Adakah Larangan Tertentu di Bulan Muharram? Simak Penjelasan Ulama

17 hours ago 7

Liputan6.com, Jakarta - Bulan Muharram menempati posisi yang amat agung dalam kalender Hijriah. Berstatus sebagai salah satu dari empat bulan suci (Asyhurul Hurum) dan menyandang gelar eksklusif Syahrullah (Bulan Allah), Muharram menjanjikan pelipatgandaan pahala bagi setiap amal kebaikan. Sebaliknya, ada pertanyaan yang kerap muncul, adakah larangan tertentu di bulan Muharram?

Secara syara', larangan utama adalah berbuat kezaliman. Hal ini ditegaskan secara langsung dalam firman Allah SWT dalam Surah At-Taubah ayat 36, yang melarang keras umat manusia daripada menzalimi diri sendiri pada bulan-bulan haram tersebut.

Said Yai dalam Buku Bulan Muharram dan Keutamaan Berpuasa di Dalamnya menukil pandangan ulama tafsir yang menegaskan bahawa dosa kemaksiatan yang dilakukan pada bulan ini akan dilipatgandakan kemurkaannya berbanding bulan lain. Oleh sebab itu, umat Islam dilarang meremehkan dosa serta wajib menjauhi segala bentuk khurafat.

Merujuk berbagai literatur, setidaknya terdapat lima larangan di bulan Muharram. Berikut ini ulasannya.

1. Larangan Berbuat Kezaliman dan Kemaksiatan

Larangan paling mendasar dan eksplisit di bulan Muharram adalah larangan untuk berbuat zalim, baik menzalimi orang lain maupun menzalimi diri sendiri dengan melakukan kemaksiatan.

"Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan... di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu dalam bulan yang empat itu..." (QS. At-Taubah: 36).

Dalam Ebook Bimbingan Islam Seputar Bulan Muharram yang disusun oleh Tim Bimbingan Islam (serta senada dengan penjelasan Ustadz Said Yai dalam buku Bulan Muharram dan Keutamaan Berpuasa di Dalamnya), larangan kezaliman pada ayat ini mendapat penekanan khusus.

Tim Bimbingan Islam menukil tafsir dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu 'anhuma yang menyatakan bahwa Allah mengkhususkan empat bulan ini sebagai bulan suci, yang berakibat pada berlipat gandanya dosa bagi siapa saja yang bermaksiat di dalamnya.

Imam Qatadah juga menegaskan bahwa kezaliman yang dilakukan di bulan haram (termasuk Muharram) dosanya jauh lebih besar dan lebih berat dibandingkan kezaliman di bulan-bulan lainnya. Oleh karena itu, umat Islam diharamkan meremehkan dosa sekecil apa pun di bulan ini. 

2. Larangan Meyakini Mitos "Bulan Sial" (Tathayyur)

Di berbagai belahan dunia, termasuk di Nusantara, bulan Muharram (sering disebut bulan Suro) kerap diselimuti kabut mistis. Sebagian masyarakat meyakini bulan ini sarat akan aura negatif dan kesialan, sehingga memunculkan larangan-larangan adat yang tak berdasar, seperti larangan menikah, membangun rumah, atau bepergian jauh karena takut terkena bala.

Rasulullah SAW bersabda: "Tidak ada 'Adwa (penularan penyakit tanpa takdir Allah), tidak ada Thiyarah (menganggap sial pada sesuatu), tidak ada Hamah (burung hantu pembawa sial), dan tidak ada Shafar (menganggap sial bulan Shafar/waktu tertentu)." (HR. Bukhari no. 5707 dan Muslim no. 2220).

Abu Abdillah Syahrul Fatwa bin Lukman membedah tuntas fenomena ini dalam bukunya, Muharram Bulan Keramat, Mitos atau Realita?. Beliau menjelaskan bahwa keyakinan akan waktu yang membawa sial adalah bentuk kesyirikan dan sisa-sisa budaya Jahiliyah yang disebut Tathayyur.

Islam mengharamkan umatnya untuk menunda niat baik (seperti pernikahan) hanya karena takut akan mitos bulan Suro. Waktu secara hakikat bersifat netral, dan segala ketetapan baik maupun buruk mutlak berada di tangan Allah.

Selain itu, berbagai ritual "tolak bala" seperti sedekah laut atau memandikan pusaka di awal Muharram adalah bid'ah dan khurafat yang sangat dilarang karena merusak kemurnian tauhid. 

3. Larangan Meratap dan Menyiksa Diri (Niyahah) pada Hari Asyura

Tanggal 10 Muharram mencatat sejarah kelam terbunuhnya cucu kesayangan Rasulullah, Husain bin Ali radhiyallahu 'anhuma, di Karbala. Peristiwa ini kemudian dijadikan alasan oleh kelompok Syi'ah Rafidhah untuk menjadikan Asyura sebagai hari duka cita nasional dengan melakukan ritual meratap, memukul-mukul dada, hingga melukai diri sendiri hingga berdarah.

Tindakan ini sangat diharamkan dalam Islam. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda: "Bukan termasuk golongan kami siapa saja yang menampar pipi (wajah), merobek saku, dan menyeru dengan seruan jahiliyah (meratap)." (HR. Bukhari no. 1294 dan Muslim no. 103).

Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid dalam karyanya Keutamaan Asyura dan Bulan Muharram (Penerjemah: Abu Salma Muhammad Rachdie, S.Si) menjelaskan keharaman amalan tersebut secara terperinci. Beliau menukil pandangan para ulama Ahlussunnah wal Jama'ah bahwa menjadikan hari musibah (kematian) sebagai hari perayaan duka secara berulang-ulang adalah bid'ah yang tidak pernah diajarkan oleh Allah dan Rasul-Nya.

Kematian para nabi sekalipun tidak pernah diperingati dengan ratapan. Islam melarang umatnya untuk larut dalam kesedihan historis yang diekspresikan dengan menyiksa fisik, karena hal itu mencerminkan ketidakridhaan terhadap takdir Allah. 

4. Larangan Bersuka Ria Berlebihan

Sebagai reaksi atau tandingan atas kesedihan kaum Syi'ah, muncul pula kelompok ekstrem lainnya (Nawashib) yang menetapkan hari Asyura (10 Muharram) sebagai hari raya untuk bersuka ria. Mereka merayakannya dengan pesta pora, memborong makanan, dan melonggarkan nafkah keluarga secara berlebihan dengan berlandaskan pada hadits-hadits tertentu.

Dalam buku Bulan Muharram dan Keutamaan Berpuasa di Dalamnya, Ustadz Said Yai menyoroti praktik ini secara kritis. Beliau menjelaskan bahwa syariat mengharamkan ibadah yang dibangun di atas dasar yang rapuh atau palsu.

Penulis mengutip analisis para ahli hadits, seperti Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan Syaikh Al-Albani, yang menegaskan bahwa hadits tentang keutamaan "melapangkan nafkah keluarga di hari Asyura agar Allah melonggarkan rezekinya setahun penuh" adalah hadits dha'if (lemah) bahkan maudhu' (palsu).

Oleh karena itu, menjadikan hari Asyura layaknya hari raya Idul Fitri dengan tradisi perayaan khusus, memasak hidangan tertentu, dan bersuka ria adalah hal yang dilarang. Ahlussunnah berada di pertengahan (wasath): tidak menjadikannya hari duka (seperti Syi'ah), tidak pula hari pesta pora (seperti Nawashib), melainkan menyikapinya dengan ibadah puasa sunnah sebagaimana tuntunan sahih dari Rasulullah.

5. Larangan Mengkhususkan Ritual Ibadah Tanpa Landasan Dalil (Bid'ah)

Saking istimewanya bulan Muharram, banyak kelompok masyarakat di masa lalu yang membuat-buat ritual ibadah khusus yang diklaim memiliki pahala besar, namun nyatanya sama sekali tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah. Islam melarang umatnya melakukan kreasi ibadah semacam ini.

"Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka ia tertolak." (HR. Bukhari no. 2697 dan Muslim no. 1718).

Dalam Buku Bulan Muharram dan Keutamaan Berpuasa di Dalamnya, Ustadz Said Yai menyoroti berbagai amalan tak berdasar yang marak dilakukan umat Islam pada hari Asyura. Mengutip para ulama ahli hadits, beliau menjelaskan bahwa tidak ada amalan khusus di bulan Muharram selain puasa.

Oleh karena itu, dilarang mengkhususkan ibadah-ibadah berikut pada tanggal 10 Muharram dengan keyakinan akan mendapat keutamaan tertentu:

  • Mandi khusus Asyura: Hadits yang menyebutkan keutamaan mandi di hari Asyura untuk menolak penyakit adalah hadits palsu (maudhu').
  • Memakai celak mata (kuhl): Diciptakan oleh kelompok Nawashib untuk merayakan Asyura, tidak ada tuntunannya dari Nabi.
  • Shalat khusus Asyura: Tidak ada riwayat shahih yang mengajarkan shalat sunnah dengan rakaat dan bacaan tertentu khusus untuk hari Asyura.
  • Mengusap kepala anak yatim: Meskipun menyantuni anak yatim adalah perbuatan mulia, meyakini bahwa mengusap kepala mereka khusus pada tanggal 10 Muharram akan mengangkat derajat atau menggugurkan dosa adalah keyakinan yang bersumber dari riwayat yang lemah (dha'if).

Amalan-Amalan Muharram sesuai Sunnah

Terdapat berbagai amalan yang dianjurkan pada bulan Muharram. Hal ini menjadi bagian memuliakan Syahrullah:

  1. Memperbanyak Puasa Sunnah: Bulan Muharram adalah waktu paling utama untuk melaksanakan puasa sunnah setelah bulan Ramadhan. Rasulullah SAW menyebut bulan ini sebagai Syahrullah (Bulan Allah), sehingga memperbanyak puasa di dalamnya sangat dianjurkan.
  2. Puasa Asyura (10 Muharram): Puasa ini memiliki keutamaan besar, yaitu janji penghapusan dosa-dosa kecil selama setahun yang lalu. Puasa ini dilakukan sebagai bentuk syukur atas kemenangan Nabi Musa 'Alaihissalam melawan Fir'aun.
  3. Puasa Tasu'a (9 Muharram): Dilaksanakan sehari sebelum Asyura untuk menyelisihi kebiasaan ahli kitab (Yahudi dan Nasrani). Amalan ini juga berfungsi sebagai bentuk kehati-hatian (ihtiyath) dalam penentuan awal bulan.
  4. Meningkatkan Kualitas Amal Shalih: Sebagai bulan haram, bulan ini adalah waktu di mana amal ketaatan sangat dicintai Allah. Umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak sedekah, membaca Al-Qur'an, dan dzikir, karena nilai pahala amal di bulan haram dilipatgandakan dibandingkan bulan biasa.
  5. Bertaubat dan Menjauhi Maksiat: Mengingat dosa di bulan haram juga mendapatkan ancaman yang lebih berat, Muharram menjadi momentum tepat untuk melakukan taubat nasuha dan berkomitmen penuh untuk menjauhi segala bentuk kezaliman maupun kemaksiatan sepanjang tahun.

Pertanyaan Seputar Larangan Tertentu di Bulan Muharram

Apa 4 larangan di bulan Muharram?

4 LARANGAN DI BULAN MUHARRAM YANG WAJIB DIKETAHUI UMAT ISLAM.Larangan Mendzalimi Diri Sendiri.Larangan Berbuat Maksiat.Larangan Berperang.Larangan Melakukan Bidah.

1 Muharram apa yang tidak boleh dilakukan?

Dalam ajaran Islam, 1 Muharram (Tahun Baru Hijriah) adalah hari yang dimuliakan dan bukan merupakan bulan sial. Umat Islam dilarang melakukan perbuatan maksiat, menzalimi diri sendiri, berperang atau melakukan kekerasan, serta mempercayai mitos atau kesialan (khurafat) yang bisa merusak akidah.

Apa yang tidak diperbolehkan di bulan Muharram?

Jadi, sebagai kesimpulan, dan sesuai dengan pendapat banyak ulama kita, kita perlu membedakan antara hal-hal yang melanggar kesucian hari-hari ini, seperti yang saya yakini secara pribadi, perayaan dan pernikahan , yang tidak boleh dilakukan di bulan Muharram dan Safar, dan beberapa hal lain, seperti, misalnya, membeli pakaian baru

Apa saja 10 larangan Allah?

Berikut 10 larangan Allah terhadap kita hamba-Nya:Memakan makanan yang diharamkan seperti daging babi.Berzina.Mabuk-mabukkan.Mencuri.Ingkar janji.Tidak amanah.Menyembah kepada selain Allah.Mempercayai hal yang diharamkan.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |