SEBUAH studi baru mengungkap kemungkinan perjalanan pulang-pergi manusia ke Mars dalam waktu kurang dari satu tahun. Temuan ini muncul setelah seorang ilmuwan secara tidak sengaja menemukan pola lintasan asteroid yang dinilai dapat menjadi dasar jalur antariksa lebih cepat menuju Planet Merah.
Penelitian yang dipublikasikan di jurnal Acta Astronautica pada April lalu itu menyebut data awal orbit asteroid dekat-Bumi berpotensi membantu ilmuwan merancang lintasan antarplanet yang lebih singkat dibanding profil misi saat ini.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Saat ini perjalanan menuju Mars membutuhkan waktu sekitar tujuh hingga 10 bulan. Karena posisi Bumi dan Mars hanya sejajar untuk transfer hemat bahan bakar setiap 26 bulan, misi pulang-pergi dapat berlangsung hampir tiga tahun.
Penulis studi Marcelo de Oliveira Souza, kosmolog dari State University of Northern Rio de Janeiro, mengatakan temuan tersebut dapat mengubah pandangan tentang durasi perjalanan ke Mars.
“Mungkin ini bisa mengubah gagasan bahwa kita membutuhkan lebih dari dua tahun untuk pergi ke Mars dan kembali,” kata Souza dikutip dari laporan Live Science, Rabu, 6 Mei 2026.
Ide itu pertama kali ditemukan Souza pada 2015 ketika ia mempelajari asteroid dekat-Bumi. Salah satu asteroid bernama 2001 CA21 menarik perhatiannya karena estimasi awal menunjukkan lintasan yang melintasi zona orbit Bumi dan Mars.
Meski pengukuran lanjutan kemudian memperbaiki lintasan asteroid tersebut, bentuk orbit awalnya saat oposisi Mars pada Oktober 2020 dinilai membuka kemungkinan jalur ‘ultra-singkat’ antara kedua planet. “Ini mengejutkan bagi saya, saya tidak mencari ini,” ujar Souza.
Menurut studi itu, lintasan yang menyerupai orbit awal asteroid tersebut secara geometris memungkinkan perjalanan dari Bumi ke Mars hanya dalam sekitar 34 hari. Namun, jalur itu membutuhkan kecepatan sekitar 32,5 kilometer per detik, melampaui kemampuan roket saat ini. Wahana juga akan tiba di Mars dengan kecepatan terlalu tinggi untuk sistem pendaratan yang ada saat ini.
Karena itu, Souza mengeksplorasi kemungkinan lintasan lain pada periode oposisi Mars tahun 2027, 2029, dan 2031 menggunakan metode analisis Lambert. Hasilnya, hanya konfigurasi tahun 2031 yang dianggap realistis untuk perjalanan cepat dengan teknologi dalam waktu dekat.
Dalam skenario tersebut, misi pulang-pergi Bumi-Mars dapat diselesaikan dalam 153 hari atau sekitar lima bulan. Wahana diperkirakan berangkat dari Bumi pada 20 April 2031, tiba di Mars pada 23 Mei setelah perjalanan 33 hari, berada di permukaan selama sekitar 30 hari, lalu kembali ke Bumi pada 20 September.
Souza juga menemukan opsi lain dengan kebutuhan energi lebih rendah. Dalam skenario itu, misi berlangsung sekitar 226 hari atau 7,5 bulan, tetap jauh lebih singkat dibanding profil misi Mars saat ini.
Meski demikian, konsep tersebut masih bersifat teoretis dan bergantung pada banyak faktor, termasuk desain wahana, massa muatan, dan kemampuan sistem propulsi. Menurut Souza, lintasan cepat seperti ini berpotensi dicapai menggunakan roket generasi baru seperti SpaceX Starship dan New Glenn.





























:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5473943/original/060119400_1768461944-klaim_purbaya_temukan_data_uang_jokowi.jpg)





:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3977835/original/066021800_1648524608-pexels-ahmed-aqtai-2233416_1_.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4735410/original/014374300_1707130221-10217582.jpg)



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/1575221/original/040400200_1492996168-islamicitydotorg.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5456521/original/033087800_1766898100-Gemini_Generated_Image_xyevcgxyevcgxyev_2.png)



