Liputan6.com, Jakarta Mempelajari contoh mad layyin merupakan bagian penting dalam memahami ilmu tajwid bagi setiap Muslim. Hukum bacaan mad ini sangat penting dikenali dalam membaca Al-Quran, karena kitab suci umat Islam ini tentunya harus dilafalkan dengan benar, serta termasuk ke dalam ilmu tajwid yang bertujuan agar bacaan Al-Quran terhindar dari adanya kesalahan.
Mad layyin merujuk pada pemanjangan suara saat melafalkan huruf waw (وْ) atau ya (يْ) yang bersukun dan didahului oleh huruf berharakat fathah. Memahami contoh mad layyin akan membantu pembaca Al-Quran melafalkan setiap ayat dengan lebih fasih dan sesuai tuntunan.
Dalam konteks tajwid, mad layyin memainkan peran penting untuk memastikan bacaan tetap akurat dan merdu. Dilansir dari Quranica, mad layyin memberikan aliran suara yang lembut dan mudah, di mana definisinya adalah pemanjangan bunyi "lunak" yang terjadi saat pembaca berhenti pada kata yang mengandung huruf layyin, dengan kata madd berarti memanjangkan dan layyin berarti kelembutan.
Pengertian Mad Layyin dalam Ilmu Tajwid
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5755786/original/062179000_1778657768-herhy-ad-dP22l6D5ZDw-unsplash.jpg)
Perbesar
Sebelum menelaah berbagai contohnya secara langsung, penting untuk memahami terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan mad layyin secara mendalam. Dalam ilmu tajwid, kata mad berarti "memanjangkan suara", sementara layyin berarti "lembut" atau "lunak", sehingga istilah mad layyin menggambarkan bacaan yang mengalir dengan lembut, tidak keras, namun tetap jelas dan penuh keseimbangan.
Mengacu pada penjelasan Buruj Academy, mad layyin terjadi ketika huruf waw atau ya bersukun, dan huruf tepat di depannya membawa harakat fathah, dengan kata tersebut diakhiri oleh sukun yang disebabkan oleh berhentinya bacaan. Kedua huruf ini disebut huruf al-layyin (huruf kelembutan) yang dipanjangkan hanya saat waqaf, menjadikan mad ini tidak bisa dipisahkan dari tindakan berhenti dalam bacaan.
Mad layyin menjadi salah satu dari bagian hukum mad far'i. Berbeda dengan mad thobi'i yang mengharuskan harakat selaras (seperti waw sukun didahului dhammah atau ya sukun didahului kasrah), mad layyin justru lahir dari ketidakselarasan harakat tersebut karena didahului fathah. Sebagaimana disampaikan Shaykhi Academy, mad layyin dinamakan demikian karena suara huruf-hurufnya keluar dari rongga mulut dengan halus dan tanpa usaha berlebihan.
Yang menarik, mad layyin termasuk ke dalam kelompok mad far'i, bukan karena huruf mad asli melainkan karena terjadi akibat sebab khusus berupa kondisi waqaf. Para ulama tajwid klasik mencatat bahwa kelembutan fonetik ini bukanlah suatu kelemahan, melainkan kualitas bahasa Arab yang menghasilkan bunyi lembut khas pada kata-kata seperti khayr (خَيْر) dan yawm (يَوْم).
Baca juga: Mad Artinya Panjang, Ketahui Macam dan Cara Bacanya dalam Ilmu Tajwid
Syarat Terjadinya dan Cara Membaca Mad Layyin
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4374406/original/051837800_1679988684-rachid-oucharia-2d1-OSHkHXM-unsplash.jpg)
Perbesar
Mengenali syarat terjadinya mad layyin adalah langkah awal sebelum mempraktikkannya dalam bacaan Al-Quran. Huruf layyin adalah waw (و) dan ya (ي) yang harus memenuhi dua kriteria spesifik, yakni keduanya harus bersukun sehingga menjadi waw sakinah dan ya sakinah, serta huruf tepat sebelumnya harus berharakat fathah.
Berdasarkan penjelasan Quran Grace, berikut syarat yang harus terpenuhi agar hukum mad layyin berlaku:
- Adanya huruf waw sukun (وْ) atau ya sukun (يْ) — kedua huruf ini wajib dalam kondisi mati atau tanpa harakat.
- Huruf sebelumnya berharakat fathah — huruf yang mendahului waw sakinah atau ya sakinah harus berharakat fathah, yang merepresentasikan bunyi "a" pendek dalam bahasa Arab.
- Pembaca berhenti (waqaf) pada kata tersebut — pemanjangan mad layyin hanya berlaku ketika pembaca berhenti pada kata yang mengandung huruf layyin; jika bacaan dilanjutkan tanpa jeda, mad layyin tidak berlaku.
- Hanya ada satu huruf setelah huruf layyin — jika setelahnya terdapat lebih dari satu huruf, maka tidak termasuk ke dalam hukum bacaan mad layyin.
Cara membaca mad layyin adalah dengan membaca huruf berharakat fathah terlebih dahulu, lalu disambung dengan huruf "waw" sukun atau "ya" sukun yang dibaca dengan dipanjangkan, kemudian sesudahnya dikunci dengan menggunakan huruf hijaiyah.
Mengenai durasi pemanjangan, pembaca memiliki tiga pilihan yang sah. Ketiganya dapat diterima dalam bacaan, namun aspek terpenting adalah menjaga konsistensi sepanjang tilawah — apabila pembaca memutuskan memperpanjang mad layyin selama empat hitungan pada satu kata, maka durasi yang sama sebaiknya dipertahankan untuk semua kemunculan mad layyin berikutnya dalam sesi bacaan tersebut, guna memastikan penyampaian yang harmonis dan seragam.
Dilansir dari Buruj Academy, terdapat prinsip penting dari kajian tajwid klasik: durasi mad 'arid lil-sukun harus selalu sama atau lebih panjang dari mad layyin dalam satu sesi bacaan, dan ini bukan sekadar preferensi gaya melainkan aturan yang mengikat bagi semua qari riwayat Hafs 'an 'Asim, karena huruf mad dengan harakat yang sesuai memiliki dasar fonetik lebih kuat daripada huruf layyin dengan fathah yang tidak serasi.
Baca juga: 15 Hukum Tajwid dan Contohnya, Dilengkapi dengan Cara Baca
Contoh Mad Layyin dengan Waw Sukun dalam Al-Quran
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2803721/original/093651700_1557725240-20190513-Bulan-Ramadan-Momentum-Anak-Anak-Belajar-Al-Quran5.jpg)
Perbesar
Contoh mad layyin yang menggunakan huruf waw sukun (وْ) dapat ditemukan dalam banyak surat Al-Quran. Pada kata خَوْفٍ (khawf) misalnya, terdapat waw sakinah yang didahului huruf berharakat fathah (خَ), dan jika pembaca berhenti pada kata ini, bunyi "aw" akan diperpanjang. Berikut beberapa contoh mad layyin dengan waw sukun yang perlu dicermati:
-
QS. Al-Quraisy [106]: 4
الَّذِيْٓ اَطْعَمَهُمْ مِّنْ جُوْعٍ وَّاٰمَنَهُمْ مِّنْ خَوْفٍ
Artinya, "Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan."
Pada lafaz khawf di akhir ayat, terdapat huruf kha berharakat fathah yang diikuti waw sukun. Karena berada di posisi berhenti alami (waqaf), hukum mad layyin berlaku secara otomatis.
-
QS. Al-Kahfi [18]: 19
الُوْا لَبِثْنَا يَوْمًا اَوْ بَعْضَ يَوْمٍۗ
Pada lafaz yawman, terdapat huruf ya berharakat fathah bertemu dengan waw sukun. Catatan penting: Hukum mad layyin baru berlaku pada kata ini hanya jika pembaca sengaja menghentikan bacaan (waqaf) secara darurat di lafaz tersebut. Jika waqaf dilakukan, bunyi tanwin hilang dan dibaca menjadi yawm (dengan menyukunkan huruf mim). Jika dibaca terus (wasal), hukum mad layyin tidak aktif.
-
QS. Al-Haqqah [69]: 7
فَتَرَى الْقَوْمَ فِيْهَا صَرْعَى
Pada kata al-qawma, huruf qaf berharakat fathah bertemu dengan waw sukun. Sama seperti kasus sebelumnya, lafaz ini menjadi contoh mad layyin yang jelas hanya jika pembaca memilih untuk berhenti (waqaf) pada kata al-qawma. Jika dihentikan, huruf mim disukunkan sehingga dibaca al-qawm.
-
QS. At-Takatsur [102]: 4
ثُمَّ كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُوْنَ
Lafaz sawfa mengandung huruf sin berharakat fathah diikuti waw sukun. Hukum mad layyin baru berlaku ketika diwaqafkan pada kata tersebut (huruf fa disukunkan menjadi sawf). Jika dibaca lanjut (wasal) ke kata berikutnya, ia hanya dibaca sebagai huruf lin biasa tanpa pemanjangan ketukan.
Sebagaimana dikutip dari Shaykhi Academy, alasan di balik mad layyin terkait dengan morfo-fonetik bahasa Arab: bahasa ini tidak mengizinkan dua sukun berturut-turut di tengah ujaran, sehingga untuk memudahkan pelafalan di akhir kata saat jeda, mad layyin memperpanjang bunyi agar transisi lebih halus.
Contoh Mad Layyin dengan Ya Sukun dalam Al-Quran
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3108176/original/099514400_1587459746-close-up-of-text-on-paper-318451__1_.jpg)
Perbesar
Selain waw sukun, contoh mad layyin juga kerap dijumpai pada kata-kata yang mengandung ya sukun (يْ) setelah huruf berharakat fathah. Pada kata الْبَيْتِ (al-bayt) misalnya, terdapat ya sakinah yang didahului huruf ba berharakat fathah, dan jika pembaca berhenti pada kata ini, bunyi "ay" akan diperpanjang. Berikut contoh-contohnya dalam Al-Quran:
-
QS. Al-Quraisy [106]: 1
لِإِيْلَافِ قُرَيْشٍ
Artinya, "Karena kebiasaan orang-orang Quraisy."
Ya (ي) pada kata قُرَيْشٍ merupakan huruf layyin karena bersukun dan didahului oleh huruf ra (ر) berharakat fathah. Saat waqaf, bacaan diperpanjang.
-
QS. Al-Quraisy [106]: 2
اِلٰفِهِمْ رِحْلَةَ الشِّتَاۤءِ وَالصَّيْفِ
Pada lafaz الصَّيْفِ, huruf shad berharakat fathah bertemu ya sukun. Contoh mad layyin berlaku ketika bacaan dihentikan.
-
QS. Al-Quraisy [106]: 3
فَلْيَعْبُدُوْا رَبَّ هٰذَا الْبَيْتِ
Lafaz الْبَيْتِ mengandung huruf ba berharakat fathah yang diikuti ya sukun. Mad layyin terjadi saat pembaca berhenti pada kata ini.
-
QS. Al-Baqarah [2]: 2
ذٰلِكَ الْكِتٰبُ لَا رَيْبَ فِيْهِ
Pada kata رَيْبَ, huruf ra berharakat fathah bertemu ya sukun. Saat diwaqafkan, bacaan dipanjangkan sesuai kaidah mad layyin.
-
QS. Al-Balad [90]: 8-9
اَلَمْ نَجْعَلْ لَّهٗ عَيْنَيْنِ ○ وَلِسَانًا وَشَفَتَيْنِ
Lafaz عَيْنَيْنِ dan شَفَتَيْنِ mengandung huruf ya sukun setelah huruf berharakat fathah, sehingga keduanya merupakan contoh mad layyin.
-
QS. Ar-Rahman [55]: 17
رَبُّ الْمَشْرِقَيْنِ وَرَبُّ الْمَغْرِبَيْنِ
Pada kata الْمَشْرِقَيْنِ dan الْمَغْرِبَيْنِ, huruf qaf dan ba berharakat fathah bertemu ya sukun. Keduanya menjadi contoh bacaan mad layyin ketika waqaf.
-
QS. Ali Imran [3]: 26
بِيَدِكَ الْخَيْرُ
Huruf ya bersukun dan huruf kha sebelumnya berharakat fathah, sehingga mad layyin berlaku saat waqaf.
Perlu diperhatikan bahwa seluruh contoh mad layyin di atas hanya berlaku ketika pembaca memutuskan untuk berhenti di kata tersebut. Seperti yang diberitakan Tajweed.me, untuk membunyikan mad ini, pembaca harus berhenti setelah mengucapkan kata yang mengandung mad tersebut, karena berbeda dengan mad iwad, mad layyin menjadi batal jika pembaca tidak berhenti di akhir kata.
Baca juga: Huruf Mad Ada Tiga yaitu Alif, Wawu, dan Ya, Pahami Hukum Bacaannya
Perbedaan Mad Layyin dengan Huruf Mad Biasa
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7252351/original/009956800_1780038326-masjid-maba-QCXL8wjqAWA-unsplash.jpg)
Perbesar
Banyak pembelajar tajwid yang mencampuradukkan huruf layyin dengan huruf mad biasa. Meskipun sama-sama melibatkan huruf waw dan ya, keduanya memiliki perbedaan mendasar yang perlu dicermati. Mengutip Quranica, titik kebingungan yang umum bagi pemula adalah mencampurkan huruf layyin dengan huruf mad biasa, padahal perbedaan utamanya terletak pada harakat yang mendahului — huruf layyin selalu didahului fathah, sedangkan huruf mad biasa didahului harakat pendek yang sesuai, misalnya waw mad didahului dhammah dan ya mad didahului kasrah.
Untuk memperjelas perbedaannya, berikut perbandingan antara huruf mad biasa dan huruf layyin:
| Huruf | Alif, Waw sukun, Ya sukun | Waw sukun dan Ya sukun saja |
| Harakat sebelumnya | Sesuai (fathah-alif, dhammah-waw, kasrah-ya) | Selalu fathah |
| Kapan berlaku | Berlaku saat washal maupun waqaf | Hanya berlaku saat waqaf (berhenti) |
| Kekuatan fonetik | Lebih kuat (harakat sesuai) | Lebih lemah (harakat tidak sesuai) |
| Panjang bacaan | 2 harakat (mad thabi'i) | 2, 4, atau 6 harakat (saat waqaf) |
Poin penting yang jarang dibahas adalah mengenai hierarki kekuatan fonetik antara keduanya. Logikanya sederhana: huruf mad dengan harakat yang sesuai memiliki dasar fonetik lebih kuat daripada huruf layyin dengan fathah yang tidak serasi, sehingga memberikan durasi mad layyin lebih panjang dari mad 'arid lil-sukun akan membalikkan hierarki tersebut — hal yang secara eksplisit dilarang oleh para ulama klasik.
Huruf layyin menambahkan nuansa musikal yang indah pada bacaan Al-Quran, membantu suara terhubung secara halus sehingga ayat-ayat terdengar lebih menyatu dan menyenangkan di telinga. Inilah salah satu alasan mengapa mempelajari ilmu tajwid, termasuk mad layyin, menjadi hal yang sangat ditekankan oleh para ulama.
Keberadaan mad layyin ini dapat menjaga keindahan bacaan Al-Quran dan membantu pembaca mengatur tempo nada agar tidak selalu tinggi. Nabi Muhammad SAW sendiri memberi teladan dalam hal ini. Sebagaimana dikutip dari Riwaq Al Quran, diriwayatkan bahwa Qatadah bertanya kepada Anas tentang cara Rasulullah membaca Al-Quran, dan Anas menjawab, "Nabi Muhammad SAW biasa memperpanjang suara-suaranya." (HR. Sunan An-Nasa'i)
Baca juga: Macam-Macam Mad Bacaan Tajwid Al-Quran
Selain itu, Allah SWT sendiri memerintahkan pembacaan Al-Quran secara perlahan dan tartil. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Muzzammil ayat 4, "...dan bacalah Al-Quran itu dengan perlahan-lahan (tartil)," dan para ulama menafsirkan "tartil" dalam ayat ini sebagai membaca Al-Quran dengan tajwid yang benar.
Mengabaikan atau salah menerapkan mad layyin dapat mengubah makna kata atau mengganggu alur bacaan, sementara membaca dengan tajwid yang akurat termasuk mad layyin memungkinkan pembaca membentuk ikatan lebih kuat dengan firman Allah serta meningkatkan perjalanan spiritualnya.
Baca juga: Tajwid adalah Ilmu Tentang Cara Membaca Al-Quran yang Benar
Bagi yang ingin mendalami kaidah mad far'i lainnya, termasuk mad lazim dan mad arid lissukun, disarankan untuk belajar bersama guru tajwid yang berkompeten. Meskipun mad layyin dapat dipelajari melalui sumber belajar mandiri, bimbingan guru yang berkualitas tetap sangat berharga karena pelafalan yang akurat itu esensial, dan arahan ini memastikan pembelajar berada di jalur yang benar serta dapat memperbaiki kesalahan sejak dini.
Baca juga: Murottal Quran: Pengertian, Manfaat dan Cara Membiasakannya
Baca juga: 20 Contoh Bacaan Iqlab dalam Al-Quran
Baca juga: Belajar Tajwid: Hukum Idzhar, Huruf dan Contohnya
Baca juga: Alif Lam Qomariyah: Huruf, Hukum Bacaan Tajwid dan Contohnya
Baca juga: Huruf Idgham Bighunnah dalam Ilmu Tajwid
Baca juga: Idgham Mutajanisain dalam Al-Quran
Baca juga: Huruf Qalqalah dalam Tajwid
Baca juga: Memahami Hukum Bacaan Tajwid Bagi Pemula
Pertanyaan Seputar Contoh Mad Layyin
Apa perbedaan utama mad layyin dengan mad thabi'i?
Mad thabi'i adalah mad asli yang terjadi secara alami saat huruf mad (alif, waw, ya) mengikuti harakat yang sesuai — misalnya waw sukun setelah dhammah atau ya sukun setelah kasrah. Huruf layyin selalu didahului fathah, sedangkan huruf mad biasa didahului oleh harakat pendek yang sesuai. Selain itu, mad thabi'i berlaku kapan saja dengan panjang tetap dua harakat, sedangkan mad layyin hanya berlaku saat waqaf dengan pilihan panjang 2, 4, atau 6 harakat.
Apakah mad layyin boleh dibaca pendek saat tidak waqaf?
Mad layyin hanya terjadi selama jeda sementara (waqaf) dan tidak berlaku dalam bacaan yang tersambung (washal). Jadi, saat pembaca melanjutkan bacaan tanpa berhenti, huruf layyin cukup dibaca pendek secara alami tanpa pemanjangan. Hukum pemanjangan baru berlaku ketika pembaca memutuskan untuk berhenti di kata yang mengandung huruf layyin tersebut.
Di surat apa saja contoh mad layyin paling mudah ditemukan?
Contoh mad layyin paling banyak dan mudah ditemukan adalah di Surat Al-Quraisy, yang memuat beberapa kata sekaligus seperti قُرَيْشٍ (Quraisy), الصَّيْفِ (Ash-Shaif), الْبَيْتِ (Al-Bait), dan خَوْفٍ (Khauf). Selain itu, contoh mad layyin juga banyak ditemukan di juz 30, termasuk dalam surat-surat pendek seperti Al-Balad, Az-Zalzalah, At-Takatsur, dan Ar-Rahman yang sering dibaca dalam salat harian.
Disclaimer: Artikel ini ditulis ulang oleh redaksi dengan menggunakan Artificial Intelligence

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8516199/original/047486400_1782441653-aywdu79BUqmPavVwKF3xH9TbbwopHGprEBudTc3z.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8516258/original/037618800_1782441704-BS49NX9mOZPDyoBVgIPIJ4B3SsROxtH1NzZFBEFv.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3447617/original/047481400_1620114129-Ilustrasi_Alquran.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4758315/original/039700600_1709260395-front-view-person-reading-from-holy-book.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8516255/original/025301400_1782455492-91dcc1a2-b2cb-4929-bafd-688428382ab0.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3426408/original/005688900_1618209714-WhatsApp_Image_2021-04-12_at_08.22.59.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4449837/original/055086300_1685614290-WhatsApp_Image_2023-06-01_at_17.06.22.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4433582/original/003374600_1684488413-20230519135602__fpdl.in__high-angle-woman-holding-beads-meditating_23-2148847546_normal.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5102724/original/068820500_1737446861-1737445502460_cara-sholat-taubat-untuk-perempuan.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8510289/original/067759500_1782432838-WhatsApp_Image_2026-06-25_at_18.15.34.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3488842/original/008089600_1624273563-teeth-5536858_640.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5501800/original/006278100_1770956928-unnamed__12_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3239983/original/044887600_1600257707-20200916-Ojol-4.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4861241/original/046142300_1718179339-raka-dwi-wicaksana-Jbk_Tce8Z1U-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5534795/original/014528000_1773892938-khutbah.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3516536/original/071123800_1626851248-pexels-mikhail-nilov-7582420.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4783488/original/041264600_1711352368-Ilustrasi_bulan_purnama__masjid__Islami.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3141446/original/078371000_1591071405-15263.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3309137/original/055065200_1606475068-nurhan-yC70QqvrPRk-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5415138/original/047923100_1763361872-Gemini_Generated_Image_4jbcgr4jbcgr4jbc.png)










:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4382809/original/074926600_1680593144-top-view-hand-holding-silver-coins.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4016804/original/046265400_1652067919-KPK_4.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5518326/original/022972500_1772505463-bantuan_bibit_ayam_-klaim_link_pendaftaran.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5518245/original/007067800_1772495256-1.jpg)




:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2800821/original/002869500_1557387809-IMG_20190509_113107.jpg)



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5523086/original/018748500_1772788951-cpns_imigrasi.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5515623/original/045243200_1772182225-dinas_perhubungan_-_klaim_facebook_cpns.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5460744/original/090622000_1767280272-fabio_lefundes.jpg)
