Keutamaan Puasa Tasua dan Asyura, Amalan Penghapus Dosa di Bulan Muharram

2 hours ago 2

Liputan6.com, Jakarta - Keutamaan puasa Tasua dan Asyura menjadi salah satu hal yang banyak dicari umat Islam menjelang bulan Muharram. Sebagai bulan yang dimuliakan dalam Islam, Muharram menjadi waktu yang tepat untuk memperbanyak ibadah, salah satunya dengan menjalankan puasa sunnah pada tanggal 9 dan 10 Muharram.

Memahami keutamaan puasa Tasua dan Asyura dapat meningkatkan semangat umat Muslim dalam menjalankan ibadah sunnah ini. Selain menjadi bentuk ketaatan kepada Allah SWT, puasa tersebut memiliki keistimewaan berupa penghapusan dosa-dosa kecil selama setahun sebelumnya.

Mengetahui keutamaan puasa Tasua dan Asyura juga membantu umat Islam memahami nilai penting dari amalan yang dilakukan di bulan Muharram. Dengan menjalankannya, seseorang dapat memperbanyak pahala sekaligus menjadikan momen tersebut sebagai kesempatan untuk memperkuat keimanan dan ketakwaan.

Berikut Liputan6.com merangkum dari berbagai sumber tentang keutamaan puasa Tasua dan Asyura, Rabu (24/6/2026).

Keutamaan Puasa Tasu'a (9 Muharram)

Puasa Tasu'a merupakan puasa sunnah yang dilaksanakan pada tanggal 9 Muharram dan sangat dianjurkan dalam ajaran Islam. Walaupun tidak sepopuler puasa Asyura yang jatuh pada 10 Muharram, ibadah ini tetap memiliki kedudukan yang sangat penting karena menjadi bagian dari rangkaian amalan utama di bulan Muharram.

Puasa ini juga dianggap sebagai pelengkap yang menyempurnakan pelaksanaan puasa Asyura sekaligus menunjukkan kesempurnaan dalam mengikuti sunnah Rasulullah SAW.

Hadis tentang Puasa Tasu'a

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas RA, Rasulullah SAW bersabda:

"Jika aku masih hidup sampai tahun depan, sungguh aku akan berpuasa pada hari kesembilan (Tasu’a)." (HR. Muslim)

Keutamaan Puasa Tasu'a

1. Penyempurna Puasa Asyura

Puasa Tasu’a dianjurkan agar umat Islam tidak hanya berpuasa pada tanggal 10 Muharram saja. Dengan menambahkan puasa di hari sebelumnya, yaitu 9 Muharram, maka rangkaian ibadah menjadi lebih sempurna. Hal ini menunjukkan kehati-hatian dalam mengikuti sunnah Rasulullah SAW sekaligus menambah nilai ibadah di bulan yang mulia.

2. Pembeda dari Kaum Yahudi

Salah satu hikmah utama puasa Tasu’a adalah untuk membedakan praktik ibadah umat Islam dengan kaum Yahudi yang juga berpuasa pada hari Asyura (10 Muharram). Rasulullah SAW mengajarkan agar umat Islam tidak meniru secara langsung, sehingga beliau berniat untuk menambahkan puasa sehari sebelumnya. Ini menunjukkan bahwa dalam Islam, mengikuti sunnah juga mencakup identitas dan keunikan ibadah umat Muslim.

3. Menghidupkan Sunnah Rasulullah SAW

Melaksanakan puasa Tasu’a merupakan bentuk kecintaan kepada Rasulullah SAW. Dengan menjalankan amalan yang beliau anjurkan, seorang Muslim tidak hanya mendapatkan pahala puasa sunnah, tetapi juga menunjukkan komitmen dalam menghidupkan ajaran Nabi dalam kehidupan sehari-hari. Semakin seseorang mengikuti sunnah, semakin besar harapan untuk mendapatkan keberkahan dan ridha Allah SWT.

Keutamaan Puasa Asyura (10 Muharram)

Puasa Asyura merupakan salah satu puasa sunnah yang dilaksanakan pada tanggal 10 Muharram dalam kalender Hijriah. Ibadah ini memiliki kedudukan yang sangat mulia dalam Islam karena Rasulullah SAW sangat menganjurkannya kepada umatnya. Bahkan, puasa Asyura termasuk salah satu amalan sunnah yang memiliki nilai besar setelah puasa wajib di bulan Ramadan. 

Hadis tentang Puasa Asyura

Diriwayatkan dari Abu Qatadah RA, Rasulullah SAW bersabda:

"Puasa hari Asyura, aku berharap kepada Allah agar menghapus dosa setahun sebelumnya." (HR. Muslim)

Keutamaan Puasa Asyura

1. Menghapus Dosa Setahun yang Lalu

Keutamaan paling besar dari puasa Asyura adalah janji Allah SWT untuk menghapus dosa-dosa kecil selama satu tahun sebelumnya bagi orang yang menjalankannya dengan ikhlas. Hal ini menunjukkan betapa luasnya rahmat Allah kepada hamba-Nya yang bersungguh-sungguh dalam beribadah. Puasa ini menjadi kesempatan besar bagi setiap Muslim untuk melakukan pembersihan diri secara spiritual, memperbaiki kesalahan kecil, serta memulai lembaran baru yang lebih baik dalam kehidupan sehari-hari. 

2. Amalan Sunnah yang Sangat Dianjurkan

Puasa Asyura termasuk salah satu ibadah sunnah yang sangat ditekankan oleh Rasulullah SAW. Beliau tidak hanya melaksanakannya secara rutin, tetapi juga menganjurkan para sahabat untuk ikut serta dalam menjalankan puasa ini. Hal ini menunjukkan bahwa puasa Asyura memiliki kedudukan penting dalam rangkaian ibadah sunnah umat Islam. Bahkan, dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa Rasulullah SAW sangat memperhatikan pelaksanaan puasa ini di tengah umatnya. 

3. Wujud Syukur kepada Allah SWT

Puasa Asyura juga memiliki makna mendalam sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT atas berbagai nikmat dan pertolongan-Nya. Salah satu peristiwa penting yang diyakini terjadi pada hari Asyura adalah diselamatkannya Nabi Musa AS beserta Bani Israil dari kejaran Firaun yang zalim.

Sebagai bentuk rasa syukur atas kemenangan dan keselamatan tersebut, Rasulullah SAW berpuasa pada hari itu dan mengajarkan umatnya untuk melakukan hal yang sama. 

Niat Puasa Tasu’a dan Asyura

Niat merupakan rukun utama dalam setiap ibadah puasa, termasuk puasa Tasu’a (9 Muharram) dan Asyura (10 Muharram). Tanpa niat, puasa tidak dianggap sah karena niat menjadi penentu sah atau tidaknya suatu ibadah di sisi Allah SWT. 

Waktu membaca niat puasa sunnah ini juga memiliki kelonggaran. Niat bisa dilakukan pada malam hari setelah Maghrib hingga sebelum terbit fajar, atau bahkan pada siang hari selama belum melakukan hal-hal yang membatalkan puasa sejak fajar. 

Niat Puasa Tasu’a (9 Muharram)

نَوَيْتُ صَوْمَ تَاسُوعَاءَ سُنَّةً لِلَّهِ تَعَالَى

Nawaitu shauma Tasu’a sunnatan lillahi ta‘ala

Artinya: "Aku berniat puasa Tasu’a sebagai sunnah karena Allah Ta‘ala."

Niat Puasa Asyura (10 Muharram)

نَوَيْتُ صَوْمَ يَوْمِ عَاشُورَاءَ سُنَّةً لِلَّهِ تَعَالَى

Nawaitu shauma yaumi ‘Asyura sunnatan lillahi ta‘ala

Arti: "Aku berniat puasa Asyura pada hari Asyura sebagai sunnah karena Allah Ta‘ala."

Tata Cara Pelaksanaan Puasa Sunnah Muharram

Puasa Tasu’a dan Asyura pada dasarnya memiliki tata cara yang sama seperti puasa sunnah lainnya dalam Islam. Meskipun terlihat sederhana, ibadah ini memiliki nilai pahala yang besar sehingga perlu dijalankan dengan benar dan penuh kesadaran.

1. Niat Puasa

Niat dilakukan pada malam hari sebelum tidur atau sebelum terbit fajar. Niat dapat diucapkan dalam hati, namun melafalkannya secara lisan dianjurkan agar membantu menghadirkan kekhusyukan dan kesungguhan dalam beribadah. Niat juga menjadi syarat utama sahnya puasa.

2. Makan Sahur

Sahur dilakukan sebelum waktu imsak atau sebelum fajar tiba. Kegiatan ini termasuk sunnah Rasulullah SAW dan memiliki banyak keberkahan. Selain itu, sahur juga membantu memberikan kekuatan fisik agar dapat menjalankan puasa sepanjang hari dengan lebih baik.

3. Menahan Diri Selama Berpuasa

Puasa dimulai dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Selama waktu tersebut, seorang Muslim wajib menahan diri dari makan, minum, serta hal-hal yang membatalkan puasa. Tidak hanya itu, puasa juga mengajarkan untuk menjaga lisan, perilaku, serta mengendalikan hawa nafsu agar ibadah lebih sempurna.

4. Memperbanyak Amal Ibadah

Selama menjalankan puasa Tasu’a dan Asyura, sangat dianjurkan untuk memperbanyak amal kebaikan. Aktivitas seperti membaca Al-Qur’an, berzikir, berdoa, dan bersedekah dapat menambah pahala serta meningkatkan kedekatan kepada Allah SWT. Hal ini juga membuat nilai spiritual puasa menjadi lebih maksimal.

5. Berbuka Puasa

Puasa diakhiri ketika waktu Maghrib tiba. Disunnahkan untuk segera berbuka saat waktu sudah masuk tanpa menunda. Berbuka menjadi momen syukur setelah seharian beribadah, dan dianjurkan untuk memulai dengan makanan ringan seperti kurma atau air putih.

Pertanyaan Seputar Keutamaan Puasa Tasua dan Asyura

Apa keutamaan utama puasa Asyura?

Keutamaan utama puasa Asyura adalah dapat menghapus dosa-dosa kecil yang telah dilakukan selama satu tahun sebelumnya, sebagaimana disebutkan dalam hadits Rasulullah SAW.

Mengapa dianjurkan berpuasa Tasu'a selain Asyura?

Puasa Tasu'a (9 Muharram) dianjurkan untuk melengkapi puasa Asyura dan berfungsi sebagai pembeda antara umat Islam dengan kaum Yahudi yang juga berpuasa pada 10 Muharram. Rasulullah SAW sendiri berkeinginan untuk berpuasa pada hari kesembilan jika masih hidup di tahun berikutnya.

Kapan waktu yang tepat untuk membaca niat puasa Tasu'a dan Asyura?

Niat puasa Tasu'a dan Asyura sebaiknya dibaca pada malam hari sebelum tidur atau saat sahur, sebelum terbit fajar. Untuk puasa sunnah, niat juga boleh dilakukan pada siang hari asalkan belum melakukan hal-hal yang membatalkan puasa sejak terbit fajar.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |