Mitos dan fakta Seputar Bulan Safar yang Penting Diketahui, Dalil dan Pandangan Ulama

2 hours ago 1

Liputan6.com, Jakarta - Setiap kali bulan Safar tiba, tak jarang kita mendengar berbagai anggapan yang beredar di tengah masyarakat. Ada yang enggan menggelar pernikahan, menunda bepergian, atau bahkan khawatir memulai usaha baru. Untuk itu, umat Islam perlu memahami mitos dan fakta seputar bulan Safar.

Pasalnya, keyakinan bahwa bulan Safar adalah bulan sial, penuh musibah dan malapetaka, masih saja menghantui sebagian kalangan, termasuk di era digital saat ini. Sementara, dalam Islam tak ada waktu yang dianggap sial. Keyakinan terhadap mitos (tathayyur) inilah yang mesti diluruskan.

Mengutip jurnal Khurafat Bulan Safar dalam Perspektif Hadis: Studi Fenomena Kepercayaan Unlucky Day di Kalangan Gen Z, Nadia Ilma Umami dan Mohammad Hamsa Fauriz, Safar merupakan bulan kedua dalam sistem penanggalan Hijriyah, terletak setelah bulan Muharram. Asal-usul penamaan Safar memiliki dua makna dalam bahasa Arab.

Mengutip penjelasan dari Ibnu Mandzur dalam kitab Lisān al-‘Arab, kata Safar memiliki dua arti: bisa berarti kosong (shafar) atau dapat juga berarti warna kuning (shufrah).

Uniknya, sejak zaman jahiliah terdapat mitos yang selalu menyertai kedatangan safar. Merangkum berbagai sumber, berikut ini adalah mitos dan faktar seputar bulan Safar yang mesti dipahami umat Islam, agar tak terjerumus keyakinan yang keliru.

Mitos-Mitos Seputar Bulan Safar yang Perlu Diketahui Umat Islam

1. Safar sebagai Bulan Kesialan dan Kemalangan

Dalam sejarahnya, masyarakat Arab Jahiliah menganggap Safar sebagai bulan kesialan. Hal tersebut tidak lepas dari keyakinan mereka bahwa Safar adalah salah satu jenis penyakit yang bersarang di dalam perut. Tak hanya sampai di situ, mengutip penjelasan dalam buku Mengenal Nama Bulan dan Kalender Hijriah, masyarakat Arab Jahiliah meyakini Safar sebagai bulan yang penuh kejelekan.

Sebagian masyarakat berpendapat, Safar adalah jenis angin beracun panas yang menyerang bagian perut dan mengakibatkan orang yang terkena menjadi sakit. Kepercayaan ini bahkan tetap ada sampai masa Rasulullah dan hingga saat ini.

Kepercayaan bahwa Safar mendatangkan kesialan dapat disebut juga sebagai jenis khurafat atau mitos—yakni secara bahasa artinya cerita bohong dan secara istilah khurafat berarti cerita rekaan atau khayalan.

2. Mitos Larangan Menikah dan Memulai Usaha

Salah satu mitos yang paling umum adalah anggapan bahwa bulan Safar adalah waktu yang kurang baik untuk melangsungkan pernikahan atau memulai usaha baru. Sebagian masyarakat meyakini bahwa aktivitas yang dilakukan pada bulan ini akan membawa nasib buruk atau malapetaka.

Kepercayaan ini seringkali didasarkan pada adat dan budaya lokal, bukan pada ajaran Islam yang sahih. Sebab itu, banyak yang menghindari menggelar hajatan dan acara besar lain di bulan Safar.

3. Mitos Rabu Terakhir Bulan Safar sebagai Hari Turunnya Bala

Sebagian masyarakat meyakini bahwa Rabu terakhir bulan Safar adalah hari turunnya banyak bala dan malapetaka. Keyakinan tersebut tidak memiliki dasar hadis yang sahih. Syariat hanya membenarkan shalat sunnah mutlak tanpa niat khusus menolak musibah.

4. Mitos Larangan Umrah pada Bulan Safar

Orang-orang Jahiliah menolak melakukan umrah pada bulan Safar karena dianggap sial, dan mereka merombak ketentuan bulan haram hanya untuk menyesuaikan kepercayaan mereka terhadap waktu.

Hal ini diriwayatkan dalam hadis Ibnu Abbas yang menceritakan bahwa orang-orang menganggap melaksanakan umrah pada bulan-bulan haji adalah kejahatan besar, dan mereka menjadikan bulan haram adalah bulan Safar.

5. Mitos Gerhana Bulan di Safar Menyebabkan Sedikitnya Hujan

Terdapat pula hadis palsu yang menyebut bahwa gerhana bulan di bulan Safar akan menyebabkan kurangnya hujan. Hadis ini menunjukkan bagaimana masyarakat dahulu menisbatkan fenomena alam kepada nasib sial dalam bulan tertentu, pola yang sama dengan keyakinan modern yang mengaitkan bencana dengan "hari apes" atau "tanggal buruk".

6. Mitos Banyaknya Kematian pada Bulan Safar

Sebagian masyarakat meyakini bahwa banyak kematian terjadi pada bulan Safar, sebuah keyakinan yang tidak memiliki dasar dalam ajaran Islam dan termasuk dalam kategori tahayyur yang dilarang.

Bantahan Rasulullah SAW bahwa Safar Bulan Sial

Keyakinan terhadap mitos-mitos tersebut telah dibantah manakala Islam datang. Rasulullah SAW bersabda dalam beberapa riwayat. Di antaranya, dalam riwayat Muslim.

"Dari Jabir, Rasulullah bersabda: 'Tidak ada penyakit yang menular secara sendirian tanpa izin Allah, tidak ada hantu bergentayangan, dan tidak ada shafar (penyakit perut) yang terjadi dengan sendirinya.'" (HR Muslim, no. 4120).

Sementara dalam riwayat lain, Nabi SAW bersabda: "Tidak ada kesialan karena 'adwa (keyakinan adanya penularan penyakit), tidak ada thiyarah (menganggap sial sesuatu hingga tidak jadi beramal), tidak ada hammah (keyakinan jahiliah tentang reinkarnasi), dan tidak pula Safar (menganggap bulan Safar sebagai bulan haram atau keramat)." (HR Bukhari).

Para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan "lā ṣafara" adalah meniadakan keyakinan bahwa bulan Safar membawa kesialan atau diharamkan. Sebagian ahli Jahiliah menganggap sial bulan ini, maka Nabi SAW membatalkan anggapan itu dan menjelaskan bahwa bulan Safar sama seperti bulan-bulan lainnya.

Melalui hadis di atas, Rasulullah SAW sedang meluruskan keyakinan khurafat kaum jahiliah, yaitu keyakinan bahwa kesialan, keburukan nasib, dan mara bahaya disebabkan sesuatu di luar takdir Allah seperti karena pengaruh hama/wabah ('adwa), maupun musim atau waktu tertentu seperti Safar.

Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam karyanya Laṭā’if al-Ma‘ārif menegaskan bahwa setiap waktu pada hakikatnya baik; yang membuatnya tampak "buruk" adalah perbuatan manusia. Beliau menyatakan bahwa setiap zaman yang orang mukmin menyibukkannya dengan ketaatan kepada Allah adalah zaman yang diberkahi, dan setiap zaman yang diisi dengan kemaksiatan adalah zaman kesialan.

Fakta-Fakta Seputar Bulan Safar dalam Islam

1. Safar Bukan Bulan Sial

Dalam ajaran Islam, tidak ada dasar yang kuat yang mendukung kepercayaan bahwa Bulan Safar adalah bulan yang membawa kesialan. Quran dan Hadis tidak menyebutkan Bulan Safar secara khusus dalam konteks negatif atau menyebutkan bahwa bulan ini memiliki sifat-sifat yang merugikan.

Islam mengajarkan bahwa semua bulan, termasuk Bulan Safar, adalah ciptaan Allah dan tidak ada bulan yang memiliki kekuatan khusus untuk membawa kesialan. Sebagian besar ulama sepakat bahwa keyakinan mengenai kesialan bulan Safar adalah hasil dari takhayul dan tradisi budaya yang tidak memiliki dasar dalam ajaran Islam.

2. Safar Bukan Bulan Haram

Perlu dipahami bahwa Safar bukan termasuk bulan haram (asyhurul hurum). Bulan-bulan haram dalam Islam ada empat: Dzulqa'dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab. Safar adalah bulan biasa—seperti bulan-bulan lainnya—yang tidak memiliki keistimewaan khusus sebagai bulan haram, namun juga tidak memiliki kejelekan khusus sebagai bulan sial.

3. Musibah dan Ujian adalah Sunatullah

Penting untuk memahami bahwa musibah dan ujian adalah bagian dari sunatullah—ketetapan Allah yang berlaku bagi seluruh hamba-Nya. Ujian adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan seorang mukmin. Bahkan, seseorang tidak bisa dikatakan beriman secara sempurna hingga ia diuji oleh Allah SWT.

Allah berfirman, yang artinya: "Dan sungguh Kami akan menguji kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar." (QS. Al-Baqarah: 155)

Ayat ini sangat jelas menyebutkan bahwa Allah ﷻ akan menguji manusia dalam berbagai bentuk, seperti rasa takut, kelaparan, kekurangan harta, kehilangan orang tercinta, bahkan kegagalan dalam usaha atau panen. Semua itu adalah bagian dari cara Allah ﷻ membersihkan jiwa, menguji keimanan, dan mendidik hati agar kembali kepada-Nya.

Allah juga berfirman, yang artinya: "Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri, melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah." (QS. Al-Hadid: 22)

Ayat-ayat ini menegaskan bahwa musibah dan ujian adalah ketetapan Allah yang berlaku bagi seluruh hamba-Nya. Kesialan tidak terikat pada bulan atau hari tertentu, melainkan kehendak Allah yang Maha Bijaksana.

Hikmah Memahami Mitos Safar dan Fakta bulan Safar

Ada beberapa hikmah penting yang dapat dipetik dari pemahaman yang benar tentang mitos Safar dan bantahan Rasulullah SAW:

1. Meneguhkan Tauhid

Menegaskan prinsip tauhid bahwa nasib dan keberuntungan sepenuhnya berada di tangan Allah, bukan terikat pada waktu atau bulan tertentu. Kepercayaan semacam mitos Safar bukanlah bagian dari ciri orang beriman—yakni orang yang memahami bahwa segala rahasia dari peristiwa-peristiwa itu hanya ada dalam genggaman Allah ﷻ, dan tidaklah suatu peristiwa itu terjadi melainkan karena rencana-Nya.

2. Membebaskan Diri Dari Takhayul dan Khurafat

Bukanlah keyakinan seorang mukmin untuk membenci Safar, ataupun enggan menyambutnya, ataupun menahan diri dari urusan hidup seperti pada hari-hari dan bulan lain biasanya. Keyakinan semacam itu adalah warisan jahiliah yang telah dibantah oleh Rasulullah ﷺ.

3. Mengisi setiap waktu untuk kebaikan

Sebagaimana ditegaskan Ibnu Rajab, setiap waktu yang diisi dengan ketaatan adalah waktu yang diberkahi, dan setiap waktu yang diisi dengan kemaksiatan adalah waktu kesialan. Kesialan bukan terletak pada bulan atau hari, melainkan pada kualitas amal manusia itu sendiri.

4. Menjadi teladan bagi generasi muda

Di tengah maraknya konten astrologi dan ramalan zodiak di kalangan Gen Z—sebagaimana diungkap dalam penelitian tentang fenomena unlucky day—pemahaman yang benar tentang bulan Safar menjadi bukti nyata bahwa Islam telah memberikan panduan yang jelas dan membebaskan umatnya dari belenggu takhayul.

5. Musibah adalah Ujian Allah SWT

Memperkuat kesadaran bahwa musibah adalah ujian dari Allah, bukan akibat kesialan waktu tertentu. Dengan pemahaman ini, seorang Muslim akan lebih siap menghadapi berbagai ujian hidup dengan kesabaran dan keikhlasan, sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Baqarah: 155.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |