Impostor Syndrome: Saat Kamu Merasa Tidak Layak Meski Sudah Berhasil

10 hours ago 2

CANTIKA.COM, Jakarta - Pernah merasa pencapaian yang kamu raih bukan karena kerja keras atau kemampuanmu sendiri, melainkan karena keberuntungan semata? Atau kamu kerap takut suatu hari orang lain akan menyadari bahwa kamu sebenarnya “tidak sepintar” atau “tidak sepantas” yang mereka kira? Jika iya, bisa jadi kamu sedang mengalami impostor syndrome.

Fenomena ini banyak dialami perempuan, terutama mereka yang berprestasi, ambisius, dan terbiasa mematok standar tinggi pada diri sendiri. Sayangnya, impostor syndrome sering kali tidak disadari dan dianggap sebagai bagian dari sifat rendah hati atau perfeksionisme.

Apa Itu Impostor Syndrome?

Impostor syndrome adalah fenomena psikologis ketika seseorang meragukan kemampuan dan pencapaiannya sendiri, meskipun ada bukti nyata bahwa ia kompeten dan berhasil. Orang yang mengalaminya cenderung merasa dirinya “penipu” yang suatu saat akan ketahuan tidak sepintar atau sehebat yang orang lain pikirkan.

Istilah ini pertama kali diperkenalkan pada tahun 1978 oleh psikolog Pauline Clance dan Suzanne Imes. Awalnya, fenomena ini banyak ditemukan pada perempuan berprestasi tinggi yang kesulitan menginternalisasi keberhasilan mereka. Namun, seiring waktu, impostor syndrome diketahui bisa dialami siapa saja, tanpa memandang gender, usia, atau latar belakang pendidikan.

Penting untuk diketahui, impostor syndrome bukan gangguan kesehatan mental resmi. Meski begitu, dampaknya terhadap kesehatan mental dan kepercayaan diri tidak bisa dianggap sepele.

Mengapa Impostor Syndrome Bisa Terjadi?

Ada beberapa faktor yang sering memicu munculnya impostor syndrome. Salah satunya adalah pola asuh yang menekankan pencapaian dan kesempurnaan sejak kecil. Anak yang terbiasa dituntut selalu “lebih” bisa tumbuh menjadi individu yang merasa tidak pernah cukup, seberhasil apa pun dirinya.

Perfeksionisme juga menjadi pemicu utama. Ketika seseorang menetapkan standar yang sangat tinggi dan sulit dicapai, kegagalan kecil saja bisa membuatnya merasa tidak kompeten.

Selain itu, lingkungan yang kompetitif, seperti dunia kerja baru, posisi jabatan yang lebih tinggi, atau industri dengan standar tinggi, kerap memunculkan perasaan tidak layak. Tak jarang, hal ini juga muncul saat seseorang berada di fase hidup baru, misalnya menjadi pemimpin, ibu, atau profesional di bidang yang menantang.

Ciri-ciri Impostor Syndrome yang Perlu Diwaspadai

Impostor syndrome tidak selalu terlihat jelas. Banyak orang tampak percaya diri di luar, tetapi penuh keraguan di dalam. Beberapa tanda yang sering muncul antara lain sulit menerima pujian, cenderung meremehkan pencapaian sendiri, dan merasa sukses hanya karena keberuntungan.

Selain itu, orang dengan impostor syndrome sering membandingkan diri dengan orang lain, merasa selalu tertinggal, dan takut mengambil tantangan baru karena khawatir gagal. Ada juga yang justru bekerja berlebihan demi membuktikan dirinya layak, hingga berujung kelelahan emosional.

Jika dibiarkan, pola ini bisa membuat seseorang terus merasa tidak cukup, meskipun secara objektif ia berkembang dan berhasil.

Dampak Impostor Syndrome pada Kehidupan

Meski tidak tergolong gangguan mental, impostor syndrome bisa berdampak serius pada kesehatan mental. Perasaan tidak layak yang terus-menerus dapat memicu stres, kecemasan, hingga burnout.

Dalam jangka panjang, impostor syndrome juga bisa menghambat perkembangan karier dan kehidupan pribadi. Seseorang mungkin menolak promosi, enggan menunjukkan potensi, atau terus merasa tidak puas dengan dirinya sendiri, apa pun yang telah dicapai.

Cara Menghadapi Impostor Syndrome

Langkah pertama untuk menghadapi impostor syndrome adalah menyadari dan mengakui perasaan tersebut. Memahami bahwa pengalaman ini umum terjadi bisa membantu mengurangi rasa malu dan kesepian.

Mencatat pencapaian juga bisa menjadi cara sederhana namun efektif. Tuliskan prestasi, pujian, atau umpan balik positif yang pernah kamu terima. Saat rasa ragu muncul, daftar ini bisa menjadi pengingat bahwa keberhasilanmu nyata.

Berbagi cerita dengan orang terpercaya, seperti teman, mentor, atau rekan kerja, juga penting. Sering kali, kamu akan menyadari bahwa banyak orang lain mengalami hal serupa, bahkan mereka yang terlihat sangat percaya diri.

Selain itu, cobalah mengurangi pola pikir perfeksionis. Tidak ada manusia yang sempurna, dan kesalahan adalah bagian dari proses belajar. Saat menerima pujian, biasakan untuk mengucapkan terima kasih tanpa menyangkalnya. Pengakuan dari orang lain bukan basa-basi, melainkan refleksi dari usaha dan kemampuanmu.

Merasa ragu pada diri sendiri bukan tanda bahwa kamu tidak mampu. Justru, impostor syndrome sering muncul pada orang-orang yang peduli pada kualitas, tanggung jawab, dan pertumbuhan diri.

Jika kamu kerap merasa seperti “penipu” di tengah kesuksesanmu sendiri, ingatlah satu hal penting: kamu berada di posisimu sekarang bukan tanpa alasan. Kerja keras, proses, dan kemampuanmu adalah nyata, meski kadang sulit kamu akui.

Kamu tidak sendirian, dan kamu layak berada di sini.

Pilihan Editor: Dialami Aurelie Moeremans, Ini Dampak Child Grooming bagi Anak Perempuan

HEALTHLINE | NIH | NHS | HARVARD HEALTH

Halo Sahabat Cantika, Yuk Update Informasi Terkini Gaya Hidup Cewek Y dan Z di Instagram dan TikTok Cantika.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |