5 Rukun Khutbah yang Wajib Dilakukan Khatib Sholat Jumat

3 months ago 34

Liputan6.com, Jakarta Khutbah Jumat merupakan bagian penting dari ibadah sholat Jumat, sehingga penyampaiannya harus memenuhi aturan dalam syariat. Setiap khatib wajib memahami rukun khutbah agar pesan yang disampaikan tidak hanya benar secara fikih, tetapi juga memberi manfaat bagi jemaah. Khutbah Jumat menggantikan dua rakaat salat Zuhur, maka kualitas isi dan susunannya harus benar-benar diperhatikan. 

Selain memastikan rukun khutbah terpenuhi, banyak umat Islam juga mulai memperdalam pengetahuan keagamaan melalui ayat-ayat tematik seperti ayat seribu dinar, arti ayat kursi, hingga ayat tentang sabar. Tema-tema ini sering diangkat dalam khutbah karena relevan dengan kehidupan sehari-hari. Khutbah jumat juga sering diselipkan dengan ayat tentang kematian, ayat tentang toleransi, atau ayat tentang pendidikan untuk memperluas wawasan jemaah. Oleh karena itu, khutbah Jumat bukan sekadar kewajiban, tetapi juga sarana pendidikan spiritual yang sangat berharga. Berikut ini 5 rukun khutbah yang wajib dipenuhi khatib sholat Jumat. 

1. Membaca Hamdalah

Hamdalah menjadi pembuka yang menegaskan rasa syukur kepada Allah dalam setiap khutbah Jumat. Pembacaan hamdalah menanamkan kesadaran bahwa semua nikmat berasal dari Allah SWT. Dalam konteks ayat Al-Qur’an tentang bersyukur, hamdalah menjadi cermin sikap seorang hamba dalam memulai nasihat kepada sesama hamba. Rukun khutbah ini dilakukan pada awal khutbah pertama sebelum masuk ke pesan utama. Khatib bisa memperpanjang atau mempersingkat hamdalah selama inti maknanya tetap jelas.

Teks Arab

ٱلْـحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Latin

Al-ḥamdu lillāhi rabbil ‘ālamīn.

Terjemahan

"Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam."

Pengucapan hamdalah yang benar bisa membuka hati jemaah agar lebih menerima nasihat berikutnya. Dalam praktiknya, banyak khatib menyambungkan hamdalah dengan pengantar topik khutbah, misalnya ketika membahas ayat tentang riba, ayat tentang zina, atau ayat tentang puasa. Dengan demikian, rukun khutbah ini bukan hanya dipenuhi secara teknis, tetapi juga menghadirkan ruh syukur dalam penyampaian. Hamdalah menjadi pondasi awal sebelum khatib masuk ke pesan moral.

2. Membaca Sholawat

Sholawat kepada Nabi Muhammad Muhammad SAW merupakan rukun khutbah yang menunjukkan kecintaan dan penghormatan kepada Rasulullah, sang nabi akhir zaman. Membaca sholawat adalah bentuk pengakuan bahwa semua tuntunan ibadah, termasuk khutbah berasal dari ajaran beliau. Oleh karena itu, setiap khutbah Jumat wajib memuat sholawat pendek maupun sholawat panjang. Pembacaan sholawat juga sering dikaitkan dengan tema-tema seperti ayat tentang pernikahan, ayat tentang pendidikan, atau kisah akhlak Rasulullah sebagai teladan.

Teks Arab

ٱللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَىٰ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ

Latin

Allāhumma ṣalli ‘alā sayyidinā Muḥammadin wa ‘alā ālihi wa ṣaḥbihi ajma‘īn.

Terjemahan

"Ya Allah, limpahkanlah sholawat kepada pemimpin kami Muhammad beserta keluarga dan seluruh sahabatnya."

Sholawat tidak hanya memenuhi rukun khutbah, tetapi juga menghadirkan keberkahan dalam majelis. Banyak khatib memulai materi khutbah setelah sholawat, terutama ketika membahas topik yang berkaitan dengan akhlak Rasulullah. Pembacaan sholawat juga menjadi momen yang menyatukan hati jemaah untuk kembali mengingat keteladanan Nabi. Oleh karena itu, rukun khutbah satu ini selalu menjadi bagian paling dinanti dan tidak pernah ditinggalkan.

3. Wasiat Taqwa

Wasiat taqwa adalah inti pesan khutbah yang mengajak jemaah mendekatkan diri kepada Allah melalui ketaatan dan menjauhi maksiat. Dalam wasiat taqwa, khatib biasanya menekankan pentingnya menjaga diri dari berbagai larangan, seperti yang tergambar dalam ayat tentang zina maupun perintah kebaikan seperti dalam ayat tentang toleransi. Wasiat ini bersifat umum namun sangat mendalam karena mengingatkan manusia akan hubungannya dengan Allah. Penyampaiannya harus lugas, jelas, dan langsung ditujukan kepada jemaah.

Teks Arab

يَا أَيُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Latin

Yā ayyuhannāsu ittaqullāha ḥaqqa tuqātihī walā tamūtunna illā wa antum muslimūn.

Terjemahan

"Wahai manusia, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa dan janganlah kalian mati kecuali sebagai Muslim."

Banyak jemaah yang mengingat kembali nasihat ini ketika menghadapi ujian hidup sebagaimana dijelaskan dalam ayat seribu dinar atau ayat tentang sabar. Wasiat ini membuat khutbah tidak hanya menjadi ritual, tetapi juga pengingat moral untuk menjalani pekan berikutnya dengan hati-hati. 

4. Membaca Ayat Al-Qur’an

Rukun khutbah berikutnya yakni membaca minimal satu ayat Al-Qur’an pada khutbah pertama. Ayat yang dibaca boleh bergantung pada topik khutbah, misalnya arti ayat kursi, ayat tentang kematian, atau ayat motivatif lainnya. Membaca ayat Al-Qur’an membuat khutbah memiliki landasan wahyu yang kuat, bukan sekadar pendapat manusia. Maka, harus dipastikan bahwa pemilihan ayat tepat dan sesuai kebutuhan jemaah.

Teks Arab

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ

Latin

Wa ta‘āwanū ‘alal birri wat-taqwā walā ta‘āwanū ‘alal ithmi wal-‘udwān.

Terjemahan

"Dan tolong-menolonglah kalian dalam kebaikan dan ketakwaan, dan jangan tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan."

Ayat yang dibacakan khatib menjadi jembatan menuju pesan inti khutbah. Misalnya, jika topiknya tentang sosial, khatib bisa mengaitkannya dengan ayat tentang pendidikan atau nilai kebajikan dalam kehidupan. Pembacaan ayat membuat khutbah semakin kuat secara spiritual dan memberi rujukan yang dapat diingat jemaah setelah sholat Jumat. Dengan demikian, rukun ini wajib dipenuhi oleh seorang khatib sholat Jumat dengan bacaan yang jelas dan fasih.

5. Doa untuk Kaum Muslimin

Rukun kelima sekaligus terakhir dalam khutbah Jumat adalah membaca doa untuk kaum Muslimin pada khutbah kedua. Doa ini mencerminkan kepedulian terhadap sesama, baik yang masih hidup maupun yang telah wafat sebagaimana digambarkan dalam ayat tentang kematian. Doa dapat berisi permohonan ampun, keselamatan, atau kebaikan bagi seluruh umat Islam. Hal ini menunjukkan bahwa khutbah bukan hanya pemberian nasihat, tetapi juga bentuk empati dan solidaritas.

Teks Arab

اللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ

Latin

Allāhumma ighfir lil-muslimīna wal-muslimāt wal-mu’minīna wal-mu’mināt al-aḥyā’i minhum wal-amwāt.

Terjemahan

"Ya Allah, ampunilah kaum Muslimin dan Muslimat, Mukminin dan Mukminat, yang hidup maupun yang telah wafat."

Doa penutup ini menguatkan hubungan spiritual antarsesama Muslim melalui permohonan kebaikan bersama. Banyak jemaah yang merasa doa ini menjadi bagian paling menyentuh dari khutbah, terutama ketika sedang menghadapi ujian hidup. Doa penutup ini menandai bahwa khutbah Jumat menjadi rangkaian ibadah yang lengkap: dimulai dengan pujian kepada Allah dan diakhiri dengan doa untuk seluruh umat. 

Pertanyaan seputar Rukun Khutbah Jumat

1. Apa saja rukun khutbah Jumat?

Lima rukun khutbah adalah hamdalah, shalawat, wasiat taqwa, membaca ayat, dan doa.

2. Apakah khutbah boleh tanpa membaca ayat Al-Qur’an?

Tidak boleh karena membaca ayat adalah rukun khutbah.

3. Berapa kali khutbah dalam salat Jumat?

Dua kali, yaitu khutbah pertama dan khutbah kedua.

4. Apakah khutbah menggantikan salat Zuhur?

Ya, khutbah menjadi bagian dari sholat Jumat yang menggantikan Zuhur.

5. Siapa yang boleh menjadi khatib?

Orang yang memenuhi syarat sah khutbah dan mampu membacakannya dengan benar.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |