Liputan6.com, Jakarta - Setiap daerah memiliki kekhasan dalam menjalankan ajaran Islam tanpa keluar dari pakem syariat. Di tanah Jawa, salah satu tradisi yang masih dijumpai adalah melafazkan niat puasa dalam bahasa Jawa sebagai pelengkap niat berbahasa Arab. Tradisi ini bukan bentuk penyimpangan, melainkan cara menghadirkan pemahaman makna agar lebih membumi.
Tidak sah puasa Ramadhan tanpa niat, karena niat adalah rukun yang menentukan keabsahan ibadah. Para ulama sepakat bahwa tempat niat adalah di dalam hati, meskipun berbeda pendapat tentang perlu tidaknya melafazkannya. Di sejumlah masjid atau mushola di Jawa, niat puasa sering dibaca bersama setelah sholat tarawih sebagai bentuk penguatan tekad. Tradisi ini memperlihatkan bagaimana budaya lokal bersanding harmonis dengan ajaran Islam.
Hukum Melafazkan Niat Puasa Menurut Ulama
Niat merupakan dasar setiap ibadah dan menjadi pembeda antara aktivitas biasa dengan ibadah yang berpahala. Seluruh ulama sepakat bahwa tanpa niat, puasa Ramadhan tidak sah karena niat adalah rukun. Secara bahasa, niat (النية) berarti keinginan atau tekad untuk melakukan sesuatu. Dalam istilah syara’, niat adalah tekad hati untuk melaksanakan amalan fardhu atau ibadah lainnya karena Allah Ta’ala. Artinya, inti niat tetap berada di dalam hati, bukan sekadar di lisan.
Syekh Wahbah Az-Zuhaili menjelaskan bahwa seluruh ulama sepakat tempat niat adalah hati, sehingga melafazkannya bukanlah syarat sah. Jumhur ulama selain mazhab Maliki berpendapat bahwa melafazkan niat hukumnya sunnah untuk membantu menghadirkan kesadaran hati. Sementara menurut mazhab Maliki, yang terbaik adalah tidak melafazkannya karena tidak ada contoh langsung dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Perbedaan ini menunjukkan keluasan fiqih Islam yang tetap memberikan ruang selama inti niat ada di hati. Dengan demikian, melafazkan niat dalam bahasa Jawa diperbolehkan selama tidak meyakini bahwa lafaz tersebut menjadi syarat sah.
Kapan Waktu yang Tepat Berniat Puasa Ramadhan
Pertanyaan yang sering muncul adalah apakah niat puasa harus tepat saat terbit fajar seperti niat shalat. Syekh Wahbah Az-Zuhaili menjelaskan bahwa niat puasa Ramadhan tidak disyaratkan harus berbarengan dengan terbit fajar. Niat yang dilakukan sejak malam hari sudah dianggap sah. Bahkan menurut mazhab Syafi’i, niat yang dilakukan bersamaan dengan terbitnya fajar justru tidak sah. Artinya, niat harus sudah ada sebelum fajar menyingsing.
Dikarenakan sulit menentukan detik terbitnya fajar, umat Islam diperbolehkan berniat sejak malam hari atau saat sahur. Berbeda dengan puasa sunnah yang boleh berniat di pagi hari setelah matahari terbit, puasa Ramadhan tidak sah jika niatnya setelah fajar. Oleh sebab itu, kebiasaan membaca niat bersama setelah tarawih sebenarnya sudah mencukupi dari sisi waktu. Hal ini sekaligus memudahkan umat agar tidak lupa menghadirkan niat sebelum Subuh tiba.
Bacaan Niat Puasa Ramadhan dalam Bahasa Arab
Berikut lafaz niat puasa Ramadhan dalam bahasa Arab:
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانِ هذِهِ السَّنَةِ لِلهِ تَعَالَى
Latin: Nawaitu shauma ghadin an’adai fardi syahri ramadhani hadzihisanati lillahita’ala
Artinya: “Saya berniat puasa esok hari untuk menunaikan kewajiban di bulan Ramadhan tahun ini karena Allah Ta’ala.”
Lafaz ini umum dibaca oleh umat Islam di berbagai daerah. Biasanya dibaca pada malam hari setelah tarawih atau saat sahur sebelum imsak. Melafazkannya membantu menghadirkan kesadaran akan kewajiban puasa yang akan dijalankan. Namun sekali lagi, yang terpenting adalah tekad dalam hati.
Bacaan Niat Puasa Jawa yang Sarat Makna
Di kalangan masyarakat Jawa, niat puasa sering dilafazkan dalam bahasa Jawa sebagai bentuk pemahaman makna. Berikut bacaan niat puasa dalam bahasa Jawa:
“Niat ingsun poso tutuko dina sesuk ingsun anekani ferdhune wulan Romadhon ing dalem sak jerone tahun iki, fardhu kerono lillahi Ta’ala“
Artinya: “Saya berniat puasa esok hari untuk menunaikan kewajiban di bulan Romadhon pada tahun ini, fardhu karena Allah Ta’ala“
Versi lain yang juga dikenal di masyarakat adalah:
“Niat ingsun poso, tutuko sedino sesuk, saking anekani sekabehane wulan Ramadhon ing ndalem ikilah tahun, fardhu kerono Alloh Ta’ala.”
Umumnya, niat dalam bahasa Jawa dibaca berdampingan dengan niat bahasa Arab agar maknanya lebih dipahami. Tradisi ini sering dilakukan secara berjamaah setelah shalat tarawih di masjid atau mushola. Dengan memahami artinya, seorang muslim Jawa tidak hanya melafazkan, tetapi juga menghayati isi niat tersebut.
Mengapa Niat Puasa Jawa Penting Dilestarikan?
Niat puasa Jawa bukan sekadar terjemahan, tetapi sarana pendidikan makna bagi masyarakat. Dengan bahasa ibu, pemahaman menjadi lebih dalam dan menyentuh hati. Tradisi ini juga menunjukkan bahwa Islam dapat berdialog dengan budaya tanpa kehilangan esensinya. Jika kebiasaan ini hilang, generasi muda bisa jadi hanya hafal lafaz Arab tanpa memahami maknanya. Padahal pemahaman adalah kunci kekhusyukan dalam ibadah.
Melestarikan niat puasa Jawa berarti menjaga kearifan lokal sekaligus memperkuat kesadaran spiritual. Selama inti niat tetap berada di hati, penggunaan bahasa daerah tidak bertentangan dengan syariat. Justru dengan memahami arti niat, kualitas puasa bisa semakin meningkat. Oleh karena itu, tidak ada salahnya mengajarkan kembali niat puasa Jawa kepada anak-anak dan keluarga.
Pertanyaan seputar Niat Puasa Jawa
Apakah niat puasa harus dilafazkan?
Tidak harus, karena tempat niat adalah di hati. Melafazkan hukumnya sunnah menurut jumhur ulama.
Bolehkah niat puasa menggunakan bahasa Jawa?
Boleh, karena yang terpenting adalah niat di hati. Bahasa hanya membantu memahami maknanya.
Kapan waktu niat puasa Ramadhan?
Sejak malam hari hingga sebelum terbit fajar.
Apakah niat setelah Subuh sah?
Tidak sah untuk puasa Ramadhan jika setelah terbit fajar.
Mengapa niat penting dalam puasa?
Karena niat adalah rukun yang menentukan sah atau tidaknya puasa.

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5518091/original/053492900_1772461446-Ramadan_Hub.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5518446/original/031235500_1772508787-febby_rastanty.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3983014/original/073829000_1648909222-20220402-SHALAT-TARAWIH-PERTAMA-MASJID-ISTIQLAL-HERMAN-5.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5067115/original/068159000_1735273362-1735270416030_kata-kata-mutiara-islami.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5516466/original/077001300_1772301611-Leeds_United_and_Manchester_City.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5518501/original/018743900_1772510287-Screenshot_2026-03-03_105707.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4670207/original/029073300_1701403206-rasyid-maulana-yVwiHXoTrnU-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/687375/original/130208021500-smartphone-iphone-xxx-jc-monster.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5501801/original/034251400_1770956928-unnamed__13_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4382809/original/074926600_1680593144-top-view-hand-holding-silver-coins.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5518359/original/061148300_1772506142-unnamed__39_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5168524/original/033224600_1742449887-Depositphotos_365597030_L.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2800821/original/002869500_1557387809-IMG_20190509_113107.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3110450/original/059507500_1587634731-Praying_Hands_With_Faith_In_Religion_And_Belief_In_God__Power_Of_Hope_And_Devotion___1_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5460744/original/090622000_1767280272-fabio_lefundes.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2820929/original/054084500_1559368646-Tol-Palimanan-Padat-Merayap6.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5518245/original/007067800_1772495256-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5501163/original/064338700_1770888533-Media_Gathering_-_Cerita_Ramadan_Masa_Kini_bersama_Shopee_Big_Ramadan_Sale.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5514269/original/070613600_1772085444-Tato.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5518328/original/018442800_1772505478-Salat_Tarawih_2.jpg)













:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4010689/original/086569000_1651202668-pexels-rayn-l-3163677.jpg)





:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/1626268/original/067647800_1497616352-Mantan-MenKes-Siti-Fadilah-Divonis-4-Tahun-Penjara-01.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2855596/original/055794600_1563344847-iStock-1134972492.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5424037/original/048660500_1764130779-sholawat_ujang_bustomi.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4990655/original/018003600_1730716747-tata-cara-sholat-tahajud-agar-keinginan-terkabul.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5376360/original/049261700_1760001962-Ilustrasi_berdoa.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3381466/original/043629600_1613720800-photo-1512632578888-169bbbc64f33.jpg)


