10 Adab Berdoa Agar Cepat Dikabulkan Menurut Islam, Simak Penjelasan Ulama

11 hours ago 8

Liputan6.com, Jakarta - Doa adalah inti dari ibadah dan pengakuan seorang hamba akan kelemahannya di hadapan Allah SWT. Namun, seringkali seseorang merasa doanya tak kunjung diijabah. Untuk itu, adab berdoa agar cepat dikabulkan menurut Islam penting mulai dipraktikan.

Menurut ulama, kesempurnaan doa tidak hanya terletak pada isi permohonan, tetapi juga pada cara seorang hamba menyampaikannya. Mengabaikan adab berdoa bukan berarti doa tidak didengar, namun mempraktikkannya adalah kunci untuk membuka pintu-pintu langit dan meraih kemustajaban, karena mencerminkan sikap spiritual yang benar di hadapan Sang Pencipta.

Para ulama telah menjelaskan bahwa terkabulnya doa memiliki korelasi erat dengan adab yang menyertainya. Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumiddin memaparkan sepuluh adab berdoa, sementara Imam An-Nawawi dalam Al-Adzkarul Muntakhabah juga menekankan hal serupa.

Rasulullah SAW mengajarkan, "Apabila salah seorang di antaramu berdoa, hendaklah ia memulai dengan mengagungkan dan memuji Tuhannya, kemudian bershalawat untuk Nabi, setelah itu berdoa dengan doa yang dikehendaki.". Tata cara ini menunjukkan adab kesopanan seorang hamba yang datang menghadap Raja di atas segala raja. Merujuk literatur kontemporer dan klasik, berikut ini adalah 10 adab berdoa agar cepat dikabulkan.

10 Adab Berdoa agar Cepat Dikabulkan: Panduan Lengkap dari Para Ulama

Adab 1: Berdoa di Waktu-Waktu Mulia

Memilih waktu yang tepat adalah langkah awal yang sangat dianjurkan dalam berdoa. Imam Al-Ghazali dan Imam An-Nawawi menyebutkan beberapa waktu mulia yang sangat mustajab untuk berdoa, di antaranya adalah hari Arafah, bulan Ramadhan, hari Jumat, sepertiga malam terakhir, dan waktu sahur.

Keistimewaan sepertiga malam terakhir ini ditegaskan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim. Rasulullah SAW bersabda: "Allah SWT turun setiap malam ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam terakhir, lalu Dia berfirman: 'Siapa yang berdoa kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan. Siapa yang meminta kepada-Ku, niscaya Aku beri. Dan siapa yang memohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku ampuni.'" (HR. Bukhari Muslim)

Adab 2: Memanfaatkan Kondisi-Kondisi Istimewa

Selain waktu, kondisi tertentu juga menjadi momen yang sangat dianjurkan untuk berdoa. Di antaranya adalah saat sujud dalam shalat, saat turun hujan, saat dua pasukan berhadap-hadapan (dalam peperangan), serta saat antara azan dan iqamat.

Rasulullah SAW bersabda: "Doa antara azan dan iqamat tidak akan ditolak." (HR. At-Tirmidzi)

Kondisi-kondisi ini merupakan momen di mana rahmat Allah turun dan pintu langit terbuka lebar, sehingga doa yang dipanjatkan pada saat-saat tersebut memiliki peluang besar untuk dikabulkan.

Adab 3: Menghadap Kiblat dan Mengangkat Kedua Tangan

Ketika berdoa, seorang muslim dianjurkan untuk menghadap kiblat, mengangkat kedua tangan, dan setelah selesai berdoa mengusap wajah dengan kedua tangan.

Imam An-Nawawi dalam kitab Al-Adzkar menyatakan bahwa perbuatan menghadap kiblat dan mengangkat kedua tangan saat berdoa adalah mustahab (disunnahkan). Rasulullah SAW sendiri selalu mengangkat kedua tangannya saat berdoa hingga putih ketiaknya terlihat.

Tentang keutamaan mengangkat tangan, Rasulullah SAW bersabda: "Sesungguhnya Tuhanmu sangat pemalu lagi Maha Pemurah. Dia merasa malu kepada hamba-Nya yang menengadahkan kedua tangannya kepada-Nya, kemudian ditolak-Nya sama sekali atau sia-sia." (HR. Ibnu Majah dan At-Tirmidzi)

Setelah selesai berdoa, disunnahkan mengusap wajah dengan kedua tangan. Dari Umar bin Khattab RA, ia berkata: "Apabila Rasulullah SAW mengangkat kedua tangannya dalam doa, beliau tidak menurunkannya hingga mengusap wajahnya dengan keduanya." (HR. Muslim)

Adab 4: Mengatur Volume Suara

Dalam berdoa, hendaknya tidak terlalu keras tetapi juga tidak terlalu rendah. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an:

"Berdoalah kepada Tuhanmu dengan merendahkan diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas." (QS. Al-A'raf [7]: 55)

Volume suara yang moderat mencerminkan sikap pertengahan (wasathiyah) dalam Islam—tidak berlebihan dan tidak pula meremehkan.

Adab 5: Menghindari Kalimat Bersajak

Dalam berdoa, dianjurkan untuk menghindari kalimat bersajak yang dikhawatirkan justru melewati batas dalam berdoa. Prinsipnya adalah tidak berlebihan dalam penggunaan kata-kata saat berdoa.

Imam Al-Ghazali mengingatkan bahwa doa yang dibuat dengan gaya bahasa yang berlebihan dan bersajak dapat mengalihkan perhatian dari makna dan ketulusan hati, sehingga mengurangi kekhusyukan.

Adab 6: Berdoa dengan Penuh Ketundukan, Kekhusyukan, dan Ketakutan

Doa yang dilandasi ketundukkan, kekhusyukan, dan ketakutan kepada Allah SWT adalah doa yang memiliki bobot spiritual yang tinggi. Sikap ini mencerminkan kesadaran seorang hamba akan kebesaran Allah dan kelemahan dirinya di hadapan-Nya.

Allah SWT berfirman: "Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) kebaikan dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada Kami." (QS. Al-Anbiya' [21]: 90)

Adab 7: Mantap Hati, Yakin Akan Dikabulkan, dan Menaruh Harapan Besar

Salah satu adab yang paling krusial dalam berdoa adalah memantapkan hati, meyakini pengabulan doa, dan menaruh harapan besar kepada Allah SWT. Keyakinan ini bukanlah keyakinan kosong, melainkan keyakinan yang lahir dari keimanan yang mendalam kepada Allah sebagai Zat Yang Maha Kuasa dan Maha Pengasih.

Rasulullah SAW bersabda: "Berdoalah kepada Allah dengan keyakinan bahwa doa tersebut akan dikabulkan, dan ketahuilah bahwa Allah Azza wa Jalla tidak akan mengabulkan doa dari hati yang lalai dan lengah." (HR. At-Tirmidzi)

Sufyan bin Uyaynah, seorang ulama besar, mengatakan sadar akan kondisi dirimu, jangan sampai menghalangimu untuk berdoa kepada-Nya. Allah tetap menerima permohonan Iblis yang tidak lain adalah makhluk-Nya yang paling buruk.

Pernyataan ini mengajarkan bahwa tidak ada alasan bagi seorang hamba untuk merasa tidak layak berdoa kepada Allah. Selama ia masih hidup, pintu doa selalu terbuka.

Adab 8: Meminta Terus Menerus dalam Berdoa

Seorang muslim dianjurkan untuk tidak bosan dan terus-menerus berdoa. Jangan pernah menganggap doa telah sia-sia hanya karena belum terlihat hasilnya. Rasulullah SAW bersabda:

"Doa salah seorang dari kalian akan dikabulkan selama ia tidak tergesa-gesa, dengan mengatakan: 'Aku telah berdoa, tapi belum dikabulkan.'" (HR. Bukhari dan Muslim)

Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumiddin menjelaskan bahwa saat berdoa, hendaknya memohon dengan sungguh-sungguh dan mengulanginya sebanyak tiga kali. Sebagaimana Ibnu Mas'ud RA pernah mengatakan, "Jika Nabi Muhammad SAW berdoa, beliau berdoa dan diulang sebanyak tiga kali."

Adab 9: Membuka dan Menutup Doa dengan Pujian serta Shalawat

Seorang muslim dianjurkan untuk membuka doa dengan pujian dan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW, demikian pula ketika mengakhiri doa. Dalam Ihya Ulumiddin, Imam Al-Ghazali menuliskan bahwa doa sebaiknya diawali dengan menyebut nama Allah atau berzikir kepada-Nya. Jangan langsung meminta atau langsung berdoa tanpa berzikir kepada-Nya terlebih dahulu.

Rasulullah SAW mengajarkan: "Apabila salah seorang di antaramu berdoa, hendaklah ia memulai dengan mengagungkan dan memuji Tuhan yang Maha Agung dan Maha Perkasa, kemudian bershalawat untuk Nabi SAW, setelah itu berdoa dengan doa yang dikehendaki." (HR. At-Tirmidzi)

Adab 10: Tobat dan Menghadap kepada Allah dengan Ketaatan

Adab kesepuluh ini adalah yang paling fundamental. Imam An-Nawawi dalam Al-Adzkarul Muntakhabah menyebutnya sebagai pasal terpenting dan cukup mendasar dalam pengabulan doa. Adab ini mencakup tiga hal:

· Bertobat dari segala dosa dan maksiat.

· Mengembalikan hak-hak kepada mereka yang teraniaya (mazhalim).

· "Menghadap" Allah SWT dengan cara mematuhi segala aturan agama.

Imam An-Nawawi menjelaskan, pasal kesepuluh ini pasal terpenting dan cukup mendasar dalam pengabulan doa, yaitu tobat, mengembalikan benda-benda kepada mereka yang teraniaya, dan 'menghadap' Allah SWT." (An-Nawawi, Al-Adzkar Al-Adzkarul Muntakhabah min Kalami Sayyidil Abrar).

Adab ini menegaskan bahwa doa tidak akan mencapai kemustajabannya jika seorang hamba masih bergelimang dosa, masih menzalimi orang lain, atau masih menjauh dari ketentuan Allah.

Sebagaimana disebutkan dalam panduan doa terbitan Kemenag, agar doa seorang hamba dikabulkan, hendaknya ia menjauhi perkara yang diharamkan oleh Allah baik dari segi pakaian, maupun makanan dan minuman.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |