: Ngabuburit itu jam berapa sih?
A: Ngabuburit dilakukan pada sore hari, biasanya dimulai setelah salat Asar (sekitar pukul 15.30-16.00 WIB) hingga menjelang azan Magrib berkumandang (sekitar pukul 17.30-18.00 WIB), tergantung wilayah masing-masing.
Q: Ngabuburit artinya apa?
A: Ngabuburit berasal dari bahasa Sunda yang berarti kegiatan mengisi waktu sambil menunggu datangnya sore (burit) atau azan Magrib di bulan Ramadan.
Q: Apa bedanya ngabuburit dan nongkrong biasa?
A: Ngabuburit memiliki konteks waktu yang spesifik (sore hari di bulan Ramadan) dan tujuan yang jelas, yaitu mengisi waktu menjelang berbuka puasa. Meskipun aktivitasnya bisa mirip dengan nongkrong, ngabuburit terikat pada momen dan tujuan religius tertentu.
Q: Apa saja yang bisa dilakukan saat ngabuburit?
A: Sangat beragam, mulai dari berburu takjil, jalan-jalan santai di taman atau alun-alun, nongkrong di kafe, mengaji, mengikuti kajian keagamaan, berolahraga ringan, hingga berbagi takjil dengan orang lain.

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2938349/original/053290600_1571028001-absorbent-88257_1920.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4010962/original/065645500_1651214803-20220429-Itikaf-Lailatul-Qadar-6.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2811467/original/036476400_1558415448-iStock-537265720.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/1609256/original/063394900_1496138662-02_Ilustrasi_Jadwal_Imsak.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5503768/original/028075100_1771211648-jam_weker__2_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5520075/original/094163400_1772605889-Modena.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5355482/original/010492400_1758338914-q.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2240997/original/070157500_1528277766-arches-architecture-building-460680.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3127703/original/091823000_1589431438-unknown-person-sitting-indoors-2112049__1_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5519577/original/010229000_1772585257-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5519691/original/032973400_1772594106-unnamed_-_2026-03-04T100805.174.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5518091/original/053492900_1772461446-Ramadan_Hub.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5518446/original/031235500_1772508787-febby_rastanty.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3983014/original/073829000_1648909222-20220402-SHALAT-TARAWIH-PERTAMA-MASJID-ISTIQLAL-HERMAN-5.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5067115/original/068159000_1735273362-1735270416030_kata-kata-mutiara-islami.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5516466/original/077001300_1772301611-Leeds_United_and_Manchester_City.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5518501/original/018743900_1772510287-Screenshot_2026-03-03_105707.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4670207/original/029073300_1701403206-rasyid-maulana-yVwiHXoTrnU-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/687375/original/130208021500-smartphone-iphone-xxx-jc-monster.jpg)













:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4010689/original/086569000_1651202668-pexels-rayn-l-3163677.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3381466/original/043629600_1613720800-photo-1512632578888-169bbbc64f33.jpg)



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/1626268/original/067647800_1497616352-Mantan-MenKes-Siti-Fadilah-Divonis-4-Tahun-Penjara-01.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2855596/original/055794600_1563344847-iStock-1134972492.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5424037/original/048660500_1764130779-sholawat_ujang_bustomi.png)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4990655/original/018003600_1730716747-tata-cara-sholat-tahajud-agar-keinginan-terkabul.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5376360/original/049261700_1760001962-Ilustrasi_berdoa.jpg)

