Tarawih Hukumnya Apa? Pahami Keutamaan, Tata Cara, dan Waktu Pelaksanaannya di Bulan Ramadan

2 weeks ago 9

Liputan6.com, Jakarta - Tarawih hukumnya apa sering menjadi pertanyaan umat muslim. Shalat Tarawih adalah ibadah sunah yang hanya dilaksanakan pada bulan Ramadan, menjadi momen penting bagi umat Islam untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Ibadah ini dilakukan pada malam hari setelah shalat Isya, dan menjadi salah satu amalan yang paling dinanti.

Ibadah shalat Tarawih memiliki hukum sunah muakkad, yang berarti sangat dianjurkan untuk dikerjakan, baik secara individu maupun berjamaah. Keutamaannya yang besar menjadikan shalat Tarawih sebagai kesempatan emas untuk meraih pahala berlimpah dan ampunan dosa.

Berikut selengkapnya mengenai tarawih hukumnya apa, keutamaan, tata cara, dan waktu pelaksanaan shalat Tarawih agar ibadah di bulan suci ini semakin sempurna dan penuh kekhusyukan.

Tarawih Hukumnya Apa?

Salat tarawih hukumnya sunnah muakkadah, yaitu ibadah yang sangat dianjurkan bagi umat Islam, baik laki-laki maupun perempuan, selama bulan Ramadan. Tarawih dilakukan setelah salat Isya dan menjadi salah satu amalan yang memiliki keutamaan besar karena berkaitan dengan penghidupan malam Ramadan. Meskipun tidak wajib, para ulama sepakat bahwa meninggalkannya tanpa alasan berarti melewatkan pahala yang besar.

Dasar anjuran tarawih terdapat dalam hadis Nabi Muhammad SAW: “Barang siapa melaksanakan salat malam pada bulan Ramadan karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadis ini menunjukkan bahwa tarawih termasuk ibadah yang dapat menjadi sebab pengampunan dosa, sehingga umat Islam dianjurkan untuk mengerjakannya dengan penuh keikhlasan.

Selain hadis, semangat ibadah malam di bulan Ramadan juga didukung oleh Al-Qur’an. Allah berfirman dalam Surah Al-Muzzammil ayat 2: “Bangunlah (untuk salat) di malam hari, kecuali sedikit.”

Ayat ini awalnya ditujukan kepada Nabi agar memperbanyak qiyamul lail sebagai bentuk kedekatan kepada Allah. Para ulama kemudian menjadikannya sebagai dalil anjuran salat malam bagi umat Islam, termasuk tarawih di bulan Ramadan. Artinya, meskipun tarawih tidak wajib, semangat yang terkandung dalam ayat tersebut adalah menghidupkan malam dengan ibadah, sehingga Ramadan menjadi momen untuk meningkatkan ketakwaan dan memperbaiki diri.

Keutamaan Shalat Tarawih

1. Pengampunan Dosa

Salah satu keutamaan utama dari shalat Tarawih adalah pengampunan dosa-dosa yang telah lalu bagi mereka yang melaksanakannya dengan iman dan ikhlas. Keutamaan ini menjadi motivasi besar bagi umat Muslim untuk menghidupkan malam-malam Ramadan.

Mengenai dosa yang diampuni, beberapa ulama berpendapat bahwa yang diampuni adalah dosa kecil, sementara Ibnu Al Mundzir berpandangan bahwa termasuk dosa kecil maupun besar. Perbedaan pandangan ini tidak mengurangi nilai keutamaan ibadah Tarawih.

Hadis riwayat Bukhari dan Muslim menegaskan:

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa melakukan qiyam Ramadhan karena iman dan mencari pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 37 dan Muslim no. 759).

Ini menunjukkan betapa besar ganjaran bagi yang melaksanakannya.

2. Pahala Berlipat dan Silaturahmi

Melaksanakan shalat Tarawih berjamaah bersama imam hingga selesai akan dicatat mendapatkan pahala shalat semalam suntuk atau semalam penuh. Keutamaan ini sebagaimana disebutkan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Tirmidzi.

Bulan Ramadan adalah bulan penuh berkah di mana setiap amal kebaikan, termasuk shalat sunah Tarawih, akan dilipatgandakan pahalanya. Selain itu, shalat Tarawih berjamaah dapat mempererat tali silaturahmi antarumat Islam, yang berujung pada kelapangan rezeki.

Ibadah Tarawih juga menyemarakkan dan menghidupkan suasana Ramadan, memperkuat nuansa spiritual, serta dapat melengkapi kekurangan dari ibadah wajib. Melalui Tarawih, umat Islam dapat merasakan kedamaian dan ketenangan hati.

Tata Cara Shalat Tarawih: Niat dan Gerakan

Tata cara shalat Tarawih pada dasarnya sama dengan shalat sunah lainnya, dilakukan dua rakaat salam, dua rakaat salam. Hal ini memudahkan umat Muslim untuk melaksanakannya, baik di masjid maupun di rumah.

Niat shalat Tarawih diucapkan dalam hati saat takbiratul ihram. Untuk shalat Tarawih sendiri, niatnya adalah “Ushalli sunnatat tarāwīhi rak'atayni mustaqbilal qiblati adā'an lillāhi ta'ālā.”

Sebagai imam, niatnya “Ushalli sunnatat tarawihi rak'ataini mustaqbilal qiblati ada'an imaman lilahi ta'alaa,” sedangkan sebagai makmum, niatnya “Ushalli sunnatat tarawihi rak'atayni mustaqbilal qiblati ada'an ma'muman lillahi ta'ala.”

Urutan gerakan shalat Tarawih meliputi takbiratul ihram, membaca doa iftitah, membaca surat Al-Fatihah, dilanjutkan surat pendek, ruku', i'tidal, sujud pertama, duduk di antara dua sujud, sujud kedua, dan diakhiri dengan tasyahud akhir serta salam setiap dua rakaat. Setiap gerakan dilakukan dengan tuma'ninah.

Jumlah Rakaat Tarawih dan Shalat Witir

Terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama mengenai jumlah rakaat shalat Tarawih, yang tidak secara tegas ditetapkan dalam hadis sahih dari Rasulullah SAW. Perbedaan ini menunjukkan fleksibilitas dalam praktik ibadah.

Beberapa pendapat umum meliputi 8 rakaat Tarawih ditambah 3 rakaat Witir (total 11 rakaat), yang merujuk pada praktik Rasulullah SAW. Sementara itu, banyak umat Islam, termasuk mayoritas ulama Syafi'iyah, Imam Abu Hanifah, dan Imam Ahmad, berpendapat 20 rakaat Tarawih ditambah 3 rakaat Witir (total 23 rakaat), berdasarkan praktik di zaman Khalifah Umar bin Khattab.

Setelah menunaikan shalat Tarawih, sangat dianjurkan untuk menutupnya dengan shalat Witir, yang bisa dilaksanakan minimal 1 rakaat atau lebih, seperti 3 atau 5 rakaat. Shalat Tarawih lebih utama dilakukan secara berjamaah di masjid, namun sah dan tetap bernilai pahala besar jika dilaksanakan sendiri di rumah.

Waktu Pelaksanaan Shalat Tarawih

Waktu pelaksanaan shalat Tarawih adalah setelah shalat Isya dan sebelum shalat Subuh (terbit fajar). Rentang waktu yang luas ini memberikan kemudahan bagi umat Muslim untuk memilih waktu yang paling sesuai.

Shalat Tarawih tidak sah jika dilakukan sebelum shalat Isya. Dianjurkan untuk tidak menunda terlalu lama setelah Isya agar tidak tertidur sebelum melaksanakannya, meskipun tetap sah jika dilakukan di akhir malam.

Kendati demikian, waktu pelaksanaan shalat Tarawih cukup fleksibel, bisa dikerjakan di awal malam, tengah malam, atau menjelang akhir malam setelah shalat Isya hingga terbit fajar. Meskipun demikian, umat Islam lebih sering melaksanakannya di awal malam karena lebih memudahkan jemaah dan menjaga semangat.

Pertanyaan dan Jawaban

1. Apakah shalat Tarawih wajib dilakukan saat Ramadan?

Tidak, shalat Tarawih tidak wajib. Hukumnya adalah sunah muakkad, yaitu ibadah yang sangat dianjurkan. Meski tidak berdosa jika ditinggalkan, sangat disayangkan apabila seorang Muslim melewatkannya tanpa alasan karena besarnya pahala yang dijanjikan oleh Nabi Muhammad bagi orang yang menghidupkan malam Ramadan dengan iman dan mengharap pahala.

2. Lebih utama shalat Tarawih di rumah atau di masjid?

Shalat Tarawih lebih utama dilaksanakan secara berjamaah di masjid karena memiliki nilai kebersamaan dan pahala yang lebih besar. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi disebutkan bahwa orang yang shalat bersama imam hingga selesai akan mendapatkan pahala seperti shalat semalam penuh.

3. Berapa jumlah rakaat shalat Tarawih yang benar?

Jumlah rakaat Tarawih memiliki perbedaan pendapat di kalangan ulama. Sebagian melaksanakan 8 rakaat Tarawih ditambah 3 rakaat Witir (total 11 rakaat), merujuk pada praktik Rasulullah SAW. Sementara mayoritas ulama pada masa Umar bin Khattab menetapkan 20 rakaat Tarawih ditambah 3 rakaat Witir (total 23 rakaat).

4. Apakah shalat Tarawih harus selalu ditutup dengan Witir?

Ya, sangat dianjurkan untuk menutup shalat malam di bulan Ramadan dengan shalat Witir. Witir menjadi penyempurna ibadah malam dan bisa dilakukan minimal 1 rakaat, atau 3 rakaat dan seterusnya dengan jumlah ganjil.

5. Apakah shalat Tarawih boleh dilakukan sendiri?

Boleh. Shalat Tarawih tetap sah dan berpahala jika dilakukan sendiri di rumah. Meskipun berjamaah lebih utama, fleksibilitas ini menunjukkan kemudahan dalam syariat Islam.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |