Lafal dan Arti Wa Man Yattaqillaha Yaj'al Lahu Makhraja, Bagian Penting Ayat Seribu Dinar Pelancar Rezeki

8 hours ago 5

Liputan6.com, Jakarta - Arti Wa man yattaqillaha yaj'al lahu makhraja banyak dicari umat Islam mengingat frasa ini merupakan bagian dari ‘Ayat Seribu Dinar’. Ayat ini, bersama lanjutan ayat 3, diyakini oleh sebagian masyarakat sebagai amalan pembuka pintu rezeki yang melimpah.

Ayat Seribu Dinar tak hanya populer di perkampungan. Pengamalan ayat ini juga semakin dikenal luas, termasuk melalui berbagai platform media sosial. Fenomena tersebut memperlihatkan tingginya minat masyarakat muslim untuk menemukan jalan keluar secara spiritual ketika menghadapi persoalan ekonomi, pekerjaan, keluarga, maupun berbagai tekanan kehidupan lainnya.

Menurut ulama tafsir, potongan ayat tersebut sebenarnya tidak sekadar dipahami sebagai bacaan untuk mendatangkan kekayaan materi. Lebih dari itu, ayat ini mengandung pesan mendasar tentang pentingnya ketakwaan dan keyakinan kepada pertolongan Allah SWT dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan.

Dalam Tafsir Al-Mishbah, M. Quraish Shihab menjelaskan bahwa janji Allah kepada orang-orang yang bertakwa tidak berarti manusia cukup berpangku tangan tanpa melakukan usaha. Ketakwaan harus berjalan beriringan dengan ikhtiar yang sungguh-sungguh.

Lafal dan Arti Wa Man Yattaqillaha Yaj'al Lahu Makhraja

Potongan ayat yang menjadi inti pembahasan ini adalah bagian akhir dari QS. At-Thalaq ayat 2 dan keseluruhan ayat 3:

وَ مَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مَخْرَجًا ۙ وَ يَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

Latin: Wa man yattaqillāha yaj‘al lahū makhrajā(n), wa yarzuq-hu min ḥaiṡu lā yaḥtasib.

Artinya: "Dan barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menjadikan baginya jalan keluar. Dan menganugerahkan kepadanya rezeki dari arah yang tidak dia duga."

Ayat ini kemudian disempurnakan dengan firman-Nya: "Wa man yatawakkal 'alallahi fa huwa hasbuh" — "Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya."

Makna Mendalam tentang Frasa Wa Man Yattaqillaha Yaj'al Lahu Makhraja

M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Mishbah, menafsirkan wa man yattaqillaha sebagai "barang siapa yang bertakwa kepada Allah, yakni dengan melaksanakan tuntunan-Nya dan meninggalkan larangan-Nya." Sedangkan yaj'al lahu makhraja dimaknai sebagai "jalan keluar dari aneka kesulitan hidup — termasuk hidup rumah tangga — yang dihadapinya."

Quraish Shihab memberikan pemahaman yang penting mengenai makna yarzuq-hu min haitsu la yahtasib: beliau menegaskan bahwa rezeki tidak selalu bersifat material. "Kepuasan hati adalah kekayaan yang tidak pernah habis," tulisnya.

Beliau memberi contoh: seseorang yang berpenghasilan lima juta rupiah tetapi keluarganya sakit-sakitan, dibandingkan dengan yang berpenghasilan dua juta tetapi sehat dan hatinya tenang. Dengan demikian, menurut Quraish Shihab, kata rezeki tidak selalu bersifat material, tetapi juga bersifat spiritual.

Syeikh Abdurrauf as-Singkili, ulama Nusantara abad ke-17 yang karyanya merupakan tafsir 30 juz pertama di Indonesia, menafsirkan ayat ini dengan pendekatan yang lebih ringkas namun padat. Dalam Tafsir Tarjuman al-Mustafid, beliau menerjemahkan:

"Dan barang siapa takut akan Allah ta'ala niscaya dijadikannya baginya keluasan daripada picik (sempit) di dunia dan di akhirat. Dan diberi rezeki akan dia dan diberikan dia dari pihak (arah) yang tiada dicita-citanya (disangka).”

As-Singkili juga menggunakan pendekatan munasabah (korelasi antar ayat) dan ilmu qiraat (bacaan) dalam penafsirannya, menunjukkan kedalaman keilmuannya sebagai seorang ahli qiraah yang mumpuni.

Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim, memberikan penafsiran yang senada. Menurutnya, ayat ini bermakna: "Barangsiapa bertakwa kepada Allah dalam melaksanakan seluruh perintah-Nya dan menjauhi seluruh larangan-Nya, maka Allah akan membuatkan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tidak diduga-duga.”

Beliau mengutip riwayat dari Ibnu Abbas bahwa maksud firman Allah tersebut adalah Allah akan menyelamatkan seseorang dari setiap kesusahan di dunia dan di akhirat, serta memberinya rezeki dari arah yang tidak diketahuinya.

Hikmah Mengamalkan Ayat Seribu Dinar

1. Membuka Jalan Keluar dari Kesulitan

Hikmah pertama dan paling fundamental adalah janji Allah untuk memberikan makhraj — jalan keluar — bagi setiap kesulitan yang dihadapi. Baik kesulitan finansial, masalah rumah tangga, maupun persoalan hidup lainnya. Sebagaimana termaktub dalam QS. At-Thalaq: 2-3, ketakwaan menjadi kunci terbukanya pintu-pintu solusi yang sebelumnya tidak terbayangkan.

2. Rezeki dari Arah yang Tidak Disangka

Hikmah kedua adalah datangnya rezeki dari arah yang tidak terduga. Quraish Shihab mengingatkan bahwa rezeki tidak selalu berbentuk uang atau materi, melainkan bisa berupa kesehatan, ketenangan hati, atau kebahagiaan spiritual yang jauh lebih berharga. Ini mengajarkan kita untuk tidak memaknai rezeki secara sempit.

3. Ketenangan Hati dan Jiwa

Mengamalkan ayat ini dengan penuh keyakinan akan melahirkan ketenangan batin. Sebagaimana disaksikan oleh pengguna TikTok @witawita000 yang berkomentar: "Alhamdulillah tiap hari baca ini, walau pas-pasan paling nggak hati merasa tenang." Ketenangan hati inilah yang oleh Quraish Shihab disebut sebagai "kekayaan yang tidak pernah habis."

4. Meningkatkan Kesadaran Bertakwa dan Bertawakal

Inti dari ayat ini adalah seruan untuk bertakwa dan bertawakal kepada Allah. Abdurrauf as-Singkili menafsirkan wa man yatawakkal 'alallah sebagai "barang siapa bergantung kepada Allah ta'ala maka ia jua memadai dia."【8†L11】 Dengan mengamalkan ayat ini, seseorang diingatkan untuk selalu menggantungkan segala urusan kepada Allah setelah ikhtiar maksimal.

5. Terhindar dari Musibah dan Mendapat Kemudahan Hajat

Dalam berbagai literatur, ayat seribu dinar disebut memiliki keutamaan membantu menyembuhkan penyakit, terhindar dari musibah, mendapatkan jodoh, dan dipermudah segala hajat. Keutamaan ini bersumber dari buku Majmu Syarif Qolbu karya Ahmad Fahmi Kamil.

5 Pertanyaan Populer Seputar Wa Man Yattaqillaha Yaj'al Lahu Makhraja

1. Apakah ada dalil hadis yang menyebutkan pengamalan khusus ayat seribu dinar?

Sejauh ini, belum ditemukan dalil — baik ayat Al-Qur'an maupun hadis — yang secara spesifik menyebutkan QS. At-Thalaq: 2-3 sebagai amalan untuk memperlancar rezeki dengan jumlah bacaan tertentu. Para ulama seperti Quraish Shihab dan Ibnu Katsir tidak menyebut istilah "ayat seribu dinar" dalam penafsiran mereka. Yang terpenting adalah mengamalkan isi kandungannya, yakni bertakwa dan bertawakal kepada Allah.

2. Berapa kali sebaiknya membaca ayat seribu dinar?

Dalam konten-konten yang beredar di TikTok, terdapat perbedaan jumlah bacaan. Akun @titikhotim99 menganjurkan membaca setelah salat fardu 3 kali, dan khusus setelah Magrib dan Subuh 7 kali, selama 40 hari.

3. Apakah ayat seribu dinar bisa diamalkan oleh siapa saja?

Ya, ayat ini bisa diamalkan oleh siapa saja yang ingin mendekatkan diri kepada Allah. Namun yang terpenting bukan sekadar membaca, melainkan mengimplementasikan makna ketakwaan dan tawakal dalam kehidupan sehari-hari, serta disertai dengan ikhtiar yang sungguh-sungguh.

4. Bagaimana cara mengamalkan ayat seribu dinar yang benar?

Cara yang diajarkan dalam berbagai konten adalah membacanya setelah salat fardu, terutama setelah Magrib dan Subuh. Namun, yang lebih utama adalah memahami dan menghayati maknanya — bertakwa dengan menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, serta bertawakal setelah berusaha maksimal.

5. Bagaimana jika saya ragu dengan keampuhan ayat seribu dinar?

Keraguan adalah hal yang wajar. "Bagi yang ragu, cari dulu hadisnya, kalau hadisnya shahih ya kerjakan tapi kalo gak, ya sebaiknya jangan dibaca atau dibaca seperti biasa saja bukan untuk pengkhususan." Yang terpenting adalah meyakini bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan ketakwaan serta tawakal adalah kunci utama meraih pertolongan-Nya.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |