Liputan6.com, Jakarta - Melakukan perjalanan jauh merupakan bagian tak terpisahkan dari dinamika kehidupan manusia. Agar setiap langkah diliputi kebaikan, umat Islam dianjurkan melaksanakan berbagai sunnah yang membuat perjalanan lebih berkah menurut Islam.
Safar bukan sekadar mobilitas fisik, melainkan sebuah prosesi yang sangat sarat akan nilai spiritual. Syariat Islam menempatkan seorang musafir pada kedudukan khusus karena berbagai tantangan dan keterbatasan di tengah perjalanan.
Firman Allah SWT dalam Surah Al-Mulk ayat 15: "Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya." Ayat ini mengisyaratkan bahwa bumi membentang luas untuk dijelajahi guna mencari karunia Ilahi.
Imam Ibnu Katsir di dalam kitab Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim menjelaskan bahwa ayat tersebut mengandung makna perintah agar manusia menempuh perjalanan dengan tetap menyandarkan seluruh tawakalnya kepada Allah. Dengan mematuhi rambu-rambu sunnah, perjalanan tersebut niscaya akan bernilai ibadah.
Merangkum berbagai sumber, berikut ini adalah amalan sunnah agar perjalanan menjadi penuh berkah dan bernilai ibadah.
Amalan-Amalan Sunnah dalam Perjalanan
Syariat Islam memberikan panduan yang sangat terstruktur bagi para musafir. Mulai dari niat di dalam rumah hingga kembali melangkahkan kaki ke kediaman, berikut adalah rincian amalannya:
1. Shalat Sunnah Safar Sebelum Berangkat
Sebelum keluar rumah, sangat dianjurkan untuk melaksanakan shalat sunnah safar sebanyak dua rakaat.
Imam As-Suyuthi di dalam kitab Jam'ul Jawami' mencantumkan hadis Nabi SAW yang menyatakan, "Jika engkau keluar dari rumahmu, lakukanlah shalat dua rakaat, yang akan menghindarkanmu dari keburukan di luar rumah."
Abdullah Haidir dalam Ebook Panduan Musafir, Adab dan Hukum Safar menguraikan bahwa shalat ini berfungsi sebagai benteng perlindungan pertama bagi musafir.
2. Berpamitan dan Mendoakan Keluarga yang Ditinggalkan
Musafir disunnahkan untuk berpamitan dan menitipkan keluarganya kepada Allah.
Sesuai riwayat Ahmad, musafir mendoakan dengan lafal: "Astaudi'ullaha diinaka, wa amanataka, wa khawatima 'amalik" (Aku titipkan kepada Allah agamamu, amanatmu dan akhir perbuatanmu).
Aulia Fadhli di dalam Buku Tuntunan Shalat Musafir menjelaskan bahwa ucapan perpisahan ini mengikis rasa waswas musafir terhadap keluarga dan hartanya karena telah diserahkan pada penjagaan Allah.
3. Membaca Doa Safar di Kendaraan
Sesaat setelah kendaraan mulai melaju, musafir dianjurkan memanjatkan doa safar.
Didasarkan pada hadis riwayat Muslim, doa ini memuat kalimat tauhid, takbir, dan permohonan kemudahan. Ulama menjelaskan bahwa melafalkan doa safar adalah bentuk pengakuan atas kelemahan manusia yang tidak akan mampu menundukkan kendaraan darat, laut, maupun udara tanpa izin dan kuasa dari Allah SWT.
4. Memperbanyak Takbir dan Tasbih di Perjalanan
Kondisi kontur jalan yang naik dan turun harus disikapi dengan zikir.
Berdasarkan hadis riwayat Bukhari dari Jabir bin Abdullah ra.: "Dahulu jika kami jalan mendaki, kami bertakbir (Allahu Akbar), dan jika jalan menurun kami bertasbih (Subhanallah)."
Abdullah Haidir menjelaskan sunnah ini bertujuan agar lisan musafir senantiasa basah dengan mengingat kebesaran Allah, bukan dengan keluh kesah.
5. Shalat 2 Rakaat di Masjid saat Kepulangan
Setibanya di daerah asal, musafir disunnahkan untuk singgah ke masjid sebelum masuk ke dalam rumah.
Hadis riwayat Bukhari menyebutkan bahwa Rasulullah SAW senantiasa mendatangi masjid untuk melaksanakan shalat dua rakaat tiap kali beliau baru pulang dari bepergian jauh. Aulia Fadhli menjelaskan ini adalah bentuk rasa syukur (tasyakkur) tertinggi karena telah dipulangkan dalam kondisi bernyawa dan selamat.
Rukhshah (Keringanan) Saat Safar
Islam memandang safar sebagai keadaan yang penuh masyaqqah (kesulitan). Sebagai bentuk kasih sayang, Allah SWT memberikan keringanan (rukhshah) ibadah.
Allah berfirman dalam QS. An-Nisa ayat 101: "Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa kamu men-qashar sembahyang(mu)."
Imam An-Nawawi di dalam kitab Al-Majmu Syarh Al-Muhadzdzab beserta Aulia Fadhli dalam bukunya menerangkan bahwa rukhshah ini mencakup kebolehan mengqashar shalat fardhu (menjadi 2 rakaat), menjamak waktu pelaksanaannya, kebolehan untuk tidak berpuasa Ramadhan di jalan, gugurnya kewajiban shalat Jumat bagi musafir pria (diganti Zuhur), serta perpanjangan waktu mengusap sepatu (khuf) saat berwudu menjadi tiga hari tiga malam. Mengambil rukhshah ini amat disukai Allah sebagai bentuk penerimaan atas "sedekah-Nya".
Syarat Menjadi Musafir
Untuk mendapatkan status sebagai musafir yang berhak atas berbagai rukhshah (keringanan) syariat seperti menjamak dan mengqashar shalat, seseorang harus memenuhi kriteria yang ketat.
Berikut adalah syarat-syarat menjadi musafir secara singkat menurut pandangan mayoritas ulama fikih:
1. Telah Keluar dari Batas Wilayah (Wathan)
Seseorang baru diakui secara sah sebagai musafir manakala ia telah melangkahkan kaki dan secara fisik keluar dari tapal batas permukiman, desa, atau kota tempat tinggalnya. Berkeliling di dalam kota meskipun menghabiskan waktu seharian dan menempuh jarak ratusan kilometer tidak menjadikan seseorang berstatus musafir.
2. Jarak Tempuh Memenuhi Standar Minimal (Masafah as-Safar)
Perjalanan yang ditempuh harus mencapai batas jarak minimal yang ditetapkan syariat. Mayoritas ulama (Jumhur) mematok jarak ini sejauh 4 burud atau 16 farsakh. Dalam hitungan modern, jarak ini diestimasi berada di rentang 76,8 km hingga 88,7 km. Jika jarak kurang dari angka tersebut, keringanan qashar dan jamak tidak berlaku.
3. Memiliki Arah dan Tujuan yang Pasti
Perjalanan tersebut harus diarahkan menuju titik destinasi yang spesifik. Seseorang yang berjalan mengembara tanpa arah tujuan yang jelas, atau berkeliling tak tentu arah untuk mencari barang hilang, tidak sah dikategorikan sebagai musafir.
4. Perjalanan Bersifat Mubah (Bukan untuk Maksiat)
Syarat mutlak agar rukhshah berlaku adalah niat atau tujuan safar tersebut mubah (halal), seperti untuk bekerja, berdagang, bersilaturahmi, menuntut ilmu, atau berlibur. Apabila perjalanan ditujukan untuk melakukan kemaksiatan (seperti mencuri, berjudi, atau transaksi ilegal), maka hak status musafirnya gugur karena keringanan syariat tidak boleh digunakan untuk memfasilitasi dosa.
Apabila keempat syarat di atas telah terpenuhi secara bersamaan, maka seseorang secara otomatis menyandang status musafir dan berhak mengamalkan seluruh keringanan ibadah yang telah dianugerahkan oleh Allah SWT.
Adab-Adab Safar
Safar adalah ibadah jika dilakukan dengan adab yang benar. Beberapa adab penting tersebut meliputi:
• Berpamitan dan Saling Mendoakan: Musafir dianjurkan berpamitan pada keluarga, lalu saling mendoakan keselamatan agama dan titipan.
• Mengangkat Pemimpin (Amir): Jika bepergian secara rombongan (minimal tiga orang), disunnahkan menunjuk satu pemimpin untuk mempermudah pengambilan keputusan.
• Berdoa Saat Berkendara: Melafalkan doa safar ketika kendaraan mulai melaju.
Abdullah Haidir dalam Ebook Panduan Musafir mencantumkan dalil anjuran menunjuk pemimpin dari hadis riwayat Abu Daud: "Jika ada tiga orang keluar untuk safar, hendaklah mereka mengangkat salah seorang di antara mereka sebagai pemimpin." Beliau menjelaskan bahwa adab ini diajarkan agar perjalanan lebih teratur dan mencegah perpecahan di jalan.
Fadhilah Mengamalkan Sunnah Safar
Melaksanakan seluruh rangkaian amalan sunnah tersebut akan memberikan lima keutamaan (fadhilah) besar:
1. Mendapat Penjagaan Allah: Zikir dan doa safar berfungsi sebagai perisai gaib yang melindungi keselamatan fisik, harta, dan anggota keluarga baik yang berangkat maupun yang menetap.
2. Terbukanya Pintu Mustajab: Safar adalah momen di mana doa sangat mudah menembus langit. Diiringi ketaatan, permohonan musafir pasti akan dikabulkan oleh Allah SWT.
3. Mengubah Lelah Menjadi Pahala: Perjalanan bisnis, dinas, atau silaturahmi yang awalnya mubah (biasa saja), berubah statusnya menjadi ladang pahala ibadah yang berlipat ganda karena diawali dan diakhiri dengan sunnah.
4. Menghadirkan Ketenangan Psikologis: Berserah diri melalui shalat dan doa akan mengangkat rasa stres, kecemasan, dan waswas yang kerap menghantui seseorang sebelum bepergian.
5. Meminimalisasi Efek Samping Dosa: Doa permohonan ampunan yang dibaca saat pulang safar berfungsi sebagai penghapus dosa dan kesalahan lisan yang mungkin terjadi akibat kelelahan atau emosi di jalan.
Pertanyaan Seputar Amalan Sunnah Musafir
1. Apa saja amalan sunnah yang membuat perjalanan lebih berkah menurut Islam?
Amalannya meliputi shalat sunnah safar dua rakaat sebelum keluar rumah, berpamitan dengan doa, membaca doa berkendara, bertakbir di jalan mendaki, bertasbih di jalan menurun, serta diakhiri dengan shalat dua rakaat di masjid setibanya di kampung halaman.
2. Apakah wajib membaca doa saat bepergian jauh?
Hukum membaca doa safar adalah sunnah muakkad (sangat dianjurkan), bukan wajib. Meski demikian, meninggalkannya berarti musafir kehilangan perlindungan ekstra dan keberkahan yang telah dijanjikan oleh syariat.
3. Mengapa dianjurkan bertakbir saat jalan menanjak?
Bertakbir (mengagungkan Allah) saat berada di tempat tinggi atau jalan menanjak mengingatkan musafir bahwa setinggi apa pun posisi yang dicapainya, Allah SWT senantiasa Yang Paling Tinggi dan Paling Besar di alam semesta.
4. Kapan waktu yang tepat membaca doa kepulangan safar?
Doa kepulangan mulai dilafalkan dan diulang-ulang pada saat musafir sudah bisa melihat batas wilayah, gapura kota, atau permukiman tempat kampung halamannya berada.
5. Bolehkah musafir tidak mengambil rukhshah shalat dan puasa?
Boleh saja, hukum qashar dan jamak adalah mubah/sunnah menurut sebagian besar ulama. Namun, para ulama menegaskan bahwa mengambil rukhshah jauh lebih utama dan afdal karena merupakan bentuk sikap meneladani sunnah kehidupan Rasulullah SAW.

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9288235/original/021347800_1783308106-hMoq7iMZ86WosKdKnGIyCldDhiFE0ReAUjYa1liq.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4780649/original/094862900_1711077046-masjid-pogung-raya-9nkMRXMvZiI-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9288237/original/052908400_1783308108-Ss5f9RLY6Sba7gbIiWxpYAppDUzPI7IxItIa4eTh.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3309137/original/055065200_1606475068-nurhan-yC70QqvrPRk-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9288205/original/012729000_1783308058-j3DKt8CeeLXtaKYS5EGg3CzU47uGC9ZOldXOfIx5.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5121934/original/015365200_1738729851-1738723836256_musafir-adalah.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9288247/original/091977400_1783308120-ZmIV5tozW7KfIOniQy4CCsmbz5Kq0FZiKX4D6w1N.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9288191/original/055510900_1783308041-f1DpP0sZYFQ37GA4TZIgsh1IfzWE90M4SQFK38F7.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4992858/original/011986900_1730875016-shalat1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5272759/original/071832500_1751598437-ChatGPT_Image_4_Jul_2025__10.06.54.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9288204/original/081949600_1783308056-H9ejem22p4sN0nSPbdKp990WhrvKLc4sW8tggnOk.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9288422/original/080450700_1783319804-Gemini_Generated_Image_yf2pp8yf2pp8yf2p.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5102744/original/034549900_1737446919-1737445609592_tata-cara-sholat-tahajud-2-rakaat.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3035321/original/019803800_1580276853-airplane-744865_960_720.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5167236/original/025939700_1742345959-pexels-gabby-k-5996991.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5377515/original/045535000_1760099331-Solat_Sunnah.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5533779/original/098475800_1773775028-unnamed__98_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8719471/original/043786900_1782813094-Nee6l6Vhvmr3FujVqMBCjz70AKyZHX7e5fZCLXcW.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8719466/original/063211900_1782813074-p9xVfLWstN1erdTRhB90OGdiUvd1bPfbgIkXtFeU.jpg)










:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4670207/original/029073300_1701403206-rasyid-maulana-yVwiHXoTrnU-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5160529/original/036403800_1741831526-hasan-almasi-_X2UAmIcpko-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4400005/original/008170900_1681813298-20230418-Zakat-Fitrah-Herman-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5526386/original/065611600_1773119349-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-03-10T120535.465.jpg)




:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4895076/original/042008200_1721293227-20240718-Pendukung_Trump-AFP_6.jpg)






:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5220916/original/022981400_1747295711-cek_fakta_dana_infak_ikn.jpg)



