Liputan6.com, Jakarta - Dalam kehidupan modern yang serba cepat, kompetitif, dan dipenuhi distraksi digital, waktu sering kali terasa berlalu tanpa makna yang jelas. Waktu adalah aset penting yang diberikan Allah kepada manusia. Untuk memahaminya penting bagi umat Islam untuk menelaah ayat al-qur’an tentang waktu dan tanggung jawab manusia.
Merujuk Jurnal Konsep Pengelolaan Waktu Menurut Al-Qur’an dan Relevansinya dalam Kehidupan Modern oleh Nur Azizah, dkk dalam perspektif Al-Qur'an dan hadis waktu bukan sekadar satuan jam atau hari, melainkan amanah ilahi yang harus dikelola dengan penuh tanggung jawab. Ini menjadi panduan tentang bagaimana manusia seharusnya memandang, menghargai, dan memanfaatkan waktu.
Artikel ini akan menguraikan konsep waktu dalam perspektif Al-Qur’an, prinsip pengelolaannya, serta relevansinya dengan kehidupan di era modern, terutama dalam konteks tanggung jawab individu sebagai hamba Allah dan anggota masyarakat. Berikut ulasannya.
Ayat Al-Qur’an tentang Waktu dan Tanggung Jawab Manusia
Nur Azizah, dkk menggunakan dua dalil utama yang merujuk waktu dan tanggung jawab manusia.
1. Surah Al-Asr (103): Ayat 1-3
Surah ini menjadi landasan utama pembahasan waktu dalam jurnal tersebut.
وَالْعَصْرِ ﴿١﴾ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ ﴿٢﴾ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ ﴿٣﴾
Latin: (1) Wal-'asr. (2) Innal-insāna lafī khusr. (3) Illallażīna āmanū wa 'amiluṣ-ṣāliḥāti wa tawāṣau bil-ḥaqqi wa tawāṣau biṣ-ṣabr.
Arti: "(1) Demi masa. (2) Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, (3) kecuali orang-orang yang beriman, beramal saleh, dan saling menasihati dalam kebenaran serta kesabaran.".
Dalam studi tersebut dijelaskan, Al-Qur'an menggunakan sumpah atas waktu sebagai bentuk penegasan teologis mengenai kedudukan waktu yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Waktu dianggap sebagai "kepercayaan ilahi" atau titipan yang harus diatur dengan tanggung jawab penuh. Kerugian manusia terjadi karena waktu terus berlalu dan tidak akan kembali, sehingga pengelolaan yang tidak terarah berimplikasi pada kerugian spiritual dan moral.
2. Surah Al-Furqan (25): Ayat 62
Ayat ini menyoroti tujuan penciptaan pergantian waktu.
Teks Arab:
وَهُوَ الَّذِيْ جَعَلَ الَّيْلَ وَالنَّهَارَ خِلْفَةً لِّمَنْ اَرَادَ اَنْ يَّذَّكَّرَ اَوْ اَرَادَ شُكُوْرًا ٦٢
Latin: wa huwalladzî ja‘alal-laila wan-nahâra khilfatal liman arâda ay yadzdzakkara au arâda syukûrâ
Artinya: Dia (pula) yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau ingin bersyukur.
Allah SWT menciptakan pergantian malam dan siang sebagai sarana bagi manusia untuk belajar (i'tibar) dan bersyukur atas karunia-Nya. Waktu dipandang sebagai titipan yang perlu dirawat dan dimanfaatkan secara maksimal agar tidak terlewatkan tanpa faedah.
Penjelasan Ulama Mengenai Waktu dan Tanggung Jawab Manusia
Dalam Tafsir al-Qur’an al-Azhim, Ibnu Katsir menjelaskan mengenai Surah Al-Asr:
1. Makna Sumpah (Ayat 1):
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Allah SWT bersumpah dengan "Al-Asr" (masa/waktu) karena waktu adalah ruang atau wadah bagi seluruh perbuatan manusia, baik yang baik maupun yang buruk. Sumpah ini menekankan bahwa setiap detik yang berlalu adalah saksi bisu atas segala amal yang dilakukan manusia di dunia.
2. Hakikat Kerugian (Ayat 2):
Beliau menegaskan bahwa pada dasarnya seluruh jenis manusia berada dalam kondisi merugi (khusr). Kerugian ini bersifat mutlak bagi siapa pun yang membiarkan waktunya berlalu tanpa makna, karena waktu yang hilang tidak akan pernah bisa kembali lagi.
3. Empat Syarat Keselamatan (Ayat 3):
Agar manusia terhindar dari kerugian tersebut, Ibnu Katsir menjelaskan empat kriteria yang harus dipenuhi:
- Iman: Keyakinan yang teguh di dalam hati.
- Amal Saleh: Perwujudan iman melalui tindakan nyata yang bermanfaat.
- Saling Menasihati dalam Kebenaran (At-Tawashu bil Haqq): Melakukan dakwah dan saling mengingatkan untuk menjalankan ketaatan serta meninggalkan kemaksiatan.
- Saling Menasihati dalam Kesabaran (At-Tawashu bish Shabr): Saling menguatkan dalam menghadapi ujian, konsisten dalam beribadah, dan menjauhi larangan Allah.
Mengutip pernyataan terkenal Imam Asy-Syafi'i yang terdapat dalam kitab Tafsir Ibnu Katsir, "Seandainya Allah tidak menurunkan hujjah (argumen/panduan) kepada makhluk-Nya kecuali surah ini, niscaya itu sudah cukup bagi mereka." Hal ini menunjukkan betapa komprehensifnya Surah Al-Asr dalam mengatur manajemen hidup dan tanggung jawab manusia.
Penjelasan Mengenai Surah Al-Furqan (25): Ayat 62
Berdasarkan Jurnal Konsep Pengelolaan Waktu Menurut Al-Qur’an dan Relevansinya dalam Kehidupan Modern, penjelasan mengenai Surah Al-Furqan (25): Ayat 62, M. Quraish Shihab dalam Buku Tafsir Al-Misbah: Pesan, Kesan, dan Keserasian Al-Qur'an menjelaskan, kata khilfatan (silih berganti) yang memiliki relevansi kuat dengan manajemen waktu modern:
1. Konsep Peluang Kedua
Beliau menjelaskan bahwa Allah SWT menjadikan malam dan siang silih berganti sebagai bentuk rahmat-Nya agar manusia memiliki "peluang kedua". Jika seseorang gagal atau lalai memanfaatkan waktu siang untuk mengambil pelajaran (idzzakkara) atau bersyukur (syukura), maka ia masih memiliki waktu malam untuk memperbaikinya, dan demikian pula sebaliknya.
2. Fleksibilitas dalam Tanggung Jawab
Dalam konteks kehidupan modern yang dinamis, penjelasan ini menunjukkan bahwa Islam memberikan ruang fleksibilitas. Tanggung jawab manusia terhadap waktu tidak bersifat kaku, melainkan memberikan kesempatan bagi manusia untuk senantiasa melakukan evaluasi (muhasabah) dan mengejar ketertinggalan amal atau produktivitas.
3. Tujuan Penciptaan Waktu
Pergantian waktu bukan sekadar fenomena alam, melainkan fasilitas bagi manusia untuk selalu ingat kepada Allah (dzikir) dan mengakui nikmat-Nya (syukur) melalui kerja nyata yang bermanfaat.
Penjelasan Quraish Shihab disandingkan dengan pandangan Ibnu Katsir dalam kitab Tafsir al-Qur’an al-Azhim, yang menyatakan hal serupa, bahwa silih bergantinya siang dan malam bertujuan agar apa yang terlewatkan pada salah satu waktu dapat digantikan atau dikejar pada waktu berikutnya.
3 Prinsip Tanggung Jawab Manusia terhadap Waktu
Berdasarkan jurnal Konsep Pengelolaan Waktu Menurut Al-Qur’an dan Relevansinya dalam Kehidupan Modern oleh Nur Azizatul Haqiah, dkk., berikut adalah penjelasan mengenai 3 prinsip tanggung jawab manusia terhadap waktu di zaman modern:
1. Prinsip Amanah: Waktu sebagai Titipan Ilahi
Dalam perspektif Islam, waktu dipandang sebagai salah satu karunia terbesar Allah SWT yang memiliki nilai tak terukur. Tanggung jawab manusia dalam prinsip ini mencakup:
- Kesadaran Kepemilikan: Manusia harus menyadari bahwa waktu adalah titipan atau kepercayaan ilahi (divine trust) yang harus dikelola dengan tanggung jawab penuh, bukan milik pribadi yang bisa dibuang sesuka hati.
- Kewajiban Etis dan Spiritual: Setiap Muslim memiliki tanggung jawab moral untuk mengisi waktu dengan kegiatan produktif yang memberikan manfaat positif, seperti menuntut ilmu, berbuat kebaikan, dan bekerja secara halal.
- Menghindari Kesia-siaan: Tanggung jawab amanah ini menuntut manusia untuk menjauhi segala bentuk perbuatan yang tidak bermanfaat (unproductive activities). Di zaman modern, hal ini berarti memiliki integritas moral untuk tidak terlena oleh distraksi digital atau gaya hidup "cepat saji" yang tidak memiliki esensi.
2. Prinsip Hisab: Kesadaran akan Pertanggungjawaban AkhiratPrinsip ini menekankan bahwa waktu bersifat terbatas dan setiap detiknya akan diaudit di hadapan Sang Pencipta. Hubungannya dengan tanggung jawab manusia adalah:
- Audit Masa Hidup: Berdasarkan hadis riwayat Imam al-Bukhari, manusia bertanggung jawab atas empat hal utama pada hari kiamat, di mana dua di antaranya terkait langsung dengan waktu, yaitu mengenai usia (masa hidup) dan ilmu yang diamalkan.
- Waktu sebagai Saksi: Manusia harus bertanggung jawab karena waktu menjadi saksi bisu atas setiap amal perbuatan yang dilakukan di dunia.
- Manajemen Proaktif: Tanggung jawab ini mendorong manusia untuk bersikap proaktif dan arif dalam mengelola waktu agar tidak jatuh dalam kerugian (khusr), sebagaimana diperingatkan dalam Surah Al-'Asr. Pengaturan waktu bukan sekadar soal efisiensi harian, melainkan bentuk persiapan menghadapi perhitungan amal di akhirat.
3. Prinsip Tawazun: Keseimbangan Holistik dalam Kehidupan
Tawazun atau keseimbangan adalah nilai dasar yang menuntun manusia untuk menjaga keselarasan antara dimensi fisik dan spiritual. Tanggung jawab manusia dalam prinsip ini meliputi:
- Proporsionalitas Hidup: Manusia bertanggung jawab untuk tidak hanya berfokus pada keberhasilan materi, tetapi juga menjaga keharmonisan antara aktivitas bekerja, belajar, dan beribadah. Keseimbangan ini tidak berarti pembagian waktu yang sama rata secara angka, melainkan menata setiap aspek kehidupan secara proporsional sesuai kebutuhan.
- Visi Akhirat dalam Tindakan Dunia: Tanggung jawab manusia adalah menjadikan dunia sebagai sarana untuk menanam amal baik demi kebahagiaan kekal di akhirat. Hal ini mencegah manusia terjebak dalam sikap materialistis yang melupakan tanggung jawab spiritual.
- Integrasi Ibadah: Di zaman modern, prinsip ini diimplementasikan dengan meniatkan setiap aktivitas duniawi—seperti belajar atau bekerja profesional—sebagai bentuk ibadah kepada Allah SWT untuk kemaslahatan masyarakat. Dengan demikian, segala aktivitas harian tetap bernilai ibadah dan tidak terpisah dari tujuan spiritual.
Surat-Surat Lain yang tentang Waktu
Merujuk ulasan H Muhammad Faizin, Sekretaris PCNU Kabupaten Pringsewu, Lampung, di laman NU Lampung, terdapat beberapa ayat Al-Qur'an tentang waktu lainnya.
3. Dhuha (Surat Al-Dhuha ayat 1-2):
وَالضُّحٰىۙ وَالَّيۡلِ اِذَا سَجٰى
Artinya: “Demi waktu dhuha (ketika matahari naik sepenggalah), dan demi malam apabila telah sunyi.”
Penyebutan waktu dhuha mengisyaratkan bahwa tenggang waktu ketika Nabi tidak menerima wahyu beberapa lama bagaikan malam yang gelap, sedangkan turunnya surat ini setelah itu bagaikan fajar yang menyingsing. Dalam ayat-ayat ini, Allah bersumpah dengan dua macam tanda-tanda kebesaran-Nya, yaitu Ḍuḥâ (waktu matahari naik sepenggalah) bersama cahayanya dan malam beserta kegelapan dan kesunyiannya.
4. Fajar (Surat Al-Fajr ayat 1-2):
وَالۡفَجۡرِۙ وَلَيَالٍ عَشۡرٍۙ
Artinya: “Demi fajar, demi malam yang sepuluh.”
Demi fajar, yaitu awal mula terangnya bumi setelah kegelapan malam sirna. Pada waktu ini manusia memulai aktivitasnya. Allah bersumpah dengan fajar di yaumun-nahr (hari penyembelihan kurban), yaitu tanggal 10 Zulhijah, yang diikuti ayat berikutnya membicarakan “malam yang sepuluh”, yaitu sepuluh hari pertama bulan tersebut. Akan tetapi, ada yang berpendapat bahwa fajar yang dimaksud adalah fajar setiap hari yang mulai menyingsing yang menandakan malam sudah berakhir dan siang siap dimulai.
5. Shubuh (Surat Al-Takwir ayat 18):
وَالصُّبْحِ اِذَا تَنَفَّسَۙ
Artinya: “Dan demi subuh apabila fajar telah menyingsing.”
Dalam ayat ini Allah bersumpah demi subuh apabila fajar mulai menyingsing dan bersinar. Waktu subuh digunakan Allah dalam bersumpah karena waktu ini menimbulkan harapan yang menggembirakan bagi setiap manusia yang bangun pagi karena menghadapi hari yang baru. Saat itu mereka dapat menemukan hajat keperluan hidupnya mengganti yang hilang dan bersiap-siap untuk yang akan datang.
6. Waktu (Surat An-Nisâ’ ayat 103):
فَاِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلٰوةَ فَاذْكُرُوا اللّٰهَ قِيَامًا وَّقُعُوْدًا وَّعَلٰى جُنُوْبِكُمْ ۚ فَاِذَا اطْمَأْنَنْتُمْ فَاَقِيْمُوا الصَّلٰوةَ ۚ اِنَّ الصَّلٰوةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ كِتٰبًا مَّوْقُوْتًا
Artinya: “Selanjutnya, apabila kamu telah menyelesaikan salat(mu), ingatlah Allah ketika kamu berdiri, pada waktu duduk dan ketika berbaring. Kemudian, apabila kamu telah merasa aman, maka laksanakanlah salat itu (sebagaimana biasa). Sungguh, salat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.”
Shalat adalah suatu kewajiban bagi orang mukmin dan mereka wajib memelihara waktunya yang sudah ditetapkan. Paling kurang lima kali dalam sehari semalam umat Islam melakukan shalat agar selalu ingat kepada Allah, sehingga meniadakan kemungkinan terjerumus ke dalam kejahatan dan kesesatan. Bagi orang yang ingin lebih mendekatkan diri kepada Allah, waktu lima kali itu dipandang sedikit, maka dia menambah lagi dengan shalat-shalat sunah pada waktu-waktu yang telah ditentukan dalam agama.
Surat-Surat Lain yang tentang Waktu
7. Ajal (Surat Yunus ayat 49):
قُلْ لَّآ اَمْلِكُ لِنَفْسِيْ ضَرًّا وَّلَا نَفْعًا اِلَّا مَا شَاۤءَ اللّٰهُ ۗ لِكُلِّ اُمَّةٍ اَجَلٌ ۚاِذَا جَاۤءَ اَجَلُهُمْ فَلَا يَسْتَأْخِرُوْنَ سَاعَةً وَّلَا يَسْتَقْدِمُوْنَ
Artinya: “Katakanlah (Muhammad), “Aku tidak kuasa menolak mudarat maupun mendatangkan manfaat kepada diriku, kecuali apa yang Allah kehendaki.” Bagi setiap umat mempunyai ajal (batas waktu). Apabila ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan atau percepatan sesaat pun.”
Ayat ini merupakan penegasan Allah bahwa tiap-tiap umat mempunyai ajal yang telah ditentukan waktunya oleh Allah. Ajal itu akan tiba saatnya apabila waktu yang telah ditentukan Allah telah tiba. Waktu tibanya ajal itu termasuk pengetahuan Allah yang tidak dapat diketahui oleh siapapun juga selain-Nya. Maka apabila ajal mereka telah tiba mereka tidak mampu menundanya sesaat pun, dan mereka tidak pula mampu memajukan waktunya dari waktu yang telah ditentukan.
8. Dahr. Surat Al-Jāsiyah ayat 24:
وَقَالُوْا مَا هِيَ اِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوْتُ وَنَحْيَا وَمَا يُهْلِكُنَآ اِلَّا الدَّهْرُۚ وَمَا لَهُمْ بِذٰلِكَ مِنْ عِلْمٍۚ اِنْ هُمْ اِلَّا يَظُنُّوْنَ
Artinya: “Dan mereka berkata, “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup, dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa.” Tetapi mereka tidak mempunyai ilmu tentang itu, mereka hanyalah menduga-duga saja.”
Pada ayat ini Allah menjelaskan keingkaran orang-orang musyrik terhadap hari kebangkitan. Menurut anggapan mereka kehidupan itu hanya di dunia saja. Di dunia mereka dilahirkan dan di dunia pula mereka dimatikan dan di situlah akhir dari segala sesuatu, dan demikian pula terjadi pada nenek moyang mereka. Menurut mereka, yang menyebabkan kematian dan kebinasaan segala sesuatu ialah pertukaran masa. Dari pendapat mereka, dapat diambil kesimpulan bahwa mereka mengingkari terjadinya hari kebangkitan.
9. Surat Al-Jin ayat 25:
قُلْ اِنْ اَدْرِيْٓ اَقَرِيْبٌ مَّا تُوْعَدُوْنَ اَمْ يَجْعَلُ لَهٗ رَبِّيْٓ اَمَدًا
Artinya: “Katakanlah (Muhammad), “Aku tidak mengetahui, apakah azab yang diancamkan kepadamu itu sudah dekat ataukah Tuhanku menetapkan waktunya masih lama.””.
Dalam Tafsir Kementerian Agama RI, ayat ini dan ayat-ayat sesudahnya adalah jawaban atas pertanyaan, “Bilakah datangnya hari yang dijanjikan itu kepada kami.” Allah menyuruh Nabi-Nya agar menyampaikan kepada manusia bahwa hari Kiamat itu pasti akan tiba, tidak ada keraguan padanya. Akan tetapi, tidak ada yang mengetahui kapan waktunya tiba, apakah dalam waktu dekat ataukah masih dalam jangka waktu yang panjang.
10. Sâ’ah. Surat Al-A’rāf ayat 187:
يَسْـَٔلُوْنَكَ عَنِ السَّاعَةِ اَيَّانَ مُرْسٰىهَاۗ قُلْ اِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ رَبِّيْۚ لَا يُجَلِّيْهَا لِوَقْتِهَآ اِلَّا هُوَۘ ثَقُلَتْ فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ لَا تَأْتِيْكُمْ اِلَّا بَغْتَةً ۗيَسْـَٔلُوْنَكَ كَاَنَّكَ حَفِيٌّ عَنْهَاۗ قُلْ اِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ اللّٰهِ وَلٰكِنَّ اَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُوْنَ
Artinya: “Mereka menanyakan kepadamu (Nabi Muhammad) tentang kiamat, “Kapan terjadi?” Katakanlah, “Sesungguhnya pengetahuan tentangnya hanya ada pada Tuhanku. Tidak ada (seorang pun) yang dapat menjelaskan waktu terjadinya selain Dia. (Kiamat) itu sangat berat (huru-haranya bagi makhluk yang) di langit dan di bumi. Ia tidak akan datang kepadamu kecuali secara tiba-tiba.” Mereka bertanya kepadamu seakan-akan engkau mengetahuinya. Katakanlah (Nabi Muhammad), “Sesungguhnya pengetahuan tentangnya hanya ada pada Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”
Kata Sâ’ah dalam ayat ini diartikan sebagai kiamat. Allah dalam ayat ini menegaskan bahwa hanya Dialah yang mengetahui saat terjadinya hari Kiamat itu. Kepastian terjadinya hari Kiamat dan apa yang terjadi pada hari Kiamat sudah banyak dijelaskan oleh Al-Qur’an. Akan tetapi khusus yang berkenaan dengan saat terjadinya hari Kiamat itu tidak ada dijelaskan dalam Al-Qur’an. Hal itu hanya berada dalam ilmu Allah semata-mata.
People also Ask:
Ayat al quran yang menjelaskan tentang waktu?
Dalam Al-Qur'an, Allah berfirman: “Demi waktu. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat-menasihati dalam kebenaran dan nasehat-menasehati dalam kesabaran.” (QS. Al-Ashr: 1-3).
Quran surat apa yang menjelaskan tentang tanggung jawab?
“Tiap-tiap diri bertanggungjawab atas apa yang telah diperbuatnya” (QS. Al-Mudatstsir: 38). Ayat ini juga menjelaskan bahwa di akhirat kelak setiap manusia akan dimintai pertanggung jawaban atas perbuatan mereka selama di dunia.
Apa arti خَيْرُ الناسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ?
Arti dari خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ (Khoirunnas anfa'uhum linnas) adalah "Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain," sebuah hadis Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Ath-Thabari dan Ahmad, yang menekankan pentingnya memberikan manfaat, baik harta, ilmu, atau kebaikan lainnya, kepada sesama.
Apakah isi ayat 93.4 dalam Al-Quran?
(93:4) Sesungguhnya apa yang akan datang lebih baik bagimu daripada apa yang telah berlalu . (93:5) Sesungguhnya Tuhanmu akan segera memberikan kepadamu rezeki yang melimpah sehingga kamu akan merasa senang.

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5517636/original/037027400_1772434717-meisya.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5515455/original/038121200_1772175725-unnamed__8_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5517161/original/038718300_1772418235-sule.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4367999/original/062206100_1679493665-Sholat-Tarawih-Pertama-Ramadhan-2023-di-Musala-Nurul-Fajri-Depok-merdeka-7.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5066926/original/050970300_1735272788-1735270009668_100-kata-mutiara-islami.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3490889/original/048747700_1624437205-000_1D01N7.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5517650/original/034626900_1772435467-Foto_3_Lazada_3.3_Ramadan_Mega_Sale.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2950406/original/037744200_1572086341-Tugu_Pahlawan_Merah_Putih_2_ok.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5506017/original/024091800_1771403594-Banner_Infografis_Imsakiyah_H.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2249518/original/029795300_1528876812-clouds-mosque-muslim-87500.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/5482844/original/056409400_1769260756-Persija_Jakarta_vs_Madura_United-15.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5517126/original/074355400_1772409241-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5517016/original/058518300_1772377575-Nathalie.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5506338/original/077229600_1771429831-anak_ayah_ke_masjid.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5411946/original/031228600_1763026620-Berpidato.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3429214/original/050982400_1618458325-dan-dealmeida-4aM_QE-HRLw-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3429232/original/047319400_1618459145-pexels-mentatdgt-1071979.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2240997/original/070157500_1528277766-arches-architecture-building-460680.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4371735/original/047176900_1679802472-abderrahmane-meftah-YwA3x6uRuGw-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5514291/original/081789300_1772086565-073849700_1414158415-x6.jpg)














:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4010689/original/086569000_1651202668-pexels-rayn-l-3163677.jpg)






:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/1626268/original/067647800_1497616352-Mantan-MenKes-Siti-Fadilah-Divonis-4-Tahun-Penjara-01.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2855596/original/055794600_1563344847-iStock-1134972492.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5424037/original/048660500_1764130779-sholawat_ujang_bustomi.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4990655/original/018003600_1730716747-tata-cara-sholat-tahajud-agar-keinginan-terkabul.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5376360/original/049261700_1760001962-Ilustrasi_berdoa.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3381466/original/043629600_1613720800-photo-1512632578888-169bbbc64f33.jpg)
