Pengertian Hari Tasyrik dan Larangan Puasanya dalam Islam, Dalil dan Penjelasan Ulama

1 day ago 9

Liputan6.com, Jakarta - Dalam tradisi Islam, terdapat sejumlah momen spesial di bulan Dzulhijah. Di antaranya adalah hari Taysrik, di mana umat Islam dilarang berpuasa. Maka itu, umat Islam perlu memahami pengertian Hari Tasyrik dan larangan puasanya dalam Islam.

Merujuk buku Buku Asal Usul Hari Tasyrik, karya Ustadz Aris Munandar, hari Tasyrik adalah rangkaian hari istimewa setelah Idul Adha, yaitu  tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah. Nama Tasyrik sendiri secara etimologis berasal dari bahasa Arab, syarraqa, yang berarti menjemur atau menghadap ke arah sinar matahari.

Penamaan ini merujuk pada praktik di masa silam, ketika umat Islam sibuk menjemur daging kurban di bawah terik matahari untuk dijadikan dendeng sebagai cara pengawetan alami. Meskipun praktik tersebut kini jarang dilakukan, ketiga tanggal tersebut tetap diabadikan sebagai hari Tasyrik sebagai penanda sejarah dan identitas syariat.

Berikut ini adalah penjelasan lengkap mengenai pengertian Hari Tasyrik dan larangan puasanya dalam Islam, lengkap dalil dan penjelasan ulama.

Pengertian Hari Tasyrik dan Dalilnya

Hari Tasyrik adalah tiga hari setelah Idul Adha, yakni tanggal 11, 12, dan 13 bulan Dzulhijjah. Istilah Tasyrik merupakan bentuk masdar (kata dasar) dari fi’il madhi syarraqa, yang artinya "menjemur" atau "menghadapkan sesuatu ke arah sinar matahari".

Penamaan ini didasarkan pada aktivitas masyarakat Arab tempo dulu yang pada hari-hari tersebut sibuk mengawetkan daging kurban dengan cara menjemurnya di bawah sinar matahari untuk dijadikan dendeng.

Allah SWT berfirman:  “Dan berdzikirlah kepada Allah pada hari yang telah ditentukan jumlahnya…” (QS. Al-Baqarah: 203).

Menurut mayoritas ulama, termasuk sahabat Ibnu ‘Umar RA, yang dimaksud dengan “hari-hari yang ditentukan” dalam ayat tersebut adalah hari-hari Tasyrik (11, 12, 13 Dzulhijjah). Sementara itu, Ibnu ‘Abbas RA dan ‘Atha’ RA berpendapat bahwa redaksi tersebut mencakup sepuluh hari pertama Dzulhijjah sekaligus hari-hari Tasyrik.

Hari Tasyrik bukanlah sekadar rangkaian tanggal dalam kalender Hijriyah, melainkan warisan spiritual yang kaya makna: pengingat akan kesederhanaan hidup para pendahulu, penanda identitas umat Islam yang penuh syukur, serta momentum berharga untuk melipatgandakan amal kebaikan.

Hari Taysrik sebagai Hari Makan-Minum

Rasulullah menjelaskan, hari Tasyrik adalah hari makan dan minum. 10 Dzulhijjah (hari Nahr/Idul Adha), dan hari-hari Tasyrik (11, 12, 13 Dzulhijjah) merupakan hari raya bagi kaum Muslimin.

Pada hari-hari tersebut, syariat menganjurkan kaum Muslimin untuk menampakkan nikmat Allah dengan makan, minum, berdzikir, dan bersyukur kepada-Nya.

Hari-hari Tasyrik disebut sebagai hari makan dan minum karena pada masa lalu kaum Muslimin menikmati daging kurban serta memperbanyak dzikir kepada Allah SWT. Oleh sebab itu, puasa pada hari Tasyrik diharamkan bagi mayoritas umat Islam, kecuali bagi jamaah haji tertentu yang tidak mendapatkan hewan hadyu.

Rasulullah SAW bersabda: "Hari-hari Tasyrik adalah hari makan, minum, dan berdzikir kepada Allah Ta’ala.” (HR. Muslim).

Dalam riwayat lain, beliau juga bersabda: “Sesungguhnya hari Arafah, hari Nahr (Idul Adha), dan hari-hari Tasyrik adalah hari raya kita, umat Islam. Ia adalah hari-hari untuk makan dan minum.” (HR. An-Nasa’i, no. 2954).

Larangan Puasa di Hari Tasyrik: Dalil dan Hukum

Para ulama dari seluruh mazhab sepakat bahwa puasa pada hari Tasyrik hukumnya haram dan tidak sah. Dalam kitab al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu, Dr. Wahbah az-Zuhaili menyatakan:

“Hukum puasa pada hari raya Idul Fitri, Idul Adha, dan hari-hari Tasyrik setelahnya: makruh tahrim menurut Hanafiyah, sedangkan menurut mazhab lainnya adalah haram dan tidak sah, baik puasa fardu maupun sunnah. Barang siapa yang sengaja berpuasa, ia berdosa dan puasanya tidak menggugurkan kewajiban (jika ia mengqadha puasa fardu).”

Senada dengan itu, Imam Asy-Syafi’i dalam qaul jadid-nya juga mempertegas larangan puasa di hari Tasyrik.

Dalil utama larangan ini adalah sabda Rasulullah SAW: “Nabi ﷺ melarang berpuasa pada hari raya Idul Fitri dan Idul Adha.” (HR. Bukhari & Muslim)

Sementara untuk tiga hari setelahnya, Rasulullah SAW bersabda: “Janganlah kalian berpuasa pada hari-hari ini (hari Tasyrik), karena ia adalah hari makan dan minum.” (HR. Ahmad)

Dalam riwayat lain, ‘Amr bin ‘Ash RA juga menyampaikan: “Maka hari-hari inilah yang Rasulullah ﷺ memerintahkan kami untuk berbuka (makan) dan melarang kami untuk berpuasa.” (HR. Abu Dawud).

Pandangan Ulama tentang Larangan Puasa di Hari Tasyrik

Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadis-hadis tentang hari Tasyrik menunjukkan larangan puasa pada hari-hari tersebut karena ia termasuk hari raya kaum Muslimin.

Beliau menerangkan dalam kitab Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab dan juga dalam Syarh Shahih Muslim bahwa, hari-hari Tasyrik adalah hari untuk makan, minum, dan dzikir kepada Allah. Hikmahnya adalah agar kaum Muslimin menampakkan kebahagiaan atas nikmat Allah, terutama nikmat ibadah haji dan kurban.

Ibnu Rajab Al-Hanbali menjelaskan dalam kitab Lathaif al-Ma’arif bahwa hari Tasyrik merupakan penyempurna hari raya Idul Adha. Karena itu, hari-hari tersebut diisi dengan makan dan minum, memperbanyak takbir, dzikir kepada Allah, serta menikmati rezeki dari hewan kurban.

Beliau juga menyebutkan bahwa larangan puasa pada hari Tasyrik menunjukkan Islam bukan agama yang hanya berisi kesulitan dan menahan diri, tetapi juga mengajarkan menikmati nikmat Allah dalam waktu-waktu yang disyariatkan.

Hikmah di Balik Larangan Berpuasa di Hari Tasyrik

Larangan berpuasa pada hari Tasyrik sarat dengan hikmah yang agung, antara lain:

  1. Merayakan Kebahagiaan Hari Raya – Hari Tasyrik merupakan perpanjangan dari hari raya Idul Adha. Umat Islam diperintahkan untuk menampakkan kegembiraan dan syukur kepada Allah atas nikmat yang diberikan.
  2. Menikmati Hidangan Kurban – Pada hari-hari ini, umat Islam yang berkurban dianjurkan untuk memakan daging kurbannya. Puasa akan menghalangi kesempatan untuk menikmati hidangan yang penuh berkah tersebut.
  3. Memperbanyak Dzikir dan Syukur – Hari Tasyrik adalah momen khusus untuk memperbanyak zikir, takbir, tahlil, dan tahmid sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah.
  4. Keseimbangan Ibadah – Larangan ini mengajarkan bahwa Islam tidak hanya tentang pengendalian diri melalui puasa, tetapi juga tentang keseimbangan dalam menikmati nikmat Allah secara wajar dan penuh syukur.
  5. Wujud Kasih Sayang Allah – Memberi kesempatan kepada umat-Nya untuk “pause” sejenak dari rutinitas puasa dan menikmati hidangan yang melimpah sebagai bentuk rahmat dan kasih sayang-Nya.

Amalan Berpahala Besar di Hari Tasyrik

Meskipun dilarang berpuasa, Hari Tasyrik adalah ladang pahala yang terbuka lebar. Berikut amalan yang sangat dianjurkan:

1. Memperbanyak Takbir (Takbir Muqayyad & Mutlak)

Takbir disyariatkan sejak terbenamnya matahari pada malam Idul Adha hingga akhir hari Tasyrik (13 Dzulhijjah). Imam Bukhari meriwayatkan bahwa Ibnu ‘Umar dan Abu Hurairah keluar ke pasar pada hari-hari tersebut sambil bertakbir, dan orang-orang pun mengikuti mereka.

2. Memperbanyak Tahlil, Tahmid, dan Takbir

Dalam riwayat tambahan dari Ibnu ‘Umar RA, Rasulullah SAW bersabda: “Perbanyaklah tahlil, tahmid, dan takbir pada hari-hari Tasyrik.”

3. Melanjutkan Penyembelihan Hewan Kurban

Waktu penyembelihan kurban berlangsung hingga akhir hari Tasyrik (13 Dzulhijjah), menurut mayoritas ulama. Setiap muslim yang mampu dianjurkan untuk berkurban sebagai bentuk ketakwaan.

4. Memperbanyak Dzikir Mutlak (Tanpa Batasan Waktu)

‘Umar bin Khaththab RA pernah bertakbir di kemahnya di Mina hingga seluruh Mina dipenuhi oleh gemuruh takbir. Ini menunjukkan bahwa dzikir secara mutlak di hari Tasyrik sangat dianjurkan.

5. Menikmati Makanan dari Daging Kurban dan Bersedekah

Dianjurkan untuk memakan sebagian daging kurban, menyedekahkannya, dan memberikannya kepada fakir miskin sebagai wujud syukur dan kepedulian sosial.

6. Silaturahmi dan Mempererat Ukhuwah

Hari raya adalah momentum untuk saling mengunjungi, berbagi kebahagiaan, dan mempererat tali persaudaraan antarsesama muslim.

Pertanyaan Seputar Hari Tasyrik

Apa yang dimaksud hari tasyrik dalam Islam?

Hari Tasyrik adalah tiga hari setelah hari raya Idul Adha, yaitu tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah dalam penanggalan Hijriah. Hari-hari ini merupakan waktu istimewa yang diharamkan untuk berpuasa, dan ditujukan sebagai hari untuk makan, minum, berzikir, serta melempar jumrah bagi jemaah haji.

Bagaimana hukum melaksanakan puasa di hari tasyrik 11 12 13 Dzulhijjah?

Haram Puasa di Hari Tasyrik

Islam melarang berpuasa pada: ✔ 10 Dzulhijjah (Hari Raya Idul Adha) ✔ 11, 12, dan 13 Dzulhijjah (Hari Tasyrik) Karena hari-hari tersebut adalah hari makan, minum, dan berdzikir kepada Allah.

Apa saja yang dilarang di hari tasyrik?

Hari Tasyrik (11, 12, dan 13 Dzulhijjah) merupakan hari yang dilarang keras untuk berpuasa, baik puasa wajib maupun sunah. Sebaliknya, pada hari tersebut umat Islam sangat dianjurkan untuk memperbanyak makan, minum, dan berzikir kepada Allah SWT.

Kenapa hari tasyrik dilarang berpuasa?

Hari Tasyrik (11, 12, dan 13 Zulhijah) dilarang berpuasa karena hari-hari tersebut ditetapkan sebagai waktu bagi umat Islam untuk bersukacita merayakan Idul Adha. Berdasarkan sabda Rasulullah SAW, hari-hari ini adalah waktu untuk menikmati hidangan makan, minum, dan memperbanyak zikir kepada Allah SWT.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |