Liputan6.com, Jakarta - Doa Abu Nawas sangat populer di kalangan masyarakat Muslim, terutama di Indonesia, karena mengandung ungkapan kerendahan hati dan pengakuan atas kelemahan manusia di hadapan Allah. Doa Abu Nawas yang banyak dilantunkan itu disebut dengan Syair I'tiraf atau hanya I'tiraf. Doa ini menjadi begitu spektakuler karena isinya yang dahsyat kerapkali dianggap berkebalikan dengan sosok Abu Nawas yang digambarkan jenaka.
Muhammad Ali Fakih mengungkap sisi lain di balik sosok Abu Nawas yang jenaka, dalam bukunya yang berjudul Abu Nawas: Sufi dan Penyair Ulung yang Jenaka. Ali Fakih mengupas sejarah hidup Abu Nawas mulai dari asal-usul hingga akhir hayatnya. Membahas karakter dan kepribadiannya yang luhur, cerdas, dan jenaka. Menceritakan bagaimana Abu Nawas, meskipun hafal Al-Qur'an dan hadits, memiliki kehidupan yang serba kekurangan karena kedermawanannya. Menggambarkan sosok Abu Nawas sebagai seorang sufi dan penyair yang jenaka, sebagaimana diyakini oleh banyak orang.
Doa Abu Nawas mengandung hikmah begitu mendalam. Doa ini menekankan bahwa amal manusia tidak sebanding dengan nikmat Allah, dan hanya rahmat-Nya yang dapat menyelamatkan manusia. Sikap tawadhu’ (rendah hati) dan penuh pengharapan seperti inilah yang membuat doa Abu Nawas begitu menyentuh hati banyak orang.
Bacaan Doa Abu Nawas (Syair I'tiraf) Arab Latin dan Artinya
Berikut teks/lirik syiir tersebut, sebagaimana dituliskan di laman Pondok Modern Al-Islah Dorowati dan sejumlah situs keagamaan lainnya:
إِلٰـهِيْ لَسْتُ لِلْفِرْدَوْسِ أَهْلاً # وَلَا أَقْوَى عَلَى النَّارِ الْجَحِيْمِ
فَهَبْ لِيْ تَوْبَةً وَاغْفِرْ ذُنُوْبِيْ # فَإِنَّكَ غَافِرُ الذَّنْبِ الْعَظِيْمِ
ذُنُوْبِيْ مِثْلُ أَعْدَادِ الرِّمَــالِ # فَهَبْ لِيْ تَوْبَةً يَا ذَا الْـجَـلَالِ
وَعُمْرِيْ نَاقِصٌ فيِ كُلِّ يَوْمٍ # وَذَنْبِيْ زَائِدٌ كَيْفَ احْتِمَالِ
إِلٰـهِيْ عَبْدُكَ الْعَاصِي أَتَاكَ # مُقِرًّا بِالذُّنُـوْبِ وَقَدْ دَعَـاكَ
فَإِنْ تَغْفِرْ فَأَنْتَ لِذَاكَ أَهْلٌ # فَإِنْ تَطْرُدْ فَمَنْ يَرْجُوْ سِوَاكَ
Latin:
Ilaahii lastu lil firdausi ahlaan
wa laa aqwaa ‘alaa naaril jahiimi
Fa hablii taubatan waghfir zunuubii
fa innaka ghaafirudzdzambil ‘azhiimi
Dzunuubii mitslu a’daadir rimaali
fa hablii taubatan yaa dzaaljalaali
Wa ‘umrii naaqishun fii kulli yaumi
wa dzambii zaa-idun kaifah timaali
Ilaahii ‘abdukal ‘aashii ataaka
muqirran bidzdzunuubi wa qad da’aaka
Fa in taghfir fa anta lidzaaka ahlun
wa in tathrud faman narjuu siwaaka
Artinya:
Wahai Tuhanku ! Aku bukanlah ahli surga
tapi aku tidak kuat dalam neraka jahim
Maka berilah aku taubat (ampunan) dan ampunilah dosaku
sesungguhnya engkau Maha Pengampun dosa yang besar
Dosaku bagaikan bilangan pasir
Maka berilah aku taubat wahai Tuhanku yang memiliki keagungan
Umurku ini setiap hari berkurang, sedang dosaku selalu bertambah
bagaimana aku menanggungnya َ
Wahai, Tuhanku ! Hamba Mu yang berbuat dosa telah datang kepada Mu dengan mengakui segala dosa, dan telah memohon kepada Mu َ
Maka jika engkau mengampuni
maka Engkaulah yang berhak mengampuni.
Jika Engkau menolak, kepada siapakah lagi aku mengharap selain kepada Engkau?
Hikmah dan Makna Mendalam dalam Bait-Bait Doa Abu Nawas (Syair I'tiraf)
Doa Abu Nawas terdiri dari enam bait. Keenam bait ini makna dan hikmahnya begitu mendalam. Mengutip jurnal berjudul Menganalisis Makna dalam Puisi Arab Klasik: Pendekatan Semiotik Riffaterre pada Karya 'Al-I'tiraf' oleh Abu Nawas karya Maisyaroh, dijelaskan Dalam syair ini, Abu Nawas mengekspresikan pengakuan atas dosa-dosanya yang begitu banyak dan terusbertambah setiap hari, serta ungkapan taubatnya kepada Tuhan.
"Semua perasaan tersebut ia sampaikan dengan bahasa yang indah dan bernilai seni, dalam beberapa bait syair yang mendalam," demikian dikutip dari proceedings.uinsa.ac.id.
Berikut ini adalah makna mendalam yang terkandung dalam bait per baik Syair I'tiraf karya Abu Nawas.
Bait 1 Syair I'tiraf
إِلٰهِي لَسْتُ لِلْفِرْدَوْسِ أَهْلًا. وَلَا أَقْوَى عَلَى النَّارِ الجَحِيْمِ
Latin: Ilaahii lastu lil firdausi ahlaa. Wa laa aqwaa 'alaa naaril jahiimi
Artinya: Wahai Tuhanku! Aku bukanlah ahli surga,Tapi aku tidak kuat dalam neraka Jahanam.
Makna:
Bait ini adalah ungkapan kerendahan hati, pengakuan akan kelemahan dan keterbatasan diri di hadapan Allah. Seorang hamba merasa tidak layak untuk surga karena amalnya yang sedikit dan penuh kekurangan, sekaligus merasa lemah dan tidak sanggup menanggung siksa neraka. Ini adalah sikap tawadhu’ (rendah hati) dan penuh harap pada ampunan Allah.
Hikmah:
Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menegaskan bahwa seorang hamba yang benar-benar mengenal dirinya akan selalu merasa amalnya tidak cukup untuk masuk surga, dan takut jika harus menanggung siksa neraka. Sikap ini menjauhkan dari ujub (bangga diri) dan riya’.
Menurut Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani dalam Al-Fath ar-Rabbani, pengakuan seperti ini adalah inti dari taubat nasuha, karena seorang hamba sadar bahwa hanya rahmat Allah yang bisa menyelamatkan, bukan amalnya.
Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah menyebutkan dalam Madarijus Salikin, seorang mukmin harus berada di antara harapan dan rasa takut: berharap rahmat Allah, tapi juga takut akan siksa-Nya. Bait ini mencerminkan keseimbangan itu.
Bait 2 Syair I'tiraf
فَهَبْ لِي تَوْبَةً وَاغْفِرْ ذُنُوْبِ. يفَإِنَّكَ غَافِرُ الذَّنْبِ العَظِيْمِ
Latin: Fahablii taubatan waghfir zunuubiiFa innaka ghaafirudz dzambil 'azhiimi
Artinya: Maka berilah aku taubat dan ampunilah dosaku,Karena sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dosa yang besar.
Makna:
Bait ini adalah permohonan seorang hamba agar Allah menganugerahkan taubat sejati dan mengampuni seluruh dosa-dosanya, sekecil maupun sebesar apapun. Penekanan pada “Engkau Maha Pengampun dosa-dosa yang besar” menunjukkan keyakinan bahwa tidak ada dosa yang terlalu besar untuk diampuni oleh Allah, asalkan hamba-Nya benar-benar bertaubat.
Hikmah:
Imam Al-Ghazali menyatakan bahwa taubat adalah pintu rahmat Allah yang paling utama. Setiap manusia pasti berdosa, dan sebaik-baiknya pendosa adalah yang segera bertaubat dan memohon ampunan.
Di sisi lain, Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani dalam Al-Fath ar-Rabbani menekankan optimisme bahwa hamba yang memohon ampun dengan yakin pada keluasan rahmat Allah akan dibukakan pintu taubat dan diampuni dosa-dosanya, walaupun dosa itu sebesar gunung atau sebanyak buih di lautan.
Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah dalam Madarijus Salikin menjelaskan, seorang Muslim tidak boleh berputus asa dari rahmat Allah, karena Allah Maha Pengampun dosa sebesar apapun.
Makna dan Hikmah Bait 3 dan 4 (Syair I'tiraf)
Bait 3 Syair I'tiraf
ذُنُوْبِي مِثْلُ أَعْدَادٍ الرِّمَالِفَهَبْ لِي تَوْبَةً يَا ذَا الجَلَالِ
Latin: Dzunuubii mitslu a'daadir rimaaliFahablii taubatan yaa Dzaal Jalaali
Artinya: Dosaku bagaikan bilangan pasir,Maka berilah aku taubat wahai Tuhanku yang memiliki keagungan.
Makna:
Bait ini mengajarkan agar setiap Muslim tidak malu mengakui banyaknya dosa, selalu memohon taubat, dan yakin bahwa Allah Maha Pengampun. Sikap ini adalah inti dari taubat yang diterima, sebagaimana ditegaskan para ulama dan dalil Al-Qur’an serta hadis sahih.
Hikmah:
Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menekankan bahwa pengakuan dosa secara jujur adalah syarat utama taubat yang diterima Allah. Semakin seseorang mengakui banyaknya dosa, semakin besar pula peluang diterimanya taubat karena sikap rendah hati dan tidak sombong.
Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani menyebutkan bahwa sebesar dan sebanyak apapun dosa seorang hamba, tidak boleh berputus asa dari rahmat Allah. Allah Maha Menerima taubat dan Maha Mengampuni.
Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah menjelaskan bahwa permohonan taubat adalah tanda iman yang hidup. Orang yang terus meminta taubat adalah orang yang sadar akan kelemahan dan kebutuhan dirinya terhadap ampunan Allah.
Bait 4 Syair I'tiraf
وَعُمْرِي نَاقِصٌ فِي كُلِّ يَوْمٍوَذَنْبِي زَائِدٌ كَيْفَ احْتِمَالِي
Latin: Wa 'umrii naaqishun fii kulli yaumiWa dzambii zaa-idun kaifah timaali
Artinya: Umurku ini setiap hari berkurang,Sedang dosaku selalu bertambah, bagaimana aku menanggungnya?
Makna:
Bait ini mengajarkan agar setiap Muslim selalu sadar bahwa hidup ini singkat, dosa mudah bertambah, dan ajal bisa datang kapan saja. Oleh sebab itu, jangan tunda taubat dan perbanyak amal saleh sebelum terlambat, sebagaimana ditegaskan para ulama dan didukung dalil Al-Qur’an serta hadis sahih.
Hikmah:
Imam Al-Ghazali menjelaskan, mengingat kematian dan pendeknya umur adalah salah satu kunci lahirnya taubat sejati. Kesadaran bahwa hidup ini singkat membuat seseorang tidak menunda-nunda taubat dan amal saleh. 2. Segera Bertaubat Sebelum Terlambat
Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani berpesan jangan menunda taubat, karena ajal bisa datang kapan saja. Orang yang menunda taubat adalah orang yang tertipu oleh anggapan masih ada waktu.
Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah menyebutkan, rasa takut (khauf) karena dosa yang terus bertambah harus diimbangi dengan segera kembali kepada Allah. Ketakutan ini adalah tanda hati yang hidup dan sadar.
Makna dan Hikmah Bait 5 dan 6 Doa Abu Nawas (Syair I'tiraf)
Bait 5 Syair I'tiraf
إِلٰهِي عَبْدُكَ العَاصِي أَتَاكَمُقِرًّا بِالذُّنُوْبِ وَقَدْ دَعَاكَ
Latin: Ilaahii 'abdukal 'aashii ataakaMuqirran bidzunuubi waqad da'aka
Artinya: Wahai Tuhanku! Hamba-Mu yang berbuat dosa telah datang kepada-Mu,Mengakui segala dosa dan telah berdoa kepada-Mu.
Makna:
Bait ini adalah ungkapan seorang hamba yang penuh penyesalan, mengakui bahwa dirinya adalah pendosa dan telah banyak bermaksiat. Namun, ia tetap datang menghadap Allah, mengakui segala kesalahannya, dan memohon kepada-Nya. Bait ini menegaskan bahwa meskipun seseorang banyak dosa, pintu kembali kepada Allah selalu terbuka selama ia mau mengaku dan memohon ampunan.
Hikmah:
Imam Al-Ghazali menegaskan bahwa pengakuan dosa secara jujur (i’tiraf) adalah syarat utama diterimanya taubat. Orang yang mengakui dosanya dan datang kepada Allah adalah orang yang rendah hati dan sadar diri.
Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani menyatakan bahwa Allah sangat mencintai hamba yang datang kepada-Nya dalam keadaan penuh dosa, asal ia benar-benar menyesal dan memohon ampunan.
Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah menjelaskan bahwa doa seorang pendosa yang datang dengan pengakuan dan penyesalan justru lebih disukai Allah daripada doa orang yang merasa dirinya suci.
Bait 6 Syair I'tiraf
فَإِنْ تَغْفِرْ فَأَنْتَ لِذَاكَ أَهْلٌفَإِنْ تَطْرُدْ فَمَنْ نَرْجُو سِوَاكَ
Latin: Fa in taghfir fa anta lidzaaka ahluFa in tathrud faman narjuu siwaaka
Artinya: Maka jika Engkau mengampuni, Engkaulah yang berhak mengampuni, Jika Engkau menolak, kepada siapakah lagi aku mengharap selain kepada Engkau?
Makna:
Bait ini mengajarkan bahwa hanya Allah yang layak diharap ampunan-Nya, dan tidak ada tempat kembali selain kepada-Nya. Inilah inti tauhid, tawakal, dan pengharapan, sebagaimana ditegaskan para ulama dan didukung dalil Al-Qur’an serta hadis sahih.
Hikmah
Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa tauhid sejati adalah ketika seorang hamba tidak menggantungkan harapan kepada siapa pun selain Allah. Jika Allah menolak, maka tidak ada makhluk yang bisa menolong.
Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah menjelaskan bahwa seorang mukmin harus selalu berharap ampunan Allah, namun juga takut jika Allah tidak mengabulkan. Namun, optimisme tetap harus lebih kuat, sebab Allah memang "Ahlul Maghfirah" (Dzat yang pantas mengampuni).
Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani menulis sifat Allah adalah Maha Pengampun dan Maha Penyayang. Maka, jangan pernah berputus asa, sebab Allah sendiri yang membuka pintu harapan bagi hamba-Nya.
Keutamaan Syair I'tiraf
Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa Syair I’tiraf memiliki pelbagai keutamaan dan manfaat untuk umat Islam. Berikut ini di antaranya:
1. Mengajarkan Kerendahan Hati (Tawadhu’)
Ulama sepakat bahwa Syair I’tiraf adalah contoh indah kerendahan hati seorang hamba di hadapan Allah. Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menegaskan, sikap mengakui kelemahan dan kekurangan diri adalah pintu utama menuju taubat yang diterima Allah.
2. Menanamkan Optimisme dan Tidak Berputus Asa
Syair ini mengingatkan umat Islam agar tidak pernah berputus asa dari rahmat Allah, sebagaimana pesan QS. Az-Zumar: 53. Ulama seperti Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah dalam Madarijus Salikin menyebutkan, optimisme terhadap ampunan Allah adalah tanda iman yang sehat.
3. Motivasi untuk Segera Bertaubat
Syair I’tiraf menjadi pengingat bahwa umur terus berkurang dan dosa terus bertambah. Ini mendorong umat Islam untuk segera bertaubat dan tidak menunda-nunda, sebagaimana ditekankan dalam hadis: “Allah akan terus menerima taubat seorang hamba selama ruh belum sampai di tenggorokan.” (HR. Tirmidzi)
4. Mendidik Keikhlasan dan Ketulusan dalam Berdoa
Syair ini mengajarkan keikhlasan dalam berdoa, yaitu mengakui dosa dan memohon ampunan tanpa merasa diri suci atau cukup amal. Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani dalam Al-Fath ar-Rabbani menyebutkan, doa yang penuh kejujuran dan pengakuan dosa lebih mudah dikabulkan Allah.
5. Memperkuat Tauhid dan Tawakal
Syair I’tiraf menanamkan keyakinan bahwa hanya Allah tempat bergantung dan berharap. Jika Allah menolak, tidak ada lagi tempat kembali. Ini adalah inti tauhid dan tawakal, sebagaimana dijelaskan oleh para ulama tauhid.
Manfaat Syair I’tiraf Bagi Umat Islam
1. Membuka Pintu Taubat
Syair ini menjadi sarana muhasabah (introspeksi diri) yang mendorong seseorang untuk segera bertaubat dan memperbaiki diri.
2. Menenangkan Hati dan Menghapus Putus Asa
Membaca dan merenungi syair ini dapat menenangkan hati, mengusir rasa putus asa, dan menumbuhkan harapan pada rahmat Allah.
3. Meningkatkan Kualitas Doa dan Ibadah
Dengan meneladani isi syair ini, doa dan ibadah menjadi lebih khusyuk, karena dilakukan dengan penuh kesadaran akan kelemahan diri dan kebesaran Allah.
4. Menjadi Pelajaran Moral dan Spiritual
Syair ini menjadi pelajaran bagi umat Islam bahwa mengakui dosa bukanlah aib, melainkan kemuliaan, sebab Allah mencintai hamba yang bertaubat.
Demikian, semoga bermanfaat. Wallahua'lam.
People also Ask:
1. Apa doa Abu Nawas kepada Allah?
"Wahai Tuhanku, hamba tak pantas menjadi penghuni surga. Namun, hamba pun tak sanggup menjadi penghuni neraka. Terimalah tobat-tobat hamba dan ampunilah dosa-dosa hamba. Sesungguhnya Engkaulah Maha Pengampun atas segala dosa yang hamba perbuat.
2. Apa syair terakhir Abu Nawas?
Syair terakhir Abu Nawas adalah Syair Al-I'tiraf (Pengakuan), sebuah sajak yang berisi pengakuan dosa dan harapan akan ampunan Allah, yang ditemukan pada selembar kertas di saku baju jenazahnya saat akan dimandikan. Syair ini terkenal karena berhasil menyentuh hati Imam Syafi'i hingga menangis dan akhirnya bersedia mensalatkan jenazah Abu Nawas, meskipun sebelumnya enggan.
3. Syair Abu Nawas apakah shalawat?
Bunyi syair Abu Nawas Al Iktiraf
Salah satu syair Abu Nawas yaitu Al Iktiraf atau sholawat iktiraf menceritakan seorang hamba yang merendah di hadapan Tuhannya.
4. Apakah Abu Nawas seorang wali Allah?
Ya, Abu Nawas diyakini sebagai seorang wali Allah dalam literatur khazanah Islam klasik, meski ia juga dikenal sebagai pujangga jenaka dan ahli sastra. Citranya sebagai sosok bijaksana namun kocak sering ia gunakan dalam cerita-cerita yang ia buat untuk menyampaikan pesan-pesan mendalam dan menjaga nilai-nilai keislaman, bahkan di masa-masa sulit, seperti pada masa pemerintahan Harun Ar-Rasyid.

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4863975/original/089422800_1718366389-Ilustrasi_sedekah.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5153924/original/010138200_1741324616-1741320553002_ucapan-selamat-puasa-marhaban-ya-ramadhan.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2798272/original/079059200_1557206746-20190507-Mengisi-Waktu-Berpuasa-dengan-Tadarus-ARBAS-6.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4397208/original/025765600_1681628590-Malam_25_Ramadan__Ribuan_Jemaah_Khusyuk_Menjemput_Lailatul_Qadar_di_Masjid_Istiqlal-ARBAS_3.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3114271/original/028783800_1588060319-383585-PBYIZ7-451.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4725346/original/051209800_1706092573-Imam_Syafi_i_Wikimedia_Commons.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3360466/original/061604200_1611722074-the-dancing-rain-N1xBagwnR1E-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2793782/original/075290100_1556766221-ramadan-3461512_960_720_pixabay.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5421629/original/013547700_1763953850-339bf3c9-aba1-4aba-bc8b-83c81688b22b.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4737864/original/087768800_1707368307-fotor-ai-20240208115418.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3463003/original/093162800_1621761005-20210523-Puncak-Arus-Balik-Lebaran-IQBAL-4.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5045104/original/041213400_1733897746-1733893370607_tujuan-isra-miraj-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/1575221/original/040400200_1492996168-islamicitydotorg.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4660564/original/081485600_1700737006-isra_miraj.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4357195/original/092362700_1678761219-pexels-thirdman-7957066.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5158583/original/033672200_1741665428-kata-kata-sahabat-nabi.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5080366/original/098387100_1736160174-1736156793388_caption-quotes-islami-singkat.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5158368/original/097065700_1741665044-kata-kata-isra-miraj.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5468799/original/045139300_1768018023-fantastic-mosque-architecture-islamic-new-year-celebration.jpg)




















:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5316291/original/015050100_1755231247-5.jpg)








