Khutbah Jumat Ikhlas: Meluruskan Niat dalam Setiap Amal, Renungan untuk Memperbaiki Hati dan Niat

13 hours ago 5

Khutbah Pertama

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar.

Alhamdulillahi rabbil 'alamin. Nahmaduhu wa nasta'inuhu wa nastaghfiruh, wa na'udzu billahi min syururi anfusina wa min sayyi'ati a'malina. May yahdihillahu fala mudhilla lah, wa may yudhlil fala hadiya lah. Asyhadu an la ilaha illallah wahdahu la syarika lah, wa asyhadu anna Muhammadan 'abduhu wa rasuluh. Allahumma shalli wa sallim wa barik 'ala Sayyidina Muhammad, wa 'ala alihi wa ashhabihi ajma'in.

Amma ba'du.

Jemaah Jumat rahimakumullah,

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi seluruh larangan-Nya. Ketakwaan bukan hanya tampak pada banyaknya amal yang kita lakukan, tetapi juga pada lurusnya niat yang melandasi setiap amal tersebut. Sebab, amal yang besar di mata manusia belum tentu bernilai di sisi Allah apabila kehilangan keikhlasan.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

"Padahal mereka tidak diperintahkan kecuali agar menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam menjalankan agama."(QS. Al-Bayyinah: 5).

Jemaah yang dimuliakan Allah,

Ikhlas adalah memurnikan tujuan beribadah hanya untuk mencari ridha Allah semata, tanpa mengharapkan pujian, sanjungan, kedudukan, ataupun keuntungan duniawi. Orang yang ikhlas tetap beramal meskipun tidak ada seorang pun yang melihatnya. Ia yakin bahwa penilaian Allah jauh lebih penting daripada penilaian manusia.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Sesungguhnya setiap amal itu tergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan."(HR. Bukhari dan Muslim).

Hadis ini menjadi dasar penting bahwa niat menentukan kualitas sebuah amal. Dua orang dapat melakukan ibadah yang sama, namun balasan yang diterima bisa sangat berbeda karena perbedaan niat dalam hati mereka.

Jemaah Jumat rahimakumullah,

Pada zaman sekarang, menjaga keikhlasan menjadi tantangan yang semakin berat. Kemudahan berbagi aktivitas di media sosial sering kali membuat seseorang tanpa sadar lebih sibuk membangun citra daripada memperbaiki hati. Amal saleh dipublikasikan bukan lagi untuk menginspirasi, melainkan agar memperoleh pujian, pengakuan, atau popularitas.

Padahal, penyakit riya merupakan salah satu penyakit hati yang sangat berbahaya. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah mengingatkan umatnya tentang syirik kecil, yaitu riya, ketika seseorang beribadah agar dipandang manusia.

Karena itu, marilah kita senantiasa mengoreksi niat sebelum beramal, ketika sedang beramal, dan setelah menyelesaikan amal. Jangan sampai amal yang telah kita kumpulkan bertahun-tahun menjadi sia-sia hanya karena tercampur keinginan mendapatkan pujian manusia.

Jemaah yang berbahagia,

Ada beberapa cara agar kita mampu menjaga keikhlasan.

Pertama, memperbanyak mengingat bahwa Allah Maha Mengetahui isi hati setiap hamba. Tidak ada niat yang tersembunyi dari pengawasan-Nya.

Kedua, memperbanyak amal-amal yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Amal yang tidak diketahui orang lain sering kali lebih mudah dijaga keikhlasannya.

Ketiga, tidak terlalu memikirkan pujian ataupun celaan manusia. Orang yang ikhlas akan tetap istiqamah dalam kebaikan, baik dipuji maupun diabaikan.

Keempat, senantiasa berdoa kepada Allah agar diberikan hati yang bersih dan niat yang lurus, karena hati manusia berada dalam kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang selalu memperbaiki niat dalam setiap amal sehingga seluruh ibadah yang kita lakukan diterima sebagai amal saleh.

Aqulu qauli hadza, wa astaghfirullahal 'azhim li wa lakum wa lisa'iril muslimin, fastaghfiruhu innahu huwal ghafurur rahim.

Khutbah Kedua

Alhamdulillahi rabbil 'alamin, hamdan katsiran thayyiban mubarakan fihi kama yuhibbu Rabbuna wa yardha. Asyhadu an la ilaha illallah wahdahu la syarika lah, wa asyhadu anna Sayyidana Muhammadan 'abduhu wa rasuluh. Allahumma shalli wa sallim wa barik 'alaihi wa 'ala alihi wa shahbihi ajma'in.

Jemaah Jumat rahimakumullah,

Marilah kita terus menjaga ketakwaan kepada Allah dengan memperbaiki kualitas amal, bukan hanya memperbanyak jumlahnya. Amal yang sedikit tetapi ikhlas lebih dicintai Allah daripada amal yang banyak namun dipenuhi riya dan kesombongan.

Jadikan setiap pekerjaan yang halal sebagai ladang ibadah dengan menghadirkan niat karena Allah. Seorang pedagang yang jujur, guru yang mendidik dengan tulus, pegawai yang bekerja amanah, orang tua yang mendidik anak dengan penuh tanggung jawab, hingga siapa pun yang menjalankan tugasnya karena Allah, semuanya dapat bernilai ibadah apabila dilakukan dengan niat yang benar.

Marilah kita memohon kepada Allah agar diberikan hati yang bersih, dijauhkan dari sifat riya, sum'ah, ujub, dan segala penyakit hati yang dapat merusak amal.

Allahummaghfir lil mu'minina wal mu'minat, wal muslimina wal muslimat, al-ahya'i minhum wal amwat.

Allahumma inna nas'alukal ikhlasha fil qauli wal 'amal, wa nas'aluka qalban saliman, wa 'amalan mutaqabbalan, wa rizqan thayyiban, wa 'ilman nafi'an.

Allahumma tahhir qulubana minan nifaq, wa a'malana minar riya', wa alsinatana minal kadzib, wa a'yunana minal khiyanah, fa innaka ta'lamu kha'inatal a'yuni wa ma tukhfis shudur.

Rabbana atina fid dunya hasanah, wa fil akhirati hasanah, wa qina 'adzaban nar.

Wa shallallahu 'ala Sayyidina Muhammadin wa 'ala alihi wa shahbihi ajma'in.

Innallaha ya'muru bil 'adli wal ihsan wa ita'i dzil qurba wa yanha 'anil fahsya'i wal munkari wal baghy, ya'izhukum la'allakum tadzakkarun.

Fadzkurullahal 'azhima yadzkurkum, wasykuruhu 'ala ni'amihi yazidkum, wa ladzikrullahi akbar, wallahu ya'lamu ma tashna'un.

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |