Prihantini-Rifaldy Viral Pemalsuan Riset, Begini Langkah UNY

4 hours ago 4

UNIVERSITAS Negeri Yogyakarta (UNY) angkat bicara soal tudingan dua alumninya terlibat dalam kelompok pemalsuan riset pada sebuah forum ilmiah internasional. Dugaan pemalsuan riset tersebut beredar melalui media sosial dari ajang International Symposium on Pneumococci and Pneumococcal Diseases (ISPPD) di Kopenhagen, Denmark, pada 17-21 Mei 2026.

Tudingan diantaranya pemalsuan saat presentasi hingga penggunaan aplikasi kecerdasan buatan (AI) sehingga hasil riset tampak luar biasa padahal tak pernah ada. Tindakan manipulatif ini ditengarai dilakukan demi mendapatkan sokongan dana perjalanan atau travel grant ke luar negeri.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Wakil Rektor Bidang Akademik UNY Nur Hidayanto menyatakan tengah menelusuri kabar yang viral di media sosial itu  Dari empat periset yang dituding melakukan pemalsuan, dua diantaranya disebut alumni UNY, yakni seorang perempuan bernama Prihantini dan seorang laki-laki bernama Rifaldy Fajar. 

Keduanya disebut terdaftar sebagai lulusan Program Studi Matematika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam atau MIPA UNY. "Dari penelusuran database kami, dua nama itu (Prihantini dan Rifaldy) memang benar merupakan alumni dari angkatan yang lulus 2017 dan 2018," kata Nur, Rabu, 27 Mei 2026.

Hanya saja, kata Nur, pihaknya belum dapat memastikan, apakah tudingan pemalsuan riset yang dilayangkan kepada keduanya benar. Sehingga kampus juga belum bisa mengambil langkah. "Kami masih dalami, kami tabayyun dan coba klarifikasi kepada yang bersangkutan," kata Nur.

Sejak kasus itu viral awal pekan ini, Nur melanjutkan, baru Prihantini yang berhasil dihubungi pihak kampus. Prihantini disebut Nur akan memberi klarifikasi di akun media sosial pribadinya. Hanya saja, akun media sosial Prihantini belum dapat diakses semua.

Prihantini sedang mempresentasikan penelitian di konferensi ISPPD-14 Kopenhagen, Denmark, 18 Mei 2026 dengan mengaku sebagai Dimas Fajar Prasetyo. Dok. Wa Ode Dwi Diningrat

Justru Rifaldy yang belum bisa dihubungi UNY diketahui sudah memberikan klarifikasinya melalui akun media sosialnya. "Klarifikasi (kasus pemalsuan riset) itu sebenarnya di akun media sosialnya Rifaldy. Kalau akun Prihantini tidak bisa diakses semua," kata dia.

Dari narasi yang beredar, modus dugaan pemalsuan yang digunakan mencakup pemalsuan identitas secara terstruktur. Di mana pelaku kedapatan berganti-ganti nama, nametag, hingga memanipulasi penampilan saat sesi presentasi demi mengelabui audiens. 

Nur menegaskan, kampus UNY perlu bersikap hati-hati dan mengedepankan asas klarifikasi sebelum mengambil kesimpulan. Alasannya, status kedua nama yang dicurigai tersebut kini merupakan peneliti independen setelah lulus hampir 10 tahun silam.

Menurut Nur, proses verifikasi ini diakui menghadapi kendala teknis lantaran minimnya bukti visual pendukung yang beredar di publik. Institusi tidak bisa serta-merta mencocokkan wajah terduga pelaku dengan data foto yang dimiliki kampus. "Dua nama itu memang ada di database, tapi kami tidak tahu namanya itu kebetulan sama atau tidak karena tidak ada foto jelasnya," ujar Nur.

Itu pula yang melatari kampus UNY belum bisa mengeluarkan keputusan resmi atau sanksi organisasi. Selain juga UNY  lantaran belum menerima aduan formal dari pihak penyelenggara simposium internasional maupun otoritas terkait. "Laporan resmi ke kami sejauh ini belum ada, informasi itu baru di media sosial, kami harus hati-hati supaya tidak ada masalah di kelak kemudian hari, supaya tidak menzalimi juga," ujarnya.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |