6 Pekerjaan yang Paling Dicintai Allah Menurut Hadits Shahih, Simak Penjelasan Ulama

9 hours ago 7

Liputan6.com, Jakarta - Bekerja tak sekadar dipandang sebagai sarana untuk memenuhi kebutuhan ekonomi secara duniawi, melainkan sebuah bentuk tanggung jawab sosial dan spiritual yang bernilai ibadah. Maka itu, umat Islam perlu memahami pekerjaan yang paling dicintai Allah menurut hadits shahih.

Dalam pandangan Islam, bekerja menjadi jalan untuk menjaga martabat manusia, menghindarkannya dari kehinaan meminta-minta, dan meraih ridha Allah. Di sinilah pentingnya pengetahuan mengenai pekerjaan-pekerjaan terbaik.

Melalui berbagai literatur hadits, Rasulullah SAW memberikan tuntunan yang jelas mengenai kriteria pekerjaan yang utama. Islam tidak memandang kemuliaan sebuah profesi dari jabatan struktural atau prestisenya di mata manusia, melainkan dari etos kerja, kualitas hasil, dan akhlak pelakunya.

Merujuk jurnal Bekerja dalam Perspektif Hadis, Wildan Afandi dan Muhammad Alif, rbook 40 Hadits Tuntunan Bekerja, Muhtar Arifin, serta literatur kfredibel lainnya, berikut ini adalah pekerjaan-pekerjaan yang paling dicintai Allah berdasarkan hadits shahih, dalil dan penjelasan para ulama.

1. Pekerjaan Tangan Sendiri (Kemandirian dan Keterampilan)

Pekerjaan yang dilakukan dengan jerih payah tangan sendiri menempati posisi yang sangat mulia. Tidak ada batasan spesifik mengenai jenis pekerjaannya, mencakup kerajinan, pertukangan, hingga tenaga profesional, selama dilakukan secara mandiri dan halal.

 Dalil Hadits: Rasulullah ﷺ bersabda, "Tidak ada seorang pun yang pernah memakan makanan yang lebih baik daripada makanan yang ia peroleh dari hasil kerja tangannya sendiri. Dan sungguh, Nabi Allah Dawud dahulu makan dari hasil kerja tangannya sendiri." (HR. Bukhari No. 2072).

Di riwayat lain disebutkan, "Tidaklah seseorang bekerja dengan suatu pekerjaan yang lebih baik daripada bekerja dengan tangannya.".Pandangan Ulama:

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam kitab Fath al-Bari menjelaskan bahwa Nabi Dawud adalah seorang tukang besi yang memproduksi baju zirah, membuktikan bahwa seorang rasul dan raja sekalipun tidak menggantungkan hidupnya pada pemberian orang lain dan memilih hidup dari jerih payahnya sendiri. 

Badruddin Al-'Ayni dalam kitab 'Umdat al-Qari menegaskan bahwa hadits ini adalah dalil atas keutamaan berbagai profesi halal, seperti perdagangan, pertanian, dan kerajinan tangan. Pekerjaan ini tidak hanya menjaga harga diri, tetapi juga mendatangkan pahala karena menjadi sarana menafkahi keluarga.

2. Pedagang yang Jujur dan Amanah

Dunia perniagaan sering kali dipenuhi dengan godaan kecurangan. Oleh karena itu, seorang pedagang atau pebisnis yang mampu memegang teguh prinsip kejujuran dan transparansi memiliki kedudukan yang luar biasa tinggi di sisi Allah.

Dalil Hadits: Rasulullah ﷺ bersabda, "Pedagang yang dapat dipercaya, jujur dan muslim akan bersama para syuhada' di hari kiamat" (HR. Ibnu Majah, Hasan Shahih). 

Pekerjaan yang tampaknya sederhana di mata manusia ini, secara spiritual mampu mengantarkan pelakunya menuju kemuliaan besar, yakni dikumpulkan bersama para syuhada kelak di hari kiamat.

Hal ini juga diperkuat dengan prinsip transparansi dalam berniaga, di mana keberkahan jual beli sangat bergantung pada kejujuran dan kejelasan spesifikasi barang (tidak menyembunyikan cacat).

3. Penjaga Harta atau Karyawan yang Bertanggung Jawab

Profesi sebagai pengelola keuangan, bendahara, administrator, atau karyawan yang diamanahi menjaga serta menyalurkan harta orang lain juga merupakan pekerjaan yang sangat dicintai Allah jika dilakukan secara profesional.

Dalil Hadits: Rasulullah ﷺ bersabda, "Sesungguhnya seorang penjaga, muslim, dapat dipercaya, menunaikan apa yang diperintahkan, memberikan secara sempurna dan penuh, disertai kerelaan hatinya, malu ia memberikannya kepada orang yang diperintahkan untuk menerima, maka ia adalah termasuk salah satu orang yang bersedekah." (HR. Bukhari, Muslim dan Abu Dawud). 

Hadits ini menyoroti keutamaan besar bagi mereka yang menunaikan amanah dalam bekerja. Pekerja yang membagikan harta sesuai instruksi pimpinannya tanpa korupsi atau mengambil keuntungan pribadi, secara otomatis dicatat mendapatkan pahala sedekah seperti halnya pemilik harta tersebut.

4. Pekerjaan Apapun untuk Menafkahi Keluarga dan Menjaga Kehormatan

Pada esensinya, tidak ada diskriminasi jenis pekerjaan dalam Islam selama profesi tersebut halal. Pilar utamanya terletak pada niat saat bekerja. Jika seseorang bekerja untuk menjaga diri dari meminta-minta, pekerjaan itu terhitung sebagai Fi Sabilillah (berada di jalan Allah).

Ketika para sahabat takjub melihat seorang pemuda yang bekerja sangat giat dan berharap andai kegigihan itu digunakan di jalan Allah, Rasulullah ﷺ bersabda: "Jika ia keluar bekerja untuk (memenuhi kebutuhan) anaknya yang masih kecil-kecil, maka ia berada di jalan Allah. Jika ia keluar bekerja untuk (memenuhi kebutuhan) kedua orang tuanya yang sudah lanjut usia, maka ia berada di jalan Allah. Jika ia keluar bekerja untuk (memenuhi kebutuhan) dirinya agar menjaga kesucian dirinya, maka ia berada di jalan Allah." (HR. Thabrani, Shahih Lighairihi).

Imam al-Nawawi dalam kitab Syarh Shahih Muslim menegaskan bahwa bekerja mencari nafkah bukanlah wujud dari kepasrahan yang keliru, melainkan bentuk tawakkal yang paling hakiki karena menggabungkan ikhtiar maksimal dan penyerahan hasil kepada Allah. 

Imam Al-Ghazali dalam Ihya 'Ulumuddin menggarisbawahi bahwa bekerja demi menafkahi keluarga dan agar tidak menjadi beban masyarakat memiliki pahala yang teramat besar, bahkan dapat mengungguli ibadah-ibadah berstatus sunnah apabila dilandasi niat yang lurus.

5. Pekerja Fisik daripada Meminta-minta

Islam sangat memuliakan pekerjaan fisik yang sering kali dipandang sebelah mata atau dianggap rendah oleh standar sosial modern, seperti buruh angkut, pencari kayu bakar, atau pekerja kasar lainnya. Kehormatan profesi ini terletak pada tekad pelakunya untuk terbebas dari sifat meminta-minta.

Rasulullah ﷺ bersabda, "Sungguh, salah seorang di antara kalian mengumpulkan kayu bakar seikat yang dibawanya di atas punggungnya, lebih baik daripada meminta-minta kepada seseorang, ia memberinya atau tidak memberinya." (HR. Bukhari, Muslim, Tirmidzi, dkk).

Profesi yang mengandalkan tenaga fisik kasar ini jauh lebih mulia di sisi Allah dibandingkan dengan kehinaan akibat tidak bekerja dan bergantung pada belas kasihan orang lain.

Kesungguhan dan kesabaran pekerja fisik dalam memeras keringat demi sepeser rupiah yang halal adalah wujud penjagaan terhadap kehormatan pribadi (iffah).

6. Pekerja Profesional, Itqan

Pekerjaan apa pun, baik di bidang teknologi, pendidikan, manufaktur, maupun jasa—akan menjadi profesi yang sangat dicintai Allah jika pelakunya menerapkan prinsip Itqan (bekerja dengan profesional, rapi, teliti, dan mengedepankan kualitas terbaik).

Rasulullah ﷺ bersabda, "Sesungguhnya Allah mencintai apabila salah seorang di antara kalian mengerjakan suatu pekerjaan ia menyempurnakannya." (HR. Al-Baihaqi, Shahihul Jami'ish Shaghir).

Hadits ini menetapkan sifat kecintaan (mahabbah) Allah kepada para pekerja yang berdedikasi tinggi dan menuntaskan pekerjaannya secara sempurna. Oleh karena itu, pekerja sangat dianjurkan untuk terus mendalami ilmu dan keahlian yang berkaitan dengan profesinya agar hasil kerjanya selalu meningkat dan relevan.

Pertanyaan Seputar Pekerjaan yang Paling Dicintai Allah

Rasulullah saw ketika ditanya tentang perbuatan apa yang paling utama maka beliau menjawab pekerjaan yang paling utama adalah?

Rasulullah SAW bersabda bahwa pekerjaan yang paling utama adalah usaha seseorang dengan tangannya sendiri dan setiap jual beli yang bersih (halal serta diberkahi).

Apa yang disebut hasil kerja terbaik menurut Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam?

Dari Rafi' bin Khadij RA, ia berkata : Pernah ditanyakan, “Ya Rasulullah, pekerjaan apa yang paling baik ?” Beliau menjawab, “Pekerjaan seseorang dengan tangannya sendiri, dan setiap jual beli yang baik”.

Dalam hadis, apa yang dikatakan tentang seseorang yang merasa lelah karena bekerja keras?

“Barangsiapa yang pada waktu sore (malam hari) merasa lelah karena pekerjaan kedua tangannya (mencari nafkah) pada saat itu diampuni dosa baginya.” (HR. Thabrani)

Bagaimana hadis menjelaskan bahwa bekerja adalah lebih baik daripada meminta-minta?

“Sesungguhnya, seorang di antara kalian membawa tali-talinya dan pergi ke bukit untuk mencari kayu bakar yang diletakkan di punggungnya untuk dijual sehingga ia bisa menutup kebutuhannya, adalah lebih baik daripada meminta-minta kepada orang lain, baik mereka memberi atau tidak”. (H.R. Bukhari, no. 2073).

Apa yang menjadi contoh perilaku bekerja keras dari Rasulullah saw?

Rasulullah SAW mencontohkan kerja keras melalui kemandirian sejak belia—seperti menggembala kambing dan berdagang dengan jujur—serta dedikasi yang tinggi. Beliau tidak berpangku tangan, membuktikan bahwa usaha gigih selalu diiringi dengan tawakal kepada Allah SWT.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |