Muharram dari Tanggal Berapa Sampai Tanggal Berapa, Simak Jadwal dan Amalan-amalannya

6 hours ago 6

Liputan6.com, Jakarta - Bulan Muharram merupakan gerbang pembuka tahun kalender Hijriah yang memiliki kedudukan istimewa dalam syariat Islam. Sebagai salah satu dari empat bulan suci (Asyhurul Hurum), momen ini tidak hanya menandai pergantian tahun, tetapi juga menjadi momentum peningkatan amal ibadah yang pahalanya dilipatgandakan. Untuk itu, umat Islam perlu mengetahui Muharram dari tanggal berapa sampai tanggal berapa.

Muharram merupakan bulan mulia di mana amalan diganjar dengan pahala berlipat. Bahkan, ada amalan khusus di bulan Muharram yang menggugurkan dosa setahun lampau.

Merangkum Kalender Hijriah Indonesia 2026, Kemenag, ebook Bimbingan Islam Seputar Bulan Muharram, Tim Bimbingan Islam, buku Keutamaan Asyura dan Bulan Muharram, Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid, Penerjemah Abu Salma Muhammad Rachdie dan sumber kredibel lainnya, berikut ini adalah jadwal Muharram 2026, keutamaan dan timeline amalan-amalan utama di bulan pertama kalender Hijriah ini.

Timeline Muharram 1448 H / 2026 M

Merujuk pada ketetapan resmi dalam Kalender Hijriah Indonesia Tahun 2026 yang diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama RI. Pada kalender Hijriah Kemenag, jumlah hari Muharram 30.

Berikut adalah rentang waktu bulan Muharram 1448 Hijriah:

  • Awal Muharram (1 Muharram 1448 H): Jatuh pada hari Selasa, 16 Juni 2026. 
  • Akhir Muharram (30 Muharram 1448 H): Bulan Muharram pada tahun ini akan berlangsung genap selama 30 hari, yang berakhir pada hari Rabu, 15 Juli 2026. 
  • Awal Bulan Safar (1 Safar 1448 H): Akan dimulai pada hari Kamis, 16 Juli 2026.

Ada perbedaan jumlah hari di bulan Muharram dalam merujuk Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) Muhammadiyah. Itu sebab, meski 1 Muharram 1448 H jatuh di hari yang sama, dalam KHGT akhir Muharram atau tanggal 29 Muharram jatuh pada 14 Juni 2026. Adapun 1 Safar 1448 H jatuh pada Rabu, 15 Juli 2026.

Keutamaan Bulan Muharram Berdasarkan Pandangan Ulama

Bulan Muharram memiliki sejumlah keutamaan yang diakui secara luas oleh para ulama ahli tafsir dan hadis, di antaranya:

1. Termasuk dalam Empat Bulan Suci (Bulan Haram)

Allah Ta'ala menetapkan Muharram sebagai salah satu bulan suci sebagaimana firman-Nya dalam QS. At-Taubah ayat 36, "Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan... di antaranya empat bulan haram.".

2. Dilipatgandakannya Amal Saleh dan Dosa

Menurut Qatadah rahimahullah yang dinukil dalam Tafsir Ibnu Katsir dan Tafsir At-Thabari, berbuat kezaliman di bulan-bulan haram dosa dan kesalahannya jauh lebih besar dibandingkan bulan lainnya. Sebaliknya, Imam Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu menegaskan bahwa amal saleh yang dikerjakan di bulan ini pahalanya akan dibalas dengan ganjaran yang lebih besar.

3. Sandaran Langsung Kepada Allah (Syahrullah)

Nabi Muhammad ﷺ menamai bulan ini dengan sebutan Syahrullah (Bulan Allah). Ibnu Rajab rahimahullah dalam kitab Lathoiful Ma'arif menjelaskan bahwa penyandaran sebuah nama kepada Allah menunjukkan kemuliaan dan keagungan yang luar biasa, menandakan bulan ini sebagai waktu pilihan-Nya.

4. Waktu Terbaik untuk Berpuasa Setelah Ramadan

Berdasarkan hadis riwayat Muslim (no. 1982), Rasulullah ﷺ bersabda, "Seutama-utama puasa setelah Ramadan ialah puasa di bulan Muharram.". Imam Hasan Al-Bashri bahkan berpendapat bahwa tidak ada bulan setelah Ramadan yang lebih mulia di sisi Allah melebihi Muharram.

Keistimewaan Hari Asyura (10 Muharram)

Puncak kemuliaan di bulan Muharram terletak pada hari kesepuluh yang dikenal sebagai Hari Asyura.

1. Hari Kemenangan Tauhid

Berdasarkan hadis riwayat Bukhari (no. 1865) dan Muslim (no. 1910), Asyura adalah hari yang agung di mana Allah menyelamatkan Nabi Musa 'alaihissalam dan Bani Israil dari kejaran Firaun. Sebagai bentuk rasa syukur, Nabi Musa berpuasa pada hari tersebut. 

2. Penggugur Dosa Setahun

Rasulullah ﷺ bersabda bahwa puasa di hari Asyura diharapkan dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu (HR. Muslim no. 1976).

Imam Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim serta Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Al-Fatawa Al-Kubro menjelaskan bahwa dosa yang digugurkan secara mutlak adalah dosa-dosa kecil, sementara dosa besar tetap membutuhkan pertobatan (taubat nasuha).

Amalan-Amalan di Bulan Muharram

1. Memperbanyak Puasa Sunnah

Umat Islam sangat dianjurkan untuk memperbanyak ibadah puasa di bulan ini. Rasulullah ﷺ menegaskan bahwa seutama-utama puasa setelah bulan Ramadan adalah puasa di bulan Allah, yakni Muharram. Meski demikian, tidak dianjurkan untuk berpuasa sebulan penuh, karena Rasulullah ﷺ hanya berpuasa sebulan penuh di bulan Ramadan.

2. Melaksanakan Puasa Asyura (10 Muharram)

Ini adalah puasa yang paling ditekankan di bulan Muharram. Keutamaan utamanya adalah harapan kepada Allah agar puasa tersebut dapat menghapuskan dosa-dosa (kecil) yang dilakukan selama setahun sebelumnya.

3. Melaksanakan Puasa Tasu'a (9 Muharram)

Disunnahkan berpuasa pada hari kesembilan Muharram untuk mengiringi puasa Asyura. Tujuan utamanya adalah untuk menyelisihi tradisi umat Yahudi dan Nasrani yang hanya mengagungkan tanggal 10 saja. Jika terlewat, dianjurkan pula untuk berpuasa pada tanggal 11 Muharram sebagai penyempurna.

4. Mengajak Keluarga dan Anak-Anak Berpuasa

Terdapat anjuran bagi seorang muslim untuk membangunkan keluarga dan membiasakan anak-anaknya melaksanakan puasa Asyura, sebagaimana yang dipraktikkan oleh para sahabat Nabi di masa lampau.

5. Meninggalkan Kezaliman dan Menjauhi Maksiat

Allah Ta'ala melarang hamba-Nya berbuat aniaya di bulan-bulan suci (bulan haram), termasuk Muharram. Qatadah rahimahullah dan para mufassir menjelaskan bahwa dosa dan kesalahan akibat berbuat maksiat di bulan ini jauh lebih besar dan dahsyat dibandingkan di bulan-bulan lainnya.

6. Memperbanyak Amal Saleh secara Umum

Layaknya dosa yang dilipatgandakan, amal kebaikan dan ketaatan yang dikerjakan di bulan suci Muharram juga memiliki ganjaran pahala yang jauh lebih besar dan agung di sisi Allah.

7. Menjauhi Perkara Bid'ah

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengingatkan umat Islam untuk beribadah sesuai tuntunan saja dan menghindari ritual-ritual tak berdasar (bid'ah) di hari Asyura. Umat Islam dilarang menjadikan hari tersebut sebagai hari meratap dan bersedih , atau sebaliknya, menjadikannya seperti hari raya dengan ritual khusus seperti bercelak, mandi khusus, atau memasak hidangan tertentu di luar kebiasaan.

Timeline Puasa-Puasa Sunnah di Bulan Muharram

1. Puasa Sunnah Muharram (Secara Umum) 

Timeline: Sepanjang bulan Muharram (16 Juni – 15 Juli 2026).

Umat Islam sangat dianjurkan untuk memperbanyak puasa sunnah di bulan ini, meskipun tidak dianjurkan untuk berpuasa sebulan penuh layaknya bulan Ramadan.

Rasulullah ﷺ bersabda, "Seutama-utama puasa setelah Ramadan ialah puasa di bulan Muharram dan seutama-utama shalat sesudah shalat fardhu ialah shalat malam." (HR. Muslim no. 1982). 

 Ibnu Rajab rahimahullah di dalam kitabnya Lathoiful Ma'arif (hal. 33) menjelaskan bahwa hadis tersebut secara tegas menunjukkan bahwa puasa sunnah mutlak yang paling afdal setelah Ramadan adalah puasa di bulan Allah, yakni Muharram.

Adapun puasa sunnah yang bisa dilakukan adalah puasa Muharram (mutlak), puasa Senin Kamis, Puasa Ayyamul Bidh, Puasa Daud. 

2. Puasa Tasu'a (9 Muharram) 

Dilaksanakan sehari sebelum Asyura, yang pada tahun 2026 bertepatan dengan hari Rabu, 24 Juni 2026.

Puasa Tasu'a disyariatkan secara khusus untuk menyelisihi kebiasaan umat Yahudi dan Nasrani yang hanya mengagungkan tanggal 10 Muharram saja.

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, saat Rasulullah ﷺ diberi tahu bahwa Asyura diagungkan oleh Yahudi dan Nasrani, beliau bersabda, "Apabila tiba tahun depan insya Allah kita akan berpuasa pula pada hari kesembilan." (HR. Muslim no. 1916). Sayangnya, Rasulullah ﷺ wafat sebelum tahun berikutnya tiba. 

Imam An-Nawawi dalam kitab Al-Majmu' Syarh Al-Muhadzab (Juz VI/383) menyebutkan tiga hikmah puasa Tasu'a: (1) Menyelisihi orang Yahudi, (2) Mengiringi puasa Asyura agar tidak bersendirian, dan (3) Sebagai bentuk kehati-hatian (ihtiyath) jika terjadi kesalahan dalam penentuan hilal awal Muharram.

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam kitab Fathul Bari menyetujui bahwa alasan terkuat Rasulullah ﷺ meniatkan puasa tanggal 9 adalah untuk menambah ibadah dan membedakan diri dari umat Yahudi.

3. Puasa Asyura (10 Muharram) 

Ini adalah puncak keutamaan puasa di bulan Muharram, yang bertepatan dengan hari Kamis, 25 Juni 2026.

Puasa ini sangat ditekankan karena memiliki janji pengampunan dosa dari Allah Ta'ala atas rasa syukur diselamatkannya Nabi Musa dari kejaran Firaun.

Rasulullah ﷺ bersabda, "Puasa di hari Asyura saya berharap kepada Allah agar dapat menghapuskan (dosa) setahun yang lalu." (HR. Muslim no. 1976). 

Pandangan Ulama & Kitab: * Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitab Al-Fatawa Al-Kubro (Juz 4/428) serta Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim sepakat bahwa dosa yang digugurkan oleh puasa Asyura hanyalah dosa-dosa kecil. Jika seseorang tidak memiliki dosa kecil maupun besar, maka puasanya akan dihitung sebagai kebaikan yang mengangkat derajatnya.

Ibnu Qudamah dalam kitab Al-Mughni menguatkan kesepakatan ulama bahwa Asyura adalah mutlak hari ke-10, merujuk pada pendapat Sa'id bin Al-Musayyib dan Al-Hasan Al-Bashri.

4. Puasa 11 Muharram

Dilaksanakan sehari setelah Asyura, yakni pada hari Jumat, 26 Juni 2026.

Puasa pada tanggal 11 Muharram sangat dianjurkan terutama bagi mereka yang terlewat melaksanakan puasa Tasu'a (tanggal 9), agar puasa Asyura tidak berdiri sendiri.

Bersumber dari riwayat (mauquf) Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma (HR. Ahmad), "Puasalah kalian di Hari Asyura, dan selisihilah Yahudi (dengan) berpuasa sehari sebelumnya (Tasu'a) dan sehari setelahnya (11 Muharram).".

Imam Ahmad (sebagaimana dinukil oleh Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni) berpendapat bahwa apabila penentuan awal bulan Muharram terasa rancu atau tidak jelas hilalnya, maka umat Islam dianjurkan untuk berpuasa selama tiga hari berturut-turut (tanggal 9, 10, dan 11 Muharram).

Langkah ini diambil sebagai bentuk kehati-hatian (احتياطاً) agar pasti mendapatkan pahala puasa Asyura dan Tasu'a tanpa meleset.

Menurut fatwa ulama dari mazhab Syafi'i dan Hanbali (seperti Ishaq bin Rahuyah), tingkat keutamaan puasa Asyura bisa diurutkan: yang paling utama adalah berpuasa tiga hari (9, 10, 11), kemudian dua hari (9 dan 10), dan tingkatan terendah adalah berpuasa di tanggal 10 saja. Menambah puasa di tanggal 11 memastikan kita menyelisihi ahli kitab dengan sempurna.

Pertanyaan Seputar Bulan Muharram

1 Muharram jatuh pada tanggal berapa?

1 Muharram 1448 Hijriah jatuh pada hari Selasa, 16 Juni 2026. Dalam kalender Hijriah, pergantian hari dimulai sejak terbenamnya matahari (waktu Magrib). Oleh karena itu, malam Tahun Baru Islam atau yang juga dikenal sebagai malam 1 Suro dalam tradisi Jawa, sudah dimulai sejak Senin malam, 15 Juni 2026.

1 Muharram 2026 jatuh pada tanggal sampai tanggal berapa?

Kapan 1 Muharram 1448 Hijriah jatuh? 1 Muharram 1448 Hijriah jatuh pada tanggal 16 Juni 2026, yang menandai awal tahun baru dalam kalender Islam.

1 Suro jatuh pada hari apa?

1 Suro 1959 Jawa (atau 1 Muharram 1448 H) jatuh pada Selasa, 16 Juni 2026.

Bolehkah puasa Muharram dari tanggal 1 sampai 10?

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat kita simpulkan bahwa berpuasa 1-10 Muharram hukumnya diperbolehkan, bahkan termasuk dalam sunnah. Jadi, tidak perlu ragu untuk menjalankan ibadah tersebut

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |