Ramadan Jatuh pada Tanggal Berapa? Ketahui Penjelasan Lengkapnya

2 weeks ago 8
  • Ramadan 2026 jatuh pada tanggal berapa?
  • Mengapa ada kemungkinan berbeda satu hari?
  • Apakah hilal terlihat pada 17 Februari 2026?

Baca artikel ini 5x lebih cepat

Liputan6.com, Jakarta - Ramadan 2026 jatuh pada tanggal berapa menjadi pertanyaan banyak orang. Data astronomi menunjukkan ijtimak terjadi pada 17 Februari 2026. Meski sebagian pihak telah menetapkan 18 Februari sebagai awal puasa. Di sisi lain, posisi hilal yang masih berada di bawah ufuk memunculkan potensi perbedaan awal Ramadan. Kondisi ini menjadi penentu karena dalam metode rukyat, visibilitas hilal menentukan masuknya bulan baru. Jika hilal tidak memenuhi kriteria, maka bulan Sya’ban akan digenapkan menjadi 30 hari. Dengan demikian, 1 Ramadhan 1447 H berpeluang jatuh pada 19 Februari 2026.

Perbedaan metode penentuan awal bulan menjadi faktor utama yang membuat tanggal Ramadhan bisa berbeda. Muhammadiyah sudah merilis maklumat resmi sejak September 2025, sementara pemerintah masih menunggu hasil sidang isbat. Data hisab dari kalangan NU dan rilis resmi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika menunjukkan hilal belum memenuhi kriteria imkanur rukyah pada 17 Februari 2026. Situasi ini memperkuat kemungkinan awal puasa mundur satu hari. Berikut penjelasan lengkapnya.

Ijtimak Terjadi 17 Februari 2026 Setelah Magrib

Secara astronomi, ijtimak atau konjungsi terjadi pada Selasa, 17 Februari 2026. Namun waktu terjadinya konjungsi berada setelah matahari terbenam di seluruh wilayah Indonesia. Hal ini berarti saat magrib 17 Februari, umur bulan masih negatif di banyak daerah. Dalam ilmu falak, kondisi ini membuat hilal belum mungkin terlihat. 

Ketinggian hilal pada 17 Februari 2026 bahkan masih berada di bawah ufuk di seluruh Indonesia. Data menunjukkan tinggi hilal berkisar antara minus 2 derajat hingga minus 0,93 derajat. Lama hilal di atas ufuk pun masih negatif. Jika kondisi ini tidak memenuhi kriteria imkanur rukyah, maka bulan Sya’ban akan digenapkan menjadi 30 hari. Dengan demikian, 1 Ramadhan kemungkinan jatuh pada 19 Februari 2026.

Muhammadiyah Tetapkan 18 Februari 2026 Sebagai Awal Ramadhan

Muhammadiyah melalui Maklumat Nomor 2/MLM/1.0/E/2025 menetapkan 1 Ramadhan 1447 H jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026. Penetapan ini dirilis di Yogyakarta pada 22 September 2025. Metode yang digunakan adalah hisab hakiki wujudul hilal yang berlandaskan perhitungan astronomi. Dalam metode ini, selama hilal sudah wujud secara hisab, maka bulan baru dinyatakan masuk meskipun belum terlihat secara kasat mata. Prinsip ini mengacu pada Kalender Hijriah Global Tunggal hasil Munas Tarjih Muhammadiyah 2024.

Keputusan ini juga menetapkan 1 Syawal 1447 H jatuh pada 20 Maret 2026. Dengan penetapan tersebut, warga Muhammadiyah memiliki kepastian jadwal ibadah lebih awal. Namun metode ini berbeda dengan pendekatan rukyat yang digunakan pemerintah dan NU. Perbedaan ini membuka potensi selisih satu hari.

Pemerintah Menunggu Sidang Isbat 17 Februari 2026

Kementerian Agama akan menggelar sidang isbat pada 17 Februari 2026. Sidang ini menjadi forum resmi penentuan awal Ramadhan bagi umat Islam di Indonesia. Prosesnya dimulai dengan pemaparan data hisab mengenai posisi hilal. Setelah itu, laporan hasil rukyatul hilal dari berbagai titik akan diverifikasi. Hasil akhir akan diumumkan kepada masyarakat pada malam hari.

Jika hilal terlihat sesuai kriteria imkanur rukyah, maka keesokan harinya ditetapkan sebagai 1 Ramadhan. Namun apabila tidak terlihat, maka bulan Sya’ban digenapkan menjadi 30 hari. Dengan kondisi hilal yang masih negatif pada 17 Februari, potensi penggenapan bulan semakin besar. Jika itu terjadi, maka awal Ramadhan akan jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026. Keputusan final tetap menunggu hasil sidang isbat.

NU Laksanakan Rukyatul Hilal Sesuai Prosedur

Nahdlatul Ulama melalui Lembaga Falakiyah PBNU mendorong pelaksanaan rukyatul hilal pada 17 Februari 2026. Meski data menunjukkan hilal masih di bawah ufuk, rukyat tetap dilakukan sebagai bagian dari prosedur syar’i. Keputusan resmi akan diumumkan setelah seluruh laporan terkumpul. Pendekatan ini menggabungkan hisab dan rukyat sesuai kriteria imkanur rukyah.

Dikarenakan hilal berada di bawah ufuk, kemungkinan besar tidak memenuhi syarat visibilitas. Jika laporan rukyat tidak menemukan hilal, maka Sya’ban akan digenapkan menjadi 30 hari. Artinya, awal Ramadhan berpotensi dimulai 19 Februari 2026. Namun semua tetap bergantung pada hasil resmi yang diumumkan malam nanti.

Pertanyaan Seputar Ramadan 2026

Ramadan 2026 jatuh pada tanggal berapa?

Berpotensi 18 Februari 2026 menurut Muhammadiyah dan 19 Februari 2026 menunggu sidang isbat pemerintah.

Mengapa ada kemungkinan berbeda satu hari?

Perbedaan metode hisab dan rukyat dalam menentukan awal bulan Hijriah.

Apakah hilal terlihat pada 17 Februari 2026?

Data astronomi menunjukkan hilal masih berada di bawah ufuk pada tanggal tersebut.

Kapan keputusan resmi pemerintah diumumkan?

Setelah sidang isbat pada malam 17 Februari 2026.

Anda Sedang Mengikuti Pembahasan Seputar

Rizka Nur Laily Muallifa, Nisa Mutia SariTim Redaksi

Share

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |