Bacaan Niat Puasa Asyura 10 Muharram, Tata Cara dan Fadhilahnya

17 hours ago 10

Liputan6.com, Jakarta - Mengetahui tata cara dan bacaan niat puasa Asyura 10 muharram merupakan persiapan yang sangat penting bagi umat Islam. Sebab, puasa sunnah ini memiliki fadhilah yang sungguh luar biasa.

Rasulullah SAW bersabda dalam riwayat Imam Muslim, "Dan puasa pada hari Asyura, aku berharap kepada Allah agar Dia menghapuskan dosa tahun berlalu." Puasa Asyura juga terkait dengan peristiwa-peristiwa agung kenabian yang terjadi pada masa silam.

Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid dalam buku Keutamaan Asyura dan Bulan Muharram memberikan penjelasan terperinci. Menukil pendapat Imam An Nawawi, Syaikh Shalih al-Munajjid menegaskan bahwa pengampunan tersebut secara spesifik mencakup penghapusan segala dosa kecil. Adapun doa besar, tak termasuk di dalamnya.

Melafalkan niat yang tulus di dalam hati menjadi kunci utama kesempurnaan amal. Merangkum berbagai sumber kontemporer dan klasik, berikut ini adalah bacaan niat puasa Asyura 10 Muharram, tata cara hingga fadhilahnya.

Bacaan Niat Puasa Asyura (10 Muharram)

Niat merupakan rukun utama dalam ibadah puasa. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW: “Setiap amalan tergantung pada niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Berikut adalah lafal niat puasa Asyura yang benar sesuai tuntunan para ulama, yang dapat dipilih sesuai waktu pelaksanaannya:

Niat Puasa Asyura untuk Esok Hari (Malam Hari hingga Sebelum Fajar)

Lafal ini adalah yang paling utama dan dianjurkan, karena niat dilakukan pada malam harinya.

Arab: نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ عَاشُورَاءَ لِلّٰهِ تَعَالَى

Latin: Nawaitu shauma ghadin ‘an adâ’i sunnatil âsyûrâ lillâhi ta‘âlâ.

Artinya: “Aku berniat puasa sunah Asyura esok hari karena Allah SWT.”

Niat Puasa Asyura yang Dilakukan pada Hari Puasa (Menyebut Nama Puasa)

Lafal ini dapat digunakan saat melafalkan niat pada hari pelaksanaan puasa, baik saat masuk waktu Subuh hingga sebelum zawal (matahari tergelincir).

Arab: نَوَيْتُ صَوْمَ عَاشُورَاءَ لِلّٰهِ تَعَالَى

Latin: Nawaitu shauma Âsyûrâ-a lilâhi ta‘âlâ.

Artinya: “Saya niat puasa Asyura karena Allah ta‘âlâ.”

Niat Puasa Asyura yang Dilakukan pada Hari Puasa (Lafal Umum Tanpa Menyebut Nama)

Lafal ini juga dapat digunakan saat niat pada siang hari.

Arab: نَوَيْتُ صَوْمَ هَذَا الْيَوْمِ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ عَاشُورَاءَ لِلّٰهِ تَعَالَى

Latin: Nawaitu shauma hâdzal yaumi ‘an adâ’i sunnatil âsyûrâ lillâhi ta‘âlâ.

Artinya: “Aku berniat puasa sunah Asyura hari ini karena Allah SWT.”

Waktu yang Tepat untuk Membaca Niat

Para ulama sepakat bahwa waktu yang paling utama untuk berniat puasa adalah pada malam hari, yaitu setelah terbenamnya matahari (Maghrib) hingga terbitnya fajar. Inilah yang sesuai dengan keumuman hadis Nabi SAW:

“Siapa saja yang tidak meniatkan puasa pada malam hari sebelum fajar, maka tidak ada puasa baginya.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Nasai, Tirmidzi, dan Ibnu Majah).

Kewajiban niat di malam hari ini berlaku untuk puasa wajib. Namun, untuk puasa sunnah seperti Asyura, para ulama memberikan keringanan (rukhshah). Menurut madzhab Syafi’i, kewajiban niat di malam hari hanya berlaku untuk puasa wajib.

Puasa sunnah seperti puasa Asyura tetap diperbolehkan berniat di siang hari, dengan syarat belum melakukan hal-hal yang membatalkan puasa (seperti makan, minum, atau berhubungan badan) sejak terbit fajar hingga waktu berniat.

Batas Waktu Niat

Waktu batas akhir niat di siang hari adalah sebelum waktu zawal, yaitu saat matahari tergelincir ke barah (sekitar waktu zuhur). Jika niat dilakukan setelah zawal, maka puasa tersebut tidak dianggap sah.

Pendapat ini berdasarkan hadis dari Aisyah RA yang diriwayatkan dalam kitab Bulughul Maram karya Ibnu Hajar al-Asqalani, bahwa pada suatu hari Rasulullah SAW masuk ke rumah Aisyah dan bertanya apakah ada makanan.

Saat Aisyah menjawab tidak ada, beliau bersabda, “Kalau begitu, aku akan berpuasa.” (HR. Muslim). Hadis ini menunjukkan bahwa diperbolehkan memulai niat puasa sunnah di siang hari.

Syariat Puasa Asyura

Imam an-Nawawi rahimahullah dalam kitab Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadis tentang keutamaan puasa Muharram merupakan dalil sharîh (sangat jelas) yang menunjukkan bahwa bulan yang paling utama untuk berpuasa setelah Ramadhan adalah Muharram.

Rasulullah SAW lebih banyak berpuasa di bulan Sya’ban, hal itu tidak menafikan keutamaan Muharram. Bisa jadi karena Rasulullah SAW baru diberi tahu keutamaan Muharram yang melebihi Sya’ban di masa-masa akhir hidupnya, atau beliau sudah mengetahuinya namun tidak sempat memperbanyak puasa di Muharram karena berbagai halangan, seperti sakit atau bepergian (Yahya bin Syaraf an-Nawawi, al-Minhâj Syarhun Shahîh Muslim bin al-Hajjâj).  Hal ini juga dijelaskan dalam kitab al-Minhâj Syarhu Shahîh juz VIII halaman 55.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah  dalam Al-Fatawa al-Kubra menegaskan bahwa pengguguran dosa melalui puasa Asyura hanya berlaku untuk dosa-dosa kecil. Dosa besar hanya bisa dihapus dengan bertaubat secara sungguh-sungguh.

Imam Ibnu Hajar al-Haitami rahimahullah dalam kitab al-Fatâwal Kubrâl Fiqhiyyah juga menyebutkan bahwa hari-hari yang paling utama untuk dipuasai di bulan Muharram adalah 10 hari pertama, termasuk di dalamnya Hari Tasu’a (9 Muharram), Hari Asyura (10 Muharram), dan tanggal 11 Muharram.

Syaikh Muhammad Nawawi al-Jawi (Imam Nawawi al-Bantani) dalam kitab Nihâyatuz Zain fî Irsyâdil Mubtadi’în juga menyebutkan keutamaan puasa di bulan-bulan haram dan secara khusus menganjurkan puasa Asyura.

Tata Cara Puasa Asyura

Secara umum, rukun dan syarat puasa Asyura sama dengan puasa sunnah lainnya. Berikut adalah rinciannya:

  • Niat: Niat berpuasa Asyura di dalam hati. Niat puasa sunnah boleh diucapkan pada malam hari hingga sebelum masuk waktu Dzuhur (zawal), dengan syarat sejak terbit fajar belum makan, minum, atau melakukan hal yang membatalkan puasa.
  • Sahur: Sangat disunnahkan untuk melakukan makan sahur di penghujung malam sebelum azan Subuh berkumandang untuk mendapat keberkahan.• Menahan Diri: Menahan diri dari makan, minum, berhubungan suami istri, serta segala hal yang membatalkan puasa mulai dari terbit fajar (waktu Subuh) hingga terbenamnya matahari (waktu Maghrib).
  • Berbuka: Menyegerakan berbuka puasa ketika azan Maghrib telah berkumandang, disunnahkan dengan kurma atau air putih.
  • Penyempurna (Mukhalafah): Sangat dianjurkan agar puasa Asyura (10 Muharram) tidak dilakukan sendirian, melainkan digabung dengan puasa Tasu'a (9 Muharram) atau diikuti puasa tanggal 11 Muharram agar menyelisihi ibadah Ahli Kitab.

Jadwal Puasa Asyura 2026

Berdasarkan perhitungan kalender Hijriah, awal tahun baru 1 Muharram 1448 H bertepatan dengan hari Selasa, 16 Juni 2026. Dengan demikian, jadwal pelaksanaan puasa sunnah Muharram terdekat adalah sebagai berikut:

  • Puasa Tasu'a (9 Muharram 1448 H): Jatuh pada hari Rabu, 24 Juni 2026.
  • Puasa Asyura (10 Muharram 1448 H): Jatuh pada hari Kamis, 25 Juni 2026.

Keutamaan Puasa Asyura

Puasa Asyura merupakan amalan puasa yang paling ditekankan pada bulan Muharram karena memiliki fadhilah yang sangat besar.

  • Penghapusan Dosa Setahun: Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam menyatakan harapannya kepada Allah bahwa puasa pada hari Asyura dapat menghapuskan dosa tahun yang telah berlalu.
  • Pengampunan Dosa Kecil: Para ulama, seperti Imam An-Nawawi, menjelaskan bahwa dosa yang dihapuskan oleh puasa ini adalah dosa-dosa kecil (shagha'ir). Adapun dosa besar tetap memerlukan taubat nasuha yang khusus. Jika seorang hamba tidak memiliki dosa kecil, pahala puasanya akan diangkat sebagai tambahan derajat di sisi Allah. 

Peristiwa Penting di Hari Asyura

Pensyariatan puasa Asyura memiliki ikatan sejarah yang kuat dengan para nabi terdahulu, khususnya Nabi Musa 'Alaihissalam.

  • Selamatnya Nabi Musa: Landasan utama puasa Asyura adalah untuk memperingati hari di mana Allah menyelamatkan Nabi Musa 'Alaihissalam beserta kaumnya (Bani Israil) dari kejaran bala tentara Fir'aun dengan membelah lautan.
  • Bentuk Rasa Syukur: Nabi Musa kemudian berpuasa pada hari ke-10 Muharram tersebut sebagai bentuk syukur mutlak kepada Allah.
  • Penetapan Syariat Islam: Ketika Nabi Muhammad tiba di Madinah, beliau mendapati orang-orang Yahudi juga berpuasa untuk merayakan peristiwa tersebut. Rasulullah kemudian bersabda bahwa umat Islam lebih berhak terhadap syariat Nabi Musa dibandingkan mereka, sehingga beliau pun berpuasa dan memerintahkan umat Islam untuk turut berpuasa Asyura.

Pertanyaan Seputar Niat Puasa Asyura 10 Muharram

Apakah boleh membaca niat puasa Asyura di pagi hari?

Tata Cara dan Waktu Niat Puasa Asyura

Niat Puasa Asyura harus dilakukan dengan penuh kesadaran dan keikhlasan, sesuai dengan ajaran Islam. Waktu yang paling utama untuk melafalkan niat adalah pada malam hari sebelum fajar, sebagaimana umumnya puasa sunnah lainnya.

Mengapa Rasulullah menganjurkan puasa pada hari Tasua dan Asyura?

Rasulullah SAW menganjurkan puasa pada hari Tasu'a (9 Muharram) dan Asyura (10 Muharram) untuk membedakan ibadah umat Islam dengan umat Yahudi, sebagai bentuk rasa syukur atas keselamatan Nabi Musa, serta untuk meraih pengampunan dosa setahun yang lalu.

Bolehkah niat puasa Asyura digabung dengan puasa qadha?

Menggabungkan puasa sunah dan wajib secara sekaligus tidaklah diperbolehkan, seperti niat puasa Asyura dan qada Ramadan. Namun apabila ia meniatkan ingin mengqada puasa Ramadan di hari Asyura maka diperbolehkan, dengan catatan diniatkan untuk bayar utang Ramadan dan itu sah.

Siapa yang diperintahkan untuk berpuasa pada hari Asyura?

Adapun anjuran diterangkan dalam hadits Rasulullah SAW, yang artinya: "Dari Ibnu Abbas RA bahwa Rasulullah SAW berpuasa pada hari Asyura dan menyuruh untuk berpuasa pada hari itu." (HR Bukhari dan Muslim).

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |