7 Contoh Kultum Menyentuh tentang Dunia yang Hanya Sementara

14 hours ago 9

Liputan6.com, Jakarta - Mencari inspirasi dakwah yang menggugah hati soal dunia yang fana yang relevan dengan konteks modern kerap menjadi PR bagi penceramah. Referensi contoh kultum menyentuh tentang dunia yang hanya sementara bisa menjadi salah satu opsi.

Tema ini relevan mengingat saat ini ada kecenderungan mengarah ke hubud dunya, di mana seolah dunia adalah segala-galanya. Padahal, kehidupan fana ini memperdaya manusia. Untuk itu, nasihat spiritual menjadi pengingat yang sangat penting.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an surah Al-Hadid ayat 20: "Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu." Ini adalah peringatan tegas agar umat manusia tidak terbuai gemerlap materi.

Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin mengibaratkan dunia hanyalah seperti bayangan. al-Ghazali mengingatkan kita untuk menjadikan dunia sekadar ladang amal, bukan tujuan akhir yang pada akhirnya justru membutakan batin.

Merangkum berbagai sumber, berikut ini adalah 7 contoh kultum menyentuh tentang dunia yang hanya sementara, yang dapat menjadi referensi.

Kultum 1: Dunia Sebagai Tempat Persinggahan

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Alhamdulillahirabbil 'alamin, washalatu wasalamu 'ala asyrofil anbiyaa-i wal mursalin, wa'ala alihi wa ashabihi ajma'in. Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah SWT atas segala nikmat-Nya yang tak terhingga. Shalawat serta salam senantiasa tercurah kepada teladan kita, Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga, sahabat, dan umatnya yang istiqamah hingga akhir zaman.

Jamaah yang dirahmati Allah, seringkali kita terjebak dalam rutinitas kehidupan sehari-hari hingga melupakan hakikat keberadaan kita di bumi ini. Kita berlomba-lomba mengejar harta, mengejar jabatan tinggi, dan mencari pengakuan seolah-olah kita akan hidup selamanya. Padahal, semua gemerlap dan keindahan yang kita lihat saat ini hanyalah fatamorgana yang akan segera sirna ditelan waktu.

Ketahuilah bahwa dunia ini ibarat sebuah tempat persinggahan sementara bagi seorang musafir yang sedang menempuh perjalanan sangat panjang. Kita hanya mampir sejenak untuk berteduh dan mengumpulkan bekal sebelum melanjutkan perjalanan menuju tujuan akhir yang sesungguhnya. Sangatlah tidak masuk akal jika seorang musafir menghabiskan seluruh uangnya untuk membangun istana di tempat persinggahan sementara ia melupakan rumah aslinya.

Allah SWT telah mengingatkan kita tentang hakikat kehidupan dunia ini dalam firman-Nya di Surah Al-'Ankabut ayat 64:

وَمَا هَٰذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَهْوٌ وَلَعِبٌ ۚ وَإِنَّ الدَّارَ الْآخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُ ۚ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ

Artinya: "Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui."

Penjelasan dari ayat tersebut sangatlah tegas bagi hati yang mau merenung. Allah menyifati dunia sekadar sebagai senda gurau dan permainan, yakni sesuatu yang terlihat menyenangkan namun durasinya sangat singkat dan pasti berakhir. SebalIKNya, kehidupan akhirat disebut sebagai "Al-Hayawan" atau kehidupan yang sebenar-benarnya, karena di sanalah letak keabadian abadi tanpa ada lagi batas waktu atau kematian setelahnya.

Oleh karena itu, janganlah kita biarkan hati kita tertawan oleh pesona dunia yang fana ini. Bekerjalah untuk urusan duniawi secara wajar sebagai bentuk tanggung jawab, namun beribadahlah untuk akhirat seakan ajal akan menjemput kita esok hari. Jadikanlah setiap hembusan napas, setiap tetes keringat, dan setiap rupiah yang kita miliki sebagai ladang amal dan bekal di hari kemudian.

Mari kita renungkan kembali tujuan utama hidup kita dan mulai membenahi niat serta amalan ibadah kita sehari-hari. Jangan sampai kita menjadi orang-orang yang merugi, yang baru menyadari arti kehidupan ketika tenggorokan sudah tersumbat oleh ajal dan pintu taubat telah tertutup rapat. Waktu terus berjalan, umur terus berkurang, dan kematian tidak pernah menunggu kita siap.

Ya Allah, Tuhan Yang Maha Pengasih, janganlah Engkau jadikan dunia ini sebagai cita-cita terbesar kami dan tujuan akhir dari pencarian kami. Tunjukkanlah kepada kami jalan yang lurus, karuniakanlah kami akhir hayat yang husnul khotimah, dan kumpulkanlah kami kelak bersama orang-orang yang Engkau ridhai di surga-Mu. Amin ya Rabbal 'alamin.

Demikianlah sedikit nasihat yang dapat saya sampaikan pada kesempatan mulia ini, semoga bisa menjadi pengingat bagi diri saya pribadi dan jamaah sekalian. Mohon maaf atas segala tutur kata yang kurang berkenan di hati.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. 

Kultum 2: Kesenangan yang Menipu

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Segala puji bagi Allah SWT, Tuhan semesta alam yang telah memberikan kita nikmat iman, Islam, dan kesehatan. Shalawat dan salam semoga selalu terlimpahkan kepada junjungan kita, Nabi Agung Muhammad SAW, yang telah membawa kita dari zaman kegelapan menuju cahaya Islam yang terang benderang.

Hadirin yang dimuliakan Allah, pada kesempatan ini mari kita merenung sejenak tentang apa yang sedang kita kejar setiap hari dari pagi hingga larut malam. Banyak dari kita yang merasa tenang ketika tabungan bertambah, rumah semakin megah, dan kendaraan semakin mewah. Kita sering tertipu oleh perasaan aman yang diciptakan oleh harta benda, padahal tidak ada satupun dari benda tersebut yang bisa menahan datangnya maut.

Kesenangan dunia sering kali membutakan mata batin manusia, membuatnya merasa bahwa kesuksesan sejati diukur dari seberapa banyak materi yang dikumpulkan. Kita lupa bahwa kain kafan tidak memiliki saku untuk menyimpan uang dan kuburan tidak membutuhkan sertifikat tanah. Pada akhirnya, kita akan meninggalkan dunia ini sendirian, hanya berbekal amalan yang telah kita kerjakan.

Hal ini secara jelas disampaikan oleh Allah SWT dalam Surah Ali 'Imran ayat 185:

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۖ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

Artinya: "Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan."

Penjelasan dari ayat ini adalah pengingat keras bahwa kematian adalah sebuah kepastian mutlak yang akan dialami oleh setiap makhluk bernyawa tanpa terkecuali. Ayat ini juga mendefinisikan standar kesuksesan yang sesungguhnya; bukan kekayaan, melainkan ketika seseorang diselamatkan dari api neraka dan dimasukkan ke dalam surga. Di ujung ayat, Allah dengan tegas melabeli dunia sebagai "mata'ul ghurur", yaitu perhiasan yang sangat menipu dan memperdaya jika tidak dikelola dengan iman.

 Maka, sudah saatnya kita bangun dari mimpi indah kehidupan duniawi ini sebelum maut membangunkan kita secara paksa. Jangan sampai pangkat, harta, dan keluarga membuat kita lalai dari mengingat Allah dan menunda-nunda kewajiban shalat, zakat, atau sedekah. Gunakanlah titipan kesenangan dunia itu untuk membantu sesama dan mendekatkan diri kepada Sang Pemberi Nikmat.

 Mari kita tata kembali hati kita, agar dunia ini cukup berada di genggaman tangan saja, tidak sampai masuk ke dalam relung hati. Jika dunia ada di tangan, kita akan mudah melepaskannya untuk bersedekah, namun jika sudah masuk ke hati, kita akan menjadi hamba dunia yang kikir dan rakus. Persiapkanlah diri kita sebaik mungkin untuk menghadapi pengadilan yang seadil-adilnya di hari kiamat kelak.

Ya Allah Yang Maha Mengetahui, lindungilah kami dari tipu daya dunia yang melalaikan dan hawa nafsu yang menyesatkan. Jadikanlah hati kami selalu terpaut pada akhirat, mudahkanlah kami dalam beramal saleh, dan ampunilah segala dosa yang telah kami perbuat, baik sengaja maupun tidak sengaja. Amin ya Rabbal 'alamin.

Terima kasih atas perhatian jamaah sekalian, semoga untaian kata yang sederhana ini mampu mengetuk pintu hati kita semua untuk menjadi hamba yang lebih baik. Kesempurnaan hanyalah milik Allah dan kesalahan datangnya dari kelemahan saya sendiri.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Kultum 3: Perbandingan Dunia dan Akhirat

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Alhamdulillah, puji syukur senantiasa kita panjatkan ke hadirat Ilahi Rabbi yang telah mengaruniakan kita kesempatan untuk berkumpul di majelis ilmu yang insya Allah penuh berkah ini. Tak lupa, mari kita kirimkan shalawat dan salam kepada rahmatan lil 'alamin, Nabi Muhammad SAW, keluarganya, para sahabat, serta umatnya yang setia di jalan sunnah.

Saudara-saudaraku seiman, jika kita memegang segelas air dan membandingkannya dengan luasnya samudera, maka seperti itulah kira-kira perbandingan antara dunia dan akhirat. Sayangnya, banyak manusia yang rela menukar samudera keabadian di akhirat hanya demi mendapatkan setetes air kenikmatan di dunia. Mereka rela mengorbankan kejujuran, memakan harta yang haram, dan meninggalkan ibadah demi mengejar status sosial.

Sering kali kita merasa waktu berputar begitu cepat, hari berganti minggu, bulan berganti tahun, menyadarkan kita betapa singkatnya masa hidup di bumi. Usia manusia rata-rata hanyalah 60 hingga 70 tahun, waktu yang sangat sebentar jika dibandingkan dengan kehidupan akhirat yang tak memiliki ujung. Sungguh tidak sebanding rasanya bersusah payah berbuat dosa demi kenikmatan puluhan tahun yang akan dibayar dengan siksaan ribuan tahun.

Allah SWT menegur sikap manusia yang salah dalam memilih prioritas melalui Surah Al-A'la ayat 16-17:

بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا . وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ

Artinya: "Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal."

Penjelasan dari ayat yang sering kita dengar ini merupakan tamparan halus namun menyakitkan bagi jiwa yang sering lupa. Allah mengungkapkan kecenderungan buruk hati manusia yang seringkali lebih memprioritaskan, memilih, dan mencintai kehidupan dunia yang sifatnya fana ini di atas segalanya. Padahal, Allah memberikan fakta yang tak terbantahkan bahwa akhirat itu memiliki dua keunggulan mutlak: kualitasnya jauh lebih baik (khair) dan durasinya jauh lebih abadi (abqa).

Sebagai hamba yang beriman, mari kita jadikan ayat tersebut sebagai kompas dalam mengambil setiap keputusan di kehidupan kita. Ketika dihadapkan pada pilihan antara keuntungan duniawi yang melanggar syariat atau kerugian duniawi namun diridhai Allah, pilihlah yang diridhai Allah. Sadarilah bahwa segala kesulitan dan pengorbanan kita dalam menahan hawa nafsu saat ini akan terbayar lunas dengan surga yang penuh kedamaian.

Mulailah membiasakan diri untuk berinvestasi pada hal-hal yang dibawa mati, seperti ilmu yang bermanfaat, amal jariyah, dan mendidik anak-anak yang saleh. Jangan biarkan sisa usia kita berlalu tanpa ada peningkaran kualitas keimanan. Ingatlah, orang yang paling cerdas adalah orang yang paling banyak mengingat kematian dan paling baik persiapannya menghadapinya.

Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami cahaya iman yang tak pernah padam dan hati yang selalu rindu untuk bertemu dengan-Mu. Berikanlah kami kekuatan untuk meninggalkan segala hal yang Engkau murkai, dan jadikanlah akhirat sebagai tempat kembali terindah bagi kami dan keluarga kami. Amin ya Rabbal 'alamin.

Semoga apa yang kita renungkan bersama hari ini dapat menjadi amal kebaikan dan mempertebal keimanan kita semua. Saya memohon maaf apabila terdapat kata-kata yang menyinggung atau kurang tepat dalam penyampaian.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Kultum 4: Dunia Sebagai Ladang Amal

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Segala puji bagi Allah SWT yang senantiasa menaburkan rahmat dan kasih sayang-Nya kepada kita semua tanpa henti. Shalawat serta salam teriring doa semoga selalu tersampaikan kepada panutan kita, Nabi Muhammad SAW, manusia pilihan yang akhlaknya adalah Al-Qur'an, beserta para pengikutnya hingga yaumil akhir.

Hadirin wal hadirat yang dirahmati Allah, menyadari bahwa dunia ini sementara bukanlah alasan bagi kita untuk menjadi pesimis, malas bekerja, atau meninggalkan kehidupan sosial. Pandangan Islam terhadap dunia sangatlah seimbang; dunia bukanlah tujuan, tetapi ia adalah sarana dan jembatan emas menuju kebahagiaan abadi. Dunia adalah tempat kita menanam, agar kelak di akhirat kita bisa memanen buahnya dengan penuh suka cita.

Kehidupan yang singkat ini adalah peluang besar yang diberikan Allah kepada kita untuk mengumpulkan sebanyak-banyaknya amal saleh. Setiap profesi, baik itu sebagai pedagang, guru, dokter, hingga ibu rumah tangga, memiliki potensi untuk bernilai pahala ibadah jika diniatkan karena Allah. Masalahnya bukan pada apa yang kita miliki di dunia, melainkan bagaimana cara kita menggunakan apa yang kita miliki tersebut.

Prinsip keseimbangan ini telah diajarkan oleh Allah melalui firman-Nya dalam Surah Al-Qasas ayat 77:

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا

Artinya: "Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi..."

Penjelasan dari ayat mulia ini adalah panduan hidup paripurna bagi setiap Muslim. Allah memerintahkan kita secara proaktif menggunakan segala karunia yang ada di tangan kita—harta, kekuasaan, kesehatan, dan ilmu—sebagai kendaraan untuk mencari pahala akhirat. Namun di saat yang sama, Allah tidak melarang kita untuk menikmati rezeki yang halal di dunia secara wajar; Islam tidak menyuruh umatnya hidup miskin, melainkan menyuruh umatnya untuk tidak diperbudak oleh kekayaan.

Jadikanlah jabatan dan kedudukan yang Anda miliki saat ini sebagai alat untuk menegakkan keadilan dan menolong mereka yang lemah. Jadikanlah harta kekayaan Anda sebagai sarana untuk memakmurkan masjid, menyantuni anak yatim, dan memberdayakan umat. Jika kita mampu mengubah urusan duniawi menjadi amalan ukhrawi, maka kita tidak akan pernah takut kehilangan apapun di dunia ini, karena semuanya sudah kita "transfer" ke rekening akhirat.

Mari kita bergegas mengoptimalkan sisa umur yang entah tinggal berapa hari atau bulan lagi ini. Jangan menunggu kaya untuk bersedekah, dan jangan menunggu tua untuk bertaubat. Lakukanlah kebaikan sekecil apapun setiap harinya, karena kita tidak pernah tahu kebaikan mana yang kelak akan memberatkan timbangan amal kita di yaumul hisab.

Ya Allah Yang Maha Pemberi Rezeki, jadikanlah rezeki yang Engkau berikan kepada kami sebagai jalan untuk mendekat kepada-Mu, bukan jalan yang menjauhkan kami dari mengingat-Mu. Karuniakanlah kami keberkahan dalam usia kami, sehingga setiap detIKNya bernilai ibadah yang Engkau terima di sisi-Mu. Amin ya Rabbal 'alamin.

Sampai di sini kultum singkat yang bisa saya bagikan, semoga Allah memudahkan kita dalam mengamalkan ilmu yang didapat. Kesalahan adalah murni kealpaan saya, dan kebenaran mutlak milik Allah SWT semata.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Kultum 5: Kerugian Menyia-nyiakan Waktu

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Alhamdulillah, segala puji milik Allah yang menguasai hari pembalasan, yang telah memberikan kita nikmat umur dan kesempatan untuk bernapas hingga detik ini. Mari kita haturkan shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad SAW, utusan Allah yang telah membimbing umat manusia keluar dari kebodohan menuju peradaban yang diterangi wahyu Ilahi.

Jamaah sekalian, modal paling berharga yang dimiliki oleh manusia bukanlah uang, emas, atau aset properti, melainkan waktu. Harta yang hilang masih bisa dicari, namun waktu yang berlalu sedetik saja tidak akan pernah bisa ditarik kembali walau ditukar dengan seluruh kekayaan bumi. Sayangnya, kita seringkali membuang-buang waktu untuk hal-hal yang tidak bermanfaat, seolah-olah tabungan waktu kita tidak terbatas.

Setiap matahari terbit, sejatinya ia adalah pengumuman bahwa jatah umur kita di dunia ini telah berkurang satu hari. Waktu kita di dunia ini sangatlah terbatas dan sementara, sementara perjalanan yang menanti di alam barzah hingga padang mahsyar teramatlah panjang dan melelahkan. Jika di waktu yang singkat ini kita tidak menyiapkan perbekalan, dengan apa kita akan menyelamatkan diri kelak?

Allah bersumpah demi waktu untuk memperingatkan manusia betapa krusialnya hal ini, dalam Surah Al-Asr ayat 1-3:

وَالْعَصْرِ . إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ . إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

Artinya: "Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.")

Penjelasan surah yang ringkas ini memuat peringatan yang luar biasa berat. Allah menegaskan dengan sumpah bahwa pada dasarnya seluruh manusia dipastikan akan tenggelam dalam kebangkrutan dan kerugian besar karena menyia-nyiakan waktu hidupnya yang sementara. Kerugian tersebut hanya bisa dihindari oleh empat golongan: mereka yang mengisi waktunya dengan keimanan, beramal saleh, saling menasihati dalam kebenaran agama, dan saling menasihati dalam kesabaran.

Jangan biarkan waktu muda habis begitu saja sebelum datangnya waktu tua yang lemah, dan jangan biarkan waktu sehat berlalu tanpa amal sebelum datangnya waktu sakit. Berhentilah menunda-nunda kebaikan, mengatakan "besok saja saya akan shalat, besok saja saya akan membaca Al-Qur'an", karena kata "besok" belum tentu menjadi milik kita. Gunakanlah setiap kesempatan untuk melakukan hal-hal yang bisa menyelamatkan kita dari kerugian abadi.

 Mari kita disiplinkan diri, mulai hari ini, untuk mengaudit bagaimana kita menghabiskan waktu 24 jam yang diberikan Allah setiap harinya. Kurangi waktu untuk berselancar di dunia maya tanpa tujuan yang jelas, dan perbanyaklah zikir, istighfar, serta berkumpul dengan orang-orang yang saleh. Jadikanlah setiap pergantian hari sebagai momentum introspeksi agar esok lebih baik dari hari ini.

Ya Allah Yang Maha Menggenggam Waktu, ampunilah kami yang seringkali menyia-nyiakan usia yang Engkau berikan dengan hal-hal yang sia-sia. Tuntunlah kami agar selalu memanfaatkan sisa umur kami di jalan yang Engkau ridhai, dan wafatkanlah kami dalam keadaan husnul khotimah. Amin ya Rabbal 'alamin.

Terima kasih atas segala perhatian dan waktu yang diluangkan untuk mendengarkan sedikit uraian ini. Semoga menjadi pendorong semangat ibadah kita semua; mohon maaf bila ada kata yang keliru.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Kultum 6: Bahaya Berlomba dalam Urusan Harta

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Alhamdulillah, bersyukur kita kepada Allah SWT atas kesehatan jasmani dan rohani yang memungkinkan kita beribadah kepada-Nya hari ini. Shalawat bertangkaikan salam marilah senantiasa kita sanjungkan ke haribaan Rasulullah Muhammad SAW, keluarga, sahabat, tabiin, dan seluruh umatnya yang senantiasa meneladani sunnah-sunnah beliau.

Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah, penyakit paling kronis yang sering menjangkiti hati manusia di era modern ini adalah sifat cinta dunia yang berlebihan (hubbud dunya). Kita hidup di zaman di mana kesuksesan hampir selalu diukur dengan kemewahan fisik; merk kendaraan, luas rumah, dan seberapa sering liburan ke luar negeri. Hal ini memicu budaya pamer dan bermegah-megahan yang melalaikan kita dari hakikat penciptaan manusia itu sendiri.

Sifat saling membanggakan harta ini pada akhirnya membuat hati menjadi gelisah, tidak pernah merasa cukup, dan selalu melihat ke atas dalam urusan materi. Padahal sehebat apapun kita mengumpulkan harta kekayaan, pada titik akhirnya, sepetak tanah berukuran kecil bernama kuburan akan menjadi rumah terakhir kita. Di tempat gelap dan sempit itulah segala bentuk kebanggaan duniawi tidak lagi berguna selain amal kebaikan.

Allah SWT telah melukiskan fenomena sosial yang berbahaya ini sejak belasan abad lalu dalam Surah At-Takatsur ayat 1-2:

أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ . حَتَّىٰ زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ

Artinya: "Bermegah-megahan telah melalaikan kamu. Sampai kamu masuk ke dalam kubur.")

Penjelasan dari ayat ini adalah sebuah teguran psikologis yang sangat tajam bagi umat manusia. Kata "at-takatsur" merujuk pada sikap saling berlomba mengumpulkan dan membanggakan harta, tahta, anak, maupun pengikut. Allah menyatakan bahwa sikap perlombaan duniawi tersebut benar-benar telah membuat manusia lalai dari kewajiban beribadah, dan kelalaian itu baru akan berhenti seketika saat nyawa tercabut dan mereka dijebloskan ke dalam kuburan.

Sadarilah bahwa kompetisi memperebutkan dunia adalah perlombaan yang tidak akan pernah ada garis finish-nya selama manusia masih hidup. Obat penawar dari penyakit ini adalah dengan memperbanyak rasa syukur (qana'ah) dan menumbuhkan kesadaran bahwa hidup ini hanyalah ujian yang akan segera berakhir. Jika kita ingin berlomba, berlombalah dalam urusan akhirat (fastabiqul khairat), karena perlombaan tersebut pasti berujung pada kemenangan berupa surga.

Mari kita ajarkan diri kita dan keluarga kita untuk hidup dalam kesederhanaan dan membumi, meskipun Allah menitipkan rezeki yang berlebih. Jangan biarkan hati kita menjadi budak materi yang selalu gelisah memikirkan apa yang belum dimiliki, namun melupakan apa yang sudah ada. Bahagia yang sejati letaknya ada di dalam hati yang bersyukur, bukan di dalam garasi yang penuh mobil mewah.

Ya Allah Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji, bersihkanlah hati kami dari penyakit cinta dunia, sifat sombong, dan keinginan untuk pamer di hadapan manusia. Tanamkanlah sifat qana'ah dalam jiwa kami, cukupkanlah kami dengan yang halal dari-Mu, dan jauhkanlah kami dari azab kubur yang mengerikan. Amin ya Rabbal 'alamin.

Demikianlah pesan singkat yang bisa saya sampaikan, semoga menjadi teguran yang lembut bagi hati kita agar tidak terus diperbudak urusan dunia. Mohon dibukakan pintu maaf atas segala kekurangan dalam penyampaian.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Kultum 7: Penyesalan di Akhir Hayat

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Segala puja dan puji syukur kita haturkan kepada Sang Khaliq, Allah Azza Wa Jalla, yang tak henti-hentinya menaungi kita dengan rahmat dan hidayah-Nya. Tak lupa, shalawat dan salam semoga tercurah limpahkan selalu kepada pembawa risalah kebenaran, Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga, sahabat, dan kita semua yang berharap syafaatnya di akhirat nanti.

Hadirin yang dimuliakan Allah, di antara hal yang paling menyedihkan dalam kehidupan manusia adalah sebuah rasa penyesalan ketika segalanya sudah terlambat untuk diperbaiki. Banyak orang yang menghabiskan masa hidupnya di dunia untuk memuaskan hawa nafsu, mengabaikan shalat, enggan bersedekah, dan memutus tali silaturahmi. Mereka merasa bahwa usia masih muda dan taubat bisa ditunda ke masa tua nanti.

Namun maut adalah tamu rahasia yang tidak pernah memberikan surat pemberitahuan sebelum datang mengetuk pintu nyawa kita. Ketika sakaratul maut menjemput dan tirai kegaiban mulai disingkap, barulah manusia menyadari betapa murah dan tak berharganya dunia yang selama ini mereka puja-puja. Pada saat kritis itulah, muncul rintihan penyesalan yang tak terperikan, meminta untuk dihidupkan kembali walau hanya sebentar demi bisa beramal saleh.

Rekaman penyesalan manusia di akhir hayatnya ini diabadikan dengan jelas oleh Allah dalam Surah Al-Munafiqun ayat 10:

وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَىٰ أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ

Artinya: "Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: 'Ya Tuhanku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?'"

Penjelasan dari ayat yang menggetarkan hati ini adalah gambaran nyata tentang permintaan orang yang sedang meregang nyawa. Mereka tidak meminta ditangguhkan ajalnya untuk menyelesaikan proyek bisnis, membangun rumah, atau berlibur, melainkan mereka meminta tambahan waktu sedikit saja untuk "bersedekah" dan menjadi "orang yang saleh". Ayat ini mengisyaratkan betapa besarnya pahala sedekah yang baru terlihat wujud aslinya oleh si mayit saat ia akan meninggal, sehingga ia sangat memimpikan kesempatan itu.

Sebelum penyesalan pilu itu keluar dari bibir kita sendiri, marilah kita maksimalkan setiap detik waktu sehat dan lapang yang Allah berikan saat ini. Sisihkanlah sebagian harta untuk disedekahkan di jalan Allah; bantulah fakir miskin, dukunglah pembangunan masjid, dan bahagiakanlah kedua orang tua kita. Jangan genggam dunia ini terlalu erat, karena pada saat ruh berpisah dari jasad, tangan yang menggenggam itu akan terbuka dengan sendirinya, melepaskan segala yang dimiliki.

 Jadikanlah persiapan menghadapi kematian sebagai pengingat harian yang menjaga kita dari kemaksiatan dan mendorong kita untuk terus berbuat baik. Hiduplah di dunia sebagai musafir yang cerdas, yang mengirimkan bekalnya terlebih dahulu ke tempat tujuan (akhirat), sehingga ia sangat rindu untuk menyusul bekalnya tersebut. Jangan sampai kita menjadi orang yang menumpuk bekal di tempat persinggahan dan menangis ketakutan saat harus meninggalkannya.

Ya Allah, Tuhan Yang Maha Penerima Taubat, janganlah Engkau cabut nyawa kami dalam keadaan melalaikan perintah-Mu atau sedang melakukan maksiat. Jadikanlah sebaik-baik hari kami adalah hari di mana kami bertemu dengan-Mu, dan jadikanlah sebaik-baik amal kami adalah amal penutup kehidupan kami. Amin ya Rabbal 'alamin.

Kiranya sekian kultum yang dapat saya haturkan, mudah-mudahan untaian kalimat ini membekas di hati dan menjadi amal ibadah bagi kita semua. Mohon maaf yang sebesar-besarnya jika ada tutur kata yang khilaf.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Pertanyaan Seputar Topik

Apakah kita hidup di dunia yang sementara?

Segala sesuatu di dunia ini bersifat sementara . Hidup itu sementara, dan terkadang kita melupakannya. Setiap hari adalah kesempatan untuk hidup dengan cara yang sesuai dengan jati diri kita. Momen-momen yang kita biarkan berlalu adalah momen-momen yang kita sesali dan ingin kita dapatkan kembali.

Apa arti dari "dunia ini sementara"?Kata "sementara" merujuk pada sesuatu yang tidak permanen dan pada akhirnya akan berakhir . Dalam konteks ini, kata tersebut merujuk pada segala sesuatu di dunia yang mengalami perubahan dan pada akhirnya akan berakhir.

Bagaimana perumpamaan dunia menurut surat al-Hadid 20?

(Perumpamaannya adalah) seperti hujan yang tanamannya mengagumkan para petani, lalu mengering dan kamu lihat menguning, kemudian hancur. Di akhirat ada azab yang keras serta ampunan dari Allah dan keridaan-Nya. Kehidupan dunia (bagi orang-orang yang lengah) hanyalah kesenangan yang memperdaya.

Hadits barang siapa yang menjadikan dunia sebagai tujuannya?

Disampaikan Muhhammad Irafan HR Ibnu Majah yang artinya “Barangsiapa yang (menjadikan) dunia tujuan utamanya maka Allah akan mencerai-beraikan urusannya dan menjadikan kemiskinan/tidak pernah merasa cukup (selalu ada) di hadapannya, padahal dia tidak akan mendapatkan (harta benda) duniawi melebihi dari apa yang Allah.

Apakah surga itu tempat sementara?

Surga saat ini adalah tempat tinggal sementara , tempat menunggu (tempat yang menyenangkan!) sampai kedatangan kembali Kristus dan kebangkitan tubuh kita. Surga yang kekal, Bumi Baru, adalah rumah sejati kita, tempat di mana kita akan hidup selamanya bersama Tuhan kita dan satu sama lain.

Manusia bisa hidup sampai kapan?

Para peneliti percaya, manusia setidaknya bisa hidup maksimal hingga sekitar 120-an tahun. Namun, sebuah penelitian pernah menyebutkan bahwa manusia mungkin saja hidup hingga 150 tahun. Studi yang diterbitkan dalam jurnal Nature Communications pada 2021 lalu menemukan, manusia bisa saja hidup selama 120-150 tahun.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |