Benarkah 10 Muharram Adalah Hari Diampuninya Dosa Nabi Adam? Simak Dalil dan Penjelasan Ulama

13 hours ago 8

Liputan6.com, Jakarta - Hari Asyura yang jatuh pada tanggal 10 Muharram menempati posisi istimewa khazanah Islam, lantaran terkait dengan rentetan peristiwa besar para nabi. Salah satu yang paling masyhur adalah tentang penerimaan taubat Nabi Adam AS. Hal ini memicu pertanyaan, benarkah 10 Muharram adalah hari diampuninya dosa Nabi Adam?

Pertanyaan ini wajar muncul karena peristiwa diterimanya taubat Nabi Adam itu terjadi ribuan tahun silam. Di sisi lain, kisah ini diabadikan dalam Al-Qur'an Surat Al-Baqarah ayat 37.

Al-Qurthubi dalam Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an menjelaskan bahwa penerimaan tobat Adam menunjukkan luasnya rahmat Allah. Meskipun Adam melakukan pelanggaran, pintu tobat tidak ditutup. Dari ayat ini, Al-Qurthubi mengambil pelajaran bahwa setiap manusia yang berdosa hendaknya segera kembali kepada Allah dengan tobat yang tulus.

Dalil ini menjadi bukti bahwa peristiwa tersebut benar terjadi. Lantas, benarkah terjadi pada 10 Muharram?

Kisah Diterimanya Taubat Nabi Adam AS

Kisah penyesalan Nabi Adam dan Hawa setelah diturunkan dari surga diabadikan dengan jelas dalam Al-Qur'an. Allah SWT menerima taubat mereka sebagaimana termaktub dalam firman-Nya:

فَتَلَقَّىٰ آدَمُ مِنْ رَبِّهِ كَلِمَاتٍ فَتَابَ عَلَيْهِ ۚ إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

"Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang." (QS. Al-Baqarah: 37).

Lantas, dari mana datangnya pengkhususan bahwa peristiwa ini terjadi pada 10 Muharram?

Al-Hafizh Ibnu Rajab al-Hanbali dalam kitabnya yang terkenal, Latha'if al-Ma'arif fima Li Mawasim al-'Am min al-Wadha'if, memang menghimpun berbagai riwayat sejarah yang menyebutkan bahwa Allah menerima taubat Nabi Adam bertepatan dengan hari Asyura.

Riwayat-riwayat inilah yang kemudian populer dan menyebar luas dari generasi ke generasi sebagai bagian dari keutamaan tanggal 10 Muharram.

Dalil Diterimanya Taubat Nabi Adam Terjadi pada 10 Muharram

Keyakinan bahwa diampuninya dosa Nabi Adam terjadi pada 10 Muharram berlandaskan pada beberapa sumber, yakni hadis dan pendapat ulama salaf:

1. Hadis Riwayat At-Tirmidzi

Rasulullah ﷺ bersabda: "Bila seseorang puasa sebulan setelah bulan Ramadhan, maka puasalah di bulan Muharram. Karena di bulan itu, hari-hari ketika Allah menerima tobat suatu kaum, dan menerima tobat kaum-kaum yang lain."

2. Perkataan Ulama Salaf (Atsar)

Ibnu Rajab al-Hanbali dalam kitabnya, Latha'if al-Ma'arif, meriwayatkan sebuah atsar yang shahih dari Ubaid bin Umair. Beliau berkata: "Muharram adalah bulan Allah yang penting (al-ashamm). Di dalamnya Nabi Adam diterima tobatnya. Bila kamu mampu untuk tidak melewatinya tanpa puasa, maka puasalah."

Sayyidina Ibnu Abbas, sahabat dan ahli tafsir terkemuka, juga menyatakan bahwa hari Asyura adalah hari di mana Allah menerima taubatnya Adam.

Tinjauan Kritis Ilmu Hadits

Meskipun narasi di atas sangat masyhur, para ulama ahli hadits dan peneliti kontemporer memberikan catatan kritis yang sangat tajam.

Dalam Buku Muharram Bulan Keramat, Mitos atau Realita?, Abu Abdillah Syahrul Fatwa bin Lukman menjelaskan bahwa umat Islam harus berhati-hati dalam memilah informasi seputar Asyura.

Beliau menegaskan, jika ditinjau dari kacamata ilmu hadits, riwayat-riwayat yang menyebutkan bahwa hari Asyura adalah hari diciptakannya langit dan bumi, hari mendaratnya kapal Nabi Nuh, hingga hari diampuninya dosa Nabi Adam, mayoritas bersumber dari hadits yang berderajat dhaif (lemah), munkar, bahkan maudhu' (palsu).

Sebagian dari kisah tersebut juga diidentifikasi oleh para ulama sebagai Israiliyyat (cerita yang disadur dari tradisi Ahli Kitab) yang tidak memiliki sanad marfu' (tersambung) yang shahih hingga kepada Rasulullah SAW.

Hal senada diuraikan oleh Ustadz Said Yai dalam buku Bulan Muharram dan Keutamaan Berpuasa di Dalamnya. Beliau menekankan pentingnya membangun keyakinan beragama di atas pondasi dalil yang valid. Meyakini suatu peristiwa sejarah yang tidak dilandasi oleh riwayat yang shahih dapat membuka celah masuknya khurafat dan pengagungan hari yang tidak sesuai dengan tuntunan sunnah.

Fakta Shahih di Balik Kemuliaan Asyura

Jika riwayat tentang Nabi Adam dinilai lemah, lalu peristiwa apa yang secara valid membuat 10 Muharram begitu istimewa?

Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid dalam Buku Keutamaan Asyura dan Bulan Muharram (Penerjemah: Abu Salma Muhammad Rachdie, S.Si) menukil kesepakatan para ulama bahwa satu-satunya peristiwa historis di hari Asyura yang memiliki landasan dalil paling shahih dan mutawatir adalah diselamatkannya Nabi Musa AS beserta Bani Israil dari kejaran Fir'aun.

Hal ini bersandar pada hadits shahih riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim dari Ibnu Abbas: Ketika Nabi tiba di Madinah, beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa di hari Asyura... Mereka menjawab, "Ini adalah hari yang baik, hari di mana Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuhnya, maka Musa berpuasa pada hari itu sebagai bentuk syukur." Nabi bersabda, "Aku lebih berhak terhadap Musa daripada kalian."

Ebook Bimbingan Islam Seputar Bulan Muharram yang disusun oleh Tim Bimbingan Islam juga menegaskan bahwa kemuliaan hari Asyura sejatinya terletak pada syariat ibadah puasanya, bukan pada peringatan rentetan kejadian sejarah yang belum terbukti kebenarannya secara sanad. Puasa inilah yang dijanjikan oleh Rasulullah dapat menghapuskan dosa selama satu tahun yang berlalu.

Sikap Tepat Seorang Muslim

Menjawab pertanyaan "benarkah 10 Muharram adalah hari diampuninya dosa Nabi Adam?", secara akademik dan keilmuan hadits, klaim tersebut tidak dapat dibuktikan kebenarannya melalui riwayat yang shahih dari Nabi Muhammad SAW, melainkan sebatas riwayat sejarah dan kisah masa lalu (Israiliyyat).

Oleh karena itu, sikap terbaik bagi seorang Muslim adalah:

  • Fokus pada Dalil Shahih: Mengagungkan hari Asyura karena peristiwa kemenangan Nabi Musa 'Alaihissalam, sebagaimana yang dikabarkan langsung oleh Rasulullah.
  • Menghidupkan Sunnah Utama: Meraih pengampunan dosa di bulan Muharram bukan dengan merayakan sejarah Nabi Adam, melainkan dengan melaksanakan ketaatan berupa puasa sunnah di tanggal 10 Muharram (disertai puasa Tasu'a pada tanggal 9 Muharram) dan memperbanyak taubat nasuha kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Hikmah di Balik Kisah Ini

Terlepas dari benar dan tidaknya diterimanya taubat Nabi Adam terjadi pada 10 Muharram, esensi utama ajarannya adalah tentang taubat nasuha. Banyak pelajaran yang dapat dipetik dari kisah diampuninya dosa Nabi Adam AS.

  • Pintu Taubat Selalu Terbuka: Kesalahan terbesar sekalipun, jika diikuti dengan penyesalan dan permohonan ampun yang tulus, akan diampuni oleh Allah Yang Maha Pengampun.
  • Kesabaran dalam Menghadapi Ujian: Adam dan Hawa menjalani masa penyesalan yang panjang dengan penuh kesabaran, mengajarkan kita untuk tidak putus asa dari rahmat Allah.
  • Kemuliaan Bulan Muharram: Peristiwa ini semakin menegaskan bahwa bulan Muharram, khususnya hari Asyura, adalah waktu yang istimewa dan penuh keberkahan.

Pertanyaan Seputar Diterimanya Taubat Nabi Adam pada 10 Muharram

Peristiwa apa yang terjadi di tgl 10 Muharram?

Tanggal 10 Muharram (Hari Asyura) dikenal sebagai hari bersejarah dalam Islam yang mencakup berbagai peristiwa penting, mulai dari penyelamatan para Nabi oleh Allah SWT hingga tragedi Perang Karbala.

Mengapa 10 Muharram disebut Lebaran Yatim?

Tanggal 10 Muharram disebut sebagai "Lebaran Yatim" (atau Idul Yatama) karena adanya anjuran untuk lebih memperhatikan, menyantuni, dan membahagiakan anak yatim pada hari tersebut. Istilah ini merupakan tradisi budaya masyarakat Muslim, khususnya di Indonesia, yang berakar dari anjuran agama untuk bersedekah dan menyayangi anak yatim.

Apakah Allah menerima taubat Nabi Adam dan Hawa?

Ya, Allah menerima taubat Nabi Adam dan Siti Hawa. Setelah keduanya memakan buah dari pohon terlarang, Allah mengajarkan mereka kalimat penyesalan yang diabadikan dalam Surah Al-A'raf ayat 23

Apa istimewanya 10 Muharram?

Tanggal 10 Muharram sangat istimewa karena dikenal sebagai Hari Asyura, hari di mana Allah SWT menyelamatkan Nabi Musa dan kaumnya dari kejaran Fir'aun, serta terjadinya berbagai peristiwa besar para nabi lainnya. Hari ini juga dianjurkan untuk berpuasa guna menghapus dosa setahun yang lalu.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |