:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3133006/original/061991800_1589907669-2642086.jpg)
Perbesar
Liputan6.com, Jakarta Ungkapan lakum dinukum waliyadin merupakan salah satu ayat Al-Quran yang paling sering dikutip ketika membicarakan prinsip keimanan dan toleransi dalam Islam. Lakum dinukum waliyadin artinya "untukmu agamamu dan untukku agamaku," sebuah pernyataan tegas dari ayat terakhir Surat Al-Kafirun yang menjadi pilar fundamental akidah seorang muslim.
Ayat ini bukan sekadar ungkapan sopan dalam pergaulan antaragama, melainkan deklarasi kemurnian tauhid yang tidak bisa dikompromikan. Ayat ini menetapkan prinsip iman yang tak bisa dilanggar, mendefinisikan batas jelas antara monoteisme Islam (tauhid) dan segala sistem kepercayaan lain, lebih dari sekadar pernyataan toleransi sederhana, melainkan deklarasi pelepasan diri (al-Bara') dari kebatilan.
Dilansir dari Kementerian Agama (quran.kemenag.go.id), ayat ini berbunyi dalam bahasa Arab:لَكُمْ دِيْنُكُمْ وَلِيَ دِيْنِ ࣖ dan menjadi penutup Surat Al-Kafirun yang terdiri dari enam ayat. Memahami lakum dinukum waliyadin artinya memahami esensi keteguhan iman yang diajarkan Al-Quran kepada setiap muslim sepanjang zaman.
Arti Lakum Dinukum Waliyadin dalam Al-Quran
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5147882/original/012193300_1740974036-apa-arti-surat-al-kafirun.jpg)
Perbesar
Frasa lakum dinukum waliyadin secara harfiah diterjemahkan sebagai "untukmu agamamu dan untukku agamaku." Ayat ini merupakan ayat keenam atau ayat terakhir dari Surat Al-Kafirun, surat ke-109 dalam Al-Quran. Surat ini berjudul dalam bahasa Inggris "The Disbelievers" dan terdiri dari 6 ayat. Terjemahan dari berbagai mufasir internasional menunjukkan konsistensi makna ayat ini.
Sebagaimana dikutip dari MyIslam.org, terdapat beragam versi terjemahan dari para ulama terkemuka. Muhsin Khan menerjemahkan, "To you be your religion, and to me my religion (Islamic Monotheism)." Pickthall menerjemahkan, "Unto you your religion, and unto me my religion." Sementara Abdel Haleem menerjemahkannya secara lebih ringkas: "You have your religion and I have mine."
Terjemahan-terjemahan tersebut memperlihatkan bahwa inti pesan ayat ini adalah pemisahan tegas antara jalan keimanan dan jalan kekufuran. Maknanya adalah, "Agamaku sepenuhnya berbeda dan terpisah dari agamamu. Aku bukan penyembah tuhan-tuhanmu dan kamu bukan penyembah Tuhanku. Aku tidak bisa menyembah tuhan-tuhanmu dan kamu tidak bersedia menyembah Tuhanku, maka kamu dan aku tidak akan pernah bisa mengikuti dan berjalan di satu jalan yang sama."
Mengacu pada tafsir Ma'arif ul-Quran menjelaskan prinsip penting dalam konteks ini. Nabi Muhammad SAW meletakkan prinsip umum perjanjian damai, "Setiap kompromi diperbolehkan kecuali yang mengubah hal haram menjadi halal dan hal halal menjadi haram." Artinya, lakum dinukum waliyadin bukan berarti menyetarakan semua agama, melainkan menegaskan bahwa tidak ada ruang untuk mencampuradukkan akidah tauhid dengan keyakinan lain.
Asbabun Nuzul Surat Al-Kafirun
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8627020/original/000666700_1782622344-aoun-abbas-97o4XH0htUs-unsplash.jpg)
Perbesar
Untuk memahami makna lakum dinukum waliyadin secara utuh, penting untuk mengetahui latar belakang turunnya Surat Al-Kafirun. Sebagaimana disampaikan kemenag.go.id, surat ini diturunkan di Mekah sebelum hijrah Nabi ke Madinah, sehingga tergolong surat Makkiyah. Surat ini turun sebagai respons langsung atas upaya kaum musyrikin Quraisy yang berusaha mengajak Nabi Muhammad SAW berkompromi dalam hal keyakinan.
Sebagaimana didokumentasikan oleh Ibnu Katsir dan para sejarawan lainnya, Surat Al-Kafirun diturunkan di Mekah setelah para pemimpin suku Quraisy mengajukan kompromi agama kepada Nabi Muhammad SAW. Mereka mengusulkan agar beliau menyembah berhala mereka selama setahun, dan mereka akan menyembah Allah selama setahun. Surat ini merupakan perintah Allah yang definitif untuk menolak proposal tersebut dan menyatakan pemisahan tegas antara Islam dan kemusyrikan.
Berdasarkan riwayat Ibnu Ishaq yang dikutip dalam berbagai tafsir, tokoh-tokoh kafir Quraisy yang terlibat dalam tawaran ini antara lain Walid bin Mughirah, Ash bin Wail, Aswad bin Abdul Muthalib, dan Umayyah bin Khalaf. Mereka mengatakan kepada Nabi Muhammad SAW, "Marilah kami menyembah Tuhan yang kamu sembah dan kamu menyembah Tuhan yang kami sembah." Atas tawaran itu, Jibril alaihissalam turun membawa Surat Al-Kafirun. Surat ini adalah surat pelepasan diri dari perbuatan kaum pagan, dan memerintahkan kaum muslimin untuk menyembah Allah semata dengan menolak segala bentuk penyembahan pagan.
Ayat ini kemudian diturunkan menjelang akhir fase Mekah dalam sejarah Islam, yang berlangsung selama 13 tahun. Beberapa ulama Islam meyakini bahwa ayat ini berfungsi sebagai peringatan terakhir kepada para penentang Nabi (suku Quraisy). Artinya, ayat ini turun pada saat Nabi telah memenuhi tanggung jawab dakwahnya dalam menyampaikan pesan Tuhan kepada kaum Quraisy. Setelah segala upaya dakwah dilakukan, ayat ini menjadi deklarasi final bahwa jalan tauhid dan jalan kemusyrikan tidak akan pernah bisa dipertemukan.
Baca juga: Pesan Apa yang Terkandung dalam Surat Al Kafirun? Simak Asbabun Nuzulnya
Tafsir Lakum Dinukum Waliyadin Menurut Para Ulama
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8520189/original/054410200_1782447303-86fd9da5-e32c-4743-bf10-675efdbfa595.jpg)
Perbesar
Para mufasir dari berbagai era memiliki pandangan yang kaya tentang makna lakum dinukum waliyadin. Tafsir mereka memberikan kedalaman pemahaman yang melampaui terjemahan harfiah semata. Berikut beberapa pandangan utama dari para ulama terkemuka yang perlu diketahui setiap muslim.
- Imam Al-Qurtubi — Imam Al-Qurtubi menjelaskan dalam tafsirnya bahwa ayat terakhir Surat Al-Kafirun ini merupakan ancaman terhadap orang-orang kafir. Beliau menyebutkan bahwa maknanya adalah kaum muslimin ridha dengan agama mereka (Islam) dan orang-orang kafir ridha dengan agama mereka, dan masing-masing akan mendapatkan balasan atas apa yang mereka ridhai.
- Abul A'la Maududi — Dalam Tafheem-ul-Quran, Maududi menegaskan, "Ini bukan pesan toleransi kepada orang-orang kafir, melainkan deklarasi kekebalan, ketidaksukaan, dan pelepasan diri dari mereka selama mereka tetap dalam kekufuran." Maududi menekankan bahwa tujuan ayat ini adalah untuk memutus harapan mereka secara absolut.
- Imam Ath-Thabari — Menurut ulama klasik Imam Al-Tabari, ayat ini berfungsi sebagai deklarasi konklusif dan tak tergoyahkan tentang pemisahan antara monoteisme (tauhid) dan kekufuran. Ayat ini bukanlah afirmasi terhadap keabsahan agama lain, melainkan pernyataan pelepasan diri total dari praktik-praktik politeistik kaum Quraisy.
- Imam As-Sa'di — Syaikh As-Sa'di menjelaskan bahwa ayat terakhir Surat Al-Kafirun menegaskan pembedaan antara dua kelompok. Seluruh surat ini membahas betapa berbeda dan terpisahnya tauhid/iman dengan syirik/kufur, serta bagaimana yang kedua ditolak secara tegas.
- Tafsir Ringkas Kemenag RI — Sebagaimana dikutip dari kemenag.go.id, tafsir ayat ini menyatakan bahwa tidak ada tukar-menukar dengan pengikut agama lain dalam hal peribadahan kepada Tuhan. Untukmu agamamu, yakni kemusyrikan yang kamu yakini, dan untukku agamaku yang telah Allah pilihkan.
- Konteks Psikologis — Sebuah sintesis pemikiran para ulama mengungkapkan manfaat psikologis tersembunyi: ayat ini adalah obat bagi kecemasan "keharusan memperbaiki semua orang." Dengan mendeklarasikan "Untukmu agamamu, dan untukku agamaku," seorang mukmin dibebaskan dari beban tanggung jawab atas pilihan orang lain, tanggung jawab yang sejatinya milik Allah semata.
Satu hal penting yang ditekankan, meskipun ayat tersebut mengarahkan Nabi SAW untuk menyampaikannya kepada orang-orang kafir, perintah yang sama berlaku untuk setiap muslim. Setiap muslim harus secara jelas melepaskan diri dari kemusyrikan dan penyembahan berhala. Dengan demikian, pesan lakum dinukum waliyadin bersifat universal dan abadi bagi seluruh umat Islam.
Baca juga: QS Al-Kafirun Ayat 1-6, Lengkap dengan Terjemahan dan Tafsirnya
Bacaan Lengkap Surat Al-Kafirun Ayat 1-6
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4758315/original/039700600_1709260395-front-view-person-reading-from-holy-book.jpg)
Perbesar
Ayat lakum dinukum waliyadin tidak bisa dipahami secara terpisah dari keseluruhan Surat Al-Kafirun. Surat ini terdiri dari enam ayat yang saling terkait dan membangun satu pesan utuh tentang pemisahan total antara tauhid dan kemusyrikan. Dilansir dari Quran NU Online (quran.nu.or.id), berikut bacaan lengkap Surat Al-Kafirun beserta transliterasi Latin dan terjemahannya.
Ayat 1:
قُلْ يٰٓاَيُّهَا الْكٰفِرُوْنَۙ
Qul yâ ayyuhal-kâfirûn
Artinya: "Katakanlah (Nabi Muhammad), 'Wahai orang-orang kafir.'"
Ayat 2:
لَآ اَعْبُدُ مَا تَعْبُدُوْنَۙ
Lâ a'budu mâ ta'budûn
Artinya: "Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah."
Ayat 3:
وَلَآ اَنْتُمْ عٰبِدُوْنَ مَآ اَعْبُدُۚ
Wa lâ antum 'âbidûna mâ a'bud
Artinya: "Kamu juga bukan penyembah apa yang aku sembah."
Ayat 4:
وَلَآ اَنَا۠ عَابِدٌ مَّا عَبَدْتُّمْۙ
Wa lâ ana 'âbidum mâ 'abattum
Artinya: "Aku juga tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah."
Ayat 5:
وَلَآ اَنْتُمْ عٰبِدُوْنَ مَآ اَعْبُدُۗ
Wa lâ antum 'âbidûna mâ a'bud
Artinya: "Kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah apa yang aku sembah."
Ayat 6:
لَكُمْ دِيْنُكُمْ وَلِيَ دِيْنِ ࣖ
Lakum dînukum wa liya dîn
Artinya: "Untukmu agamamu dan untukku agamaku."
Perlu dicermati bahwa dalam surat ini terdapat pengulangan pernyataan yang serupa pada ayat 2-3 dan ayat 4-5. Pengulangan ini bukan tanpa makna. Tujuan keseluruhan surat ini adalah untuk mencegah atau melarang segala bentuk kompromi semacam itu. Adapun secara linguistik, pengulangan tersebut juga memiliki fungsi taukid atau penekanan, yang lazim dalam sastra Arab.
Baca juga: 17 Surat Pendek Al-Qur'an, Arab, Latin, dan Artinya: Mudah Dihafal
Keutamaan Membaca Surat Al-Kafirun
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4374521/original/081753100_1679993733-ed-us-iXUXMn_-nh8-unsplash.jpg)
Perbesar
Selain mengandung prinsip akidah yang fundamental, Surat Al-Kafirun juga memiliki sejumlah keutamaan istimewa yang disebutkan dalam berbagai hadis sahih. Surat yang memuat ayat lakum dinukum waliyadin ini dianjurkan untuk dibaca secara rutin dalam berbagai kesempatan ibadah. Mengacu pada tafsir Ma'arif ul-Quran, berikut keutamaan-keutamaan membaca Surat Al-Kafirun.
- Dibaca dalam Shalat Sunnah Fajar dan Maghrib — Ibnu Katsir mengutip beberapa riwayat di mana sejumlah besar sahabat melaporkan bahwa mereka mendengar Rasulullah SAW sering membaca Surat Al-Kafirun dan Al-Ikhlas dalam shalat sunnah fajar dan maghrib. Kedua surat ini menjadi pasangan yang saling melengkapi dalam menegaskan kemurnian tauhid.
- Memberikan Kekebalan dari Kemusyrikan — Beberapa sahabat meminta Rasulullah SAW mengajarkan doa untuk dibaca sebelum tidur. Beliau mengajarkan mereka untuk membaca Surat Al-Kafirun dan menyatakan bahwa surat ini akan memberikan kekebalan dari kemusyrikan.
- Setara dengan Seperempat Al-Quran — Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Tirmidzi, disebutkan bahwa Surat Al-Kafirun bernilai setara dengan seperempat Al-Quran. Hal ini menunjukkan betapa agungnya kandungan surat ini di sisi Allah SWT.
- Dibaca Setelah Tawaf — Nabi Muhammad SAW juga membaca Surat Al-Kafirun bersama Surat Al-Ikhlas dalam shalat dua rakaat setelah tawaf di Ka'bah, sebagaimana diriwayatkan dalam Sahih Muslim dari Jabir.
- Membawa Keberkahan dalam Perjalanan — Sayyidna Jubair Ibn Mut'im meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bertanya apakah ia ingin menjadi orang paling bahagia dan sejahtera di antara teman-temannya saat bepergian. Ia menjawab, "Ya, wahai Rasulullah." Nabi SAW kemudian memintanya membaca lima surat terakhir Al-Quran dimulai dari Surat Al-Kafirun hingga akhir, memulai setiap surat dengan Bismillah.
- Surat yang Ditakuti Iblis — Sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, tidak ada dalam Al-Quran yang lebih menakutkan bagi iblis daripada Qul Ya Ayyuhal-Kafirun, sebab surat ini adalah penegasan tauhid dan pembebas dari kemusyrikan.
Baca juga: Daftar Surat Juz 30 di Al Quran Sesuai Urutan yang Cocok Dibaca saat Ramadan
Lakum Dinukum Waliyadin dan Prinsip Toleransi dalam Islam
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4124810/original/002868200_1660588979-2650285.jpg)
Perbesar
Salah satu aspek yang paling sering diperdebatkan terkait lakum dinukum waliyadin adalah hubungannya dengan konsep toleransi beragama. Banyak orang mengutip ayat ini sebagai landasan utama toleransi dalam Islam. Namun, para mufasir memiliki pandangan yang lebih bernuansa tentang hal ini.
Ayat 6 Surat Al-Kafirun, yang diterjemahkan oleh Saheeh International sebagai "for you is your religion, and for me is my religion," kini sering dikutip oleh banyak orang sebagai dasar toleransi dalam Islam. Artinya, menurut mereka, untuk menunjukkan penghormatan dan kedamaian antara muslim dan penganut agama lain. Akan tetapi, mayoritas mufasir klasik tidak memahami ayat ini dalam kerangka toleransi semata.
Ayat ini memang menetapkan suatu bentuk toleransi sejauh melarang pemaksaan dalam keyakinan dan mengakui adanya jalan yang berbeda ("agamamu" dan "agamaku"). Namun, sebagaimana diklarifikasi oleh Imam Al-Qurtubi, ini terutama merupakan deklarasi kekebalan dan pelepasan diri dari kebatilan, bukan afirmasi bahwa semua agama sama-sama valid. Ayat ini menetapkan prinsip koeksistensi damai berdasarkan batas-batas yang jelas, bukan berdasarkan kompromi akidah.
Ini tidak berarti bahwa Islam tidak mengajarkan toleransi. Hanya saja, Surat Al-Kafirun ayat 6 bukanlah dasar utama untuk hal tersebut. Terdapat ayat-ayat lain yang tampak lebih relevan dengan isu toleransi, termasuk Surat Al-Baqarah ayat 256 (larangan memaksa non-muslim menerima Islam) dan Surat Al-Mumtahanah ayat 8-9 (perlakuan baik terhadap non-muslim yang tidak memerangi kaum muslim). Ini merupakan perspektif penting yang membedakan antara toleransi sosial dan kompromi akidah.
Ayat-ayat yang lebih tepat dijadikan dasar toleransi dalam Islam antara lain juga tercantum dalam Surat Al-Hujurat ayat 13, yang menekankan bahwa Allah menciptakan manusia berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling mengenal, serta Surat Yunus ayat 99 yang menegaskan bahwa hidayah adalah hak prerogatif Allah semata. Surat Al-Kafirun memang menekankan prinsip toleransi beragama dan kebebasan memilih. Surat ini mengajarkan kaum muslim untuk menghormati keyakinan dan praktik orang lain serta mengakui bahwa setiap orang berhak mengikuti agamanya sendiri. Islam tidak menganjurkan pemaksaan konversi, karena keimanan haruslah bersifat pilihan pribadi.
Dengan demikian, pemahaman yang benar tentang lakum dinukum waliyadin artinya mencakup dua dimensi sekaligus: keteguhan iman dan penghormatan terhadap pilihan keyakinan orang lain tanpa mencampuradukkan akidah.
Baca juga: Pengertian Tauhid dalam Ajaran Islam, Pendapat Ahli, Jenis, dan Dalilnya
Pertanyaan dan Jawaban Seputar Lakum Dinukum Waliyadin
Apa arti lakum dinukum waliyadin secara lengkap?
Lakum dinukum waliyadin secara harfiah berarti "untukmu agamamu dan untukku agamaku." Ayat ini merupakan ayat terakhir (ayat keenam) dari Surat Al-Kafirun (QS 109:6). Makna lengkapnya adalah pernyataan tegas dari Nabi Muhammad SAW kepada orang-orang kafir Quraisy bahwa jalan keimanan Islam dan jalan kemusyrikan tidak akan pernah bisa dicampuradukkan, dan masing-masing pihak akan menanggung konsekuensi atas pilihannya.
Apakah lakum dinukum waliyadin mengajarkan bahwa semua agama sama?
Tidak. Para mufasir klasik maupun kontemporer sepakat bahwa ayat ini bukan pernyataan bahwa semua agama sama atau sama-sama benar. Ayat ini merupakan deklarasi pelepasan diri (bara'ah) dari kemusyrikan dan penegasan kemurnian tauhid. Namun, secara sosial, ayat ini memang menetapkan prinsip bahwa tidak boleh ada pemaksaan dalam keyakinan dan setiap orang bertanggung jawab atas pilihan agamanya masing-masing di hadapan Allah SWT.
Kapan waktu yang dianjurkan untuk membaca Surat Al-Kafirun?
Rasulullah SAW menganjurkan membaca Surat Al-Kafirun pada beberapa waktu, antara lain saat shalat sunnah fajar (sebelum Subuh), shalat sunnah sesudah Maghrib, sebelum tidur sebagai pelepasan diri dari kemusyrikan, dan saat shalat dua rakaat setelah tawaf. Beberapa riwayat juga menyebutkan bahwa membaca surat ini setara dengan seperempat Al-Quran nilainya.
Baca juga: Arti Surat Al-Falaq, Makna, dan Keutamaannya bagi Umat Islam
Memahami lakum dinukum waliyadin artinya bukan hanya soal menghafal terjemahan, melainkan menghayati prinsip mendasar yang menjadi pilar keimanan seorang muslim. Ayat ini mengajarkan keteguhan dalam mempertahankan akidah tauhid sekaligus sikap bijak dalam hidup berdampingan dengan pemeluk agama lain. Pesan abadi dari ayat terakhir Surat Al-Kafirun ini tetap relevan di setiap zaman, menjadi kompas spiritual bagi setiap muslim dalam menjaga kemurnian iman tanpa harus bersikap kasar terhadap sesama manusia.
Disclaimer: Artikel ini ditulis ulang oleh redaksi dengan menggunakan Artificial Intelligence

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8639329/original/089763500_1782643276-pexels-mikhail-nilov-7929169.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8637944/original/018176500_1782640882-f506245f-3491-4174-9368-bef7585bb218.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3381466/original/043629600_1613720800-photo-1512632578888-169bbbc64f33.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8578218/original/043626100_1782536515-Fyq4bXXn1T50XXKM61qkf7VNO2GT7lL1Po9x1gp1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4449837/original/055086300_1685614290-WhatsApp_Image_2023-06-01_at_17.06.22.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3343202/original/007206700_1610032312-pexels-photo-1071968__2_.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4373091/original/033031400_1679908390-top-view-islamic-new-year-with-quran-book.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8578226/original/050320100_1782536534-Q9pPAyic8jv7cpBl4fRIrUpKD9FkIl7fODAhUgsZ.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3133009/original/069410900_1589908304-3482876.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5501800/original/006278100_1770956928-unnamed__12_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3309137/original/055065200_1606475068-nurhan-yC70QqvrPRk-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5528398/original/032062200_1773283925-Ilustrasi_Cokelat_Valentine__Photo_by_valeria_aksakova_on_Freepik___3_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3108176/original/099514400_1587459746-close-up-of-text-on-paper-318451__1_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4749999/original/079429500_1708587393-masjid-pogung-raya-owQ3N7FZgIM-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5515931/original/099143800_1772231499-6.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8516173/original/072175600_1782441637-W31gBHuEAbOdI1qrRWi9HYrZzXUZpXAUgO2EpxUK.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5386164/original/039099900_1760956903-ilustrasi_membaca_quran.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4433582/original/003374600_1684488413-20230519135602__fpdl.in__high-angle-woman-holding-beads-meditating_23-2148847546_normal.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8516199/original/047486400_1782441653-aywdu79BUqmPavVwKF3xH9TbbwopHGprEBudTc3z.jpg)










:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4382809/original/074926600_1680593144-top-view-hand-holding-silver-coins.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5160529/original/036403800_1741831526-hasan-almasi-_X2UAmIcpko-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4016804/original/046265400_1652067919-KPK_4.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5518326/original/022972500_1772505463-bantuan_bibit_ayam_-klaim_link_pendaftaran.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5518245/original/007067800_1772495256-1.jpg)



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2800821/original/002869500_1557387809-IMG_20190509_113107.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5460744/original/090622000_1767280272-fabio_lefundes.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5523086/original/018748500_1772788951-cpns_imigrasi.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4400005/original/008170900_1681813298-20230418-Zakat-Fitrah-Herman-1.jpg)



