Tips Merawat Hubungan Keluarga lewat Tradisi Iftar Bersama, Makin Harmonis dan Tentram

4 hours ago 1

Liputan6.com, Jakarta - Ramadhan merupakan bulan penuh berkah yang mengajarkan kesabaran, empati, dan pengendalian diri. Salah satunya adalah kesempatan untuk membangun keharmonisan keluarga saat buka puasa. Untuk itu, umat Islam perlu mengetahui bagaimana cara merawat hubungan keluarga lewat tradisi iftar bersama.

Studi berjudul Parenting Buah Tarbiyah Ramadhan dalam Meningkatkan Keharmonisan Orangtua dan Anak-Anak, karya Rubiah Fitriyanti, dkk, mengungkapkan, di balik aktivitas Ramadhan, tersimpan potensi besar untuk merajut kembali kehangatan keluarga. Salah satunya dengan tradisi iftar bersama.

Di sisi lain jurnal Kajian Hadis Tentang Tata Cara Berbuka Puasa, Muhammad Hafizi dkk, menyoroti pentingnya  iftar sebagai instrumen memperkuat ikatan orangtua dan anak.

Berikut ini adalah tips merawat hubungan keluarga lewat tradisi iftar bersama, merujuk kedua studi yang diperkuat dengan dengan dalil dan pandangan ulama klasik dan kontemporer. Simak selengkapnya.

Iftar bukan sekadar tradisi, melainkan ibadah yang sarat tuntunan. Momen berbuka adalah waktu mustajab untuk berdoa. Jika doa ini dipanjatkan bersama dalam keluarga, ia menjadi energi spiritual yang menyatukan hati.

1. Menyegerakan Berbuka Bersama

Kebiasaan menunggu seluruh anggota keluarga berkumpul sebelum azan magrib melatih kesabaran dan rasa memiliki. Anak belajar bahwa momen berbuka adalah waktu bersama, bukan sekadar mengisi perut.

Rasulullah bersabda, "Jika salah seorang dari kalian berbuka, hendaklah ia berbuka dengan kurma, karena kurma itu berkah. Jika tidak ada, hendaklah dengan air, karena air itu suci."(HR. Abu Dawud)

Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa menyegerakan berbuka dengan kurma atau air adalah bentuk kepatuhan pada sunnah sekaligus menjaga kesehatan, karena tubuh yang lapar membutuhkan asupan cepat namun ringan.

2. Membaca Doa Bersama Sebelum Makan

Mengajarkan anak untuk membaca doa berbuka secara serempak menanamkan nilai spiritual dan kebersamaan. Doa yang dipanjatkan bersama menciptakan atmosfer sakral yang memperkuat ikatan batin.

Doa yang diajarkan Rasulullah SAW:

"Dzahabaz zhama'u wabtallatil 'uruqu wa tsabatal ajru insya Allah."(Telah hilang dahaga, telah basah urat-urat, dan telah tetap pahala, insya Allah.) (HR. Abu Dawud).

3. Menghidupkan Komunikasi Hangat Saat Iftar

Jurnal Rubiah Fitriyanti menekankan bahwa iftar adalah momentum komunikasi efektif. Orangtua dan anak duduk bersama tanpa gangguan gawai, saling bertanya tentang aktivitas hari itu. Inilah saat yang tepat untuk mencairkan ketegangan dan saling memaafkan.

"Komunikasi merupakan faktor penting dalam membangun keharmonisan. Banyak konflik terjadi akibat miss komunikasi, dan solusinya adalah dialog."(Rubiah Fitriyanti, 2023: 47)

4. Libatkan Anak dan Anggota Keluarga Lain dalam Persiapan Iftar

Mengajak anak menyiapkan menu berbuka—meski hanya menuangkan air atau menyusun kurma di piring—menumbuhkan rasa tanggung jawab dan kebanggaan. Mereka merasa dihargai sebagai bagian dari tim keluarga. Hayatun Rohmah (2021) menyebut bahwa keterlibatan anak dalam aktivitas Ramadhan seperti menyiapkan iftar melatih kemandirian dan empati.

5. Adakan Iftar Jama’i dengan Keluarga Besar

Tradisi iftar bersama yang melibatkan kakek-nenek, paman-bibi, dan sepupu memperluas jaringan kasih sayang. Anak belajar bahwa keluarga adalah sistem pendukung yang solid.

Tradisi iftar jama’i telah ada sejak zaman Rasulullah. Para sahabat dari Thaif yang baru masuk Islam dilayani iftar dan sahur oleh Rasulullah bersama Bilal bin Rabah.

Khalifah Umar bin Khattab kemudian melembagakannya dengan mendirikan Dar Adh-Dhiyafah pada tahun 71 H, sebuah lembaga khusus untuk melayani tamu yang berpuasa.(Hafizi dkk., 2025: 9)

6. Berbagi Makanan dengan Tetangga dan Fakir Miskin

Mengajak anak mengantarkan makanan berbuka ke tetangga atau panti asuhan menanamkan nilai solidaritas. Anak belajar bahwa kebahagiaan tidak hanya milik sendiri, tetapi harus dibagi.

Rasulullah SAWbersabda, "Siapa yang memberi makan orang yang berpuasa, baginya pahala seperti orang yang berpuasa itu, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa sedikit pun."(HR. Tirmidzi).

Manfaat Iftar Bersama Keluarga

1. Memperkuat Ikatan Emosional

Kebersamaan rutin selama 30 hari menciptakan memori positif yang membangun rasa aman pada anak. Menurut psikologi perkembangan, kedekatan fisik dan emosional saat makan bersama meningkatkan kepercayaan anak pada orangtua.

Rubiah Fitriyanti mengutip sabda Rasulullah: "Dua kebahagiaan bagi orang yang berpuasa: kebahagiaan ketika berbuka, dan kebahagiaan ketika bertemu Rabb-nya."(HR. Muslim)

Kebahagiaan berbuka yang dirasakan bersama akan melekat sebagai kenangan indah masa kecil.

2. Mendidik Karakter Anak (Tarbiyah)

Ramadhan adalah bulan tarbiyah (pendidikan). Iftar bersama menjadi laboratorium karakter: anak belajar bersabar menunggu waktu berbuka, belajar bersyukur atas makanan, belajar berbagi dengan saudara, dan belajar memaafkan kesalahan orang lain.

Buah Tarbiyah: Mayadina Rohmi Musrofah (2017) menyatakan bahwa puasa adalah wahana merekatkan kembali hubungan orangtua dan anak karena menciptakan momen kebersamaan yang lebih intens dibanding hari-hari biasa.

3. Meningkatkan Kesehatan Fisik dan Mental

Iftar bersama dengan menu sehat—seperti kurma yang kaya serat dan gula alami—memberi energi cepat tanpa membebani lambung. Secara mental, kehangatan keluarga mengurangi stres dan kecemasan.

4. Keberkahan Rezeki dan Doa

Makan bersama dalam Islam diyakini mendatangkan berkah. Doa yang dipanjatkan sebelum dan sesudah makan, terutama saat iftar yang mustajab, menjadi investasi spiritual keluarga.

Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menjelaskan bahwa makan bersama (al-aklu ma’an) menumbuhkan rasa cinta dan menghilangkan kesombongan, karena setan tidak ikut serta dalam makanan yang dimulai dengan basmalah dan dilakukan bersama-sama.

5. Menjadi Teladan bagi Generasi Berikutnya

Anak yang terbiasa melihat orangtuanya menyambung silaturahmi melalui iftar bersama akan meniru perilaku tersebut saat dewasa. Tradisi ini menjadi warisan non-materi yang berharga.

Ifthar Bersama sebagai Tarbiyah Islamiyah

1. Membangun Komunikasi Dialogis dan Penuh Kehangatan

Esensi dari berbuka puasa bukan sekadar aktivitas makan dan minum untuk mengakhiri lapar. Iftar bersama harus diwarnai dengan perbincangan atau dialog dari hati ke hati antara anak dan orang tua, maupun suami dan istri. Komunikasi yang baik saat berkumpul ini terbukti mampu mencairkan berbagai konflik atau miss-komunikasi yang selama ini mungkin menyumbat keharmonisan anggota keluarga.

Hal ini sejalan dengan sabda Rasulullah SAW: "Dua kebahagiaan yang didapatkan oleh orang yang puasa, yaitu kebahagiaan ketika berbuka, dan kebahagiaan ketika bertemu dengan Rabb-Nya." (HR Muslim). Momen bahagia saat berbuka ini dioptimalkan dengan membuang rasa egoisme dan menahan amarah, sehingga ruang komunikasi yang jujur dapat terbuka.

2. Melestarikan Tradisi Iftar Jama'i (Makan Bersama) dan Berbagi

Keluarga dapat membiasakan iftar jama'i atau buka bersama yang tradisinya telah dipraktikkan langsung sejak zaman Rasulullah SAW. Mulai dari sahur, sholat berjamaah, hingga berbuka puasa dianjurkan untuk dilakukan secara bersama-sama. Selain memupuk kebersamaan internal keluarga, tradisi ini juga dapat diisi dengan berbagi makanan kepada mereka yang kurang mampu.

Rasulullah SAW menegaskan, "Sebaik-baik manusia adalah yang paling baik dalam memberi manfaat." (HR. Ahmad).

Dalam mempraktikkan hal ini, sejarah Islam mencatat bahwa Khalifah Umar bin Khattab bahkan mendirikan Dar Ad Dhiyafah, yakni sebuah lembaga khusus untuk menyambut tamu dan melayani para shaimin (orang yang berpuasa).

3. Mengikuti Sunnah Kesederhanaan

Penerapan iftar yang baik juga dicapai dengan menjaga kesederhanaan, seperti berbuka dengan kurma dan air. Kebiasaan ini mengajarkan anggota keluarga untuk tidak berlebih-lebihan dan tetap fokus pada esensi ibadah.

Rasulullah mencontohkan melalui hadits: "Berbukalah orang yang berpuasa dengan kurma segar, jika tidak ada, maka dengan kurma kering, jika tidak ada juga, maka dengan air, karena air itu menyucikan." (HR. Abu Dawud).

Pendekatan budaya Arab yang disempurnakan menjadi syariat ini dikupas dalam kajian literatur oleh akademisi seperti Ali Sodiqin, yang menjelaskan bahwa sunnah berbuka menggabungkan antara tuntunan agama fundamental dan kearifan lokal masyarakat.

People also Ask:

Bagaimana cara memperkuat hubungan dengan keluarga dan teman di bulan Ramadan?

Tips Menjaga Silaturahmi di Bulan Ramadhan:

Berkomunikasi secara Terbuka dan Jujur. ...Meluangkan Waktu untuk Bertemu dan Berinteraksi. ...Meminta Maaf dan Memaafkan. ...

Bagaimana cara menjaga hubungan yang harmonis dalam keluarga?

Anda bisa mempraktikkan serangkaian tips berikut untuk memperkuat hubungan keluarga dan menciptakan lingkungan yang harmonis. Saling Mendengarkan Pasangan dengan Empati. ...Mengungkapkan Perasaan dengan Jujur dan Terbuka. ...Menerapkan Teknik Penyelesaian Konflik yang Sehat. ...Menjaga Keseimbangan antara Waktu Keluarga dan Pribadi.

Apa itu berbagi iftar?

Iftar Istimewa adalah kegiatan buka puasa bersama anak-anak yatim di restoran, menghadirkan suasana Ramadhan yang hangat, nyaman, dan penuh perhatian.

Apa manfaat buka puasa bersama?

Meningkatkan Silaturahim dan Ukhuwah

Buka puasa bersama adalah momentum mempererat ikatan hati. Dalam suasana Ramadhan yang penuh rahmat, interaksi yang hangat dan ikhlas antar sesama memperkuat tali persaudaraan, baik dalam lingkup keluarga, tetangga, maupun masyarakat luas.

5 Langkah keluarga Harmonis?

10 Langkah Membangun Keluarga Harmonis - KELUARGA DAN WISATA ALAM

Lima langkah utama membangun keluarga harmonis adalah membangun komunikasi terbuka dan jujur, mengutamakan kebersamaan dan waktu berkualitas, saling menyayangi serta menghargai kelebihan dan kekurangan, menciptakan suasana suportif dan menyenangkan, serta bijak dalam menghadapi masalah dengan empati dan penyelesaian yang konstruktif.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |