Arti Bulan Muharram dan Keistimewaannya bagi Umat Muslim, Amalan dan Larangannya

10 hours ago 4

Liputan6.com, Jakarta - Memahami arti bulan muharram dan keistimewaannya bagi umat muslim merupakan fondasi utama dalam mengawali tahun baru Hijriah. Sebagai bulan pembuka, terdapat berbagai keutamaan yang bisa diraih.

Secara syar'i, kedudukan bulan ini dikukuhkan langsung oleh Allah SWT sebagai salah satu Asyhurul Hurum (bulan haram). Hal ini termaktub dalam Surah At-Taubah ayat 36 mengenai empat bulan mulia.

Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid dalam buku Keutamaan Asyura dan Bulan Muharram menjelaskan bahwa Rasulullah memperkuat Muharram bulan ini sebagai Syahrullah (Bulan Allah). Penamaan eksklusif tersebut, berdasarkan hadits riwayat Imam Muslim, menandakan derajat keagungan yang sangat tinggi.

Keistimewaan Muharram sepatutnya diisi dengan peningkatan amal shalih, terutama puasa sunnah. Pengagungan waktu mulia menjadi ajang pembuka untuk bertaubat, muhasabah, menghindari maksiat dan meningkatkan keimanan.

Merangkum berbagai literatur kontemporer dan klasik, artikel ini akan mengulas arti bulan Muharram dan keistimewaannya bagi umat muslim.

1. Ketetapan Bulan yang Dimuliakan sejak Alam Diciptakan

Pengakuan atas kemuliaan Muharram ditetapkan secara eksplisit dalam Al-Qur’an dan diperkuat oleh Sunnah.

Fondasi utama kemuliaan Muharram termaktub dalam firman Allah QS. At-Taubah [9]: 36:

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu.” (QS. At-Taubah [9]: 36).

Dari ayat ini, para ulama tafsir—seperti dalam Tafsir Jalalain—menjelaskan bahwa empat bulan haram yang dimaksud adalah Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab. Kata حُرُمٌ mengandung makna "yang dimuliakan dan disucikan". Saat ini, umat Islam tengah berada dalam rangkaian tiga bulan haram yang berurutan: Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Muharram.

Ayat ini juga memberikan peringatan khusus melalui larangan فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ ("maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu"). Dalam Tafsir Ibnu Katsir, larangan ini ditekankan lebih kuat di bulan-bulan haram, karena dosa dan pahala di dalamnya dilipatgandakan.

 Qatadah rahimahullah menjelaskan, sesungguhnya berbuat kezaliman pada bulan-bulan haram lebih besar kesalahan dan dosanya daripada berbuat kezaliman di selain bulan-bulan tersebut. Meskipun berbuat zalim pada setiap keadaan bernilai besar, tetapi Allah membesarkan segala urusannya sesuai apa yang dikehendaki-Nya.

2. Penegasan Rasulullah Muharram sebagai Asyhurul Hurum

Rasulullah ﷺ secara rinci menjelaskan keempat bulan ini dalam khutbah haji wada' yang diriwayatkan Abu Bakrah RA:

السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ: ثَلاَثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ، وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِي بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ

"Satu tahun itu dua belas bulan. Di antaranya ada empat bulan haram. Tiga bulan berturut-turut: Dzulqa'dah, Dzulhijjah, dan Muharram. Dan satu bulan lagi adalah Rajab Mudhar yang terletak antara Jumadil Akhir dan Sya'ban." (HR. Bukhari no. 3197, Muslim no. 1679)

Hadis ini menunjukkan bahwa status Muharram sebagai bulan haram telah ditetapkan Allah sejak penciptaan langit dan bumi.

Dalam buku Muharram Bulan Keramat, Mitos atau Realita?, Abu Abdillah Syahrul Fatwa bin Lukman menjelaskan bahawa maksud "bulan haram" di sini adalah bulan di mana umat Islam diharamkan keras daripada melakukan peperangan dan kezaliman.

Larangan berbuat zalim pada bulan ini adalah lebih ditekankan berbanding bulan-bulan lain sebagai bentuk penghormatan terhadap kesucian masa yang telah ditetapkan oleh Ilahi.

3. Nama Muharram yang Islami

Menurut Syekh Jalaluddin As-Suyuthi, kemuliaan Muharram juga tercermin dari namanya yang khas. Pada masa Jahiliyah, bulan ini bernama Shafar Awwal, sementara bulan setelahnya disebut Shafar Tsani.

Ketika Islam datang, Allah mengganti namanya menjadi Muharram, sebuah nama yang langsung dinisbahkan kepada-Nya. Hal ini menunjukkan bahwa Muharram memperoleh identitas keislaman yang baru setelah wahyu turun.

Secara etimologinya, perkataan "Muharram" berasal daripada kata akar bahasa Arab yang membawa maksud "sesuatu yang diharamkan" atau "disucikan". Pemahaman komprehensif mengenai makna dan keistimewaan bulan ini telah banyak dikupas oleh para ulama melalui pelbagai literatur Islam.

Pada masa selanjutnya, di zaman pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab, bulan Muharram menjadi pembuka kalendar Hijrah dengan pelbagai keistimewaan yang amat mendalam bagi umat Islam.

Berbagai Keistimewaan Muharram bagi Umat Islam

Dari berbagai keistimewaan yang dimiliki Muharram, tiga aspek berikut menjadi yang paling utama dan memiliki landasan dalil yang kuat.

1. Syahrullah (Bulan Allah)

Muharram adalah satu-satunya bulan yang secara eksplisit disebut sebagai "Syahrullah" oleh Rasulullah ﷺ. Beliau bersabda: "Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah—Muharram." (HR. Muslim no. 1163)

Dalam Syarah Shahih Muslim, Imam an-Nawawi rahimahullah menegaskan bahwa hadis ini menjadi dalil utama keutamaan puasa di bulan Muharram. Beliau menyatakan bahwa Muharram adalah bulan yang paling utama untuk berpuasa setelah Ramadhan.

Al-Hafizh Ibnu Rajab al-Hanbali dalam kitabnya Latha'if al-Ma'arif memberikan penjelasan yang lebih mendalam tentang penyandaran ini. Beliau menyatakan bahwa Allah tidak akan menyandarkan sesuatu kepada diri-Nya kecuali sesuatu itu termasuk makhluk pilihan-Nya, seperti "Baitullah" (Rumah Allah) dan "Naqatullah" (Unta Nabi Shaleh).

Penyandaran ini merupakan bentuk idhafah tafdhiliyyah (penyandaran untuk menunjukkan kemuliaan), sebagaimana yang dipertegas oleh al-Qori dan Imam an-Nawawi.

2. Waktu Terjadinya Peristiwa-Peristiwa Agung Para Nabi

Hari Asyura (10 Muharram) adalah hari di mana sejumlah peristiwa monumental dalam sejarah para nabi terjadi. Abu al-Laits al-Samarqandi dalam kitab Tanbih al-Ghafilin menyebutkan sepuluh peristiwa agung yang terjadi pada hari Asyura, di antaranya:

  • Diterimanya taubat Nabi Adam AS setelah melanggar larangan Allah di surga.
  • Berlabuhnya Bahtera Nabi Nuh AS di Gunung Judi setelah banjir besar usai.
  • Diselamatkannya Nabi Ibrahim AS dari kobaran api yang dinyalakan Raja Namrud.
  • Diangkatnya Nabi Isa AS ke langit oleh Allah SWT.
  • Peristiwa yang paling masyhur: Diselamatkannya Nabi Musa AS dan Bani Israil dari kejaran Fir'aun ketika menyeberangi Laut Merah.

Peristiwa keselamatan Nabi Musa inilah yang menjadi landasan utama disyariatkannya puasa Asyura. Rasulullah ﷺ bersabda:

"Kami lebih berhak terhadap Musa daripada kalian." Maka beliau pun berpuasa dan memerintahkan para sahabat untuk berpuasa (HR. Bukhari dan Muslim).

3. Ladang Pahala

Konsekuensi logis dari status Muharram sebagai bulan haram adalah pelipatgandaan pahala bagi setiap amal kebaikan yang dilakukan, dan sebaliknya, peringatan yang lebih keras terhadap setiap kemaksiatan.

Puncak dari keistimewaan ini adalah puasa Asyura (10 Muharram) yang dijanjikan dapat menghapus dosa setahun yang lalu. Rasulullah ﷺ bersabda: "Puasa 'Asyura, sungguh saya berharap (ihtisab) kepada Allah agar puasa tersebut dapat menghapus dosa setahun yang lalu." (HR. Muslim no. 1162)

Selain keutamaan ini, terdapat beberapa keutamaan lain yang disebutkan para ulama:

Puasa di bulan Muharram setara dengan berpuasa 30 hari pada bulan-bulan lainnya. Sebagaimana disebutkan oleh Syekh Ali al-Kalantany dalam kitab Siru al-Salikin fi Thariqah al-Sadat al-Shufiyyah, hadis menyebutkan bahwa puasa satu hari di bulan haram lebih utama daripada tiga puluh hari di bulan lainnya.

Menurut Imam as-Suyuthi dalam Syarah al-Suyuthi 'ala Muslim, puasa di bulan Muharram menjadi puasa sunnah paling utama karena Muharram adalah awal permulaan tahun. Sehingga, membuka lembaran baru di awal tahun dengan berpuasa berarti memulai tahun dengan amal yang paling utama.

Amalan, Larangan dan Sikap yang Benar sebagai Muslim

Setelah memahami kedudukan dan keistimewaan Muharram, maka sikap seorang Muslim adalah memuliakannya dengan amalan yang sesuai tuntunan, serta menghindari berbagai penyimpangan.

Amalan yang Disyariatkan (Bukan Mitos)

  • Memperbanyak Puasa Sunnah: Puasa sunnah di bulan Muharram tidak terbatas pada Asyura saja, melainkan mencakup seluruh bulan. Ini adalah puasa sunnah mutlak yang paling utama setelah Ramadhan.
  • Berpuasa pada 9 dan 10 Muharram: Tingkatan yang paling sempurna adalah berpuasa pada tanggal 9 (Tasu'a) dan 10 (Asyura). Tingkatan berikutnya adalah hanya berpuasa pada tanggal 10 saja, dan ini tetap diperbolehkan serta tidak dibenci.
  • Memperbanyak Sedekah dan Silaturahmi: Menyantuni anak yatim dan fakir miskin sangat dianjurkan, lebih-lebih jika dikerjakan dengan niat mengikuti jejak kemuliaan para nabi terdahulu.

Larangan dan Sikap Muslim

Pada bulan yang dimuliakan ini, umat Islam diperintahkan untuk lebih berhati-hati dari segala bentuk kezaliman. Ada beberapa hal yang patut diwaspadai:

  • Larangan Membuat-Buat Ritual (Bid'ah): Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid dalam kitab 33 Faidah Seputar Asyura dan Muharram menegaskan bahwa tidak ada satu pun hadits shahih yang menerangkan amalan khusus di hari Asyura selain puasa. Segala ritual seperti shalat khusus, doa-doa tertentu, atau mengkhususkan ziarah kubur pada hari Asyura adalah perbuatan bid'ah yang tidak memiliki tuntunan.
  • Tidak Boleh Meyakini Pantangan (Tathayyur): Sebagian masyarakat meyakini bahwa Muharram adalah "bulan sial" untuk menikah atau bepergian. Ini adalah akidah tathayyur (merasa sial karena sesuatu), yang dilarang keras dalam Islam karena termasuk bentuk kesyirikan.
  • Tidak Boleh Menjadikan Hari Berkabung Berlebihan: Kesyahidan Husain bin Ali di Karbala pada tanggal 10 Muharram 61 H adalah tragedi kemanusiaan yang menyedihkan. Namun, meratapi wafatnya secara berlebihan dengan memukuli diri atau mengadakan upacara berkabung tahunan bukanlah ajaran Islam. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dengan tegas mengatakan bahwa tidak ada perintah dari Allah dan Rasul-Nya untuk menjadikan hari wafatnya para nabi atau syuhada sebagai hari ratapan.

Pertanyaan Seputar Arti Bulan Muharram

Apa keistimewaan bulan Muharram menurut Islam?

Bulan Muharram adalah salah satu dari empat bulan suci (bulan haram) dalam Islam yang memiliki kemuliaan besar. Bulan ini istimewa karena disebut sebagai Syahrullah (Bulan Allah), menjadi pembuka kalender Hijriyah, dan menjadi momentum pelipatgandaan pahala serta waktu terbaik untuk berpuasa sunnah setelah bulan Ramadan.

Apa 4 larangan di bulan Muharram?

4 LARANGAN DI BULAN MUHARRAM YANG WAJIB DIKETAHUI UMAT ISLAM.

  • Larangan Mendzalimi Diri Sendiri.
  • Larangan Berbuat Maksiat.
  • Larangan Berperang.
  • Larangan Melakukan Bidah.

1 Muharram disunnahkan apa saja?

Pada 1 Muharram (Tahun Baru Islam), umat Islam disunnahkan untuk melakukan amalan ibadah guna mendekatkan diri kepada Allah SWT. Amalan utamanya meliputi membaca doa awal tahun, memperbanyak istighfar, membaca Al-Qur'an (seperti Surah Al-Mulk), bersedekah, serta bersiap untuk melaksanakan puasa sunnah Muharram.

Kenapa bulan Muharram disebut bulan istimewa?

Bulan Muharram disebut istimewa karena merupakan salah satu dari empat bulan haram (suci) yang dimuliakan Allah SWT, dijuluki sebagai Syahrullah (Bulan Allah), serta menjadi momentum terjadinya berbagai peristiwa bersejarah dan penyelamatan para nabi. Pada bulan ini, umat Islam dianjurkan memperbanyak ibadah karena pahalanya akan dilipatgandakan.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |