7 Contoh Naskah Khutbah Jumat di Awal Bulan Muharram, Tema-Tema Pilihan

8 hours ago 5

Liputan6.com, Jakarta - Referensi naskah khutbah Jumat di awal bulan Muharram untuk mengisi momentum tahun baru Islam. Momen ini adalah waktu terbaik untuk memulihkan kembali semangat ibadah serta memperbarui komitmen ketakwaan setelah melewati satu tahun perjalanan hidup.

Terlebih, Muharram adalah bulan haram dan disebut sebagai Syahrullah atau bulannya Allah, dengan segala kemuliaannya. "Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan... di antaranya empat bulan haram" - QS. At-Taubah: 36).

Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam kitab Lathaif al-Ma'arif menjelaskan bahwa Muharram adalah bulan yang sangat diberkahi untuk memulai amal kebajikan dan memperbanyak amal sunnah sebagai pembersihan diri.

Untuk itu, kesempatan khutbah Jumat di awal tahun Islam menjadi kesempatan bagi khatib untuk mengingatkan umat, mengenai pentingnya taubat, muhasabah dan resolusi diri untuk lebih baik di bulan Muharram dan waktu selanjutnya.

Merangkum berbagai sumber, berikut ini adalah tujuh contoh naskah khutbah Jumat di awal bulan Muharram.

Naskah Khutbah Jumat 1: Keutamaan Muharram Sebagai Syahrullah

KHUTBAH PERTAMA

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

Hadirin jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah, mengawali khutbah ini, khatib senantiasa berwasiat kepada diri pribadi dan jamaah sekalian untuk memelihara ketakwaan kepada Allah Ta'ala.

Alhamdulillah, atas rahmat dan karunia-Nya kita kini telah memasuki bulan Muharram, bulan pertama di awal tahun kalender Hijriyah yang dipenuhi dengan kemuliaan serta keberkahan.

Bulan Muharram bukanlah sekadar penanda bergantinya angka tahun, melainkan salah satu dari empat bulan haram (suci) yang sangat dihormati dan disakralkan kedudukannya di dalam syariat Islam.

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ

Artinya: "Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya dirimu dalam bulan yang empat itu." (QS. At-Taubah: 36).

Sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu menjelaskan bahwa kezaliman, maksiat, atau perbuatan dosa yang dilakukan pada bulan-bulan haram, termasuk Muharram, maka bobot dosanya akan dilipatgandakan oleh Allah.

Sebaliknya, sekecil apa pun amal saleh, ketaatan, dan kebaikan yang kita kerjakan di bulan ini, Allah akan melipatgandakan pahalanya sebagai wujud pemuliaan terhadap Syahrullah (Bulannya Allah).

Menyambut hari-hari di awal Muharram hendaknya tidak dirayakan dengan hura-hura duniawi, melainkan diisi dengan memperbanyak ibadah sunnah, menjaga lisan, menyantuni kaum duafa, dan mempererat tali silaturahmi.

Mari jadikan bulan Allah yang agung ini sebagai momentum terindah untuk mencetak lembaran amal baru yang bersih, bertaubat dari dosa masa lalu, dan mendekatkan diri kepada-Nya.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

KHUTBAH KEDUA

الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيْرًا. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، اِتَّقُوا اللهَ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.

Marilah kita terus istiqamah menjaga kualitas keimanan kita hingga akhir hayat menjemput kelak.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ، وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Khutbah 2: Makna Hijrah di Era Modern

KHUTBAH PERTAMA

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

Hadirin jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah, mengawali khutbah ini, khatib senantiasa berwasiat kepada diri pribadi dan jamaah sekalian untuk memelihara ketakwaan kepada Allah Ta'ala.

Memasuki awal bulan Muharram secara otomatis mengingatkan memori umat pada peristiwa monumental dan bersejarah, yaitu hijrahnya Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah demi tegaknya agama tauhid.

Di era modern saat ini, kita memang tidak lagi dituntut untuk berhijrah fisik guna melarikan diri dari musuh, namun esensi hijrah wajib terus kita praktikkan di sepanjang napas kehidupan.

وَالَّذِينَ هَاجَرُوا فِي اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مَا ظُلِمُوا لَنُبَوِّئَنَّهُمْ فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً ۖ وَلَأَجْرُ الْآخِرَةِ أَكْبَرُ ۚ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ

Artinya: "Dan orang-orang yang berhijrah karena Allah sesudah mereka dianiaya, pasti Kami akan memberikan tempat yang bagus kepada mereka di dunia. Dan sesungguhnya pahala di akhirat adalah lebih besar, kalau mereka mengetahui." (QS. An-Nahl: 41).

Hakikat hijrah hari ini adalah sebuah perjuangan yang sungguh-sungguh untuk berani meninggalkan segala bentuk larangan Allah, mengubah tabiat dan kebiasaan buruk menjadi ketaatan yang sangat konsisten.

Termasuk di dalamnya adalah hijrah dari mencari rezeki yang syubhat menuju rezeki halal, serta hijrah dari jari yang gemar mengetik ujaran kebencian di media sosial menuju lisan yang basah dengan zikir.

Hijrah maknawiyah ini tentu tidaklah mudah, karena tantangan dari hawa nafsu dan godaan gaya hidup duniawi akan terus berusaha secara agresif menarik kita kembali ke lubang kemaksiatan.

Oleh karena itu, sambutlah awal Muharram ini dengan komitmen hijrah yang amat kokoh, bulatkan tekad untuk menjadi muslim yang berakhlak mulia dan tangguh dalam segala situasi.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

KHUTBAH KEDUA

الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيْرًا. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، اِتَّقُوا اللهَ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.

Marilah kita terus istiqamah memohon petunjuk-Nya agar hijrah yang kita rintis membuahkan pahala di surga kelak.

 اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

 عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ، وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Khutbah 3: Anjuran Puasa Asyura dan Tasu'a

KHUTBAH PERTAMA

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. Hadirin jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah, mengawali khutbah ini, khatib senantiasa berwasiat kepada diri pribadi dan jamaah sekalian untuk memelihara ketakwaan kepada Allah Ta'ala.

Bulan Muharram secara spesifik dijuluki oleh lisan mulia Rasulullah SAW sebagai "Syahrullah" atau bulannya Allah, yang menyimpan ragam amalan sunnah dengan keutamaan yang luar biasa tinggi.

Amalan unggulan tersebut adalah anjuran untuk memperbanyak ibadah puasa, utamanya pada hari ke-9 (Tasu'a) dan hari ke-10 (Asyura) di bulan Muharram, sebagai wujud ketundukan kepada Sang Khalik.

وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

Artinya: "Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa." (QS. Ali Imran: 133).

Mengambil kesempatan puasa Asyura adalah wujud paling konkret dalam bersegera mencari ampunan, sebab Nabi SAW bersabda puasa tersebut mampu menghapus dosa-dosa kecil setahun yang telah lalu.

Betapa Maha Murahnya rahmat Allah SWT; hanya dengan bersabar menahan rasa lapar dan dahaga selama satu hari ikhlas karena-Nya, dosa setahun penuh digugurkan dari buku catatan amal.

Puasa Muharram ini juga sarat dengan pengajaran sejarah agung, mengingatkan kita pada keselamatan Nabi Musa AS dari kejaran Firaun, serta melatih kedisiplinan mengendalikan syahwat dasar kemanusiaan.

Mari hidupkan sunnah berpuasa di bulan Muharram ini; ajaklah sanak keluarga, istri, dan putra-putri kita untuk secara bersama-sama meraih pengampunan Allah melalui puasa Asyura dan Tasu'a.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

KHUTBAH KEDUA

الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيْرًا. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، اِتَّقُوا اللهَ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.

Marilah kita terus perbanyak ibadah sunnah untuk menambal kekurangan pada ibadah fardhu yang kita jalankan.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ، وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Khutbah 4: Meninggalkan Kezaliman di Bulan Haram

KHUTBAH PERTAMA

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

Hadirin jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah, mengawali khutbah ini, khatib senantiasa berwasiat kepada diri pribadi dan jamaah sekalian untuk memelihara ketakwaan kepada Allah Ta'ala.

Awal Muharram mengantarkan kita menembus gerbang salah satu dari empat bulan haram, yakni rentetan bulan suci yang dimuliakan secara ketat oleh Allah SWT sejak awal penciptaan semesta.

Pada dimensi bulan-bulan suci ini, syariat Islam secara tegas memberikan peringatan ekstra keras kepada seluruh hamba agar tidak menzalimi diri sendiri dan orang lain.

إِنَّمَا السَّبِيلُ عَلَى الَّذِينَ يَظْلِمُونَ النَّاسَ وَيَبْغُونَ فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ ۚ أُولَٰئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Artinya: "Sesungguhnya dosa itu atas orang-orang yang berbuat zalim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak. Mereka itu mendapat azab yang pedih." (QS. Asy-Syura: 42).

Menzalimi diri sendiri di sini sangat luas ruang lingkupnya, mencakup perbuatan melalaikan waktu shalat fardhu, memakan harta hasil korupsi dan riba, hingga mengotori mata dengan tontonan maksiat.

Sedangkan menzalimi orang lain meliputi tabiat merampas hak ahli waris, menipu dalam berniaga, menyebar fitnah hoaks, yang mana bobot sanksi dosanya dilipatgandakan karena menodai kesucian Muharram.

Allah secara eksplisit memperingatkan agar kita ekstra waspada menjaga diri; karena sebuah pelanggaran syariat di bulan haram ini menuntut konsekuensi keadilan yang jauh lebih berat di pengadilan akhirat kelak.

Segeralah hentikan segala bentuk kezaliman hari ini juga; penuhilah hak-hak Allah dengan ibadah berkualitas, dan tunaikan hak sesama manusia dengan sikap dermawan serta saling memaafkan di bulan suci Muharram.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

KHUTBAH KEDUA

الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيْرًا. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، اِتَّقُوا اللهَ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.

Marilah senantiasa kita menjaga jarak dari segala tindak kezaliman yang dapat merusak kehormatan ibadah.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ، وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Khutbah 5: Muhasabah Umur dan Resolusi Kebaikan

KHUTBAH PERTAMA

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

Hadirin jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah, mengawali khutbah ini, khatib senantiasa berwasiat kepada diri pribadi dan jamaah sekalian untuk memelihara ketakwaan kepada Allah Ta'ala.

Alhamdulillah kita diizinkan Allah menapaki awal tahun kalender Hijriyah. Sebuah pergantian periode yang sejatinya merupakan alarm pengingat bahwa jatah masa tinggal kita di dunia ini telah dipotong satu tahun lamanya.

Sayangnya, sebagian besar manusia cenderung merayakan awal tahun dengan kesia-siaan fana, padahal momen pergantian waktu diwajibkan untuk diisi dengan evaluasi (muhasabah) atas jejak kelalaian di masa lampau.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Artinya: "Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-Hasyr: 18).

Ayat muhasabah ini menginstruksikan kita untuk secara jujur mengaudit kualitas ketakwaan. Bertanyalah; sudahkah shalat lima waktu kita ditunaikan di awal waktu? Sudahkah zakat kita hitung dengan saksama?

Jadikan hari-hari perdana bulan Muharram ini sebagai titik pijak untuk menyusun resolusi spiritual yang realistis dan terukur, bukan sekadar komitmen lisan yang akan layu sebelum berkembang.

Rancanglah sebuah target perbaikan amalan harian, contohnya tekad mengkhatamkan Al-Qur'an setiap bulan, konsistensi menunaikan shalat malam, atau target menyisihkan penghasilan khusus untuk donasi yatim piatu.

Tahun yang baru mutlak harus direalisasikan melalui lahirnya kualitas iman yang baru. Jangan biarkan lembaran buku kehidupan kita di masa depan memiliki corak kotor yang sama dengan hari-hari yang telah lewat.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

KHUTBAH KEDUA

الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيْرًا. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.

 أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، اِتَّقُوا اللهَ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. Marilah kita terus berbekal dengan perbekalan yang paling tinggi mutunya, yaitu ketakwaan hati.

 اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

 عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ، وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Khutbah 6: Menguatkan Ukhuwah di Awal Tahun

KHUTBAH PERTAMA

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

Hadirin jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah, mengawali khutbah ini, khatib senantiasa berwasiat kepada diri pribadi dan jamaah sekalian untuk memelihara ketakwaan kepada Allah Ta'ala.

Menapak tilas peristiwa hijrah yang diabadikan sebagai pangkal kalender Muharram, kita diajarkan sebuah kurikulum luhur mengenai persaudaraan ketika kaum Muhajirin disambut mesra oleh Anshar di Madinah.

Nabi Muhammad SAW berhasil membangun sebuah pilar peradaban yang beradab dengan mempersaudarakan umatnya, menghilangkan diskriminasi suku, dan meleburkan mereka di bawah payung akidah yang satu.

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Artinya: "Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mendapat rahmat." (QS. Al-Hujurat: 10).

Sikap saling mengasihi dan merawat ukhuwah Islamiyah adalah fondasi utama syarat turunnya rahmat Ilahi. Sayangnya, fenomena hari ini memperlihatkan betapa umat Islam amat mudah dipecah belah oleh provokasi duniawi.

Pada fase awal tahun Hijriyah yang sangat suci ini, saatnya kita melakukan revolusi akhlak dengan mengikis abis sifat hasad, permusuhan, dan fanatisme kelompok yang merobek kekuatan kita dari dalam.

Mulai hari ini, ringankan lisan untuk memaafkan kesalahan kawan, ringankan langkah menjenguk tetangga yang tertimpa sakit, karena kesempurnaan iman sejatinya diukur dari bagaimana kita mencintai saudara kita.

Mari bersatu padu di bulan Muharram untuk kembali merajut kasih sayang. Kejayaan dan kemuliaan umat Islam hanya akan tercapai apabila setiap individunya sudi saling menopang, bukan saling menerkam.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

KHUTBAH KEDUA

الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيْرًا. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، اِتَّقُوا اللهَ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.

Marilah kita terus berdoa agar Allah selalu mempersatukan hati kita di bawah rida-Nya.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ، وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Khutbah 7: Berlomba-Lomba dalam Kebaikan (Fastabiqul Khairat)

KHUTBAH PERTAMA

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

Hadirin jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah, mengawali khutbah ini, khatib senantiasa berwasiat kepada diri pribadi dan jamaah sekalian untuk memelihara ketakwaan kepada Allah Ta'ala.

Menyambut masuknya awal bulan Muharram menjadi bukti bahwa kita masih memperoleh percikan rahmat berupa kesempatan untuk terus bernapas, berikhtiar mencari rezeki halal, serta menambah amal.

Anugerah berupa perpanjangan durasi kehidupan ini sangatlah vital sifatnya, sehingga syariat Al-Qur'an mewajibkan kita untuk bergerak proaktif guna menyegerakan ragam jenis amal kebaikan.

وَلِكُلٍّ وِجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيهَا ۖ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ ۚ أَيْنَ مَا تَكُونُوا يَأْتِ بِكُمُ اللَّهُ جَمِيعًا ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Artinya: "Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah (dalam berbuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu." (QS. Al-Baqarah: 148).

Kalimat mulia "Fastabiqul Khairat" menyiratkan terciptanya sebuah iklim kompetisi yang luhur, memaksa seorang muslim untuk sigap beribadah mendahului datangnya fase sakit, masa sulit, ataupun kematian.

Pada bulan Muharram yang dijanjikan pelipatgandaan pahala ini, haram bagi kita untuk bermalas-malasan. Aktualisasikan niat baik untuk segera melunasi utang piutang, bersedekah jariah, dan membahagiakan orang tua.

Jarum jam akan terus berdetak konstan dan mustahil bergerak memutar mundur. Orang-orang yang meremehkan sisa waktu di awal tahun ini pada akhirnya akan menangis meraung di ambang pintu barzakh.

Jadilah pelari maraton spiritual yang tangguh. Hidupkan sunnah di malam yang sunyi, tuturkan kalimat yang mendatangkan kesejukan, dan wariskanlah jejak amal jariah yang manfaatnya terus menghidupi pahala Anda kelak.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

KHUTBAH KEDUA

الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيْرًا. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.

 أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، اِتَّقُوا اللهَ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. Marilah kita terus menjaga semangat kompetisi kebaikan ini, murni mengharap wajah Allah semata.

 اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ، وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Pertanyaan Seputar 1 Muharram

1 Muharram 2026 jatuh pada tanggal berapa?

Berdasarkan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT), 1 Muharram 1448 H jatuh pada Selasa, 16 Juni 2026.

Awal khutbah membaca apa?

Awal khutbah (khususnya khutbah Jumat atau khutbah ibadah lainnya) dibuka dengan membaca khutbah hajah (pujian kepada Allah), syahadat, shalawat Nabi, dan wasiat takwa.

1 Muharram sebaiknya baca surat apa?

Pada 1 Muharram, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak ibadah, terutama membaca Al-Qur'an. Tidak ada surat khusus yang diwajibkan, namun Anda sangat dianjurkan untuk membaca Surat Yasin, Surat Al-Ikhlas, dan Ayat Kursi (Surat Al-Baqarah ayat 255) untuk memohon perlindungan dan keberkahan sepanjang tahun.

Apa catatan singkat bulan Muharram?

Muharram (bahasa Arab: ٱلْمُحَرَّم, romanisasi: al-Muḥarram) adalah bulan pertama dalam kalender Islam . Ini adalah salah satu dari empat bulan suci dalam setahun di mana peperangan dilarang. Bulan ini mendahului bulan Safar. Tanggal sepuluh Muharram dikenal sebagai Asyura, hari peringatan penting dalam Islam.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |