8 Amalan Sunnah Malam Takbiran Idul Adha yang Jarang Diketahui, Simak Hikmahnya

1 day ago 10

Liputan6.com, Jakarta - Hari Raya Idul Adha 1447 H jatuh pada 27 Mei 2026. Kemeriahannya dimulai beberapa hari sebelum dan berpuncak pada malam Idul Adha. Selain hiruk pikuk perayaan, umat Islam perlu memahami amalan sunnah malam takbiran idul adha yang jarang diketahui.

Malam Idul Adha adalah salah satu malam yang sangat dianjurkan untuk dihidupkan dengan ibadah. Imam Asy-Syafi’i menyebutkan bahwa doa sangat mungkin dikabulkan pada lima malam utama, yang salah satunya adalah malam Idul Adha.

Rasulullah SAW bersabda: “Siapa pun yang menghidupkan malam dua hari raya (Idul Fitri dan Idul Adha) dengan ibadah karena mengharap pahala Allah, maka hatinya tidak akan mati di hari semua hati mati.” (Ibnu Majah)

Meskipun sebagian ahli hadis menilai kualitas hadis ini dhaif karena adanya perawi bernama Umar bin Harun al-Bulkhi, para ulama besar seperti Imam an-Nawawi tetap menggunakannya sebagai landasan keutamaan amal (fadhā’il al-a‘māl). Jumhur ulama berpendapat bahwa hadis dhaif masih dapat diamalkan dalam bab keutamaan amal, menjadikan anjuran ini sebagai sunnah yang didukung oleh kesepakatan mayoritas ulama.

Berikut ini adalah rangkuman amalan sunnah malam takbiran Idul Adha, merangkum ebook Bekal-bekal di Dalam Menyambut Idul Adha, Ustadz Abū Salmâ al-Atsarî, Jurnal Wawasan As-Sunnah tentang Qurban dan Idul Adha, Sulidar, dan sumber relevan lainnya.

1. Mandi (Ghusl) pada Malam Hari

Sunnah mandi sebelum shalat Id kerap diketahui, namun banyak yang luput bahwa waktu pelaksanaannya dimulai sejak malam Idul Adha itu sendiri.

 Syekh Ibrahim al-Bajuri dalam kitabnya Hasyiyatu Asy-Syaikh Ibrahim al-Baijuri menegaskan: “Waktu masuknya mandi sunnah (Idul Fitri/Idul Adha) adalah pada tengah malam (tanggal 10 Dzulhijjah).”

Pendapat ini diperkuat oleh Syekh Ibnu Hajar al-Haitami dalam kitab rujukan utama mazhab Syafi’i, Tuhfatul Muhtaj (Juz 3, halaman 187). Beliau menyebutkan kesunnahan mandi pada malam Id secara umum sebagai bentuk penghormatan. Adapun waktu yang paling utama untuk mandi adalah setelah terbit fajar, sebagaimana ditekankan Syekh Sulaiman al-Bujairimi dalam kitab Tuhfah al-Habib ‘Ala Syarh al-Khathib. Praktik ini juga diriwayatkan bahwa Abdullah bin Umar bin Khattab mandi pada hari raya sebelum berangkat shalat.

2. Memotong Kuku, Merapikan Kumis, dan Mencabut Bulu Ketiak

Amalan memotong kuku dan mencabut bulu ketiak termasuk dalam fitrah yang dianjurkan untuk dilakukan secara berkala. Dianjurkan untuk melakukannya pada malam takbiran agar kondisi tubuh benar-benar bersih maksimal saat menyambut hari raya.

Anjuran ini berdasarkan sabda Rasulullah SAW dalam hadis riwayat Muslim: “Fitrah itu lima perkara: khitan, mencukur bulu kemaluan, mencabut bulu ketiak, memotong kuku, dan memotong kumis.”

Syekh Abu Bakar al-Hishni dalam kitab Kifayatul Akhyar (hlm. 148) secara tegas menyebutkan bahwa memotong kuku dan merapikan rambut termasuk amalan sunnah yang dianjurkan sebelum Id. Menghilangkan kotoran dan memanjangkan bagian-bagian ini dianggap kurang sesuai dengan semangat menyambut hari yang suci.

3. Memakai Pakaian Terbaik dan Berwangi-wangian

Islam sangat menganjurkan umatnya untuk berpenampilan baik dan menggunakan wewangian saat menghadiri ibadah, terutama di hari raya.

Hadis riwayat Al-Hakim dalam Al-Mustadrak (IV: 256) menyebutkan: “Rasulullah SAW memerintahkan kami pada dua hari raya untuk memakai pakaian terbaik yang ada dan memakai wangi-wangian terbaik yang ada.” 

Syaikh Sayyid Bakri Syatha dalam kitab I’anatut Thalibin (juz 2) menjelaskan: “Disunnahkan berhias di hari raya, dengan memakai pakaian terbaik dan memakai wewangian bagi laki-laki.” 

Tradisi ini diamalkan oleh para salaf, sebagaimana Ibnu Umar yang memakai pakaian terbaik saat hari raya, juga Imam Syafi’i. Dianjurkan bagi pria untuk mengenakan pakaian putih dan sorban, sementara wanita cukup dengan pakaian sederhana dan tidak berlebihan.

4. Memperbanyak Shalawat, Istigfar, dan Doa

Malam takbiran adalah waktu yang mustajab untuk berdoa. Selain bacaan takbir, dianjurkan untuk memperbanyak shalawat kepada Nabi dan istigfar (memohon ampunan).

Al-Munawi dalam Faidhul Qadir (jilid 6, halaman 261) menjelaskan bahwa makna “menghidupkan malam” (qunut lailah) secara umum mencakup semua bentuk ketaatan di malam tersebut, termasuk memperpanjang doa.

Perbanyaklah membaca doa sapu jagat “Rabbana atina fid-dunya hasanah...” dan doa-doa kebaikan lainnya. Umat Islam dianjurkan mengisi malam ini dengan berbagai ibadah yang penuh keberkahan dan diyakini sebagai salah satu momen mustajab untuk berdoa.

5. Larangan Memotong Rambut dan Kuku sejak Awal Dzulhijjah

Larangan ini adalah amalan yang sering dilanggar karena tidak diketahui. Bagi yang berniat berkurban, terdapat larangan memotong rambut dan kuku mulai tanggal 1 Dzulhijjah hingga hewan disembelih.

Dalilnya hadis sahih riwayat Imam Muslim (No. 1977), Rasulullah SAW bersabda:

“Apabila telah masuk sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah dan salah seorang dari kalian ingin berkurban, maka janganlah ia memotong rambut dan kukunya sedikit pun sampai ia menyembelih kurbannya.”

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan hikmahnya: agar orang yang berkurban menyempurnakan ibadahnya dalam kondisi “utuh” sebagai bentuk penghormatan. Larangan ini sering terlupa karena banyak yang baru ingat saat malam takbiran dan langsung memotong kuku—yang sebaiknya dihindari jika belum berkurban.

Hadis riwayat Bukhari juga menyebutkan: “Hendaklah shahibul qurban membiarkan rambut dan kukunya.”

6. Berdzikir di Rumah dan Tidak Hanya di Masjid

Sunnah ini sangat jarang diamalkan di era modern, di mana takbir sering terpusat di masjid. Padahal, mengumandangkan takbir di rumah-rumah bertujuan menumbuhkan syiar Islam di lingkungan terkecil.

Dalam kitab Raudlatut Thalibin, ditegaskan bahwa setiap muslim dianjurkan mengumandangkan takbir di mana pun mereka berada sebagai bentuk syiar dan kegembiraan. Panggilan malaikat Jibril pada malam Nisfu Sya’ban juga menunjukkan bahwa rumah yang tidak diisi dengan dzikir akan jauh dari keberkahan.

Memperbanyak dzikir di rumah akan membawa ketenangan dan keberkahan bagi penghuninya, sebagaimana firman Allah: “Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28).

7. Mengakhirkan Makan Hingga Setelah Shalat Id

Amalan ini sering disalahartikan. Anjuran tidak makan bukan berarti berpuasa, melainkan menunda makan pagi hingga setelah shalat Id dan menyantap daging kurban. Ibnu Qudamah rahimahullah dalam kitab Al-Mughni (2:228) menjelaskan:

“Imam Ahmad berkata: ‘Saat Idul Adha dianjurkan tidak makan hingga kembali dan memakan hasil sembelihan qurban. Karena Nabi SAW makan dari hasil sembelihan qurbannya. Jika seseorang tidak memiliki qurban, maka tidak masalah jika ia makan terlebih dahulu sebelum shalat ‘ied.’”Hadis utama yang mendasarinya adalah riwayat dari Buraidah RA: “Nabi Muhammad SAW tidak makan pada hari Idul Adha kecuali setelah pulang, kemudian makan hasil penyembelihannya.” (HR. Ahmad).

Syekh Muhammad Nawawi al-Bantani dalam Nihayatuz Zain (hlm. 106) menjelaskan, sunnahnya adalah menahan makan sampai selesai shalat, lalu menyantap daging kurban. Menurut ulama Syafiiyah, anjuran ini berlaku umum untuk semua yang shalat Id, baik akan berkurban maupun tidak, sementara mazhab Hambali mengkhususkannya hanya bagi yang memiliki hewan kurban.

8. Memperbanyak Takbir di Jalan Menuju Mushalla

Disunnahkan mengeraskan suara takbir dalam perjalanan menuju tempat shalat Id sebagai bentuk syiar dan pengagungan kepada Allah. Syaikh Zakariya al-Anshari dalam Fathul Wahhab (juz 1) menyebutkan: “Disunnahkan berjalan menuju tempat shalat jika tidak menyusahkan.”

Jalan yang ditempuh saat berangkat dan pulang juga disunnahkan berbeda. Dari sahabat Jabir bin Abdullah RA, Rasulullah SAW bersabda: “Apabila hari raya, beliau membedakan jalan (ketika berangkat dan pulang).” (HR. Bukhari no. 986). Saat berangkat di jalan A dan pulang di jalan B, tujuannya adalah untuk memperbanyak pertemuan dengan orang-orang dan menyebarkan syiar Islam.

Waktu Pelaksanaan Amalan Sunnah

  • Mandi sunnah: Tengah malam hingga sebelum shalat Id
  • Memakai pakaian terbaik & wewangian: Saat berangkat ke mushalla/masjid
  • Memperbanyak shalawat, istigfar, doa: Sepanjang malam takbiran
  • Tidak memotong rambut/kuku (bagi pekurban): Mulai 1 Dzulhijjah hingga kurban disembelih
  • Berdzikir di rumah: Sepanjang malam
  • Tidak makan (menahan lapar): Dari malam hingga selesai shalat Id
  • Takbir di jalan menuju mushalla: Dalam perjalanan.

Hikmah Amalan Malam dan sebelum Shalat Idul Adha

1. Hikmah Menghidupkan Malam dengan Ibadah

Hati tidak akan mati di hari kiamat saat banyak hati gelisah. Ibadah malam Id menjadi benteng spiritual dari fitnah dan kebingungan di akhirat.

2. HikmahMemperbanyak Takbir, Tahmid, dan Tahlil

Mengagungkan kebesaran Allah, bersyukur atas petunjuk-Nya, serta membedakan Idul Adha dengan hari lainnya.

3. Hikmah Memperbanyak Doa

Malam Idul Adha adalah waktu mustajab. Kesempatan emas memohon ampunan, keberkahan, dan kebaikan dunia-akhirat.

4. Hikmah Mandi, Memakai Pakaian Terbaik, dan Wewangian

Membersihkan lahir batin, menghormati hari raya, menjaga kenyamanan jamaah, dan menampakkan kegembiraan dalam ketaatan.

5. Hikmah Mengakhirkan Makan hingga Setelah Shalat

Menumbuhkan solidaritas dengan fakir miskin yang baru mendapat daging kurban setelah shalat, serta meneladani Rasulullah.

6. Hikmah Berjalan Kaki ke Mushalla dan Membedakan Jalan

Merendahkan hati, menyebarkan syiar Islam, dan memperbanyak pertemuan dengan masyarakat.

Pertanyaan Seputar Amalan di Malam Takbiran

Apa yang sebaiknya dilakukan saat malam takbiran?

Karena itu, malam takbiran menjadi waktu yang dianjurkan untuk diisi dengan ibadah dan amalan yang mendekatkan diri kepada Allah.Memperbanyak Takbir. ...Memperbanyak Dzikir dan Doa. ...Membaca Al Quran. ...Bersedekah dan Menunaikan Zakat. ...Kini Sedekah dan Zakat Bisa Dilakukan Secara Online.

Apa yang disunnahkan pada hari raya Idul Adha?

Bagi umat muslim yang mampu secara finansial, amalan sunnah Idul Adha yang paling utama untuk dilakukan adalah melaksanakan kurban, seperti sapi, kambing, domba, atau unta. Kurban dilakukan setelah shalat Idul Adha, pada hari raya Idul Adha tiga hari setelahnya.

Kenapa tidak boleh takbiran sebelum waktunya?

Takbiran tidak boleh dilakukan sebelum waktunya karena ibadah ini bersifat tauqifiyyah (ketentuannya sudah ditetapkan dan tidak boleh diubah). Melantunkan takbir harus sesuai dengan batasan waktu yang telah disyariatkan dalam Islam, yakni untuk menyambut dan mensyukuri datangnya hari kemenangan.

Apakah berdoa di malam takbiran mustajab?

Selain itu, keutamaan malam takbiran juga menjadi waktu mustajab untuk berdoa kepada Allah SWT.

Apakah boleh berhubungan intim di malam hari raya Idul Adha?

Tidak ada dalil yang tegas melarang hubungan intim di malam hari raya, baik Idul Adha maupun Idul Fitri. Kehalalan berhubungan di malam hari raya itu didasarkan pada Al-Qur'an surat Al-Baqarah ayat 187 berikut ini. Artinya: "Dihalalkan bagimu pada malam puasa bercampur dengan istrimu.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |