Benarkah Tidak Adanya Kesialan di Bulan Safar? Simak Dalil dan Penjelasan Ulama

6 hours ago 2

Liputan6.com, Jakarta - Di era kekinian, kerap muncul pertanyaan, benarkah tidak adanya kesialan di bulan Safar? Pertanyaan ini relevan mengingat terdapat berbagai mitos kesialan di bulan kedua penanggalan Hijriah ini.

Mitos tersebut berkembang dalam berbagai bentuk, ada yang menganggap Rabu terakhir bulan Safar sebagai hari turunnya bala, ada pula yang menolak melaksanakan umrah pada bulan Safar karena dianggap sial.

Ironisnya, kepercayaan semacam ini tak hanya hidup di masa lalu. Fenomena unlucky day justru menemukan wajah barunya di kalangan generasi muda. Inilah yang mesti diluruskan.

Sebab, dalam penelitian tematik terhadap hadis-hadis tentang khurafat bulan Safar, tidak ada satu pun hadis sahih yang menetapkan adanya kesialan khusus di bulan tersebut. Dari enam hadis yang diteliti, empat di antaranya bernilai da‘if bahkan maudhu‘ (palsu), sedangkan dua hadis sahih justru menolak seluruh bentuk penisbahan nasib buruk kepada waktu tertentu.

Merujuk jurnal Khurafat Bulan Safar dalam Perspektif Hadis: Studi Fenomena Kepercayaan Unlucky Day di Kalangan Gen Z, Nadia Ilma Umami dan Mohammad Hamsa Fauriz dan Makna Mitos dalam Tradisi Mandi Safar di Desa Air Hitam Laut, Anisa Rahmadina dkk, artikel ini akan membedah mitos kesialan Safar, dalam berbagai perspektif.

Bantahan Rasulullah SAW bahwa Safar Bulan Sial

Kepercayaan kesialan Safar sebenarnya bukanlah fenomena baru. Hal ini berasal tradisi masyarakat Arab Jahiliah yang menganggap Safar sebagai bulan penuh kejelekan. Hal ini kemudian hidup dan berkembang di tengah masyarakat, melintasi zaman dan berbagai budaya.

Padahal, Rasulullah SAW secara tegas membantah keyakinan kesialan bulan Safar. Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda, yang artinya:

“Tidak ada penyakit menular (dengan sendirinya), tidak ada thiyarah (firasat sial), tidak ada hāmah (burung hantu pembawa sial), dan tidak ada Ṣafar (kesialan bulan Safar).” (HR Muslim, no. 4120).

Dalam riwayat lain disebutkan: “Tidak ada (kesialan) pada bulan Safar.”

Penjelasan Ulama Mengenai Mitos Safar Bulan Sial

Para ulama memberikan penjelasan mendalam mengenai makna sabda Nabi ini. Syaikh Abdul Aziz bin Baz menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan “lā ṣafara” adalah bulan yang dikenal tersebut.

Sebagian ahli Jahiliah menganggap sial bulan ini, maka Nabi SAW membatalkan anggapan itu dan menjelaskan bahwa bulan Safar sama seperti bulan-bulan lainnya, tidak ada sesuatu pun di dalamnya yang mewajibkan seseorang untuk merasa sial.

Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam Laṭā’if al-Ma‘ārif menegaskan bahwa setiap waktu pada hakikatnya baik; yang membuatnya tampak “buruk” adalah perbuatan manusia.

Beliau menyatakan bahwa setiap zaman yang orang mukmin menyibukkannya dengan ketaatan kepada Allah, maka merupakan zaman yang diberkahi; dan setiap zaman orang mukmin menyibukkannya dengan bermaksiat kepada Allah, maka merupakan zaman kesialan (tidak diberkahi).

Sementara, Ibnu Katsir dalam tafsirnya juga menegaskan bahwa Nabi SAW membatalkan semua anggapan gaib yang dikaitkan dengan bulan Safar.

Bantahan dalam Al-Qur;an, Segala Musibah adalah Ketetapan Allah

Bantahan Rasulullah SAW bersandar pada prinsip tauhid dallam Al-Qur’an. Allah SWT berfirman: “Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri, melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (QS. Al-Hadid: 22).

Allah juga berfirman, yang artinya: “Dan sungguh Kami akan menguji kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155)

Ayat-ayat ini menegaskan bahwa musibah dan ujian adalah bagian dari sunatullah—ketetapan Allah yang berlaku bagi seluruh hamba-Nya. Kesialan tidak terikat pada bulan atau hari tertentu, melainkan kehendak Allah yang Maha Bijaksana.

Mengenal Mitos Kesialan di Bulan Safar

Bulan Safar kerap diselimuti oleh berbagai mitos dan keyakinan irasional yang diwariskan secara turun-temurun. Beberapa mitos yang berkembang di masyarakat antara lain:

· Rabu Wekasan sebagai Hari Naas: Sebagian masyarakat meyakini bahwa hari Rabu terakhir di bulan Safar adalah waktu turunnya malapetaka atau hari sial yang terjadi secara terus-menerus.

· Waktu Turunnya Bala: Bulan Safar diidentikkan dengan waktu datangnya penyakit atau musibah, sehingga melahirkan ritual-ritual khusus seperti tradisi Mandi Safar. Tradisi ini dilakukan sebagai ritual tolak bala dan pembersihan diri dari kesialan menggunakan air dan doa-doa tertentu .

· Warisan Keyakinan Jahiliah: Mitos ini sebenarnya sudah ada sejak zaman pra-Islam. Masyarakat Jahiliah memiliki berbagai pantangan di bulan Safar, seperti menolak melakukan ibadah umrah karena dianggap sebagai keburukan. Mereka juga meyakini bahwa Safar adalah penyakit atau serangga berbisa di dalam perut yang bisa menular.

· Kaitan dengan Fenomena Alam: Terdapat pula keyakinan kuno yang mengaitkan fenomena alam di bulan Safar, seperti gerhana bulan, dengan pertanda akan terjadinya musibah kelaparan atau sedikitnya curah hujan.

Seluruh keyakinan tersebut dikategorikan sebagai *khurafat* atau berita yang penuh dengan kedustaan.

Peristiwa Penting di Bulan Safar

Beberapa peristiwa penting dalam sejarah Islam juga menjadi bukti bahwa Safar bukan bulan sial. Berikut di antaranya:

1. Pernikahan Rasulullah SAW dengan Sayyidah Khadijah

Sebelum diangkat menjadi rasul, tepatnya ketika Nabi Muhammad SAW berusia 26 tahun, beliau melangsungkan pernikahan dengan Khadijah binti Khuwailid pada bulan Safar. Pernikahan ini sangat bersejarah karena Khadijah kelak menjadi sosok pertama yang mengimani kerasulan beliau dan pendukung utama dakwah Islam di masa-masa tersulit.

2. Titik Awal Perjalanan Hijrah Rasulullah SAW

Meski Rasulullah SAW tiba di Madinah pada bulan Rabiul Awal, persiapan dan awal keberangkatan hijrah beliau terjadi di penghujung bulan Safar. Beliau meninggalkan kediamannya di Mekkah bersama Abu Bakar Ash-Shiddiq dan bersembunyi di Gua Tsur di akhir Safar guna menghindari kepungan kaum musyrikin Quraisy.

3. Pernikahan Ali bin Abi Thalib dan Fatimah az-Zahra

Pada bulan Safar tahun ke-2 Hijriah, Rasulullah SAW menikahkan putri bungsunya, Sayyidah Fatimah az-Zahra, dengan sahabat terdekat sekaligus sepupu beliau, Ali bin Abi Thalib. Pernikahan ini menjadi salah satu ikatan suci yang paling diberkahi dan melahirkan keturunan yang menjaga garis nasab Rasulullah SAW.

4. Perang Al-Abwa (Ghazwah Waddan)

Terjadi pada tahun ke-2 Hijriah, Perang Al-Abwa tercatat sebagai pertempuran atau ekspedisi militer (ghazwah) pertama dalam sejarah Islam yang dipimpin langsung oleh Rasulullah SAW setelah hijrah. Dalam ekspedisi ini tidak terjadi pertumpahan darah, melainkan menghasilkan perjanjian damai dengan Bani Dhamrah.

5. Penaklukan Khaibar (Perang Khaibar)

Pada bulan Safar tahun ke-7 Hijriah, umat Islam di bawah pimpinan Rasulullah SAW berhasil menaklukkan benteng Khaibar. Kemenangan di peperangan ini sangat penting karena berhasil menetralisir ancaman besar dari kelompok Yahudi yang kerap merongrong keamanan kaum muslimin di Jazirah Arab.

6. Keislaman Amr bin Ash dan Khalid bin Walid

Pada bulan Safar tahun ke-8 Hijriah, Islam mendapat kekuatan baru yang sangat besar dengan masuk Islamnya tokoh-tokoh militer dan diplomat ulung Quraisy, yakni Amr bin Ash, Khalid bin Walid, serta Utsman bin Thalhah. Keislaman mereka kelak membawa dampak luar biasa bagi pembebasan dan perluasan wilayah dakwah Islam.

Kedudukan Bulan Safar dalam Islam

1. Bukan Bulan Sial

Dalam ajaran Islam, tidak ada satu pun bulan yang dikutuk atau membawa kemalangan. Al-Qur’an dan hadis tidak menyebutkan bulan Safar secara khusus dalam konteks negatif. Sebagian besar ulama sepakat bahwa keyakinan mengenai kesialan bulan Safar adalah hasil dari takhayul dan tradisi budaya yang tidak memiliki dasar dalam ajaran Islam.

Bahkan, bulan Safar justru merekam peristiwa-peristiwa monumental dalam sejarah Islam, di antaranya pernikahan Sayyidah Fatimah dengan Ali bin Abi Thalib dan hijrahnya Rasulullah SAW dari Mekkah ke Madinah. Ini menjadi bukti nyata bahwa Rasulullah sendiri menunjukkan bulan Safar bukanlah bulan sial.

2. Bukan Bulan Haram

Perlu dipahami pula bahwa Safar bukan termasuk bulan haram (asyhurul hurum). Bulan-bulan haram dalam Islam ada empat: Dzulqa‘dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab. Safar adalah bulan biasa—seperti bulan-bulan lainnya—yang tidak memiliki keistimewaan khusus sebagai bulan haram, namun juga tidak memiliki kejelekan khusus sebagai bulan sial.

3. Makna Nama “Safar”

Secara bahasa, kata “Safar” berarti kosong, sunyi, atau sepi. Penamaan ini berkaitan dengan kebiasaan masyarakat Arab yang biasa bepergian atau berperang pada bulan itu, sehingga rumah-rumah mereka menjadi kosong.

Ada pula yang mengatakan bahwa pada bulan Safar, orang Arab memiliki kebiasaan memanen semua tanaman dan mengosongkan lahan mereka. Tidak ada kaitan sama sekali antara nama bulan ini dengan kesialan atau malapetaka.

Amalan-Amalan Sunnah di Bulan Safar

Karena Safar bukanlah bulan sial, umat Islam justru dianjurkan untuk mengisinya dengan berbagai amalan kebaikan, sebagaimana bulan-bulan lainnya. Berikut adalah beberapa amalan sunnah yang dapat dikerjakan:

1. Memperbanyak Sedekah dan Amal Kebajikan

Sedekah adalah amalan yang sangat dianjurkan di bulan Safar. Rasulullah SAW bersabda: “Wahai manusia, bertobatlah kalian kepada Tuhan kalian sebelum kalian mati. Bersegeralah kembali kepada-Nya dengan amal-amal saleh, sambunglah hubungan antara Tuhan dan kalian dengan memperbanyak dzikir dan sedekah, baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, niscaya kalian akan diberi pahala, ditolong, dan diberi rezeki.” (HR dari Jabir bin Abdullah)

2. Puasa Sunnah rutin

Sebagaimana bulan-bulan lainnya, umat Islam dianjurkan melaksanakan berbagai puasa sunnah. Di antaranya, puasa Senin Kamis, Puasa Daud, puasa Ayyamul Bidh, dan lain sebagainya.

3. Memperbanyak Doa dan Dzikir

Bulan Safar adalah waktu yang tepat untuk memperbanyak doa dan dzikir. Allah SWT berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.” (QS. Ghafir: 60)

4. Menjaga dan Mempererat Silaturahmi

Menyambung tali silaturahmi adalah amalan yang memiliki banyak keutamaan. Allah SWT berfirman: “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai.” (QS. Ali Imran: 103)

5. Shalat Sunnah dan Memperbanyak Istighfar

Shalat-shalat sunnah seperti Dhuha, Tahajud, dan Rawatib, serta memperbanyak istighfar, juga sangat dianjurkan.

Hikmah Melaksanakan Amal dan Ibadah di Bulan Safar

Ada beberapa hikmah penting yang dapat dipetik dari pelaksanaan amal ibadah di bulan Safar:

1. Menegaskan prinsip tauhid bahwa nasib dan keberuntungan sepenuhnya berada di tangan Allah, bukan terikat pada waktu atau bulan tertentu. Dengan beribadah di bulan yang dianggap “sial” oleh sebagian orang, seorang Muslim justru menunjukkan keyakinannya bahwa Allah-lah satu-satunya Dzat yang memberi manfaat dan mudarat.

2. Memutus mata rantai takhayul dan khurafat yang diwariskan turun-temurun. Tradisi jahiliah yang mengaitkan kesialan dengan bulan Safar dibantah oleh Nabi SAW, dan umat Islam diajak untuk meninggalkan keyakinan semacam itu.

3. Mengoptimalkan setiap waktu untuk kebaikan. Sebagaimana ditegaskan Ibnu Rajab, setiap waktu yang diisi dengan ketaatan adalah waktu yang diberkahi, dan setiap waktu yang diisi dengan kemaksiatan adalah waktu kesialan. Kesialan bukan terletak pada bulan atau hari, melainkan pada kualitas amal manusia itu sendiri.

4. Menjadi teladan bagi generasi muda. Di tengah maraknya konten astrologi dan ramalan zodiak di kalangan Gen Z, pelaksanaan ibadah di bulan Safar menjadi bukti nyata bahwa Islam telah memberikan panduan yang jelas dan membebaskan umatnya dari belenggu takhayul.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |