Liputan6.com, Jakarta - Makkah Al-Mukarramah adalah pusat spiritual umat Islam. Setiap detik yang dihabiskan di Tanah Haram memiliki nilai pahala yang dilipatgandakan hingga 100.000 kali. Di antara amalan utama saat haji dan umrah, terdapat amalan rahasia yang dianjurkan saat berada di Mekah.
Sering kali, jemaah haji dan umrah terlalu berfokus pada ibadah fisik yang menguras tenaga, sehingga melupakan amalan-amalan 'rahasia', sunnah yang secara fisik sangat ringan, namun memiliki bobot ganjaran surgawi yang luar biasa besar. Amalan-amalan ini bahkan bisa dilakukan diam-diam, tanpa orang lain mengetahui dan menarik perhatian.
Merujuk pada literatur Buku Manasik Haji dan Umroh Rosululloh: Fikih Berdasar Sirah dan Makna Spiritualnya karya Dr. KH. Imam Ghazali Said, Buku Tuntunan Manasik Haji dan Umrah (Kemenag RI), serta Ebook Doa dan Dzikir Manasik Haji (Kemenag RI), berikut adalah kumpulan amalan rahasia yang sangat dianjurkan saat Anda berada di Makkah.
1. Memandang Ka'bah dengan Penuh Pengagungan (Nadzar ilal Ka'bah)
Amalan rahasia pertama yang sangat agung adalah meluangkan waktu untuk sekadar duduk tenang dan menatap Ka'bah dengan penuh takzim. Ibadah ini sama sekali tidak menguras energi fisik, sehingga sangat cocok dilakukan oleh jemaah lansia maupun mereka yang sedang mengistirahatkan tubuhnya di lantai atas Masjidil Haram. Menatap bangunan suci bernuansa hitam-emas ini dengan hati yang bergetar memikirkan kebesaran Allah merupakan bentuk ibadah mata dan hati yang mandiri.
Dalam buku Manasik Haji dan Umroh Rosululloh, Imam Ghazali Said mengutip pandangan ulama salaf mengenai melimpahnya rahmat di Baitullah. Berlandaskan hadis riwayat Abdullah bin Abbas RA, Rasulullah SAW bersabda bahwa Allah SWT menurunkan 120 rahmat setiap harinya ke Ka'bah: 60 rahmat diberikan bagi orang yang bertawaf, 40 rahmat bagi orang yang mendirikan shalat di sekelilingnya, dan 20 rahmat diturunkan secara khusus bagi mereka yang hanya duduk diam memandang Ka'bah demi mengagungkan syiar Allah.
2. Melafalkan Doa Khusus Saat Pertama Kali Melihat Ka'bah
Momen ketika sepasang mata pertama kali menatap Ka'bah setelah perjalanan panjang adalah salah satu waktu paling sakral dan mustajab. Sayangnya, akibat kepanikan mengatur barisan atau kelelahan setelah menempuh safar, banyak jemaah yang melewatkan detik-detik berharga ini. Padahal, pada pandangan pertama inilah pintu langit terbuka lebar untuk mengabulkan segala hajat hamba-Nya yang datang sebagai tamu (dhuyufurrahman).
Ebook Doa dan Dzikir Manasik Haji Kemenag RI memberikan panduan agar jemaah menghentikan langkah sejenak ketika Ka'bah mulai terlihat, lalu mengangkat tangan seraya membaca doa: "Allahumma zid hadzal baita tasyrifan wa ta’zhiman wa takriman wa mahabatan..." (Ya Allah, tambahkanlah kemuliaan, keagungan, kehormatan, dan wibawa pada rumah-Mu ini). Ulama menjelaskan bahwa doa ini mencerminkan ketundukan batin yang luar biasa, sehingga menjadi wasilah dikabulkannya doa-doa pribadi berikutnya.
3. Melakukan Istilam Jarak Jauh (Isyarat Telapak Tangan)
Mencium Hajar Aswad secara langsung memang memiliki keutamaan, namun di tengah lautan manusia yang saling berdesakan, memaksakan diri justru bisa menjerumuskan jemaah pada keharaman karena menyakiti sesama muslim. Syariat memberikan solusi yang sangat elegan dan tanpa risiko fisik, yakni berupa istilam dari kejauhan. Amalan ini berupa lambaian tangan kanan yang diarahkan tegak lurus menuju batu hitam tersebut setiap kali melewati garis awal thawaf.
Jemaah cukup mengangkat tangan kanan menghadap Hajar Aswad sambil mengucapkan "Bismillahi Allahu Akbar", kemudian mengecup telapak tangan kanan tersebut. Sunnah ini didasarkan pada perbuatan Rasulullah SAW saat melakukan thawaf di atas unta, di mana beliau memberikan isyarat dengan tongkatnya ke arah Hajar Aswad. Dengan demikian, jemaah mendapatkan pahala sunnah yang utuh tanpa perlu menderita cedera fisik atau kehabisan stamina.
4. Merutinkan Doa "Sapu Jagat" di Antara Dua Rukun Ka'bah
Setiap jengkal tanah di sekitar Ka'bah adalah tempat berdoa, namun ada satu area lintasan thawaf yang memiliki kekhususan doa yang diajarkan langsung oleh Baginda Nabi Muhammad SAW. Lintasan tersebut berada di antara Rukun Yamani (sudut sebelum Hajar Aswad) dan Rukun Hajar Aswad itu sendiri. Di koridor yang tidak terlalu panjang ini, lisan jemaah dianjurkan untuk tidak berhenti memohon kebaikan yang bersifat universal.
Merujuk pada Ebook Doa dan Dzikir Kemenag, dalil amalan ini bersumber dari hadis riwayat Abdullah bin Sa'ib RA yang menceritakan bahwa beliau mendengar Rasulullah SAW selalu membaca doa: "Rabbanaa aatinaa fiddunyaa hasanah wa fil aakhirati hasanah wa qinaa 'adzaaban naar" ketika berada di antara kedua rukun tersebut.
Para ulama dalam kitab-kitab manasik menyebutkan bahwa doa ini sangat ringan diucapkan namun maknanya mencakup perlindungan total dari segala kesengsaraan duniawi dan siksa api neraka.
5. Melaksanakan Shalat Sunnah Dua Rakaat di Belakang Maqam Ibrahim
Setelah menyelesaikan tujuh putaran thawaf, terdapat amalan pelengkap yang sangat dianjurkan dan ringan untuk ditunaikan, yaitu shalat sunnah thawaf sebanyak dua rakaat. Lokasi ideal yang disunnahkan adalah di belakang Maqam Ibrahim (batu tempat berpijaknya Nabi Ibrahim AS saat membangun Ka'bah). Amalan ini menjadi rahasia kedekatan seorang hamba dengan jejak-jejak perjuangan tauhid masa lalu.
Dalil Al-Qur'an Surat Al-Baqarah ayat 125: "Dan jadikanlah sebagian Maqam Ibrahim tempat shalat". Rasulullah SAW mempraktikkan shalat dua rakaat di lokasi ini dengan membaca Surat Al-Kafirun pada rakaat pertama dan Surat Al-Ikhlas pada rakaat kedua.
Jika kondisi pelataran sangat padat dan berisiko bagi keselamatan diri, ulama menyepakati bahwa shalat ini tetap sah dan berpahala penuh walau dikerjakan di sudut mana pun di dalam Masjidil Haram.
6. Shalat Sunnah Mutlak di Dalam Kawasan Hijr Ismail
Bagi seorang muslim, shalat di dalam bangunan Ka'bah adalah impian terbesar yang sangat sulit diwujudkan karena aksesnya yang dijaga ketat. Namun, Rasulullah SAW telah membocorkan sebuah "rahasia" mengenai keberadaan sebidang tanah di samping Ka'bah yang dipagari dinding setengah lingkaran, yang dikenal sebagai Hijr Ismail. Beribadah di dalam area ini memiliki kedudukan hukum dan pahala yang sama persis dengan beribadah di dalam bilik Ka'bah.
Hadis sahih riwayat Sayyidah Aisyah RA. Beliau berkisah, "Aku ingin sekali masuk ke dalam Ka'bah untuk shalat di dalamnya, maka Rasulullah SAW menggandeng tanganku dan memasukkan aku ke dalam Hijr Ismail seraya bersabda: 'Shalatlah di sini jika kamu ingin masuk ke dalam Ka'bah, karena sesungguhnya ini adalah bagian dari Ka'bah'." Oleh karena itu, ketika area ini dibuka dan lengang, jemaah cukup masuk tanpa tergesa-gesa dan mendirikan shalat sunnah mutlak dua rakaat di atasnya.
7. Memanjatkan Hajat dengan Menempelkan Diri di Multazam
Multazam adalah dinding Ka'bah yang terletak di antara Hajar Aswad dan pintu Ka'bah. Tempat ini diyakini oleh para ulama sebagai salah satu maqam paling mustajab di muka bumi, di mana doa-doa yang dipanjatkan tidak akan ditolak oleh Allah SWT. Mengunjungi tempat ini tidak memerlukan gerakan fisik yang berat, melainkan keheningan spiritual yang mendalam saat mengadukan segala beban hidup.
Para sahabat seperti Abdullah bin Abbas RA yang mencontohkan cara merapatkan dada, wajah, dan kedua telapak tangan di Multazam seraya menangis memohon ampunan. Apabila kepadatan jemaah sedang menyusut, merapat ke dinding Multazam secara khusyuk adalah momen "rahasia" terbaik untuk menumpahkan segala keluh kesah batin langsung di hadapan rumah Allah.
8. Meminum Air Zamzam Sembari Menghadirkan Niat Spesifik
Amalan yang satu ini tergolong sangat menyegarkan dan ringan secara fisik, namun khasiat ruhaninya menembus batas keduniawian. Di setiap sudut Masjidil Haram, tersedia bejana-bejana air Zamzam yang siap diminum kapan saja. Mengonsumsi air suci ini bukan sekadar untuk memuaskan rasa haus pasca-aktivitas ibadah, melainkan sebuah ritual doa yang sangat kuat pengaruhnya.
Dalil utama dari amalan ini adalah sabda Rasulullah SAW yang termaktub dalam hadis riwayat Ibnu Majah: "Air Zamzam itu mengalir sesuai dengan niat orang yang meminumnya". Jemaah dianjurkan untuk minum dalam posisi duduk, menghadap kiblat, membaca basmalah, lalu meniatkan dalam hati hal-hal besar—seperti kesembuhan dari penyakit kronis, kelapangan rezeki yang berkah, hingga kecerdasan berpikir—sebelum meneguknya hingga kenyang.
9. Mengambil Sesi I'tikaf Tenang Menanti Pergantian Waktu Shalat
Banyak jemaah yang memiliki kebiasaan langsung terburu-buru kembali ke hotel yang jauh begitu shalat fardhu selesai ditegakkan, yang justru menguras tenaga akibat berjalan kaki bolak-balik. Pilihan yang jauh lebih cerdas dan berpahala raksasa adalah tetap berdiam diri (i'tikaf) di dalam ruang masjid. Menanti masuknya waktu shalat berikutnya sembari duduk santai merupakan salah satu amalan rahasia para kekasih Allah.
I'tikaf di Masjidil Haram mengalirkan pahala yang berlipat ganda karena kemuliaan tempatnya. Rasulullah SAW bersabda bahwa orang yang duduk di masjid dalam keadaan suci untuk menanti shalat, maka ia dihitung senantiasa berada dalam keadaan shalat dan para malaikat tiada henti memohonkan ampunan untuknya dengan doa: "Ya Allah, ampunilah dia, ya Allah rahmatilah dia."
10. Mengamalkan Jihad Hati dengan Meninggalkan Jidal (Perdebatan)
Di tengah kondisi Mekah yang padat, cuaca ekstrem, dan karakter jemaah lintas negara yang berbeda-beda, gesekan kecil sangat mudah terjadi. Amalan rahasia kali ini berbentuk "amalan pasif", yaitu kemampuan menahan ego, lisan, dan emosi agar tidak mengeluh ataupun berdebat kusir (jidal). Menahan amarah saat hak kita tersenggol atau kaki terinjak adalah investasi terbesar demi menjaga kesucian ibadah.
Firman Allah SWT dalam QS Al-Baqarah ayat 197: "...Maka barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berdebat di dalam masa mengerjakan haji." Ulama menegaskan bahwa keberhasilan meraih predikat mabrur sering kali bukan ditentukan oleh seberapa banyak thawaf fisik yang dilakukan, melainkan seberapa tangguh jemaah menahan hatinya dari riak-riak perdebatan selama berada di Tanah Haram.
11. Pahala Haji Sempurna Lewat Duduk setelah Subuh hingga Isyraq
Bagi jemaah yang ingin mendapatkan pahala senilai ibadah haji dan umrah secara instan tanpa perlu mengeluarkan energi fisik yang besar, amalan di waktu fajar ini adalah rahasianya. Setelah menunaikan shalat Subuh berjamaah, jemaah dianjurkan untuk tidak langsung tidur atau pulang ke penginapan, melainkan bertahan di posisinya masing-masing di dalam masjid.
Hadis riwayat Imam At-Tirmidzi dari Anas bin Malik RA, di mana Rasulullah SAW bersabda: "Barangsiapa yang shalat Shubuh berjamaah, kemudian dia duduk berdzikir kepada Allah hingga matahari terbit, lalu melaksanakan shalat dua rakaat (Isyraq/Dhuha di awal waktu), maka dia mendapatkan pahala seperti pahala haji dan umrah; sempurna, sempurna, sempurna." Amalan ini sepenuhnya berbasis ketenangan duduk dan zikir lisan.
12. Mendoakan Saudara Seiman Secara Rahasia (Doa bil Ghaib)
Saat Anda sedang beristirahat di pelataran Masjidil Haram dan memandang jutaan jemaah dari berbagai penjuru dunia, aktifkanlah amalan batin yang sangat indah ini. Pandangilah wajah-wajah jemaah di sekitar Anda, lalu panjatkan doa kebaikan untuk mereka di dalam hati secara tulus, tanpa perlu orang yang bersangkutan mengetahuinya.
Amalan persaudaraan universal ini memiliki dalil yang sangat kuat dalam hadis riwayat Muslim. Rasulullah SAW menegaskan bahwa doa seorang muslim untuk saudaranya secara sembunyi-sembunyi (dzahrib ghaib) adalah doa yang mustajab. Di dekat kepala orang yang berdoa tersebut, ada malaikat yang diutus khusus untuk mengaminkan doanya dengan berkata: "Aamiin, dan bagi dirimu pun akan mendapatkan kebaikan yang serupa."
13. Mengusap Rukun Yamani Tanpa Mengecupnya
Ka'bah memiliki beberapa sudut, namun hanya dua sudut yang memiliki keutamaan fisik untuk disentuh, yaitu Hajar Aswad dan Rukun Yamani. Berbeda dengan Hajar Aswad yang disunnahkan untuk dicium, Rukun Yamani memiliki rahasia tata cara tersendiri yang sangat ringan: cukup diusap dengan telapak tangan kanan apabila lintasan thawaf jemaah kebetulan berada dekat dengan sudut tersebut.
Meluruskan kekeliruan sebagian jemaah yang mencoba mencium atau mengusap wajah mereka setelah menyentuh Rukun Yamani. Dalil dari Ibnu Umar RA menyebutkan bahwa Rasulullah SAW hanya mengusap sudut tersebut dengan tangan beliau tanpa mengecupnya.
Tindakan mengusap secara proporsional ini bernilai pengguruan dosa, sebagaimana sabda Nabi: "Sesungguhnya mengusap Hajar Aswad dan Rukun Yamani dapat menghapuskan dosa-dosa manusia" (HR. Ahmad).
14. Dzikir Sirr (Dalam Hati) Saat Fisik Melemah
Ada kalanya kondisi kesehatan jemaah menurun akibat kelelahan atau paparan cuaca panas Mekah yang ekstrem, sehingga suara menjadi serak dan tubuh lunglai di atas ranjang hotel. Dalam kondisi darurat fisik seperti ini, pintu ibadah tidak boleh tertutup. Jemaah dapat menghidupkan dzikir sirr, yaitu sebuah zikir rahasia yang berdenyut di dalam relung qalbu tanpa perlu menggerakkan bibir atau mengeluarkan suara.
Jemaah dianjurkan untuk selalu mengingat Allah dalam segala kondisi, merujuk pada firman Allah dalam QS Al-A'raf ayat 205: "Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak melafalkan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai." Dzikir batin ini mengalirkan ketenangan dan menjaga kedekatan konstan dengan Sang Pencipta tanpa membebani paru-paru maupun otot tubuh.
15. Sedekah Kebersihan: Memungut Sampah Kecil
Sedekah tidak selamanya harus berupa materi atau uang riyal yang banyak. Di lingkungan Masjidil Haram, jemaah dapat melakukan sedekah rahasia yang sangat disenangi oleh Allah, yaitu sedekah kebersihan. Amalan ini hanya memerlukan sedikit gerakan membungkuk untuk memungut selembar tisu bekas, helai plastik kecil, atau botol kosong yang tercecer di jalur thawaf atau shalat, lalu membuangnya ke tempat sampah.
Amalan sosial yang ringan ini berakar pada hadis sahih riwayat Muslim mengenai cabang-cabang keimanan, di mana Rasulullah SAW menyebutkan bahwa salah satu cabang iman yang paling ringan namun nyata adalah menyingkirkan gangguan dari jalanan (imathatun adza 'anith thariq). Memastikan rumah Allah tetap suci dan bersih dari kotoran merupakan cerminan dari ketakwaan hati yang mendalam, sekaligus bentuk pembersihan diri dari sifat sombong.
16. Menebar Senyuman dan Salam
Amalan yang sangat mudah namun berdampak masif bagi keharmonisan umat adalah menjaga kehangatan akhlak melalui senyuman dan ucapan salam. Bertemu dengan jutaan muslim dari latar belakang budaya, warna kulit, dan bahasa yang berbeda di Mekah adalah momentum emas untuk mempraktikkan perdamaian Islam yang sesungguhnya.
Menyunggingkan senyum tulus saat bertatapan mata dengan jemaah lain dan mengucapkan "Assalamu'alaikum" merupakan sedekah lisan yang paling praktis. Rasulullah SAW bersabda: "Senyummu di depan saudaramu adalah sedekah" (HR. Tirmidzi). Ditambah dengan hadis lain yang menyatakan, "Kamu tidak akan masuk surga hingga kamu beriman, dan kamu tidak beriman hingga kamu saling mencintai. Maukah aku tunjukkan sesuatu yang jika kamu lakukan kalian akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian" (HR. Muslim).
Selain 16 amalan di atas, tentu masih banyak amalan 'rahasia' lain yang bisa dilakukan demi meraih ridha Allah SWT. Wallahu a'lam.
Pertanyaan Umum Seputar Topik
Doa paling mustajab saat umroh dimana?
Titik-Titik Paling Mustajab di Tanah Suci
Multazam: Area di antara Hajar Aswad dan pintu Ka'bah. Ini adalah tempat paling utama untuk menempelkan dada dan tangan sambil menangis memohon ampunan.
Uang saku umroh sebaiknya berapa?
Secara umum, uang saku ideal saat umroh berkisar SAR 300–700 (sekitar 1,2–3 jutaan rupiah), tergantung: Durasi tinggal.
Apa yang harus dilakukan ketika berada di Masjidil Haram?
7 Adab Mulia Saat Beribadah di Masjidil Haram dan Masjid NabawiMeluruskan Niat Sebelum Memasuki Masjid. ...Masuk Masjid dengan Tenang dan Tawadhu' ...Menghormati Jamaah Lain, Terutama Jamaah Lansia. ...Menjaga Ketenangan Suara. ...Memperbanyak Dzikir, Doa, dan Tilawah. ...7. Menghormati Kesucian Masjid dan Menjaga Kebersihan.

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5163744/original/091320600_1742047214-pexels-rdne-7249191.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5415968/original/014523800_1763436951-Ceramah_Singkat.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4003818/original/024116500_1650675950-AP22112514136072.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4482819/original/082028900_1687846264-Kekhusyukan_jemaah_haji_panjatkan_doa_di_Jabal_Rahmah-AP__8_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4861241/original/046142300_1718179339-raka-dwi-wicaksana-Jbk_Tce8Z1U-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3081754/original/022995900_1584692954-20200320-Suasana-Salat-Jumat-di--Masjid-Agung-Al-Azhar-Jakarta-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4725886/original/008571900_1706156981-madrosah-sunnah-XvJYidRmpUE-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5215229/original/033266000_1746799361-4ff83da7-1538-4742-9157-6cfce7cd7661.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5411947/original/069430700_1763026620-Kultum_Islami.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5848003/original/026754500_1778749472-5.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3283638/original/035360600_1604212714-20201101-Hari-Ini_-Jemaah-Umrah-Indonesia-Bertolak-ke-Mekah-4.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5507757/original/Rinnai_RI-301S_dan_RI-511C_karena_Teknologi_Pembakaran_Efisien_Rinnai_menjadi_salah_satu_merek_yang_konsisten_masuk_daftar_rekomendasi_2026._Model_RI-301S_dan_RI-511C_dikenal_memiliki_burner_berku.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6204862/original/088637800_1779083702-94b8bfbd-ccdc-4a6b-97b7-a164a1ba9236.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3187902/original/089581000_1595477323-eid-al-fitr-concept-with-people-eating-table_23-2147799467.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5525602/original/003097400_1773046669-unnamed__54_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6196071/original/033486800_1779075609-Gemini_Generated_Image_qgai7cqgai7cqgai.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4632662/original/081356900_1698897425-beris-creatives-ceNCWYqL8DY-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/4965916/original/088874300_1728606330-71e10bc4-3bdd-481d-8e06-a8d1c390de31.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5411944/original/046159000_1763026619-Kultum_dan_Ceramah.jpg)










:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4174191/original/099991100_1664358430-bacaan-doa-setelah-adzan-beserta-arti-dan-keutamaannya.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5385863/original/035777200_1760946460-KIP_Kuliah.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5502852/original/043074800_1771048777-4.jpg)
















