6 Contoh Kultum tentang Bahaya Ujub dalam Beramal, Syiar di Tengah Maraknya Pamer Sedekah di Medsos

1 day ago 9
  • Apa akibat sifat ujub ketika beramal kebaikan?
  • Terkadang ikhlas dihinggapi penyakit ujub. Siapa yang merasa ujub karena amal yang dilakukan maka?
  • Apa itu ujub dan contohnya?

Baca artikel ini 5x lebih cepat

Liputan6.com, Jakarta - Referensi mengenai contoh kultum tentang bahaya ujub dalam beramal sangatlah penting sebagai pengingat spiritual umat. Di era digital saat ini, umat Islam dihadapkan pada ujian keikhlasan yang luar biasa berat.

Kemudahan akses media sosial membuat kita rentan memamerkan ibadah dan sedekah. Niat suci berbuat kebaikan sering kali terdistorsi oleh godaan mendapat pujian maya, atensi publik, dan sanjungan yang memicu rasa bangga diri.

Rasulullah SAW mengingatkan, "Tiga hal yang membinasakan: kekikiran yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, dan rasa bangga seseorang terhadap dirinya sendiri" (HR Thabrani). Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin menjelaskan ujub adalah kecintaan buta pada kehebatan diri sendiri, yang seketika menghapus seluruh pahala amal saleh.

Oleh karena itu, syiar tentang bahaya ujub harus terus disuarakan tanpa henti. Tujuannya agar hati kita tetap murni, ikhlas, dan terjaga dari kesia-siaan. Merangkum berbagai sumber, berikut ini adalah 6 contoh kultum tentang bahaya ujub dalam beramal.

Contoh Kultum 1: Tiga Perkara yang Membinasakan di Era Digital

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT yang senantiasa melimpahkan rahmat-Nya kepada kita semua. Shalawat serta salam senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga, sahabat, dan umatnya yang istiqamah hingga akhir zaman.

Hadirin yang dirahmati Allah, kita saat ini hidup di era digital, di mana segala aktivitas kehidupan begitu mudah dibagikan kepada dunia hanya dengan sentuhan jari. Kemudahan ini membawa banyak manfaat, namun di sisi lain membuka celah ujian yang sangat halus bagi hati kita, terutama dalam urusan beramal saleh.

Banyak dari kita yang berlomba-lomba mengunggah momen sedekah, membantu anak yatim, atau membangun masjid di media sosial. Sayangnya, di balik niat awal yang mungkin baik, kerap muncul perasaan bangga terhadap diri sendiri, merasa paling dermawan, atau merasa lebih saleh dari orang lain yang hanya diam menonton.

Terkait hal ini, Rasulullah SAW pernah memberikan peringatan keras melalui sabdanya:

ثَلَاثٌ مُهْلِكَاتٌ: شُحٌّ مُطَاعٌ، وَهَوًى مُتَّبَعٌ، وَإِعْجَابُ الْمَرْءِ بِنَفْسِهِ

Artinya: "Tiga hal yang membinasakan: kekikiran yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, dan rasa bangga seseorang terhadap dirinya sendiri." (HR. Thabrani).

Penjelasan dari hadis tersebut sangatlah relevan dengan kondisi kita saat ini. Sifat ujub atau takjub pada diri sendiri disebut sebagai salah satu hal yang membinasakan karena ia menyerang fondasi amal, yaitu niat. Ketika kita melihat jumlah likes atau pujian di kolom komentar atas sedekah yang kita unggah, bibit ujub itu mulai tumbuh dan merusak kemurnian amal.

Ujub membuat amal yang tadinya bernilai setinggi gunung di hadapan Allah, hancur menjadi debu yang tak berharga. Orang yang dijangkiti penyakit ini tidak menyadari bahwa kebaikan yang ia lakukan sebenarnya semata-mata karena taufik dan hidayah dari Allah, bukan karena kehebatan dirinya sendiri.

Fenomena memamerkan sedekah demi konten sering kali membuat si pelaku lupa bahwa pujian manusia tidak akan pernah menambah berat timbangan amal di akhirat. Justru, rasa takjub pada diri sendiri mematikan rasa butuh kita kepada Allah, seolah-olah kita sudah mengantongi tiket surga melalui konten viral tersebut.

Oleh karena itu, mari kita awasi hati kita dengan ketat setiap kali jari ini hendak menekan tombol "bagikan" di media sosial. Tanyakan kembali ke dalam diri, apakah ini murni untuk mengharap rida Allah, atau ada hasrat tersembunyi untuk dipuji dan membanggakan diri di hadapan manusia.

Ya Allah, sucikanlah hati kami dari sifat ujub, riya, dan sum'ah. Jadikanlah setiap amal perbuatan kami murni hanya mengharap rida-Mu, dan lindungilah kami dari segala perkara yang membinasakan amal-amal kami. Amin Ya Rabbal 'Alamin.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Kultum 2: Kerugian Terbesar Sang Pembuat Konten Kebaikan

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Puji syukur senantiasa kita panjatkan ke hadirat Allah SWT Tuhan semesta alam. Shalawat dan salam semoga selalu menyertai Nabi besar Muhammad SAW, keluarga, para sahabat, serta orang-orang yang mengikuti jalan kebenaran hingga hari kiamat.

Jamaah sekalian, di zaman yang serba transparan ini, sangat mudah bagi kita untuk mengetahui siapa saja yang sedang berbuat baik. Banyak sekali figur publik maupun masyarakat biasa yang menjadikan aksi sosial dan bagi-bagi uang sebagai konten utama di berbagai platform digital.

Sekilas, pemandangan ini tampak sangat indah dan menggembirakan karena terlihat banyak orang yang peduli. Namun, di balik layar kaca gawai kita, ada ancaman besar yang mengintai para pelakunya, yaitu ilusi kesalehan yang bersumber dari rasa ujub, merasa diri telah berbuat sangat baik padahal amalnya tertolak.

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Kahfi ayat 103-104:

قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالًا * الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا

Artinya: "Katakanlah: 'Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?' Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya."

Ayat ini merupakan tamparan keras bagi siapa saja yang merasa amalnya sudah hebat. Penjelasan dari ayat tersebut menyoroti mereka yang lelah beramal siang dan malam, sibuk menyalurkan bantuan dan merekamnya, namun amalnya sia-sia karena hatinya dipenuhi oleh kebanggaan diri dan niat yang melenceng dari Allah.

Ketika seseorang mengunggah amal kebaikannya lalu memandangi ribuan tayangan videonya dengan penuh rasa takjub pada diri sendiri, di titik itulah amalannya gugur. Ujub membuat seseorang menjadi buta terhadap aib-aib dan dosa-dosa pribadinya, karena ia hanya fokus pada narasi bahwa dirinya adalah seorang "pahlawan" kebaikan.

 Kita harus menyadari bahwa membuat konten sedekah bukanlah hal yang dilarang mutlak, namun menata hati agar tidak tergelincir ke dalam jurang ujub adalah pekerjaan yang sangat berat. Jangan sampai kita menjadi orang yang bangkrut di akhirat; terkenal sebagai dermawan di dunia maya, namun tidak tercatat apa-apa di Lauhul Mahfudz.

 Semoga kita semua bisa menahan diri dari godaan pujian maya yang menipu. Biarlah kebaikan kita menjadi rahasia yang indah antara kita dengan Allah, agar kelak menjadi kejutan manis di hari perhitungan amal.

Ya Allah, jauhkanlah kami dari golongan orang-orang yang merugi amalnya. Berikanlah kami kesadaran dan keikhlasan dalam berbuat baik, serta jauhkan kami dari sifat merasa diri lebih suci dan lebih baik dari hamba-Mu yang lain. Amin.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Kultum 3: Dalih Menginspirasi yang Berujung Bangga Diri

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Alhamdulillah, kita masih diberi nikmat iman, Islam, dan kesehatan oleh Allah SWT. Mari bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW yang telah membawa cahaya kebenaran, menuntun umat manusia dari kegelapan menuju jalan yang terang benderang.

Hadirin yang berbahagia, salah satu fenomena menarik di era media sosial saat ini adalah maraknya tren "pamer kebaikan". Jika ditegur, banyak yang menggunakan alasan atau dalih bahwa mengunggah momen sedekah dan ibadah tersebut bertujuan untuk menginspirasi orang lain agar ikut berbuat hal yang sama.

Alasan ini memang masuk akal dan ada benarnya. Namun, hati manusia sangatlah rapuh dan mudah berbolak-balik. Niat awal yang murni ingin melakukan syiar sering kali dibelokkan oleh setan di tengah jalan menjadi ujub, tatkala komentar-komentar sanjungan mulai berdatangan menghiasi layar.

Rasulullah SAW mengingatkan kita tentang pentingnya fondasi niat:

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

Artinya: "Sesungguhnya setiap amal perbuatan itu bergantung pada niatnya, dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan." (HR. Bukhari dan Muslim).

Penjelasan hadis ini menegaskan bahwa nilai sebuah perbuatan di mata Allah mutlak ditentukan oleh apa yang tersimpan di dalam relung hati. Jika niatnya benar-benar untuk Allah, maka pahalanya utuh. Namun, jika terselip setitik saja rasa bangga dan ingin diakui sebagai orang saleh (ujub), maka nilai amal tersebut akan menguap.

Penyakit ujub saat mengunggah amal ibadah sering kali tidak disadari karena bersembunyi di balik kata "menginspirasi". Seseorang mungkin membohongi orang lain dengan takarir atau caption yang merendah, padahal di dalam hatinya ia berkata, "Lihatlah betapa luar biasanya pengorbanan dan ibadahku dibandingkan mereka."

Inilah mengapa para ulama terdahulu sangat ekstrem dalam menyembunyikan amal kebaikan mereka. Mereka tahu betul bahwa menundukkan ego dan rasa ujub jauh lebih sulit daripada sekadar mengeluarkan harta untuk disedekahkan. Di era modern, kehati-hatian ini harus dilipatgandakan.

Marilah kita mengoreksi kembali setiap konten yang kita unggah. Jika kita tidak yakin mampu menjaga hati dari rasa bangga dan ujub ketika mendapat pujian dari netizen, maka menyembunyikan amal kebaikan adalah jalan yang paling selamat dan paling dicintai oleh Allah.

Ya Allah yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hati kami di atas agama-Mu. Jadikanlah niat kami senantiasa lurus, bebaskan hati kami dari bisikan setan yang menyusupkan rasa bangga diri di setiap amal yang kami kerjakan. Amin.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Kultum 4: Batalnya Sedekah Akibat Penyakit Hati

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Segala puji bagi Allah Sang Maha Pemberi Rezeki. Shalawat dan salam kita sanjungkan kepada teladan umat, Nabi Muhammad SAW, beserta para sahabatnya yang mencontohkan kemuliaan akhlak dalam setiap aspek kehidupan.

Saudara-saudara sekalian, sedekah kini telah bertransformasi menjadi bagian dari gaya hidup sekaligus materi konten yang menjanjikan popularitas. Berbagai platform dipenuhi dengan video eksperimen sosial, di mana seseorang memberi uang kepada orang susah lalu merekam reaksi haru mereka untuk ditonton jutaan mata.

Di balik tren ini, ada bahaya laten yang mengancam sang pemberi sedekah, yakni rusaknya amal tersebut akibat sifat ujub dan kecenderungan menyakiti perasaan si penerima karena mengeksploitasi kemiskinan mereka demi sebuah engagement atau popularitas semu.

Allah SWT telah melarang hal ini dengan tegas dalam firman-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْأَذَىٰ كَالَّذِي يُنْفِقُ مَالَهُ رِئَاءَ النَّاسِ

Artinya: "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia..." (QS. Al-Baqarah: 264).

Dalam penjelasannya, ayat ini merangkum tiga penyakit hati yang sering berjalan beriringan: al-mann (menyebut-nyebut/mengungkit amal), al-adza (menyakiti), dan riya/ujub (pamer dan bangga diri). Mengunggah sedekah ke ranah publik sangat rentan jatuh ke dalam tiga kategori larangan ini secara bersamaan.

Ujub muncul ketika pemberi merasa dirinya adalah pahlawan pembawa keselamatan. Rasa bangga ini melahirkan kesombongan, sehingga ia tanpa sadar menjadikan kaum duafa sebagai objek tontonan belaka. Akibatnya, pahala sedekah yang diharapkan bisa menolong di hari akhir, batal seketika layaknya debu yang tersapu air hujan.

 Sangatlah menyedihkan jika uang yang dikeluarkan begitu besar, waktu yang diluangkan begitu banyak, namun di buku catatan amal malaikat tidak tertulis apa-apa selain stempel "Ujub" dan "Riya". Pamer sedekah memang bisa mendatangkan uang tambahan dari monetisasi media sosial, tapi ia mengikis habis saldo akhirat kita.

 Oleh karenanya, biasakanlah memberi dengan diam-diam. Seperti sabda Nabi, sedekah terbaik adalah ketika tangan kanan memberi, tangan kiri tidak mengetahuinya. Itulah analogi tingkat tertinggi dalam menjaga hati dari sifat takjub pada amal sendiri.

Ya Allah, ampunilah kelemahan dan kebodohan kami dalam beramal. Berikanlah kami rezeki hati yang ikhlas, yang mampu bersedekah tanpa harus dilihat manusia, dan hindarkan kami dari perbuatan yang membatalkan pahala sedekah kami. Amin Ya Rabbal 'Alamin.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Kultum 5: Ujub, Bibit Kesombongan di Era "Views" dan "Likes"

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Mari kita awali perjumpaan ini dengan bersyukur kepada Allah atas segala nikmat-Nya. Tak lupa kita kirimkan shalawat dan salam kepada baginda Rasulullah SAW yang telah mengajarkan kerendahan hati kepada umatnya.

Jamaah yang dimuliakan Allah, hidup di zaman modern membuat banyak orang mengukur kesuksesan dan kebaikan dari seberapa banyak likes, views, dan followers yang mereka miliki. Metrik-metrik digital ini seolah menjadi hakim baru yang menentukan apakah seseorang itu baik atau buruk di mata masyarakat.

Ketika seseorang melakukan kebaikan, seperti menyumbang ke panti asuhan, lalu mengunggahnya dan mendapatkan jutaan views, maka hati kecilnya mulai berbisik, "Aku adalah orang hebat, aku orang dermawan, lihatlah semua orang memujiku." Inilah akar dari penyakit ujub yang sangat mematikan karakter seorang muslim.

Allah SWT melarang keras hamba-Nya memiliki sifat ujub yang berujung pada kesombongan ini. Allah berfirman:

وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

Artinya: "Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri." (QS. Luqman: 18).

Penjelasan ayat ini sangat dalam, menyinggung perilaku membanggakan diri (mukhtalin fakhur). Penyakit ujub atas amal kebaikan adalah pintu gerbang menuju kesombongan spiritual. Seseorang yang terkena ujub akan mulai merendahkan orang lain yang dianggap tidak seaktif dirinya dalam beramal atau tidak se-viral dirinya di media sosial.

Orang yang bangga dengan sedekahnya lupa bahwa harta yang ia bagikan sejatinya adalah titipan Allah. Ia lupa bahwa tangan yang ia gunakan untuk memberi, serta kamera yang ia gunakan untuk merekam, semuanya adalah fasilitas yang bisa dicabut kapan saja oleh Sang Maha Kuasa.

Mari kita renungkan, untuk apa kita lelah mengejar validasi dari manusia yang hatinya selalu berubah-ubah? Hari ini mereka memuji kedermawanan kita di kolom komentar, esok hari mereka bisa saja berbalik mencaci maki karena satu kesalahan kecil yang kita perbuat.

 Cukuplah rida Allah sebagai puncak pencapaian hidup kita. Jangan biarkan pujian di layar kaca merampas kerendahan hati kita. Teruslah beramal, namun belajarlah untuk mengunci rapat-rapat menceritakannya, agar ia menjadi simpanan murni di sisi Allah.

Ya Allah yang Maha Mengetahui segala isi hati, jauhkanlah diri kami dari sifat sombong dan membanggakan amal. Jadikanlah kami hamba-hamba-Mu yang tawadhu, yang menyadari bahwa setiap tetes kebaikan yang kami lakukan semata-mata adalah berkat pertolongan-Mu. Amin.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Kultum 6: Keikhlasan Sebagai Penawar Ujub di Dunia Maya

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Segala puji hanya milik Allah, Tuhan semesta alam yang menguasai hari pembalasan. Shalawat serta salam mari senantiasa kita haturkan kepada junjungan kita, Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga, sahabat, dan umatnya yang setia menjunjung tinggi sunnahnya.

Hadirin wal hadirat rahimakumullah, menyembunyikan amal kebaikan di dunia yang serba terkoneksi ini bagaikan menggenggam bara api; sangat sulit dan menyakitkan bagi sebagian orang yang sudah kecanduan eksistensi. Gatal rasanya tangan ini jika sedekah jutaan rupiah tidak diabadikan dalam bentuk story atau unggahan di media sosial.

Namun, di tengah hiruk-pikuk pamer kebaikan tersebut, kita harus memiliki kesadaran untuk mencari penawar dari penyakit ujub yang mengintai. Penawar satu-satunya dari sifat takjub pada amal diri sendiri dan pamer (riya) adalah mengembalikan kemurnian niat melalui keikhlasan yang sejati.

Allah SWT berfirman mengenai perintah untuk ikhlas:

Artinya: "Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus..." (QS. Al-Bayyinah: 5).

Penjelasan ayat ini menuntut kita untuk mensterilkan setiap ibadah dan sedekah dari segala macam campuran niat duniawi. Memurnikan ketaatan berarti kita beramal bukan untuk eksistensi diri, bukan untuk diakui dermawan oleh pengikut di Instagram atau TikTok, melainkan semata-mata karena Allah memerintahkannya.

Ketika sifat ikhlas ini tertanam kuat di dalam dada, otomatis ujub akan menyingkir. Orang yang ikhlas justru akan merasa cemas jika amalnya dilihat orang lain, khawatir ada bagian dari niatnya yang tercoreng. Ia akan merasakan kenikmatan luar biasa karena memiliki rahasia kebaikan yang hanya diketahui oleh dirinya dan penciptanya.

Melatih keikhlasan di era modern memang butuh mujahadah atau perjuangan ekstra keras. Mulailah dengan menahan jari selama satu menit setiap kali ingin mengunggah amal kebaikan. Ingatlah kembali bahwa amal yang dipamerkan di dunia hanya akan habis nikmatnya di dunia ini saja berupa likes dan pujian.

Jadilah seperti akar pohon yang rela bersembunyi di dalam tanah yang gelap dan kotor, namun terus bekerja keras menghisap air demi menumbuhkan batang, daun, dan buah yang indah. Ia tidak pernah menuntut untuk dilihat, namun manfaatnya nyata dan abadi.

Ya Allah yang Maha Pemberi Taufik, karuniakanlah kepada kami keikhlasan tingkat tinggi dalam setiap tarikan napas dan amal kami. Lindungilah hati kami dari penyakit ujub, dan jadikanlah amal sembunyi-sembunyi kami lebih baik daripada amal yang terlihat oleh manusia. Amin Ya Rabbal 'Alamin.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Pertanyaan dan Jawaban Seputar Topik

Apa akibat sifat ujub ketika beramal kebaikan?

Ujub dapat merusak amal ibadah karena menjadikan niat seseorang tidak murni. Amal yang seharusnya dilakukan untuk mencari ridha Allah menjadi sia-sia karena dilakukan untuk mendapatkan pengakuan dari manusia.

Terkadang ikhlas dihinggapi penyakit ujub. Siapa yang merasa ujub karena amal yang dilakukan maka?

Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Ketahuilah, bahwa ikhlas terkadang dihinggapi penyakit ujub. Siapa saja yang merasa ujub karena amal yang dilakukannya, maka akan hapuslah amalnya.”

Apa itu ujub dan contohnya?

Orang yang ujub memandang dirinya sendiri dengan kemuliaan serta menganggap agung diri dan memandang orang lain dengan pandangan merendahkan dan hina. Masih menurut Imam al-Ghazali, mutakabbir (orang yang takabur) adalah dia yang apabila memberi nasihat, dia memandang rendah orang yang diberi nasihat.

Apa dalil tentang ujub?

Dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Ketika seseorang berjalan dengan pakaian yang membuat dirinya bangga (ujub), menata rambut belakangnya sampai bahu, seketika itu Allah merendahkannya, maka ia akan tenggelam pada hari kiamat”. (HR. Bukhari, no. 5789).

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |