4 Puasa Sunnah Muharram yang Memiliki Keutamaan Besar, Berkah di Awal Tahun Islam

20 hours ago 7

Liputan6.com, Jakarta - Bulan pertama dalam kalender Hijriah, Muharram tidak hanya sekadar penanda pergantian tahun, tetapi juga menawarkan peluang ibadah yang istimewa. Salah satu amalan yang paling dianjurkan adalah melaksanakan puasa sunnah Muharram yang memiliki keutamaan besar.

Anjuran ibadah ini termaktub dalam hadis shahih riwayat Imam Muslim, Rasulullah SAW bersabda bahwa puasa yang paling afdal setelah puasa di bulan Ramadhan adalah berpuasa pada bulan Allah, yaitu Al-Muharram.

Ustadz Said Yai dalam e-book Bulan Muharram dan Keutamaan Berpuasa di Dalamnya menggarisbawahi bahwa statusnya sebagai Syahrullah (Bulan Allah) menunjukkan derajat kemuliaan eksklusif yang membuat ibadah puasa di dalamnya sangat disunnahkan.

Menghidupkan anjuran agung diharapkan menjadi wasilah untuk meraih ampunan ilahi dan membersihkan jiwa. Merangkum berbagai sumber, berikut ini adalah puasa sunnah Muharram yang memiliki keutamaan besar bagi umat Islam.

1. Puasa di Bulan Muharram Secara Umum (1–30 Muharram)

Ini adalah fondasi utama dari semua puasa sunnah di bulan Muharram. Rasulullah SAW memberikan penegasan yang sangat jelas mengenai keutamaan puasa di bulan ini secara keseluruhan.

Rasulullah SAW bersabda: "Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah—Muharram." (HR. Muslim no. 1163)

Hadis ini sekaligus menjadi bukti bahwa puasa di bulan Muharram secara umum memiliki keutamaan yang melebihi puasa sunnah di bulan-bulan lainnya. Keutamaan ini mencakup seluruh hari di bulan Muharram, baik tanggal 1, 9, 10, maupun lainnya.

Imam Nawawi rahimahullah dalam kitab Syarh Shahih Muslim menjelaskan hadis ini merupakan penegasan bahwa sebaik-baik bulan untuk berpuasa adalah pada bulan Muharram.

Imam Jalaluddin as-Suyuthi rahimahullah dalam Syarah al-Suyuthi 'ala Muslim menambahkan alasan yang lebih mendalam. Puasa di bulan Muharram menjadi puasa sunnah yang paling utama karena Muharram adalah awal permulaan tahun. Sehingga, ketika seseorang membuka lembaran barunya di awal tahun dengan berpuasa, maka ia telah membuka awal tahunnya dengan pekerjaan yang paling afdhal.

Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah dalam Latha'if al-Ma'arif menegaskan, puasa yang paling utama di antara bulan-bulan haram adalah puasa di bulan Muharram (Syahrullah)."

Selain menjadi puasa sunnah yang paling utama secara kualitas, puasa di bulan Muharram juga memiliki keutamaan dalam hal pelipatgandaan pahala secara kuantitas.

2. Puasa Asyura (10 Muharram)

Di antara semua hari dalam setahun, Asyura (10 Muharram) adalah hari yang paling istimewa setelah 10 hari terakhir Ramadhan dan 9 hari pertama Dzulhijjah. Rasulullah SAW sendiri sangat memperhatikan puasa di hari ini.

Rasulullah SAW bersabda: "Puasa pada hari Asyura, sesungguhnya aku berharap kepada Allah agar puasa tersebut dapat menghapuskan (dosa) setahun yang lalu." (HR. Muslim no. 1162, dari Abu Qatadah)

Keutamaan inilah yang menjadikan puasa Asyura sebagai salah satu puasa sunnah dengan balasan terbesar dalam Islam, hanya dengan satu hari berpuasa, seorang Muslim berpeluang mendapatkan ampunan dosa selama setahun penuh.

Imam an-Nawawi dalam kitab al-Minhaj Syarh Shahih Muslim menjelaskan aksud dari hadits ini adalah bahwa puasa Asyura dapat menggugurkan dosa-dosa kecil, bukan dosa-dosa besar. Apabila tidak ditemukan dosa kecil maupun dosa besar, maka dituliskan baginya kebaikan serta diangkat derajatnya. Apabila yang didapati adalah dosa besar, maka diharapkan dapat meringankan dosa besar tersebut.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam al-Fatawa al-Kubra menegaskan pengguguran dosa pada taharah (wudhu), shalat, puasa Ramadhan, puasa Arafah, dan puasa Asyura hanya untuk dosa-dosa kecil saja.

Kesimpulannya, puasa Asyura bukanlah ampunan instan untuk semua dosa. Dosa besar hanya bisa dihapus dengan taubat nasuha (taubat yang sungguh-sungguh). Namun, puasa ini tetap menjadi amalan yang sangat agung di sisi Allah.

3. Puasa Tasu'a (9 Muharram)

Tasu'a adalah hari ke-9 bulan Muharram. Puasa ini sangat dianjurkan untuk dilaksanakan bersamaan dengan puasa Asyura (9 dan 10 Muharram). Imam Nawawi dalam al-Majmu' Syarh al-Muhadzdzab menegaskan bahwa Asyura adalah tanggal 10 Muharram, sementara Tasu'a adalah tanggal 9 Muharram.

Keutamaan puasa Tasua adalah untuk menyelisihi Yahudi. Berbeda dengan puasa Asyura yang memiliki keutamaan "menghapus dosa setahun", puasa Tasu'a tidak memiliki keutamaan mandiri yang setara. Keutamaan Tasu'a terletak pada fungsi dan tujuannya.

Imam an-Nawawi dalam kitab al-Majmu' Syarh al-Muhadzdzab menyebutkan tiga hikmah utama:

  • Pertama: Menyelisihi Kebiasaan Orang YahudiOrang Yahudi hanya berpuasa pada tanggal 10 Muharram (Asyura). Dengan menambahkan puasa pada tanggal 9, umat Islam membedakan diri dari praktik ibadah Yahudi—sebuah prinsip yang sangat ditekankan dalam Islam. Hal ini diriwayatkan dari Ibnu Abbas RA dan terdapat dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal.
  • Kedua: Menyambung Puasa dengan Hari LainSama seperti dilarangnya mengkhususkan puasa pada hari Jumat saja tanpa digabungkan dengan hari sebelum atau sesudahnya, puasa Tasu'a berfungsi untuk "menyambung" puasa Asyura dengan hari lain. Pendapat ini disebutkan oleh al-Khaththabi dan ulama lainnya.
  • Ketiga: Kehati-hatian (Ihtiyath) dalam Penentuan TanggalJika terjadi kesalahan dalam penentuan awal bulan (hilal), bisa jadi hari yang dianggap tanggal 10 ternyata adalah tanggal 9 yang sebenarnya. Dengan berpuasa pada tanggal 9 dan 10 sekaligus, seseorang lebih yakin bahwa puasa Asyura-nya benar-benar jatuh pada tanggal 10 yang sesungguhnya.

4. Puasa 11 Muharram, Tingkatan Paling Sempurna

Selain Tasu'a (9 Muharram) dan Asyura (10 Muharram), para ulama juga menganjurkan untuk menambahkan puasa pada tanggal 11 Muharram sebagai bentuk yang paling sempurna.

Ibnu Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah menyebutkan tiga tingkatan puasa Asyura:

  • Pertama (Paling Sempurna) 9, 10, dan 11 Muharram (Puasa tiga hari berurutan)
  • Kedua (Tingkat Menengah) 9 dan 10 Muharram Puasa Tasu'a + Asyura
  • Ketiga (Tingkat Dasar) 10 Muharram saja Hanya puasa Asyura

Meskipun hadis yang secara eksplisit menyebutkan puasa tanggal 11 Muharram tergolong da'if (lemah), para ulama tetap menganjurkannya dengan alasan sebagai berikut:

  • Sebagai bentuk kehati-hatian. Jika terjadi kesalahan dalam penentuan awal bulan, dengan berpuasa pada tanggal 11, seseorang tetap bisa memastikan bahwa ia telah melaksanakan puasa pada tanggal 9 dan 10 (jika bulan ternyata lebih pendek).
  • Sebagai bentuk penyelisihan total terhadap Yahudi. Orang Yahudi hanya berpuasa pada tanggal 10. Dengan berpuasa pada tanggal 9 dan 10 atau 10 dan 11, atau bahkan 9, 10, dan 11 sekaligus, umat Islam semakin menjauh dari kebiasaan Yahudi.

Imam asy-Syafi'i dalam kitab al-Umm menyatakan tidak masalah hanya puasa Asyura saja, namun, puasa 11 Muharram tetap dianjurkan sebagai bentuk kesempurnaan, sebagaimana dijelaskan Syekh Zainuddin al-Malibari bahwa hikmah puasa Tasu'a adalah menyelisihi amaliyah Yahudi. Dari sini kemudian muncul anjuran puasa hari 11 Muharram bagi mereka yang tidak berpuasa Tasu'a. Puasa 11 Muharram tetap dianjurkan meski mereka sudah berpuasa Tasu'a sesuai hadits Nabi SAW.

Keutamaan Puasa Muharram

Berdasarkan dalil-dalil shahih dan penjelasan para ulama, ibadah puasa di bulan Muharram memiliki beberapa keutamaan agung, antara lain:

  • Puasa Terbaik Setelah Ramadhan: Secara umum, memperbanyak puasa sunnah di bulan Muharram memiliki derajat tertinggi dibandingkan bulan-bulan lainnya. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam menegaskan bahwa puasa di Syahrullah (Bulan Allah) ini adalah puasa yang paling afdal setelah puasa fardhu di bulan Ramadhan (HR. Muslim).
  • Menghapus Dosa Setahun Berlalu (Puasa Asyura): Berpuasa secara khusus pada tanggal 10 Muharram (Hari Asyura) memiliki keistimewaan yang sangat besar, yaitu janji penghapusan dosa-dosa kecil yang telah dilakukan selama satu tahun ke belakang (HR. Muslim).
  • Menyelisihi Ahli Kitab (Puasa Tasu'a): Mengerjakan puasa pada tanggal 9 Muharram (Tasu'a) memiliki keutamaan untuk menjaga kemurnian identitas akidah dan ibadah umat Islam. Puasa ini disyariatkan secara spesifik agar ibadah umat Islam berbeda dan tidak menyerupai tradisi Yahudi serta Nasrani yang hanya berpuasa pada tanggal 10 Muharram.
  • Menyempurnakan Rasa Syukur: Puasa Muharram, khususnya Asyura, merupakan napak tilas rasa syukur para Nabi terdahulu, seperti syukurnya Nabi Musa 'Alaihissalam atas keselamatan kaumnya dari kejaran Fir'aun. Umat Islam melestarikannya sebagai bentuk syukur yang lebih berhak atas kemenangan tauhid.

Pertanyaan Seputar Puasa Sunnah Muharram

Apa keistimewaan puasa di bulan Muharram?

Puasa di bulan Muharram adalah puasa sunnah yang paling utama setelah puasa wajib di bulan Ramadan. Keistimewaan utamanya terletak pada penghapusan dosa setahun yang lalu, khususnya melalui amalan puasa Asyura pada tanggal 10 Muharram.

Berapa hari puasa Muharram yang dianjurkan?

Umat Islam sangat dianjurkan untuk menjalankan puasa sunah Muharram selama tiga hari (tanggal 9, 10, dan 11 Muharram) atau dua hari (tanggal 9 dan 10 Muharram). Meskipun demikian, berpuasa sehari saja pada tanggal 10 Muharram (Puasa Asyura) atau memperbanyak puasa sepanjang 10 hari pertama juga sangat dianjurkan.

1 Muharram disunnahkan apa saja?

Pada awal tahun baru Islam (1 Muharram), umat Muslim disunnahkan untuk melakukan amalan ibadah guna meraih keberkahan. Amalan utama yang sangat dianjurkan meliputi memperbanyak puasa sunnah, membaca doa akhir dan awal tahun, tadarus Al-Qur'an, hingga bersedekah.

Puasa 1 Muharram pahalanya seperti apa?

Siapa sih yang nggak pengen dosa-dosanya diampuni? Keutamaan puasa bulan Muharram berikutnya adalah diampuni dosa setahun yang telah lewat. Jika Sobat Wakaf berpuasa Asyura, insya Allah dosa-dosa setahun ke belakang bakal diampuni loh.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |