KPAI: Gawai Bisa Jadi Gerbang Penyebaran Ekstremisme Anak

4 hours ago 2

KOMISI Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengimbau para orang tua untuk memperketat pengawasan penggunaan gawai (gadget) pada anak. Langkah ini dinilai sangat krusial, mengingat pergeseran pola penyebaran paham radikalisme dan ekstremisme yang kini masif memanfaatkan ruang digital dan media sosial untuk menyasar kelompok usia anak di bawah umur.

Ketua KPAI, Aris Adi Leksono, mengatakan gawai berpotensi menjadi pintu masuk utama skema penyusupan doktrin radikal. Menurutnya, sebagian besar kasus keterpaparan anak terkait paham atau kegiatan ekstremisme berawal dari aktivitas di gawai. “Oleh karena itu, orang tua perlu memperhatikan apa yang diakses oleh anak-anaknya,” ujar Aris saat dihubungi pada Kamis, 30 Juli 2026.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Melansir laman Antara, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Eddy Hartono mengatakan kolaborasi kementerian/ lembaga berhasil merehabilitasi sekitar 250 anak yang terpapar ekstremisme sepanjang akhir tahun 2024 hingga 2025. Rehabilitasi dan pembinaan itu merupakan bagian dari komitmen pemerintah mencegah dan menanggulangi ekstrimisme berbasis kekerasan yang mengarah pada terorisme.

Eddy menuturkan ancaman terorisme saat ini sudah mulai bergeser. Kini, internet dijadikan sarana untuk melakukan rekrutmen, kontra propaganda, hingga pendanaan terorisme dengan menyasar perempuan, anak-anak, dan remaja.

Menurut Ketua KPAI, Aris Adi Leksono, pengawasan gawai oleh orang tua bertujuan untuk mendeteksi secara dini potensi paparan tontonan atau grup percakapan yang berisiko tinggi dapat mengubah pola pikir (mindset) serta perilaku anak menjadi ekstrem.

Selain memantau konten digital, kata Aris, orang tua juga perlu lebih peka terhadap perubahan perilaku anak yang menjadi indikator awal masalah psikologis atau keterpaparan. Di antara tanda-tanda yang perlu diwaspadai, yakni anak menjadi makin tertutup, menyendiri, asosial, dan enggan bergaul maupun bercerita kepada keluarga.

Menurut Aris, jika anak kurang mendapatkan perhatian dan ruang dialog yang hangat di rumah, mereka berisiko mencari pelampiasan atau rasa validasi di lingkungan lain. Pola ini tidak menutup kemungkinan anak bergabung dengan komunitas digital yang terafiliasi dengan jaringan ekstremis.

Guna mencegah hal tersebut, KPAI mendorong keluarga untuk membangun komunikasi dua arah yang terbuka, memberikan dukungan emosional, serta aktif mendampingi tumbuh kembang anak, khususnya di era digital. Pihaknya berharap langkah preventif dari lingkup keluarga mampu menjadi benteng utama agar anak tidak menjadi korban eksploitasi jaringan radikalisme.

“Penting untuk menanamkan karakter, menguatkan rasa untuk memiliki kepedulian sosial, bergaul sesamanya dengan baik, berinteraksi dengan yang lain dengan baik secara terbuka, memberikan ruang anak untuk berbicara, mengenal keluh kesah anak, dan seterusnya,” tutur Aris.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |