Contoh Jumlah Ismiyah dalam Bahasa Arab Lengkap dengan Penjelasan dan Kaidahnya

13 hours ago 5

Liputan6.com, Jakarta Jumlah ismiyah adalah kalimat yang diawali oleh kata benda (isim) dan tidak mengandung kata kerja utama. Memahami contoh jumlah ismiyah menjadi langkah mendasar bagi siapa saja yang ingin menguasai ilmu nahwu dan tata bahasa Arab secara menyeluruh.

Kalimat nominal ini tidak memiliki kata kerja, melainkan menekankan identifikasi, deskripsi, atau atribusi terhadap subjek. Dalam kehidupan sehari-hari maupun teks-teks keagamaan, berbagai contoh jumlah ismiyah dapat ditemukan mulai dari ungkapan sederhana hingga ayat-ayat Al-Qur'an yang penuh makna.

Jumlah ismiyah merupakan salah satu struktur terpenting dalam tata bahasa Arab dan juga dalam Al-Qur'an. Struktur kalimat nominal dalam bahasa Arab justru merupakan sebuah anugerah struktural karena memungkinkan seseorang membuat pernyataan lengkap dan bermakna hanya dengan dua kata saja. Berikut ulasan selengkapnya, dirangkum Liputan6.com pada Jumat (26/6/2026). 

Pengertian Jumlah Ismiyah dalam Bahasa Arab

Kalimat nominal dalam tata bahasa Arab, yang dikenal sebagai jumlah ismiyah, dimulai dengan kata benda (isim) atau kata ganti (dhamir), dan tidak diawali oleh kata kerja (fi'il). Konsep ini menjadi fondasi utama yang membedakan dua jenis kalimat dalam bahasa Arab, yakni jumlah ismiyah dan jumlah fi'liyah. Kalimat pada dasarnya adalah sekelompok kata yang menyampaikan ide lengkap, di mana komponen intinya terdiri dari subjek dan predikat yakni subjek merujuk pada orang, tempat, atau hal yang sedang dibicarakan, sementara predikat menyatakan informasi tentang subjek tersebut.

Mengacu pada penjelasan di Kalimah Center, kalimat nominal Arab terdiri dari subjek (مبتدأ) dan predikat (خبر) tanpa kata kerja, di mana subjek dan predikat harus sepadan dalam jenis kelamin dan bilangan, serta secara umum mengikuti pola subjek terlebih dahulu kemudian predikat. Struktur ini berbeda dari bahasa Inggris maupun bahasa Indonesia yang umumnya memerlukan kata penghubung "adalah" atau "is" untuk menghubungkan subjek dan predikat.

Kalimat nominal dalam bahasa Arab didefinisikan sebagai kalimat yang kata pertama yang bermakna berupa kata benda (isim) atau kata ganti (dhamir), dan tidak seperti bahasa Inggris, bahasa Arab tidak memerlukan kata kerja penghubung seperti "is," "are," atau "was" pada kalimat masa kini. Hubungan antara subjek dan predikat terbangun secara struktural melalui urutan kata dan tanda i'rab.

Sebagaimana disampaikan Arabic Learning Centre, menguasai mubtada dan khabar beserta kaidah tanda i'rab, persyaratan definitif, dan aturan kesepakatannya memberikan kerangka untuk ratusan kalimat natural, setiap pelajar bahasa Arab yang menginternalisasi struktur ini memperoleh alat yang akan digunakan seumur hidup, dalam setiap teks dari dialog pemula hingga teks Qur'an klasik.

Baca juga: Mengenal Ilmu Nahwu, Sejarah, dan Tujuan Mempelajarinya

Unsur-Unsur Pembentuk Jumlah Ismiyah: Mubtada dan Khabar

Bagian utama jumlah ismiyah adalah mubtada (subjek) dan khabar (predikat), mubtada memberikan topik pembicaraan, sementara khabar menyampaikan informasi tentang topik tersebut. Kedua unsur ini tidak bisa dipisahkan satu sama lain agar kalimat menjadi sempurna maknanya. Berikut penjelasan masing-masing unsur:

  1. Mubtada (المبتدأ) — Mubtada harus berupa isim ma'rifah (kata benda definitif), seperti kata benda berawalan alif-lam, nama diri, kata tunjuk, atau kata ganti. Mubtada dalam kalimat nominal selalu dimulai dengan kata benda atau kata ganti, dan subjeknya biasanya bersifat definitif, artinya merujuk pada sesuatu yang spesifik atau diketahui. Contohnya: الطَّالِبُ (siswa), هَذَا (ini), atau أَنَا (saya). Untuk mendalami konsep kata benda bahasa Arab, Anda bisa mempelajari macam-macam isim dalam bahasa Arab.
  2. Khabar (الخبر) — Khabar memberikan informasi tambahan tentang subjek dan dapat berupa kata benda, kata ganti, kata sifat, frasa preposisi, atau bahkan klausa utuh. Khabar berfungsi menyempurnakan makna mubtada sehingga kalimat menjadi utuh. Tanpa khabar, mubtada hanya berupa potongan kata yang belum menyampaikan pesan lengkap.
  3. Kedudukan I'rab — Mubtada dan khabar keduanya harus berupa kata benda dan berada dalam kedudukan raf' (marfu'). Tanda raf' ini umumnya ditandai dengan harakat dhammah ( ُ ) pada akhir kata, atau bisa juga berupa wawu untuk jamak mudzakkar salim dan alif-nun untuk mutsanna.
  4. Kesesuaian Gender dan Bilangan — Mubtada dan khabar harus sepadan dalam bilangan dan gender. Jika mubtada berupa isim mudzakkar (maskulin), maka khabar juga harus mudzakkar. Demikian pula dalam hal bilangan, apakah mufrad (tunggal), mutsanna (ganda), atau jamak (plural). Pelajari lebih lanjut tentang perbedaan isim mudzakkar dan mu'annats.
  5. Definitif vs Indefinitif — Mubtada biasanya berupa kata benda definitif (ma'rifah), sementara khabar biasanya berupa kata benda indefinitif (nakirah). Misalnya, pada kalimat الكِتَابُ جَدِيدٌ (Buku itu baru), kata الكِتَابُ bersifat definitif dengan alif-lam, sedangkan جَدِيدٌ bersifat indefinitif dengan tanwin.

Berdasarkan penjelasan di Shaykhi Academy, subjek kalimat nominal bahasa Arab bisa berupa kata benda, masdar muawwal, atau kata benda yang tidak berubah bentuk (non-declinable), sementara predikatnya bisa berupa mufrad, kalimat nominal/verbal, atau syibhu jumlah. Pemahaman kelima unsur ini menjadi kunci untuk menguasai setiap contoh jumlah ismiyah yang ditemui. Untuk lebih memahami fungsi mubtada dan khabar, Anda dapat membaca penjelasan mubtada khabar beserta contohnya.

Macam-Macam Khabar dalam Jumlah Ismiyah

Khabar sebagai predikat dalam jumlah ismiyah tidak selalu berupa satu kata saja. Khabar dapat muncul dalam berbagai bentuk tergantung pada struktur kalimatnya. Memahami macam-macam khabar akan memperkaya kemampuan Anda dalam mengidentifikasi dan menyusun beragam contoh jumlah ismiyah. Berikut tiga jenis utama khabar yang perlu dikuasai:

  1. Khabar Mufrad (خبر مفرد) — Khabar mufrad adalah khabar yang terdiri dari satu kata saja, sering kali berupa kata sifat atau kata benda yang menjelaskan mubtada. Contoh: الجَوُّ جَمِيلٌ (Cuaca itu indah), di mana جَمِيلٌ adalah khabar mufrad yang mendeskripsikan الجَوُّ. Khabar mufrad merupakan bentuk paling dasar dan paling sering dijumpai dalam pembelajaran awal nahwu dan shorof.
  2. Khabar Jumlah (خبر جملة) — Khabar jenis ini berupa kalimat lengkap, baik jumlah fi'liyah maupun jumlah ismiyah lain. Kalimat verbal utuh bisa berfungsi sebagai khabar, menambahkan elemen dinamis pada kalimat nominal. Contoh khabar jumlah fi'liyah: الوَلَدُ يَقْرَأُ القُرْآنَ (Anak itu membaca Al-Qur'an). Contoh khabar jumlah ismiyah: الوَلَدُ جِسْمُهُ كَبِيرٌ (Anak itu badannya besar). Dalam khabar jumlah, harus terdapat dhamir (kata ganti) yang kembali merujuk pada mubtada.
  3. Khabar Syibhul Jumlah (خبر شبه جملة) — Terkadang kita perlu menyampaikan informasi tentang lokasi atau hubungan, dan di sinilah frasa preposisi berperan sebagai khabar. Khabar syibhul jumlah terdiri dari huruf jar dan isim majrur (seperti فِي المَدْرَسَةِ — di sekolah) atau dharaf/keterangan tempat dan waktu (seperti أَمَامَ البَيْتِ — di depan rumah). Contoh lengkap: الكِتَابُ فِي الحَقِيبَةِ (Buku itu ada di dalam tas).

Sebagaimana dikutip dari Kalimah Center, memahami kalimat nominal bahasa Arab merupakan langkah pertama menuju penguasaan tata bahasa Arab secara keseluruhan. Ketiga macam khabar ini memberikan fleksibilitas yang luas dalam menyusun kalimat bahasa Arab yang beragam dan bermakna.

Contoh Jumlah Ismiyah Lengkap dengan Penjelasannya

Setelah memahami pengertian dan unsur-unsurnya, berikut ini sejumlah contoh jumlah ismiyah yang disusun berdasarkan tingkat kerumitan, mulai dari kalimat sederhana hingga yang lebih kompleks. Setiap contoh dilengkapi identifikasi mubtada dan khabar agar mudah dipahami.

Contoh Jumlah Ismiyah dengan Khabar Mufrad:

  1. القَلَمُ جَدِيدٌ — Pulpen itu baru (Mubtada: القَلَمُ / Khabar: جَدِيدٌ)
  2. أَحْمَدُ مُسْلِمٌ — Ahmad adalah seorang Muslim (Mubtada: أَحْمَدُ / Khabar: مُسْلِمٌ)
  3. المَكْتَبَةُ كَبِيرَةٌ — Perpustakaan itu besar (Mubtada: المَكْتَبَةُ / Khabar: كَبِيرَةٌ)
  4. الشَّايُ حُلْوٌ — Teh itu manis (Mubtada: الشَّايُ / Khabar: حُلْوٌ)
  5. اللهُ غَفُورٌ — Allah Maha Pengampun (Mubtada: اللهُ / Khabar: غَفُورٌ)
  6. الرَّجُلُ صَادِقٌ — Lelaki itu jujur (Mubtada: الرَّجُلُ / Khabar: صَادِقٌ)
  7. الدَّارُ وَاسِعَةٌ — Rumah itu luas (Mubtada: الدَّارُ / Khabar: وَاسِعَةٌ)
  8. هَذَا كِتَابٌ — Ini adalah buku (Mubtada: هَذَا / Khabar: كِتَابٌ)

Contoh Jumlah Ismiyah dengan Khabar Jumlah:

  1. الوَلَدُ يَقْرَأُ القُرْآنَ — Anak itu membaca Al-Qur'an (Mubtada: الوَلَدُ / Khabar: يَقْرَأُ القُرْآنَ — jumlah fi'liyah)
  2. زَيْدٌ بَيْتُهُ كَبِيرٌ — Zaid rumahnya besar (Mubtada: زَيْدٌ / Khabar: بَيْتُهُ كَبِيرٌ — jumlah ismiyah)
  3. الطَّالِبُ يَكْتُبُ الدَّرْسَ — Siswa itu menulis pelajaran (Mubtada: الطَّالِبُ / Khabar: يَكْتُبُ الدَّرْسَ — jumlah fi'liyah)

Contoh Jumlah Ismiyah dengan Khabar Syibhul Jumlah:

  1. الوَلَدُ فِي الفَصْلِ — Anak itu di dalam kelas (Mubtada: الوَلَدُ / Khabar: فِي الفَصْلِ — jar majrur)
  2. الكِتَابُ عَلَى المَكْتَبِ — Buku itu di atas meja (Mubtada: الكِتَابُ / Khabar: عَلَى المَكْتَبِ — jar majrur)
  3. العِيدُ غَدًا — Hari raya itu besok (Mubtada: العِيدُ / Khabar: غَدًا — dharaf zaman)

Merujuk penjelasan di Ultimate Arabic, tidak ada kata "is" dalam bahasa Arab pada kalimat nominal, tetapi kita menyisipkannya agar terjemahan terasa halus — secara harfiah kalimatnya hanya "Muhammad hadir", tetapi kita memahaminya sebagai "Muhammad [adalah] hadir." Contoh-contoh jumlah ismiyah di atas menunjukkan betapa sederhana namun padat makna struktur kalimat nominal Arab. Anda juga dapat memperkaya kosakata bahasa Arab sehari-hari untuk membentuk lebih banyak kalimat nominal secara mandiri.

Baca juga: Mubtada Adalah Elemen Kalimat, Ini Pembagiannya

Kaidah Penting dalam Menyusun Jumlah Ismiyah

Menyusun contoh jumlah ismiyah yang benar memerlukan pemahaman terhadap beberapa kaidah mendasar. Kaidah-kaidah ini memastikan kalimat yang dibentuk tidak hanya gramatikal tetapi juga bermakna. Berikut kaidah-kaidah utama yang perlu diperhatikan:

  1. Mubtada dan Khabar Harus Marfu' — Mubtada dan khabar selalu berada dalam kedudukan marfu' (nominatif). Tanda marfu' yang paling umum adalah dhammah di akhir kata. Contoh: الرَّجُلُ صَادِقٌ — dhammah pada kedua kata menandakan keduanya marfu'.
  2. Mubtada Harus Isim Ma'rifah — Mubtada harus berupa kata benda definitif (isim ma'rifah). Hal ini bisa dicapai melalui penambahan alif-lam (ال), penggunaan nama diri (isim alam), kata tunjuk (isim isyarah), atau kata ganti (isim dhamir). Sementara khabar umumnya berupa isim nakirah (indefinitif) yang ditandai dengan tanwin.
  3. Kesesuaian Gender (Jenis Kelamin) — Kata benda maskulin membutuhkan khabar maskulin, dan kata benda feminin membutuhkan khabar feminin. Contoh yang benar: الرَّجُلُ مُجْتَهِدٌ (Lelaki itu rajin) dan المَرْأَةُ مُجْتَهِدَةٌ (Wanita itu rajin).
  4. Kesesuaian Bilangan — Secara umum, khabar harus sepadan dengan mubtada dalam hal bilangan (tunggal, ganda, atau jamak) dan gender (maskulin atau feminin); namun, ketika khabar berbentuk jamak taksir yang merujuk pada benda tidak berakal (غير عاقل), maka khabar menggunakan bentuk tunggal feminin. Contoh: الكُتُبُ قَيِّمَةٌ (Buku-buku itu berharga), meskipun الكُتُبُ berbentuk jamak, khabar-nya berupa mufrad muannats karena merujuk pada benda tak berakal.
  5. Urutan Mubtada-Khabar Bisa Berubah — Urutan normal kalimat nominal adalah mubtada dahulu lalu khabar, tetapi terkadang urutan ini bisa dibalik untuk tujuan penekanan (emphasis), seperti yang sering dilakukan penyair. Contoh: فِي الدَّارِ رَجُلٌ (Di rumah itu ada seorang lelaki), di mana khabar mendahului mubtada untuk menekankan lokasi.
  6. Pengaruh Partikel Inna dan Saudara-Saudaranya — Enam partikel yang disebut "Inna wa Akhawatuh" (Inna dan saudara-saudaranya) dapat memasuki kalimat nominal dan mengubah kedudukan i'rab mubtada. Ketika partikel seperti إِنَّ masuk ke dalam kalimat, mubtada berubah menjadi nashab (mansub), sementara khabar tetap marfu'. Contoh: إِنَّ اللهَ رَحِيمٌ (Sesungguhnya Allah Maha Penyayang).

Struktur partikel inna ini muncul ratusan kali dalam Al-Qur'an sehingga memahaminya sangat esensial untuk mempelajari tata bahasa Qur'an. Kaidah-kaidah di atas menjadi panduan utama bagi setiap pelajar yang ingin menyusun contoh jumlah ismiyah dengan tepat.

Kemampuan mengidentifikasi jumlah ismiyah juga sangat bermanfaat saat mempelajari kitab-kitab nahwu klasik maupun modern. Bahkan tokoh besar nahwu seperti Ibnu Malik dalam Alfiyah-nya memberikan porsi besar untuk pembahasan mubtada dan khabar.

Perbedaan Jumlah Ismiyah dan Jumlah Fi'liyah

Salah satu hal yang kerap membingungkan pelajar bahasa Arab adalah membedakan jumlah ismiyah dengan jumlah fi'liyah. Terdapat dua tipe kalimat dalam bahasa Arab yakni jumlah ismiyah (kalimat nominal) dan jumlah fi'liyah (kalimat verbal), nominal berasal dari "noun" sehingga jumlah ismiyah adalah kalimat yang diawali oleh kata benda, dan jika kata pertama berupa kata kerja maka disebut kalimat verbal. Perbedaan keduanya terletak pada beberapa aspek penting yang akan membantu Anda menganalisis setiap kalimat Arab dengan lebih tepat.

Dari segi unsur pembuka kalimat, jumlah ismiyah selalu dimulai dengan isim (kata benda), sedangkan jumlah fi'liyah dimulai dengan fi'il (kata kerja). Dari segi struktur penyusun, jumlah ismiyah tersusun dari mubtada dan khabar, sementara jumlah fi'liyah terdiri dari fi'il (kata kerja), fa'il (pelaku), dan maf'ul bih (objek). Dari segi makna yang disampaikan, jumlah ismiyah cenderung menyatakan keadaan yang tetap, definisi, atau sifat permanen, sedangkan jumlah fi'liyah mengekspresikan tindakan yang terikat waktu.

Mengutip penjelasan dari penelitian di UIN Malang, menurut teori tata bahasa Arab tradisional, jumlah ismiyah pada dasarnya ditulis untuk menyampaikan keadaan yang bersifat tetap dan abadi, sementara jumlah fi'liyah secara intrinsik berkaitan dengan ekspresi tindakan yang terjadi dalam kurun waktu tertentu. Perbedaan mendasar ini memberikan nuansa makna yang berbeda meskipun informasi yang disampaikan bisa serupa.

Kalimat nominal bukan kalimat verbal yang cacat dengan kata kerja yang hilang, melainkan merupakan struktur lengkap tersendiri dengan makna spesifiknya sendiri. Memahami perbedaan ini sangat membantu saat mempelajari metode pembelajaran bahasa Arab seperti metode tamyiz maupun saat berlatih percakapan bahasa Arab sehari-hari.

Baca juga: Keutamaan Mempelajari Bahasa Arab untuk Muslim

Pertanyaan dan Jawaban seputar Contoh Jumlah Ismiyah dalam Bahasa Arab

Apa yang dimaksud dengan jumlah ismiyah?

Kalimat nominal dalam bahasa Arab dimulai dengan kata benda atau kata ganti dan memiliki dua bagian: subjek (mubtada) dan predikat (khabar). Jumlah ismiyah tidak memerlukan kata kerja untuk menyampaikan makna yang utuh, melainkan bergantung pada hubungan antara mubtada dan khabar. Contoh paling sederhana adalah الطَّالِبُ مُجْتَهِدٌ (Siswa itu rajin), di mana الطَّالِبُ adalah mubtada dan مُجْتَهِدٌ adalah khabar. Untuk mengenal lebih banyak kata benda dalam bahasa Arab, Anda dapat mempelajarinya secara bertahap mulai dari kosakata yang sering digunakan sehari-hari.

Apa perbedaan jumlah ismiyah dan jumlah fi'liyah?

Perbedaan utamanya terletak pada kata pembuka kalimat. Jumlah ismiyah diawali oleh isim (kata benda) dan tersusun dari mubtada-khabar, sedangkan jumlah fi'liyah diawali oleh fi'il (kata kerja) dan tersusun dari fi'il-fa'il-maf'ul bih. Jumlah ismiyah menyatakan keadaan tetap atau definisi, sementara jumlah fi'liyah menyatakan perbuatan yang terikat waktu. Keduanya merupakan materi pokok yang dibahas dalam pembelajaran bahasa Arab, baik di tingkat dasar maupun lanjutan.

Bagaimana cara mudah mengidentifikasi contoh jumlah ismiyah?

Cara paling mudah adalah melihat kata pertama dalam kalimat. Jumlah ismiyah adalah kalimat yang dimulai dengan kata benda, sehingga jika kata pertama yang Anda lihat adalah kata benda, maka itu adalah kalimat nominal. Setelah mengidentifikasi kata benda di awal sebagai mubtada, carilah bagian selanjutnya yang menjadi khabar, bisa berupa satu kata sifat, frasa preposisi, atau kalimat utuh. Keduanya harus sama-sama dalam posisi raf' (marfu'). Dengan berlatih mengenali pola ini melalui teks-teks sederhana dan kosakata tentang lingkungan sekolah atau benda-benda di sekitar, kemampuan Anda akan terasah dengan cepat.

Disclaimer: Artikel ini ditulis ulang oleh redaksi dengan menggunakan Artificial Intelligence

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |