Liputan6.com, Jakarta - Mengingat kematian adalah penawar ampuh bagi hati yang terbuai urusan duniawi. Menyampaikan ceramah singkat tentang kematian yang cocok untuk pengajian ibu-ibu menjadi sarana efektif untuk saling menasihati. Majelis ilmi memfasilitasi perenungan hakikat kehidupan sejati.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an Surah Al-Ankabut ayat 57: "Tiap-tiap yang berjiwa pasti akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan." Ayat suci ini menegaskan bahwa kefanaan mutlak dialami umat manusia.
Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin menerangkan bahwa memperbanyak mengingat kematian sangat efektif melunakkan hati yang keras sekaligus memangkas ketamakan. Pandangan luhur ini relevan sebagai benteng spiritual peneduh kaum hawa.
Merangkum berbagai sumber, berikut ini adalah tujuh ceramah singkat tentang kematian yang cocok untuk pengajian ibu-ibu. Kumpulan materi pengingat ini diharapkan senantiasa menjadi referensi berharga bagi jamaah demi meraih akhir husnul khatimah.
Ceramah Tema 1. Kematian Sebagai Kepastian yang Sering Terlupakan
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Alhamdulillahirabbil 'alamin, washalatu wasalamu 'ala asyrafil anbiya wal mursalin, wa'ala alihi wasahbihi ajma'in, amma ba'du. Segala puji bagi Allah SWT yang senantiasa mencurahkan nikmat iman, Islam, dan kesehatan kepada kita semua. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada baginda Nabi Muhammad SAW, keluarganya, sahabatnya, serta kita umatnya hingga akhir zaman.
Ibu-ibu jamaah majelis taklim yang dirahmati Allah, sungguh bahagia rasanya kita bisa berkumpul di majelis yang mulia ini. Pada kesempatan yang berharga ini, izinkan saya menyampaikan sebuah nasihat singkat namun sangat mendalam bagi kita semua, yaitu tentang suatu kepastian yang sering kali kita lupakan karena kesibukan kita. Kepastian tersebut adalah kematian yang akan menjemput setiap jiwa tanpa terkecuali.
Kematian bukanlah akhir dari segalanya, melainkan gerbang awal menuju kehidupan yang sesungguhnya di akhirat kelak. Sebagai seorang wanita, istri, dan ibu, hari-hari kita mungkin dipenuhi dengan rutinitas memasak, mengasuh anak, hingga bersosialisasi dengan tetangga sekitar. Namun, di tengah hiruk-pikuk itu, sudahkah kita sejenak merenungkan bahwa suatu hari nanti kita akan meninggalkan rumah tercinta dan keluarga yang sangat kita sayangi?
Allah Subhanahu Wa Ta'ala telah menegaskan dalam firman-Nya mengenai kepastian ajal ini, sebagaimana tercantum dalam Surah Ali Imran ayat 185:
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ.
Artinya: "Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu."
Penjelasan dari dalil tersebut sangatlah gamblang, ibu-ibu sekalian. Ayat ini mengingatkan bahwa kematian adalah keniscayaan mutlak yang tidak memandang usia, status sosial, maupun kondisi fisik seseorang. Kematian tidak menunggu kita jatuh sakit, tidak menunggu anak-anak kita dewasa, dan pastinya tidak akan menunggu kita untuk bertaubat.
Bagi kita para ibu, menyadari hal ini seharusnya membuat kita lebih bijak dalam memanfaatkan waktu sehari-hari. Terkadang, kita begitu mudahnya tersulut emosi, bertengkar dengan suami, atau membicarakan keburukan orang lain (ghibah) saat berkumpul dengan sesama ibu-ibu. Padahal, bisa jadi saat lisan kita sedang sibuk menambah dosa, malaikat maut sudah berada di dekat kita menunggu perintah Allah.
Oleh karena itu, mari kita jadikan setiap peran kita di rumah sebagai ladang pahala yang akan menjadi bekal kematian kita. Menyiapkan sarapan untuk keluarga dengan ikhlas adalah pahala, mendidik anak-anak agar rajin shalat adalah amal jariyah, dan menjaga lisan dari menyakiti tetangga adalah benteng dari api neraka. Amal-amal ikhlas inilah yang akan menemani kita di alam kubur kelak.
Dunia ini memang indah dan penuh dengan perhiasan yang sangat mudah melalaikan kita. Apalagi bagi kaum hawa yang fitrahnya menyukai keindahan, sering kali kita tergoda oleh tren pakaian, perhiasan emas, dan perabotan rumah tangga yang mewah. Namun, ingatlah selalu bahwa kain kafan yang kelak membalut tubuh kita tidak memiliki saku untuk membawa semua harta benda tersebut.
Menjadikan kematian sebagai penasihat harian adalah cara terbaik untuk melunakkan hati kita yang mulai mengeras. Jika hati terasa berat untuk bersedekah, ingatlah kematian; jika lisan terasa ringan untuk mencaci maki, ingatlah kematian. Kematian adalah pengingat terbaik bagi jiwa-jiwa yang sering kali terbuai oleh panjangnya angan-angan duniawi.
Harapan kita semua tentunya adalah bisa kembali kepada Allah dalam keadaan Husnul Khatimah, yaitu akhir hidup yang baik. Untuk mencapainya, kita harus membiasakan diri dengan ketaatan, karena seseorang akan diwafatkan sesuai dengan kebiasaan hidupnya. Jika kita terbiasa dengan majelis ilmu dan dzikir, insya Allah kita pun akan diwafatkan dalam ketaatan tersebut.
Mari kita tutup majelis ini dengan menundukkan hati seraya berdoa memohon ampunan-Nya: Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami, dosa kedua orang tua kami, serta dosa suami dan anak-anak kami. Ya Allah, matikanlah kami semua dalam keadaan husnul khatimah, jadikanlah kubur kami sebagai taman dari taman-taman surga-Mu, dan jauhkanlah kami dari azab api neraka.
Demikianlah nasihat singkat yang dapat saya sampaikan pada kesempatan kali ini, semoga bermanfaat khususnya bagi diri saya pribadi dan bagi ibu-ibu sekalian. Kebenaran datangnya hanya dari Allah, dan segala kekhilafan murni berasal dari kelemahan saya sendiri.
Wabillahi taufiq wal hidayah, Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
2. Kematian Datang Tanpa Mengetuk Pintu
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Alhamdulillahirabbil 'alamin, washalatu wasalamu 'ala asyrafil anbiya wal mursalin, wa'ala alihi wasahbihi ajma'in, amma ba'du. Puji dan syukur senantiasa kita panjatkan ke hadirat Allah SWT, Dzat yang menggenggam nyawa kita semua. Shalawat dan salam senantiasa kita haturkan kepada panutan kita, Nabi Muhammad SAW, keluarganya, dan para sahabatnya.
Ibu-ibu jamaah majelis taklim yang dirahmati Allah, kita sering kali terkejut ketika mendengar berita duka dari pengeras suara masjid. Terkadang yang meninggal adalah orang yang kemarin baru saja kita sapa di pasar, atau tetangga yang terlihat sangat sehat tanpa riwayat penyakit apa pun. Hal ini menyadarkan kita bahwa kematian sering kali datang tiba-tiba tanpa mengetuk pintu.
Kematian yang datang mendadak ini menjadi teguran keras bagi kita yang masih hidup. Kita sering merencanakan banyak hal untuk masa depan: merencanakan liburan, merencanakan renovasi rumah, atau merencanakan pendidikan anak. Namun, jarang sekali kita merencanakan apa yang akan kita bawa jika malam ini adalah malam terakhir kita bernapas di dunia ini.
Allah SWT telah mengingatkan kita tentang batas waktu yang pasti ini dalam Surah Al-A’raf ayat 34:
وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ ۖ فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً ۖ وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ.
Artinya: "Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat pula memajukannya."
Penjelasan ayat ini sangat tegas, bahwa ajal memiliki jadwal yang sangat presisi dan tidak bisa dinegosiasikan. Malaikat maut tidak akan menerima alasan bahwa kita belum siap, bahwa anak kita masih balita dan butuh asuhan ibunya, atau bahwa kita baru berencana akan mulai memakai hijab besok pagi. Ajal tidak akan maju sedetik pun, dan tidak akan mundur walau hanya sekejap mata.
Bagi ibu-ibu yang memiliki banyak tanggung jawab rumah tangga, jangan biarkan kesibukan duniawi menunda kita untuk taat kepada Allah. Jangan sampai kita berkata, "Nanti saja saya mengaji kalau anak-anak sudah besar," atau "Nanti saja saya bertaubat kalau sudah pensiun." Penundaan adalah senjata setan yang paling ampuh untuk membuat manusia menyesal di akhirat.
Oleh karena itu, jangan pernah menunda kebaikan walau sekecil apa pun. Jika ada makanan lebih di rumah, segera bagikan kepada tetangga sebelum makanan itu basi atau umur kita yang lebih dulu habis. Jika ada selisih paham dengan suami atau kerabat, segeralah meminta maaf sebelum lisan ini kelu dan tidak lagi mampu merangkai kata.
Kita sering kali menghabiskan waktu berjam-jam untuk sekadar mengobrol di tukang sayur, arisan, atau membuka media sosial. Waktu yang berharga itu berlalu begitu saja tanpa ada catatan amal kebaikan. Mulai sekarang, mari kita kurangi hal-hal yang sia-sia dan menggantinya dengan banyak berdzikir serta mengingat Allah dalam setiap aktivitas kita.
Mengingat kematian yang bisa datang kapan saja akan membuat kita lebih berhati-hati dalam bertindak. Saat kita hendak marah kepada anak, kita akan menahannya karena takut itu menjadi momen terakhir kita bersama mereka. Saat kita malas bangun malam untuk shalat tahajud, kita akan memaksakan diri karena sadar esok pagi belum tentu kita masih bisa membuka mata.
Mari kita persiapkan diri seolah-olah kematian akan datang esok hari, namun tetap berikhtiar mengurus keluarga seolah-olah kita hidup selamanya. Keseimbangan inilah yang akan membawa kita pada ketenangan batin. Pastikan bahwa ketika malaikat maut datang secara tiba-tiba, ia mendapati kita sedang dalam keadaan beriman dan berserah diri kepada-Nya.
Mari kita bermunajat memohon perlindungan Allah SWT: Ya Allah, Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hati kami di atas agama-Mu. Ya Allah, janganlah Engkau cabut nyawa kami dalam keadaan kami sedang bermaksiat atau lalai mengingat-Mu. Karuniakanlah kepada kami akhir hidup yang indah dan pertemukanlah kami kelak dengan Rasulullah SAW di surga-Mu.
Demikian tausiyah singkat ini saya sampaikan, semoga menjadi teguran yang lembut bagi hati kita yang sering lupa. Mohon maaf atas segala tutur kata yang kurang berkenan di hati ibu-ibu sekalian. Kebenaran hanyalah milik Allah semata.
Wabillahi taufiq wal hidayah, Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
3. Mendidik Anak Sebagai Amal Jariyah Menuju Kematian
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Alhamdulillahirabbil 'alamin, washalatu wasalamu 'ala asyrafil anbiya wal mursalin, wa'ala alihi wasahbihi ajma'in, amma ba'du. Segala puji milik Allah SWT, Rabb semesta alam yang tak pernah lelah mencurahkan kasih sayang-Nya. Shalawat beriring salam mari kita haturkan kepada teladan mulia kita, Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga dan sahabatnya.
Ibu-ibu shalihah perindu surga yang dirahmati Allah, menjadi seorang ibu adalah sebuah anugerah sekaligus amanah yang sangat besar dari Allah SWT. Di balik kelelahan kita mengandung, melahirkan, dan membesarkan anak, tersimpan sebuah potensi pahala yang luar biasa besarnya. Hari ini, mari kita renungkan sejenak kaitan antara peran kita sebagai ibu dengan persiapan menghadapi kematian.
Ketika nyawa sudah terpisah dari badan, semua hal yang kita kumpulkan di dunia akan terputus hubungannya dengan kita. Pakaian mewah akan ditanggalkan, rumah megah akan ditinggalkan, dan perhiasan berharga akan dibagikan kepada ahli waris. Di alam kubur yang gelap dan sepi, kita hanya akan ditemani oleh amal ibadah yang kita kerjakan semasa hidup.
Terkait hal ini, Rasulullah SAW memberikan sebuah kabar gembira melalui sabdanya dalam Hadits Riwayat Muslim:
إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ.
Artinya: "Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau doa anak yang shalih."
Penjelasan dari hadits ini sungguh memberikan harapan besar bagi kita para ibu. Saat tubuh kita sudah hancur menyatu dengan tanah dan kita tidak lagi bisa shalat atau berpuasa, ternyata pahala masih bisa terus mengalir. Salah satu saluran pahala terbesar itu adalah keberadaan anak-anak shalih yang senantiasa mendoakan ampunan bagi kedua orang tuanya.
Sebagai seorang ibu, kitalah madrasah pertama dan utama bagi anak-anak kita. Jika kita bersusah payah mengajarkan anak kita surat Al-Fatihah, maka setiap kali ia membaca surat itu dalam shalatnya seumur hidupnya, pahalanya akan mengalir kepada kita tanpa mengurangi pahalanya sedikit pun. Inilah investasi akhirat yang jauh lebih menguntungkan daripada investasi dunia mana pun.
Oleh karenanya, mari kita luruskan kembali niat dalam mendidik anak. Sering kali, kita lebih cemas ketika nilai matematika anak kita turun dibandingkan ketika anak kita meninggalkan shalat lima waktu. Kita sibuk mendaftarkan mereka ke berbagai kursus pelajaran dunia, namun lupa mencarikan guru mengaji yang baik untuk memperbaiki bacaan Al-Qur'an mereka.
Janganlah kita hanya fokus mencetak anak-anak yang sukses secara materi namun miskin secara spiritual. Apalah gunanya memiliki anak yang sukses menjadi direktur perusahaan besar namun terlalu sibuk dan enggan menadahkan tangan untuk mendoakan kita setelah kita meninggal nanti. Anak yang shalihlah yang akan setia memohonkan rahmat untuk kita di setiap sujudnya.
Kematian pasti akan memisahkan kita dari anak-anak yang kita lahirkan dengan darah dan air mata. Tapi perpisahan itu hanyalah sementara jika kita mendidik mereka di atas pondasi tauhid dan sunnah. Anak-anak yang shalih kelak akan mampu menarik tangan kedua orang tuanya dari api neraka dan berkumpul kembali dalam keabadian surga Firdaus.
Mari kita jadikan rumah kita sebagai taman-taman surga di mana ayat suci Al-Qur'an sering dilantunkan. Jadilah ibu yang tidak hanya cerewet mengingatkan anak makan, tetapi juga gigih membangunkan anak untuk shalat subuh. Semoga lelahnya ibu-ibu mengurus anak dicatat oleh Allah sebagai perjuangan (jihad) yang menggugurkan dosa-dosa di masa lalu.
Mari bersama-sama kita berdoa memohon pertolongan Allah SWT: Ya Allah, jadikanlah anak-anak kami penyejuk mata dan hati kami. Jadikanlah mereka generasi yang shalih dan shalihah, yang menegakkan shalat dan senantiasa mendoakan kami kelak ketika kami telah berkalang tanah. Ya Allah, kumpulkanlah kami sekeluarga kelak di surga-Mu yang penuh kenikmatan.
Demikianlah pesan singkat mengenai pentingnya mendidik anak sebagai bekal setelah kematian. Semoga Allah senantiasa memberikan kesabaran ekstra kepada ibu-ibu sekalian dalam membimbing keluarga. Mohon maaf atas segala tutur kata yang salah.
Wabillahi taufiq wal hidayah, Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
4. Kematian Sebagai Pemutus Segala Kelezatan
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Alhamdulillahirabbil 'alamin, washalatu wasalamu 'ala asyrafil anbiya wal mursalin, wa'ala alihi wasahbihi ajma'in, amma ba'du. Segala puji bagi Allah, Pemilik alam semesta yang menghidupkan dan mematikan segala makhluk. Shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada pelita umat, Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga dan sahabatnya yang mulia.
Ibu-ibu yang dimuliakan Allah, kehidupan dunia ini sering kali menyajikan berbagai kelezatan yang membuat kita terlena. Mulai dari kelezatan mencicipi berbagai macam kuliner yang sedang viral, kesenangan berkumpul dan bersenda gurau bersama teman-teman, hingga kenyamanan tidur di kasur yang empuk. Namun, pernahkah kita menyadari bahwa semua kelezatan itu memiliki batas akhir?
Dalam kesibukan kita menikmati keindahan dunia ini, Islam mengajarkan sebuah terapi hati yang sangat ampuh agar kita tidak rakus dan sombong. Terapi tersebut bukanlah sesuatu yang harus dibeli dengan uang mahal, melainkan cukup dengan sebuah perenungan mendalam di dalam hati. Terapi yang saya maksud adalah membiasakan diri untuk mengingat kematian.
Rasulullah SAW telah memberikan bimbingan kepada kita agar hati ini tidak berkarat oleh urusan dunia, sebagaimana tercantum dalam Hadits Riwayat Tirmidzi, beliau bersabda:
أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ الْمَوْتِ.
Artinya: "Perbanyaklah mengingat pemutus segala kelezatan, yaitu kematian."
Penjelasan dari sabda Rasulullah ini sangat menyentuh relung hati kita. Kematian disebut sebagai 'pemutus kelezatan' karena pada saat kematian itu datang, sehebat apa pun nikmat dunia yang sedang kita rasakan akan sirna seketika. Makanan lezat tak lagi bisa dikunyah, perhiasan mahal tak lagi bisa dikenakan, dan semua tawa canda akan terhenti berganti dengan rintihan sakaratul maut.
Jika kita, para ibu, mau mempraktikkan hadits ini setiap hari, insya Allah semua aktivitas rumah tangga kita akan bernilai ibadah. Saat kita sedang mencuci baju keluarga, kita akan merenung, "Siapa kelak yang akan memandikan dan mencucikan badanku saat aku mati?" Perenungan semacam ini akan mencabut kesombongan dan rasa pamrih dari dalam hati.
Mengingat kematian juga sangat efektif untuk mengontrol hawa nafsu belanja kita. Sering kali kita merasa butuh membeli barang-barang baru hanya karena gengsi atau tidak ingin kalah dari tetangga. Namun, saat mengingat bahwa kelak kita hanya akan memakai kain kafan tanpa jahitan yang sama bentuknya dengan orang miskin sekalipun, nafsu berbelanja itu perlahan akan mereda.
Di era sosial media saat ini, godaan untuk memamerkan kelezatan hidup (flexing) sangatlah besar. Kita berlomba-lomba memposting foto liburan atau makanan enak agar dipuji orang lain. Ingatlah ibu-ibu, sebanyak apa pun pujian manusia di dunia maya, tak akan ada gunanya ketika tubuh kita mulai dimakan cacing dan tanah di alam barzah.
Mengingat pemutus kelezatan bukanlah bertujuan untuk membuat kita pesimis atau malas hidup. Sebaliknya, hal ini bertujuan untuk melembutkan hati, membuat kita lebih qana'ah (merasa cukup), dan memotivasi kita untuk bersegera dalam beramal shalih. Orang yang cerdas adalah orang yang tidak menukar kelezatan surga yang abadi dengan kelezatan dunia yang hanya sementara.
Mulai sekarang, mari kita jadikan zikir kematian sebagai rutinitas harian. Cukuplah kematian kerabat dan tetangga kita sebagai sebaik-baik penasihat. Jadikan setiap tarikan napas kita sebagai pengingat bahwa jatah hidup kita di dunia sedang berkurang satu langkah menuju alam kubur yang gelap gulita.
Mari kita memohon pertolongan Allah dengan tulus ikhlas: Ya Allah, Rabb yang menggenggam ubun-ubun kami, janganlah Engkau jadikan dunia sebagai puncak dari cita-cita dan ilmu kami. Ya Allah, mudahkanlah kami saat menghadapi dahsyatnya sakaratul maut, dan gantikanlah segala kelezatan dunia yang kami tinggalkan dengan kelezatan memandang wajah-Mu di surga kelak.
Demikianlah ceramah singkat tentang kematian sebagai pemutus kelezatan, semoga mampu menjadi cambuk pengingat bagi diri kita yang penuh dosa ini. Terima kasih atas segala perhatian ibu-ibu sekalian, dan mohon maaf atas segala kekurangan lisan saya.
Wabillahi taufiq wal hidayah, Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
5. Jangan Menunda Taubat Sebelum Kematian Tiba
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Alhamdulillahirabbil 'alamin, washalatu wasalamu 'ala asyrafil anbiya wal mursalin, wa'ala alihi wasahbihi ajma'in, amma ba'du. Segala puji bagi Allah SWT, Tuhan semesta alam yang Maha Penerima Taubat. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, keluarganya, sahabatnya, serta pengikutnya yang setia.
Ibu-ibu perindu surga yang senantiasa dirahmati Allah, sebagai manusia biasa, wajar jika kita sering kali melakukan kesalahan dan kekhilafan. Mulai dari kelalaian dalam beribadah, kurangnya rasa syukur kepada suami, hingga lisan yang tak sengaja menyakiti hati saudara sesama muslim. Namun, yang tidak wajar dan sangat berbahaya adalah kebiasaan menunda-nunda bertaubat.
Setan sangat lihai membisikkan janji palsu kepada kita. Setan membisikkan bahwa usia kita masih panjang, jadi bertaubatnya bisa besok saja setelah urusan dunia selesai. Penundaan demi penundaan inilah yang akhirnya membuat hati kita mengeras dan dosa-dosa semakin menumpuk hingga akhirnya maut datang menyergap saat kita sedang lengah.
Berkaitan dengan penundaan taubat ini, Allah SWT telah memberikan peringatan yang sangat keras dalam Surah An-Nisa ayat 18:
وَلَيْسَتِ التَّوْبَةُ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ حَتَّىٰ إِذَا حَضَرَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ إِنِّي تُبْتُ الْآنَ.
Artinya: "Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan yang hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, barulah ia mengatakan: 'Sesungguhnya saya bertaubat sekarang'."
Penjelasan ayat yang mulia ini menerangkan batas akhir diterimanya sebuah taubat. Taubat seorang hamba akan ditolak mentah-mentah oleh Allah apabila roh sudah sampai di tenggorokan atau nyawa sudah di ujung tanduk. Penyesalan di saat maut sudah di depan mata, seperti penyesalan Fir'aun saat tenggelam di laut merah, sama sekali tidak berguna dan tidak akan menyelamatkannya dari siksa.
Bagi kita ibu-ibu yang bergaul di lingkungan masyarakat, dosa yang paling sering tidak disadari adalah dosa ghibah atau menggunjing sesama. Dosa sesama manusia tidak akan diampuni oleh Allah sebelum kita meminta maaf kepada orang yang bersangkutan. Bayangkan jika maut menjemput sementara kita belum sempat meminta keikhlasan dari orang yang pernah kita gunjingkan!
Oleh karena itu, jangan pernah merasa aman dari datangnya kematian. Segeralah meminta maaf kepada suami jika ada kata-kata kita yang meninggi. Segeralah meminta maaf kepada tetangga jika kita pernah menyinggung perasaannya. Jangan gengsi dan jangan menunda, karena kematian tidak pernah memandang apakah kita sudah siap meminta maaf atau belum.
Jangan pula menunggu usia senja untuk mulai memakai hijab, mulai rajin shalat berjamaah, atau mulai membaca Al-Qur'an. Kematian tidak memilih yang tua untuk dipanggil lebih dulu. Banyak daun muda yang gugur ke tanah mendahului daun yang sudah menguning dan kering. Pemuda dan anak-anak pun tak luput dari incaran malaikat maut.
Mari kita biasakan lisan ini untuk selalu membasahi bibir dengan kalimat istighfar. Sambil kita mengaduk masakan di dapur, sambil menyapu lantai rumah, atau sambil meninabobokan anak, ucapkanlah Astaghfirullahal 'adzim. Semoga dengan kebiasaan istighfar ini, Allah membersihkan noda-noda hitam di hati kita yang disebabkan oleh dosa-dosa kecil yang tak tersadari.
Jadikanlah taubat nasuha sebagai pakaian kita setiap hari. Taubat yang sebenar-benarnya, diiringi rasa sesal yang mendalam dan tekad kuat untuk tidak mengulangi keburukan yang sama. Orang yang cerdas adalah orang yang selalu memperbarui taubatnya setiap malam sebelum memejamkan mata, seolah-olah ia tidak akan bangun lagi keesokan harinya.
Mari kita tundukkan kepala dan merendahkan hati untuk berdoa: Ya Allah Yang Maha Pengampun, ampunilah kebodohan kami, kelalaian kami, dan kelancangan kami dalam melanggar batas-batas-Mu. Terimalah taubat kami sebelum nyawa kami sampai di tenggorokan. Ya Allah, sucikanlah jiwa kami sehingga kami layak untuk melangkah ke dalam surga-Mu yang suci.
Demikian tausiyah singkat tentang bahaya menunda taubat ini saya sampaikan, semoga kita dijauhkan dari sifat menunda-nunda kebaikan. Terima kasih atas waktu dan perhatian ibu-ibu sekalian, mohon dimaafkan bila ada salah kata.
Wabillahi taufiq wal hidayah, Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
6. Bersedekah Sebelum Datangnya Penyesalan
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Alhamdulillahirabbil 'alamin, washalatu wasalamu 'ala asyrafil anbiya wal mursalin, wa'ala alihi wasahbihi ajma'in, amma ba'du. Puji syukur kita panjatkan kepada Allah Yang Maha Pemberi Rezeki. Shalawat beserta salam semoga selalu terlimpahkan kepada junjungan alam, Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga, sahabat, dan umatnya yang istiqamah.
Ibu-ibu yang dirahmati Allah, Allah SWT menitipkan kepada kita berbagai kenikmatan di dunia ini, mulai dari kesehatan, waktu luang, hingga harta benda. Sering kali, harta yang kita miliki membuat kita merasa aman dan nyaman. Namun tahukah ibu-ibu, harta yang sejatinya benar-benar menjadi milik kita bukanlah yang kita simpan di bank, melainkan yang kita sedekahkan di jalan Allah.
Saat kematian menjemput, ada satu permintaan yang paling banyak diteriakkan oleh orang-orang yang sudah meninggal dunia. Mereka memohon kepada Allah agar dikembalikan ke dunia, bukan untuk bertemu kembali dengan keluarganya, bukan untuk menikmati makanan lezat, melainkan untuk melakukan satu amalan yang sangat mereka sesali karena sering mereka abaikan semasa hidup.
Amalan tersebut direkam dengan jelas oleh Allah SWT dalam Surah Al-Munafiqun ayat 10:
وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَىٰ أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ.
Artinya: "Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: 'Ya Tuhanku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?'"
Penjelasan ayat ini menyajikan gambaran penyesalan yang luar biasa dahsyat. Orang yang sekarat meminta penundaan ajal semata-mata hanya untuk bersedekah. Ulama tafsir menjelaskan bahwa orang yang meninggal melihat dengan mata kepalanya sendiri betapa luar biasanya pahala sedekah yang dilipatgandakan oleh Allah dan betapa sedekah itu mampu memadamkan murka Allah SWT.
Sebagai ibu rumah tangga yang mengatur keuangan keluarga, ibu-ibu memiliki peran strategis untuk mendulang pahala sedekah. Jangan berpikir bahwa sedekah itu harus menunggu kaya raya. Menyisihkan beberapa ribu rupiah untuk dimasukkan ke kotak infak masjid setiap shubuh, atau sekadar berbagi sepiring lauk kepada tetangga sebelah rumah, itu semua adalah sedekah yang nilainya luar biasa di sisi Allah.
Biasakanlah tangan ini untuk mudah memberi dan menghindari sifat kikir atau bakhil. Kita sering kali merasa sayang jika harus mengeluarkan uang untuk amal jariyah, tapi kita dengan mudah menghamburkan uang untuk membeli tas atau sepatu model terbaru. Padahal, tas dan sepatu itu kelak akan lapuk termakan usia, sedangkan uang infak kita akan kekal menjadi tabungan di akhirat.
Ingatlah selalu bahwa kain kafan putih yang kelak membungkus tubuh kaku kita sama sekali tidak dilengkapi dengan saku. Kita tidak bisa menyelipkan uang receh sekalipun ke dalam kubur. Apa yang kita pegang erat-erat di dunia ini pasti akan lepas, tapi apa yang kita lepaskan dengan ikhlas di jalan Allah, itulah yang justru akan kita genggam erat di akhirat.
Menjelang kematian yang tidak kita ketahui kapan datangnya, mari kita tingkatkan kedermawanan kita. Jangan tunggu sisa uang belanja baru bersedekah, tapi rencanakanlah sedekah di awal saat menerima rezeki. Ajarkan pula anak-anak kita sejak dini untuk terbiasa memasukkan uang ke kotak amal agar lahir generasi pemurah yang menjauhi sifat kikir.
Sedekah bukan hanya menjauhkan kita dari api neraka, tetapi juga menjauhkan bala dan bencana selama kita hidup di dunia. Semoga dengan rajin bersedekah, Allah melembutkan hati kita yang keras dan melapangkan jalan kita saat menghadapi detik-detik sakaratul maut yang sangat menegangkan.
Mari kita satukan hati untuk memohon kepada Dzat Yang Maha Kaya: Ya Allah, jadikanlah kami hamba-Mu yang pandai mensyukuri nikmat-Mu. Ya Allah, jauhkanlah hati kami dari sifat kikir dan bakhil, serta jadikanlah tangan-tangan kami ringan untuk berbagi kepada sesama. Terimalah sedekah dan amal ibadah kami, serta lindungilah kami dari su'ul khatimah.
Demikian sedikit pengingat mengenai pentingnya sedekah sebelum ajal tiba. Semoga kita semua dimasukkan ke dalam golongan orang-orang yang ahli sedekah. Mohon maaf atas segala tutur kata yang kurang tepat, kebenaran mutlak milik Allah.
Wabillahi taufiq wal hidayah, Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
7. Menjaga Iman Demi Meraih Husnul Khatimah
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Alhamdulillahirabbil 'alamin, washalatu wasalamu 'ala asyrafil anbiya wal mursalin, wa'ala alihi wasahbihi ajma'in, amma ba'du. Segala puji bagi Allah Yang Maha Mengetahui akhir dari segala perkara. Shalawat dan salam semoga selalu menyertai penuntun jalan kebenaran, Nabi Muhammad SAW, keluarganya, sahabatnya, serta umatnya.
Ibu-ibu jamaah majelis taklim yang dirahmati dan dicintai Allah, setiap perjalanan pasti memiliki akhir, dan setiap perlombaan pasti memiliki garis finis. Dalam kehidupan beragama, yang menjadi penentu kemenangan kita bukanlah bagaimana cara kita memulai, melainkan bagaimana cara kita mengakhiri. Akhir kehidupan yang baik inilah yang biasa kita sebut sebagai husnul khatimah.
Meninggal dalam keadaan beriman dan berserah diri kepada Allah adalah puncak dari segala cita-cita seorang mukmin. Betapa meruginya seseorang jika seumur hidupnya ia beribadah, namun di akhir hayatnya ia justru tergoda oleh bisikan setan sehingga mati dalam keadaan membawa kemusyrikan atau sedang melakukan maksiat. Nauzubillah min dzalik.
Karena itulah, Allah SWT mengingatkan orang-orang yang beriman dengan sebuah ayat yang sering kali kita dengar dibacakan oleh khatib setiap hari Jumat, yaitu Surah Ali Imran ayat 102:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.
Artinya: "Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam."
Penjelasan dari ayat ini adalah sebuah perintah tegas untuk terus memelihara ketakwaan secara konsisten (istiqamah) hingga detik terakhir kehidupan. Allah melarang keras kita mati kecuali dalam keadaan memeluk Islam secara utuh (menyerahkan diri secara total kepada-Nya). Karena kita tidak tahu kapan maut itu datang, maka satu-satunya cara menjalankan perintah ini adalah dengan menjaga keislaman kita setiap saat.
Bagi kaum ibu, istiqamah dalam menjaga iman sering kali mendapat tantangan yang luar biasa berat. Badai rumah tangga, kesulitan ekonomi, atau godaan lingkungan sekitar terkadang menggoyahkan keyakinan kita. Namun, jangan sampai ujian-ujian kehidupan tersebut membuat kita melepas hijab, meninggalkan shalat, atau bahkan sampai menggugat ketetapan takdir Allah SWT.
Ingatlah ibu-ibu, para ulama menjelaskan bahwa seseorang itu akan diwafatkan sesuai dengan kebiasaan hidupnya. Jika kita terbiasa berdandan untuk pamer kepada laki-laki yang bukan mahram, kita takut diwafatkan dalam kondisi yang demikian hina. Namun jika lisan kita terbiasa melantunkan Al-Qur'an dan badan ini terbiasa menutup aurat sempurna, insya Allah malaikat maut pun akan menjemput kita dalam kondisi mulia tersebut.
Menjadi teladan kebaikan bagi keluarga adalah kunci menjaga ritme keimanan kita di dalam rumah. Pastikan kita selalu menjadi sosok istri yang taat pada suami karena Allah, dan ibu yang tidak pernah bosan mengajak anak-anaknya shalat berjamaah. Lingkungan rumah yang kondusif akan sangat membantu kita untuk terus mengingat Allah dan menjauhi kelalaian.
Peliharalah iman di dalam dada seperti kita memelihara perhiasan yang paling berharga. Jangan biarkan tayangan-tayangan televisi yang tidak bermanfaat atau pergaulan yang salah merusak akidah kita. Tinggalkanlah majelis-majelis yang di dalamnya tidak ada dzikir kepada Allah, dan perbanyaklah berkumpul dengan orang-orang shalihah yang senantiasa mengingatkan kita pada akhirat.
Husnul khatimah adalah hadiah istimewa dari Allah bagi hamba-hamba-Nya yang bersungguh-sungguh menjaga takwa di masa sehatnya. Mari kita jaga shalat lima waktu kita, mari kita hiasi akhlak kita, dan mari kita jauhi segala larangan-Nya agar ketika malaikat maut tersenyum menyapa kita, lisan ini dengan ringan dapat mengucapkan kalimat Lailahaillallah.
Mari kita bersimpuh memanjatkan doa kepada Dzat Penguasa Jiwa: Ya Allah, Wahai Dzat Yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hati kami di atas agama-Mu dan ketaatan kepada-Mu. Ya Allah, karuniakanlah kepada kami husnul khatimah, dan jadikanlah akhir dari ucapan kami di dunia ini kalimat Laa ilaaha illallah. Kumpulkanlah kami beserta keluarga kami di surga-Mu kelak.
Demikianlah pesan singkat tentang menjaga iman untuk meraih husnul khatimah. Semoga Allah mengaruniakan kekuatan kepada ibu-ibu sekalian untuk terus istiqamah hingga akhir hayat. Terima kasih atas segala perhatiannya dan mohon maaf atas segala kekurangan lisan saya.
Wabillahi taufiq wal hidayah, Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Pertanyaan Seputar Topik
Apa kata Rasulullah tentang kematian?
“Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda: “Jika manusia itu meninggal dunia, maka terputus amalnya kecuali tiga hal, sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, Abu Daud, At-Tirmidzi, An-Nasa'i).
Apa kutipan indah tentang kematian seorang ibu?
"Cinta seorang ibu abadi—begitu pula ketidakhadirannya." "Aku merindukan suaranya, senyumnya, kehangatannya—setiap hari." "Ibu memegang tangan anak-anaknya untuk sementara waktu, tetapi hatinya selamanya." "Kau mungkin pergi dari pandanganku, tetapi takkan pernah dari hatiku."
Cukuplah kematian sebagai nasehat hadits?
Kajian Hadits Pengingat Tentang Kematian. “Perbanyaklah mengingat penghancur kelezatan, yaitu kematian.” (HR. Tirmidzi). “Cukuplah kematian itu sebagai pemberi peringatan.” Dengan mengingat kematian, kita akan terdorong untuk beramal saleh dan berhenti dari perbuatan maksiat.
Apa hikmah mengingat kematian?
Mengingat kematian bukan berarti hidup dalam ketakutan, tetapi justru menghidupkan kesadaran bahwa hidup ini adalah perjalanan menuju kampung akhirat. Orang yang cerdas, menurut Rasulullah saw adalah yang banyak ingat tentang kematian dan mempersiapkan diri menghadapinya.

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4482819/original/082028900_1687846264-Kekhusyukan_jemaah_haji_panjatkan_doa_di_Jabal_Rahmah-AP__8_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4861241/original/046142300_1718179339-raka-dwi-wicaksana-Jbk_Tce8Z1U-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3081754/original/022995900_1584692954-20200320-Suasana-Salat-Jumat-di--Masjid-Agung-Al-Azhar-Jakarta-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5215229/original/033266000_1746799361-4ff83da7-1538-4742-9157-6cfce7cd7661.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5411947/original/069430700_1763026620-Kultum_Islami.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5848003/original/026754500_1778749472-5.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3283638/original/035360600_1604212714-20201101-Hari-Ini_-Jemaah-Umrah-Indonesia-Bertolak-ke-Mekah-4.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5507757/original/Rinnai_RI-301S_dan_RI-511C_karena_Teknologi_Pembakaran_Efisien_Rinnai_menjadi_salah_satu_merek_yang_konsisten_masuk_daftar_rekomendasi_2026._Model_RI-301S_dan_RI-511C_dikenal_memiliki_burner_berku.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6204862/original/088637800_1779083702-94b8bfbd-ccdc-4a6b-97b7-a164a1ba9236.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3187902/original/089581000_1595477323-eid-al-fitr-concept-with-people-eating-table_23-2147799467.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5525602/original/003097400_1773046669-unnamed__54_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6196071/original/033486800_1779075609-Gemini_Generated_Image_qgai7cqgai7cqgai.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4632662/original/081356900_1698897425-beris-creatives-ceNCWYqL8DY-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/4965916/original/088874300_1728606330-71e10bc4-3bdd-481d-8e06-a8d1c390de31.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5411944/original/046159000_1763026619-Kultum_dan_Ceramah.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3161656/original/025764700_1593013512-20200624-Menengok-Suasana-Makkah-Jelang-Ibadah-Haji-4.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3283640/original/066176300_1604212715-20201101-Hari-Ini_-Jemaah-Umrah-Indonesia-Bertolak-ke-Mekah-6.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5933770/original/078360100_1778831227-unnamed__12_.jpg)














:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4174191/original/099991100_1664358430-bacaan-doa-setelah-adzan-beserta-arti-dan-keutamaannya.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5158657/original/067229400_1741665557-kata-mutiara-pagi-hari-islami.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5385863/original/035777200_1760946460-KIP_Kuliah.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3997589/original/057397300_1650185585-20220417-Masjid-Agung-Demak-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5502852/original/043074800_1771048777-4.jpg)









:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5478088/original/027630100_1768891150-Abu_Ubaidah_di_medan_perang__Gemini_AI_.jpg)